Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Rencana Menikah


__ADS_3

Cecep menulis semua jawaban dari pertanyaan yang sudah disiapkan Radhitya. Dia merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan yang dianggapnya tak nyambung dan aneh. Dia merasa Radhitya sedang memasukkannya ke dalam lautan orang gila dengan bom dimana-mana. Tapi demi profesionalitas tanpa batas, dia melakukan apapun meski dia merasa dirinya cenderung mengikuti kegilaan. Bahkan merasa apa aku waras dipikiran Cecep.


"Ngapain aku ikut nari bareng orang gila, tapi menurut buku panduannya harus begitu" ucap Cecep.


Cecep menari goyang poco-poco, berdansa bersama orang gila hingga nyemil makan kacang mede yang udah dimakan coklatnya ma orang gila disampingnya.


"Demi peran naturalku di film, aku rela sementara gila" ucap Cecep.


"Tunggu menurut buku catatan ini, bagaimana cara orang gila BAB. Itu kok jongkok jangan-jangan mau BAB" ucap Cecep.


Cecep segera mendatangi TKP sebelum semua berlalu dan bukti menghilang tanpa jejak. Dia memperhatikan orang gila yang sedang jongkok.


"Kira-kira berapa lama lagi dia bertelur? jangan-jangan dia beranak dalam kubur" ucap Cecep.


Radhitya tiba-tiba menghampirinya.


"Lo ngapain Cep? lo masih waraskan? atau tertular virus gila?" tanya Radhitya.


"Memang gila menular ya, aduh kira-kira gue masih waras atau sudah gila Radit?" tanya Cecep.


Radhitya mengecek kondisi Cecep, dia memegang dahi Cecep dengan tangannya.


"Tunggu, kepala lo panas, tingkah lo agak aneh, dan muka lo belepotan. Udah memenuhi kriteria gila sih" ucap Radhitya.


"Masa sih, gue masih inget kamu, berarti masih waraskan" ucap Cecep.


"Orang gila juga inget gue, lihat noh spanduk wajah gue sebagai duta pengurangan penyakit kejiwaan terpasang diatas bangunan ini" ucap Radhitya menunjukkan spanduk diatas bangunan itu.


Cecep melihat spanduk bergambar Radhitya sedang bersantai di pantai seakan dia waras kalau nyantai terus.


"Hebat juga kamu jadi duta pengurangan penyakit kejiwaan, andai gue jadi duta juga" ucap Cecep.


"Lo juga bisa jadi duta kok" ucap Radhitya.


"Duta apa? penasaran" ucap Cecep.


"Duta menggosok WC tiga kali sehari" ucap Radhitya.


"Ha...ha...ha..., tapi WC gue digosok tiga bulan sekali" ucap Cecep.


"Jorok loh" ucap Radhitya.


Setelah dirasa cukup Radhitya dan Cecep keluar dari rumah sakit jiwa. Didepan halaman rumah sakit jiwa Manda sudah menunggu Radhitya.


"Manda, ngapelin ayang ya" ucap Radhitya.


"Iya, katanya mau ke rumahmu" ucap Manda malu-malu.


"Radit aku cabut dulu ya, jiwa ngenes gue meronta kalau liat kalian berduaan" ucap Cecep.


"Iya Cep, jangan lupa sampai rumah kompres otak lo, jangan sampai konslet terus gila beneran" ucap Radhitya.


"Gak, tar aku cas deh biar penuh batreinya" ucap Cecep.


Cecep meninggalkan tempat itu. Radhitya mengajak Manda masuk ke dalam mobilnya. Mereka menuju ke rumah besar Arian. Sampai dirumah besar itu, Radhitya dan Manda turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Didalam ruangan tamu dua anak kembar berlari-lari memainkan pesawat terbang. Radhitya belum tahu siapa kedua anak itu.


"Hai adik kecil" ucap Radhitya menghampiri mereka bedua.


"Hai Om" ucap Biru dan Jingga.


"Siapa nama kalian?" tanya Radhitya.


"Aku Biru dan adik kembarku Jingga" ucap Biru.


Kedua anak kembar itu tersenyum pada Radhitya.


"Mirip Kak Rafka kamu" ucap Radhitya pada Biru.


"Papaku memang Rafka namanya" ucap Biru.


"Tunggu, jangan-jangan kalian..." ucap Radhitya langsung memeluk kedua anak kembar itu.


"Kalian ponakan Om" ucap Radhitya kegirangan punya ponakan.


Selama ini dirumah besar itu sepi tak ada suara anak kecil. Tapi kini rumah itu akan dipenuhi suara tawa mereka bermain dan berlari.


"Jadi Om adik Papa ya" ucap Jingga.


"Iya pinter" ucap Radhitya.


Radhitya mencium pipi kedua keponakannya yang lucu dan polos itu. Manda ikut bahagia melihat kebahagiaan itu.


"Radit, udah pulang?" tanya Freya.


