Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Pergi Tak Kembali


__ADS_3

Wajah cantik Alexa yang kini berusia 11 tahun terlihat sedih. Ia sudah tahu bahwa mamanya mengidap penyakit yang berbahaya. Selama ini Finly menyimpan dengan rapat sakitnya namun akhirnya ia menyerah juga. Kemarin Finly sudah mengatakannya pada Alexa.


Terbayang kembali percakapan kemarin saat mamanya baru selesai menidurkan Felicia yang sudah berusia 3 tahun.


"Eca, mama yakin kalau Eca sudah mengerti kalau hidup manusia tak selamanya akan ada di dunia ini. Kita semua akan mati menurut waktu yang Tuhan tentukan."


Alexa menatap mamanya. "Eca tahu, ma. Pasti jika itu tiba, akan sangat menyedihkan berpisah dengan prang yang kita kasihi."


Finly tersenyum. Sudah satu bulan ini ia merasakaj kalau kondisinya semakin memburuk. Beberapa waktu yang lalu, Juan membawanya ke Perancis untuk berobat. Namun kankernya yang sudah memasuki stadium akhir tak bisa lagi disembuhkan.


"Eca, mama sakit."


"Eca tahu, ma"


"Mama senang karena Eca sudah tahu dan mama harap Eca akan mengerti kalau sakit ini tak bisa disembuhkan lagi. Mama mungkin akan pergi ninggalin Eca dan Felicia. Namun Eca jangan sedih ya? Eca harus kuat supaya bisa menjaga Felicia. Kalau Felicia sudah dewasa kelak, maukah Eca menceritakan tentang mama kepadanya? Tapi jangan bilang kalau mama dulu sering meninggalkan Eca dengan bibi Giani ya?"


Air mata Alexa jatuh. Ia menatap wajah cantik mamanya yang kini terlihat pucat dan kurus. "Eca akan menceritakan bahwa mama adalah ibu terbaik di seluruh dunia. Felicia akan mencintai mama walaupun mama.....mama...,sudah dipanggil Tuhan."


Wajah pucat Finly tersenyum. "Kalau mama pergi, Eca boleh menangis. Namun jangan lama. Eca harus kuat untuk papi Juan dan Felicia. Eca mau berjanji?"


Alexa mengangguk. "Mama, apakah jika mama meninggal, Eca akan bertemu dengan mama lagi?"


"Tentu sayang. Kita akan bertemu di sorganya Tuhan. Tubuh mama boleh tak terlihat, namun mama akan terus hidup dalam hati Eca."


Alexa memeluk mamanya sambil menangis. Gadis cantik itu tahu tak lama lagi ia akan kehilangan mamanya.


Juan yang mengintip dari balik pintu pun menahan sesak di hatinya. Bagaimanapun ia belum sanggup kehilangan cinta pertama dalam hidupnya. Namun Juan sejak menikah dengan Finly, Juan sudah tahu kalau hari ini pasti akan datang juga karena penyakit yang diderita Finly sudah memasuki stadium akhir.


******


Dari kaca pembatas ruangan, Alexa kembali menatap mamanya. Tubuh mamanya terlihat tak berdaya dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Alexa sayang.....!"


Alexa menoleh mendengar panggilan itu. Ia langsung berlari dan memeluk Giani yang datang bersama Jeronimo.


"Bibi....!" Alexa langsung memeluk Giani dengan tangis kesedihannya.


"Sayang, kamu yang sabar ya. Eca masih ingat kan dengan perkataan bibi dulu?"


"Iya. Semua orang pasti akan mati. Tapi apakah mama harus mati sekarang?"


Giani berjongkok agar tingginya sejajar dengan Alexa. Perlahan Giani menghapus air mata Alexa. "Kita tidak tahu, sayang. Kalaupun memang Tuhan akan memanggil mama, berarti memang waktu mama sudah tiba."


Air mata Alexa kembali jatuh. Ia memeluk Giani dengan erat.


Giani pun tak dapat menahan air matanya. Ia hanya bisa mengusap kepala Alexa untuk memberikan ketenangan pada gadis kecil itu.


Joana dan Aldo tiba di rumah sakit. Tadi mereka pulang untuk mengantar anak mereka dulu lalu segera datang ke rumah sakit.


"Mana papi Juan, nak?" Tanya Joana.


"Papi masih ada di ruangan dokter bersama Oma Sinta dan Opa Denny." Ujar Alexa yang kini ada dalam pelukan papanya.


