
Didik ketiduran dibus ketika sampai terminal. Dia bangun dan tidak melihat kedua anak itu ada bersamanya. Didik bertanya pada kenet bus. Dia mengatakan kedua anak itu sudah turun bersama seseorang. Didik langsung turun dari bus mencari kedua anak itu.
"Ya Allah kemana kedua anak itu? mana kartu namanya ada padaku" ucap Didik.
Didik mencari kedua anak kembar itu diseluruh tempat diterminal. Dia terus mencari dan mencari tapi tak kunjung menemukan kedua anak kembar itu. Hingga akhirnya dia mencoba menelpon nomor telpon dikartu nama itu.
"Nomor yang ada tuju sedang sibuk, silahkan hubungi beberapa saat lagi" layanan operator telpon itu.
"Sibuk lagi, gimana ini, kasihan kedua anak itu. Aku harus melihat mereka bertemu ayahnya. Apa sebaiknya aku datang ke alamat dikartu nama ini" ucap Didik.
Didik naik bus menuju ke alamat yang ada dikartu nama itu. Dia harus menemui ayah kedua anak kembar itu.
************
Biru dan Jingga dibawa seorang wanita cantik. Mereka dipaksa ikut oleh wanita cantik itu karena diancam. Dia akan membunuh Jingga jika mereka tak ikut bersamanya. Biru dan Jingga dibawanya masuk ke dalam rumah. Mereka berdua dimasukkan ke dalam kandang dikamar wanita itu.
"Lepaskan kami, kami ingin bertemu Papa" ucap Biru.
"Aku kangen Papa hik hik hik" ucap Jingga.
"Kalian akan jadi binatang peliharaanku" ucap Wanita cantik itu.
"Tidak, kami manusia bukan binatang" ucap Biru.
"Ha...ha...ha..., aku justru suka anak manusia sebagai binatang peliharaanku" ucap Wanita cantik itu.
"Tidak, lepaskan kami" ucap Biru.
"Hik hik hik" Jingga menangis.
"Semoga kalian betah dengan kandang kalian" ucap Wanita cantik itu.
Wanita cantik itu keluar dari kamarnya. Biru melihat Jingga terus menangis. Dia memeluk kembarannya itu.
"Jangan menangis, ada Biru disini" ucap Biru.
"Biru, aku ingin bertemu Papa hik hik hik" ucap Jingga.
"Kita pasti bertemu Papa, aku yakin" ucap Biru.
"Biru hik hik hik" ucap Jingga.
Jingga terus menangis sampai tertidur dipangkuan Biru. Sementara Biru terus terjaga. Dia sebenarnya takut dengan apa yang akan dilakukan wanita cantik itu pada mereka. Tapi dia harus tetap tenang agar Jingga tidak ketakutan dan menangis terus.
***********
Didik sampai di Perusahaan Alexsandro Group. Dia berjalan masuk ke dalam perusahaan tapi sekuriti langsung menangkapnya dan mengintrogerasi di pos sekuriti. Didik duduk menjawab pertanyaan dari Sapto kepala sekuriti perusahaan itu.
"Siapa namamu?" tanya Sapto.
"Didik Pak" ucap Didik.
"Untuk tujuan apa kau datang ke perusahaan ini?" tanya Sapto.
"Saya harus bertemu orang dikartu nama ini Pak" ucap Didik menunjukkan kartu nama itu pada Sapto.
Sapto melihat kartu nama milik Bosnya. Dia heran kenapa lelaki asing itu punya kartu nama milik Bosnya.
"Dari mana kau punya kartu nama ini?" tanya Sapto.
"Kedua anak kembar yang memiliki kartu nama ini. Mereka bilang pemilik kartu nama ini ayah mereka" ucap Didik.
"Apa? anak Bos Rafka?" ucap Sapto terkejut.
"Iya Pak, kedua anak kembar itu ingin sekali bertemu ayahnya" ucap Didik.
