
Radhitya membalikkan badannya melihat wanita berpakaian seksi itu. Dia tersenyum melihat wanita itu.
"Nura kau sudah kembali" ucap Radhitya.
"Iya dong Kak Radit" ucap Nura.
Nura mendekati Radit lalu mencium bibirnya.
Radhitya melepas ciuman itu.
"Kenapa Kak?" tanya Nura.
"Aku tidak brengsek seperti dulu, Mami akan marah jika aku berani menyentuh wanita tanpa menikahinya" ucap Radhitya.
Nura tersenyum manis mendengar ucapan Radhitya.
"Aaah, Kak Radit, bikin aku kesemsem" ucap Nura.
"Nura kapan kau balik dari luar negeri?" tanya Radhitya.
"Baru kemarin, makanya aku kesini. Kangen sama Kak Radit" ucap Nura.
Nura adalah adik kelas Radhitya saat SMA. Dia dulu selalu nempel kemanapun Radhitya pergi. Bisa dibilang dia itu fans berat Radhitya. Hanya saja Radhitya baik padanya karena menganggap Nura adiknya. Dia mungil, cantik, seksi dan menggemaskan. Tapi Nura selalu menganggap Radhitya pacarnya bahkan dia selalu genit bila berada di dekat Radhitya.
"Kalau gitu ayo sarapan bersama, kakak masak nasi goreng" ucap Radhitya.
"Nasi gorengnya anget gak? Nura dingin pengen diangetin" ucap Nura mulai genit.
Radhitya menelan ludahnya berkali-kali. Nura begitu terang-terangan menggoda imannya. Merontokkan pertahanannya dan membuatnya ingin ini itu.
"Anget kok, baru matang" ucap Radhitya.
"Mau dong kak, biar huh hah makannya" ucap Nura.
Radhitya mengajak Nura ke ruang makan. Mereka makan duduk bertiga bersama Luna. Radhitya membagi nasi goreng buatannya menjadi dua. Untuknya dan untuk Nura. Luna kesal melihat Radhitya mau meladeni Nura yang genit itu.
"Kak Radit suapin" ucap Nura.
"Bebek bukannya bisa nyosor sendiri ya" ucap Luna sambil memegang handphone ditangannya.
"Bebek? maksud Luna, Kak Nura bebek?" tanya Nura.
"Jangan tersinggung, aku sedang membahas bebek di video ini"ucap Luna menunjukkan video di handphonennya.
"Ooh..." ucap Nura.
"Nura makanlah sendiri ya" ucap Radhitya.
"Oke Kak Radit ayang" ucap Nura sambil tersenyum pada Radhitya.
"Hih" ucap Luna kesal melihat Nura semakin genit.
Nura mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng buatan Radhitya.
"Ugh...ugh....ugh....pedes banget dan pahit" ucap Nura.
__ADS_1
"Yang bener Nura?" tanya Radhitya.
"Mungkin Kak Radit mau meracuni Kak Nura" ucap Luna.
"Sembarangan, mulutmu itu ya, kakak plaster nanti" ucap Radhitya pada Luna.
"Aku hanya menyimpulkan dari yang ku lihat aja" ucap Luna.
"Kak Radit ayang, aus" ucap Nura.
"Iya kakak ambil minum ya" ucap Radhitya.
Luna enek denger ucapan Nura yang genit abis. Dia tak habis pikir kakaknya bisa bertemu makhluk kaya Nura. Datang tak diundang pulang minta diantar. Luna tahu Nura bakalan nempel kaya perangko sama kakaknya. Secara dulu saat SMA juga begitu.
Radhitya mengambilkan Nura gelas lalu diisi air dari teko yang ada di atas meja makan.
"Nih minumnya" ucap Radhitya memberikan gelas itu pada Nura.
"Makacih Kak Radit ayang" ucap Nura sambil mengambil gelas itu.
Nura mulai meminum air di gelas itu. Dia langsung muntah saat meminum airnya.
Hoooeeek.....hoooooeek....hooooeeek.....
"Nura kau kenapa?" tanya Radhitya.
"Airnya bau kak" ucap Nura.
"Bau?" ucap Radhitya heran.
"Iya bau" ucap Radhitya.
"Ya baulah, itukan air daur ulang dari comberan, eksperimenku untuk tugas sekolah" ucap Luna.
"Apa? air comberan?" Nura terkejut. Dia sudah minum air itu. Dia tak menyangka itu air comberan.