"Udah Ma" ucap Radhitya.


"Sore" ucap Freya.


Freya mempersilahkan Manda duduk bersamanya dan Radhitya diruang tamu.


"Kita main disana yuk, obrolan orang besar gak boleh kepo" ucap Biru.


"Oke Biru" ucap Jingga.


Biru dan Jingga meninggalkan ruang tamu, bermain ditempat lain. Arian memasuki ruang tamu dan duduk bersama semuanya. Radhitya mulai membicarakan hal penting pada kedua orangtuanya.


"Pi, Mi, aku mau menikah dengan Manda" ucap Radhitya.


"Alhamdulillah" ucap Arian dan Freya.


"Papi dan Mami setuju?" tanya Radhitya.


"Setujulah nak" ucap Arian dan Freya.


"Maaf Om, Tante, saya ingin mengatakan ini sebelumnya. Radhitya masih perjaka, terkenal dan mapan. Sementara saya janda, miskin dan bukan siapa-siapa. Apa kalian tidak masalah Radhitya menikahi wanita seperti saya?" tanya Manda.


Manda berterus terang dengan keadaannya. Meskipun Arian dan Freya mengenalnya tapi dia tetap harus memastikan. Karena dia tahu Radhitya masih perjaka sementara dia janda. Dia tidak ingin membuat semua orang kecewa dan menghina Radhitya dan keluarganya karena statusnya yang janda.


"Tidaklah nak, saya dulu juga janda dan pada akhirnya bertemu lelaki yang benar-benar mencintai saya apa adanya, Papinya Radit" ucap Freya.

__ADS_1


"Benar Nak Manda, siapapun itu asal baik hati dan agamanya, dia bisa menjadi orang yang pantas untuk dicintai dan dinikahi lelaki yang baik hati dan agamanya juga" ucap Arian.


"Lagi pula dimata Allah kita semua sama, hanya amal ibadah yang membedakan" ucap Freya.


"Terimakasih Om, Tante" ucap Manda.


Manda senang kedua orang tua Radhitya setuju dengan rencana pernikahan mereka.


"Berarti tinggal lamaran dan pesta pernikahan" ucap Arian.


"Kira-kira kapan kita akan melamar untukmu Radit?" tanya Freya.


"Akhir minggu ini Pi, Mi, aku libur" ucap Radhitya.


"Baiklah, jadi akhir minggu ini kita ke rumah Manda untuk melamar" ucap Arian.


Radhitya dan Manda tersenyum, mereka senang sekali akhir minggu ini akan lamaran.


"Wah ada yang mau nikahan" ucap Rafka yang baru datang.


"Iya dong kak, biar gue punya anak juga kaya lo" ucap Radhitya.


Rafka dan Azura memasuki ruang tamu. Mereka ikut duduk bersama diruangan itu.


"Kapan nih acaranya?" tanya Rafka.


"Akhir minggu ini kita pergi melamar Manda untuk Radit" ucap Arian.


"Alhamdulillah" ucap Rafka dan Azura.


"Selamat ya Radit, akhirnya gak jomblo lagi" ucap Rafka menggoda adiknya.


"Terimakasih kak, selamat juga untuk kakak yang sudah berkumpul dengan anak dan kedua anak menggemaskan itu" ucap Radhitya.


"Terimakasih atas ucapannya, Insya Allah kami akan hadir diacara pentingmu" ucap Rafka.


Mereka semua terus berbincang-bincang. Akhir minggu ini akan jadi hari yang membahagiakan untuk keluarga Arian dan Freya.


*************


Gista menunggu Nathan di depan mini marketnya. Kebetulan hari itu dia pulang pukul 11 malam karena ada laporan barang yang harus diperiksa olehnya. Dia berdiri didepan mini market yang sudah tutup. Keadaan jalanan mulai sepi semakin malam. Hingga pukul 12 malam Nathan belum datang juga. Gista coba menghubungi nomor telpon Nathan.


"Maaf telpon yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi" ucap layanan operator telpon itu.


"Kenapa gak aktif? tadi aktif. Mas Nathan juga bilang akan jemput kok" ucap Gista.


Gista mulai khawatir. Disisi lain dia juga mulai takut, keadaan disekelilingnya mulai sepi. Matanya fokus ke depan jalan berharap Nathan segera datang. Dari samping dua lelaki bertato, bertubuh kekar, botak dan berkumis menghampirinya. Mereka menggoda Gista.


"Cantik, udah malam. Abang anter pulang yuk" ucap Kohar.


"Maaf, saya ada yang jemput" ucap Gista menolak dengan sopan.


"Masa sih, udah malam nih, mending abang anter sekalian mojok biar hangat" ucap Risman.


"Gak, gak usah" ucap Gista menolak terang-terangan.

__ADS_1


Kedua lelaki itu menarik tangan Gista membawanya pergi.


"Lepas...lepas....tolong...tolong...." ucap Gista berteriak.


__ADS_2