"Kau mengada-ngada, Bos Rafka belum memiliki anak, pasti kau mau menipu" ucap Sapto
Sapto tidak percaya dengan ucapan Didik. Sepengetahuannya selama kerja diperusahaan Rafka tak pernah dikabarkan memiliki anak.
"Tidak Pak, beneran. Kedua anak itu ingin bertemu ayahnya" ucap Didik.
__ADS_1
"Lucu, kalau ucapanmu benar, mana kedua anak kembarnya?" tanya Sapto.
"Tadi kedua anak kembar itu hilang, saya sudah mencarinya tapi belum bertemu. Itu sebabnya saya harus bertemu Bos Rafka" ucap Didik.
"Jangan berbohong terus, kau bisa masuk penjara" ucap Sapto.
"Saya tidak berbohong" ucap Didik.
"Ilham bawa orang ini keluar, jangan biarkan dia masuk area perusahaan kita" ucap Sapto.
"Baik Pak" ucap Ilham.
Ilham menarik lengan Didik membawanya keluar pos sekuriti.
"Mas beneran saya tidak berbohong, saya harus bertemu Bos Rafka ini penting" ucap Didik.
"Mas kalau mau nipu jangan disini" ucap Ilham.
Didik terus ditarik keluar dari halaman perusahaan. Dia terpaksa menendang Ilham.
Dug....
Ilham terjatuh ke bawah. Didik langsung berlari ke dalam perusahaan. Dia dikejar-kejar sekuriti. Didik masuk lift. Dia asal memencet tombol lift. Lalu keluar dari lift.
Bruuug..........
Didik terjatuh diatas tubuh seorang wanita.
"Aduh jiwa jombloku meronta kalau mepet gini, empuk, nyaman dan enak" batin Didik.
"Haaah...." Wanita itu menguap.
"Bau jengkol, maboook nih" ucap Didik.
"Mas udahan dong numpang tidurnya, saya mau kentut nih, udah gak tahan" ucap Wanita itu.
"Itu gede beneran?" tanya Didik penasaran.
"Bukan, adonan donat buat tar sore, biar bekah dulu" ucap Wanita itu.
"Itu dia" ucap securiti.
"Ampun, kabur lagi deh padahal masih mau ngadem dulu" ucap Didik.
Didik kembali berlari naik melalui tangga baik ke lantai atas. Dia masuk ke sebuah ruangan meeting. Diruangan itu banyak orang duduk dan satu orang berdiri di depan layar.
"Punten, saya mau jualan cilok, siapa yang mau beli, murah dak lima ratusan, sok nya" ucap Didik.
Semua orang yang terkejut ada orang aneh nyasar.
"Kamu siapa?" tanya Rara.
"Saya penjual kaos cutbrei neng, mau beli sepuluh ribu tiga" ucap Didik.
"Maaf anda salah tempat, ini alam bisnis, silahkan ke alam kubur dengan nomor urut 1001 antrian" ucap Rara.
"Kalau gitu saya pamit dulu, maaf semuanya jika ingin pesan cilok dan kaos cutbrei bisa wa saya ya" ucap Didik.
Semua orang yang duduk tertawa, meeting yang tegang tadi serasa ada hiburan. Baru Didik mau melangkah, Rafka menghampirinya.
"Siapa namamu?" tanya Rafka.
"Saya Didik Pak, saya kesini cuma mau ketemu sama Bos Rafka" ucap Didik.
"Untuk apa kau ingin bertemu Bos Rafka?" tanya Rafka.
"Kedua anak kembarnya ingin bertemu" ucap Didik.
"Diam disini dulu" ucap Rafka.
"Baik Pak" ucap Didik.
__ADS_1
Rafka berdiri didepan semua orang meeting. Dia menunda meetingnya untuk sementara waktu.
Rafka mengajak Didik masuk ke ruangannya.
Didik duduk dikursi depan meja kerja Rafka.
Dia menceritakan semuanya pada Rafka.
"Apa kedua anakku hilang?" ucap Rafka terkejut.
"Iya Bos" ucap Didik.