"Kamu kok gak bilang itu air comberan?" tanya Radhitya pada Luna.
"Tadi kakak gak tanya, asal nuang ajakan" ucap Luna.
"Kau sengajakan biar Nura sakit" ucap Radhitya.
"Siapa yang sengaja? capek ah berdebat sama Kak Radit" ucap Luna.
Luna berdiri lalu berjalan meninggalkan meja makan. Dia kesal kakaknya malah menuduhnya.
"Lun...Lun...." Radhitya memanggil Luna. Tapi Luna tak menggubris panggilan kakaknya.
"Nura maaf ya" ucap Radhitya.
"Gak papa, Nura seneng biarpun sakit berada disamping Kak Radit" ucap Nura.
Radhitya heran Nura begitu ngefans padanya. Sampai dia pergi keluar negeri pun masih saja mencintainya. Dia tak pernah berubah selalu genit pada Radhitya.
*************,
__ADS_1
Rafka duduk diranjang bersama Gista. Mereka menonton film sambil bersantai malam itu. Gista menyandarkan kepalanya pada bahu Rafka. Bahu itu selalu nyaman untuk tempatnya bersandar dari duka dan lara. Bahu itu hangat dipenuhi kasih sayang dan perhatian membuat Gista tak ingin beranjak.
"Sayang aku bikin susu ibu hamil untuk Azura dulu ya" ucap Rafka.
"Oh, baiklah" ucap Gista.
"Nanti aku kesini lagi, Azura harus minum susu ibu hamil biar bayinya mendapatkan nutrisi yang baik" ucap Rafka.
"Iya Mas" ucap Gista.
Rafka mencium kening Gista sebelum meninggalkannya keluar dari kamar itu. Dia berjalan keluar kamar untuk membuat susu ibu hamil untuk Azura.
"Mungkin kalau aku juga hamil, Mas Rafka akan membuatkanku susu ibu hamil" ucap Gista.
Gista memegang perutnya. Dia sedih takkan bisa hamil. Dia merasa semakin banyak kekurangannya, selain lumpuh, dia juga mandul.
Gista meneteskan air matanya. Dia tidak bisa melawan takdir. Mungkin saja dia tidak bisa memiliki buah cinta bersama Rafka.
"Hik....hik....hik...." Gista menangis.
"Sayang kenapa kau menangis?" tanya Rafka yang baru masuk ke kamar itu. Dia duduk disamping Gista. Tangannya menyeka air mata yang jatuh dipipi Gista.
"Mas kalau aku....hik...hik...hik..." ucap Gista ragu mengatakan yang sebenarnya pada Rafka.
"Kalau aku, kenapa sayang?" tanya Rafka.
Gista langsung memeluk Rafka, menangis sejadi-jadinya di dada Rafka.
"Jangan bersedih sayang, aku tidak bisa melihatmu menangis" ucap Rafka.
"Mas....Mas aku.....aku mandul Mas hik....hik... hik..." ucap Manda lalu menangis kembali.
"Mandul?" Rafka terkejut. Dia baru tahu kalau Gista mandul.
"Iya, aku mandul hik...hik...aku tidak bisa memberimu keturunan Mas hik...hik...." ucap Gista.
Rafka mengelus punggung Gista. Dia tahu kesedihan yang dirasakan istrinya itu. Tidak mudah bagi seseorang menerima kalau dirinya mandul.
"Sayang aku tidak peduli kau bisa memberiku keturunan atau tidak. Yang penting kita selalu bersama hingga maut memisah" ucap Rafka.
"Tapi..., memang Mas tidak kecewa? hik...hik..." ucap Gista.
"Tidak sayang, kau ada disini saja aku sudah sangat senang" ucap Rafka.
"Makasih Mas" ucap Gista.
"Iya sayang" ucap Rafka.
"Mas cium" ucap Gista manja pada Rafka.
Rafka meraih wajah Gista dan menciumnya.
"Nonton film lagi yuk, Mas bawa pop corn" ucap Rafka.
Gista mengangguk. Dia senang Rafka selalu berusaha menyenangkan hatinya. Suaminya itu mau menerima segala kekurangannya. Sudah lumpuh, mandul lagi itu yang ada dipikiran Gista. Tapi Rafka tidak memperdulikan hal itu. Baginya dia ingin merubah air mata jadi bahagia. Rafka akan berusaha untuk itu meskipun tak mudah. Membagi cinta dan waktunya untuk kedua istrinya tentu bukan perkara mudah tapi Rafka tetap optimis.
__ADS_1