Tak lama kemudian, Juan, Sinta dan Denny keluar dari ruangan dokter. Mata mama Sinta terlihat sembab menunjukan kalau dia sudah terlalu banyak menangis.

__ADS_1


"Ma, apa kata dokter?" Tanya Jeronimo.


Mama hanya menggeleng. Ia tak sanggup bicara membuat Denny langsung memeluk istrinya itu.


"Operasi sum-sum tulang belakang yang dilakukan oleh Finly tahun yang lalu, tak banyak memberikan perubahan padanya. Sejak sebulan yang lalu, kondisi Finly sebenarnya sudah parah namun Finly menyembunyikannya dari kami. Dokter mengatakan bahwa tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Kemoterapi pun tak bisa lagi dilakukan. Kita hanya tinggal menunggu." Kata Juan dengan wajah yang sangat sedih.


Semua yang berdiri di depan ruangan ICCU itu hanya bisa tertunduk lemah mendengar penjelasan Juan.


Seorang perawat keluar. "Nyonya Finly ingin bicara dengan tuan Jero dan nyonya Giani."


Jero dan Giani masuk setelah memakai pakaian hijau, memakai masker dan kaos tangan.


Finly yang sedang terbaring lemah langsung tersenyum saat melihat Jero dan Giani yang masuk.


"Terima kasih sudah datang!" Kata Finly sambil memperbaiki selang oksigennya.


"Kak.....!" Giani berusaha menahan air matanya, tapi saat melihat wajah kurus dan pucat Finly, perempuan itu tak kuat menahan air matanya.


Finly mengulurkan tangannya, meminta Giani dan Jero mendekat karena memang suara Finly sangat lemah.


"Gi, terima kasih karena mau menikah dengan Jero dan membuatnya jatuh cinta padamu. Sebab dengan jalan itu, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk bertobat dan menikmati kebahagiaan bersama Juan." Finly menghentikan kalimatnya. Ia menarik napas panjang beberapa kali.


"Kak, sebaiknya kakak istirahat saja. Jangan terlalu banyak bicara." Ujar Giani.


Finly menggeleng. "Aku harus mengatakan ini. Aku berharap, jika aku sudah pergi, kalian mau tetap menjaga Alexa dan Felicia."


"Akan kami lakukan, kak."


Finly tersenyum. "Jero, kau sudah memaafkan aku, kan? Aku banyak menyeretmu dalam perbuatan dosa."


Kemudian, giliran Joana dan Aldo yang masuk.


"Mas, maafkan aku yang banyak menyakitiku selama kita hidup berumah tangga. Aku sungguh malu mengingat semua perbuatanku padamu."


Aldo menyentuh tangan Finly. "Jangan ingat masa lalu, Fin. Bagaimanapun kau pernah memberikan aku kebahagiaan saat hamil dan melahirkan Alexa. Aku tak pernah menyesal pernah menikah denganmu."


Air mata Finly mengalir. Ia mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada Joana. "Terima kasih Joana karena mencintai Alexa dengam tulus. Terima kasih juga karena sudah mau memberikan cinta pada Aldo. Aku berdoa semoga kalian berdua bahagia sampai maut memisahkan."


Aldo merasakan hatinya perih. Bagaimanapun, ia pernah sangat mencintai Finly. Melihat Finly diambang kematiannya, Aldo merasa sedih. Apalagi membayangkan kalau Alexa akan kehilangan mamanya.


***********


Tangan Finly membelai wajah Juan dengan sangat lemah. Juan mengambil tangan istrinya dan menggengamnya erat.


"Juan, kau harus menikah lagi jika aku sudah pergi. Tapi, carilah perempuan yang menyayangi Alexa dan Felicia. Kau tak boleh terpuruk dalam kesedihan saat aku pergi. "


Juan tak menjawab. Ia hanya mengecup lembut tangan Finly. Sementara mama Sinta dan papa Denny berdiri di sisi yang berlawanan dengan Juan. Alexa sendiri duduk di dekat kaki mamanya.


Finly sudah meminta maaf pada mama Sinta dan papa Denny. Ia merasa lega, isi hatinya sudah ia katakan semuanya.


Mereka berempat tak mau beranjak dari sisi Finly. Dion dan Clara baru saja pulang. Begitu juga dengan Jero, Giani, Aldo dan Joana sudah kembali ke rumah masing-masing. Tadi, Juan sempat membawa Felicia. Anak kecil itu hampir saja tak mau lepas memeluk mamanya. Ia bahkan tertidur di samping Finly. Pengasuhnya sudah membawa Felicia pulang.