Rafka langsung keluar dari perusahaannya mencari kedua anak kembarnya. Sementara Didik disuruh menunggu diperusahaan. Rafka meminta Rara mengurus semua keperluan Didik selama Rafka mencari kedua anak kembarnya.
*************
Azura sampai diterminal. Dia turun dari bus. Tak sengaja dia bertemu seorang wanita cantik yang membawa seorang anak kecil. Orangtua anak kecil itu sedang asyik memainkan handphonenya hingga mereka tidak sadar anaknya dibawa wanita cantik itu.
"Aku menolong anak itu? tapi anakku?" batin Azura.
Azura memutuskan untuk mengikuti wanita cantik itu yang membawa anak kecil itu. Dia kehilangan anaknya tapi dia tak ingin orang lain merasakan hal yang sama. Azura mengikuti wanita itu hingga dia naik mobil, Azura naik taksi mengikuti mobil yang dinaiki wanita cantik itu. Sampai disebuah rumah cukup besar. Wanita cantik itu membawa masuk anak kecil itu ke dalam rumah.
"Aku harus menghubungi polisi" batin Azura.
Azura menelpon polisi. Laporannya akan ditindak lanjuti. Sementara menunggu polisi datang. Azura masuk ke dalam rumah itu lewat jendela toilet didekat dapur. Dia masuk ke dalam ruangan makan lalu mencari dimana anak kecil itu disekap wanita cantik itu. Azura melihat pintu yang sedikit terbuka. Dia melihat beberapa anak kecil berada didalam kandang.
"Ya Allah, kasihan anak-anak itu" batin Azura.
"Aku harus membebaskannya" batin Azura.
Baru mau masuk ke dalam kamar itu. Azura langsung dicekek lehernya dengan tali oleh wanita cantik itu.
"Aaaaa....." ucap Azura kesulitan berbicara karena lehernya tercekik.
"Mau kemana kau? berani sekali masuk kandangku" ucap Wanita cantik itu.
Wanita cantik itu membawa Azura masuk ke dalam kamar lalu melemparnya ke lantai.
Bluuuug........
"Aw........" ucap Azura kesakitan.
"Mama....Mama...." ucap Biru dan Jingga.
"Biru, Jingga" ucap Azura.
Azura menghampiri kedua anak kembarnya yang dikurung dikandang.
"Akhirnya Mama menemukan kalian" ucap Azura sambil memegang pipi kedua anak kembarnya.
"Ha...ha...ha...paket komplit, aku akan menjadikan kalian binatang peliharaanku" ucap Wanita cantik itu.
"Tidak kami semua bukan binatang peliharaanmu" ucap Azura.
"Kau membuatku marah" ucap Wanita cantik itu.
Wanita cantik itu menghampiri Azura dan kembali mencekiknya dengan tali. Azura berusaha melepas tali itu tapi tak bisa, dia menendang perut wanita itu hingga terjatuh.
Bluuug.......
"Huh...huh...huh...." Nafas Azura tersengal-sengal.
Azura coba mencari kunci untuk mengeluarkan anaknya dan semua anak yang ada dikandang yang berjejer didalam kamar itu. Dia mencari-cari kunci itu dilemari, rak, dan laci. Tiba-tiba wanita cantik itu kembali mencekik Azura menggunakan sikutnya. Azura langsung menyikut dada wanita itu. Dia berbalik dan mengambil sapu yang ada diruangan itu sedangkan wanita cantik itu mengambil tongkat. Mereka beradu tongkat dan sapu. Saling memukul dan bertahan. Hingga Azura terjatuh dan berbaring dilantai. Wanita cantik itu berada diatasnya. Sapu yang dipegang Azura menahan tongkat yang diarahkan kepadanya. Tiba-tiba dari belakang seseorang memukul wanita cantik itu hingga terjatuh dan pingsan.
Bluuuug.........
Wanita cantik itu terjatuh ke samping.
"Azura" ucap Rafka.
"Mas Rafka" ucap Azura.
__ADS_1
"Papa...Papa...." ucap Biru dan Jingga dari dalam kandang.
Rafka melihat istri dan anaknya.