"Eca.....!" Panggil Finly pelan.


Alexa mendekatkan wajahnya pada mamanya. Finly membisikan sesuatu yang membuat Alexa mengangguk. "Eca janji, ma." Ujar Alexa dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


Finly menarik napas panjang. "Aku mengantuk."


"Tidurlah, sayang." Kata Juan lalu membelai kepala Finly.


Perlahan Finly memejamkan matanya. Ia terlihat begitu damai. Ada senyum di wajahnya. Sampai akhirnya, Juan merasakan kalau pegangan tangan Finly melemah, bunyi alat pendeteksi jantung pun terdengar nada bip yang panjang dan garis lurus terlihat di monitor.


Mama Sinta langsung memeluk papa Denny dengan tangisnya yang dalam.


Sedangkan Juan memandang Finly dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. "Selamat jalan, sayangku. Kau akan selalu hidup dalam hatiku."


"Mama....!" teriak Alexa lalu memeluk tubuh Finly yang sudah terbaring kaku.


*******


Langit Jakarta di sore itu terlihat mendung. Di sebuah kompleks pemakaman mewah, orang-orang baru saja bubar setelah proses pemakaman dari Finly selesai.


Masih berdiri mengelilingi makam, Juan yang sedang mengendong Felicia. Anak kecil itu belum terlalu mengerti apa yang terjadi namun dia terlihat sedih. Matanya tak pernah lepas pada foto berukuran 20R yang diletakan di depan nisan.


"Mama.....! Mama....!" itulah yang selalu Felicia sebutkan.


Alexa masih berjongkok di depan makam. Tangannya sesekali menghapus air matanya. "Ma, Eca janji tak akan menangis lagi setelah hari ini. Tapi kalau Eca kangen mama, boleh kan sesekali Eca menangis? Tapi Eca janji tak akan menangis di depan Felicia."


Air mata Giani dan Joana pun mengalir kembali. Kedua wanita yang sama-sama menyayangi Alexa itu merasakan kepedihan hati Alexa. Selama 4 tahun ini, Finly sudah menebus kesalahannya yang sering mengabaikan Alexa saat ia kecil. Finly berhasil menumbuhkan rasa cinta yang besar di hati Alexa.


*Pergilah dengan damai, kak. Aku tak akan pernah mengabaikan Alexa. Batin Giani.


Pergilah dalam damai, Finly. Alexa dan Felicia tak akan pernah kehilangan kasih sayang dariku. Batin Joana dalam dekapan Aldo.


*******


Seminggu telah berlalu.....


"Juan, Finly memintaku untuk memberikan tanah kosong di sebelah rumahku untuk kau bangun rumah di sana. Finly tahu kalau Alexa tak bisa jauh darimu dan juga dariku. Aku mohon, kau jangan menolaknya." Kata Aldo saat ia dan Joana menemui Juan sore ini.


Juan menarik napas panjang. "Dia bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Dia memang wanita yang luar biasa."


"Jadi, papi Juan mau tinggal di dekat rumah papa Aldo kan? Supaya Eca dan Felicia tak akan pernah berpisah. Eca sudah janji pada mama untuk menjaga Felicia." Kata Alexa.


"Ya, anakku. Kita akan bangun rumah di samping rumah papa Aldo." Kata Juan saat melihat senyum di wajah Alexa.


Alexa tersenyum. Ia menatap foto mamanya yang dipajang di ruang tamu itu. Ma, tenang di sana ya? Akan Eca penuhi semua yang sudah Eca janjikan pada mama. Eca akan menemukannya.


Hiks.....hiks....jahat kah aku membuat Finly mati?


Tapi realitanya orang yang kena kanker stadium 4, jarang ada yang sembuh kan guys?


Finly sempat bahagia walaupun hanya 4 tahun bersama Finly.


Terus si Juan bagaimana dong? Masa Juan nggak bahagia?


Alexa akan menemukan kebahagiaan untuk Juan. Dengan bantuan mami Bulenya dan bibi Giani yang sama-sama cerdik. Mau tahu???


Akan ada part khusus untuk si duda keren Juan yang sudah melakukan kebaikan dengan menikahi Finly yang sakit.


Terus dukung emak ya????

__ADS_1


__ADS_2