Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Ngidam atau Bucin?


__ADS_3

Setelah satu minggu Jeronimo tak masuk kantor, hari ini ia bersiap untuk kembali beraktifitas. Pagi-pagi sekali, Jero sudah bangun untuk menyiapkan sarapan bagi Giani. Bi Lumi mulai hari ini akan datang dan membantu Giani. Ada juga pelayan dari rumah mama Sinta yang khusus datang untuk bersih-bersih rumah dan halaman. Baik bi Lumi maupun pelayan dari rumah mama Sinta hanya datang di pagi hari dan akan pulang saat jam 5 sore.


"Tuan sudah membuat sarapan?"Tanya bi Lumi saat melibat meja makan yang sudah berisi beberapa macam makanan.


"Iya. Aku takut Giani akan bangn cepat dan minta makan." jawab Jero lalu membuka apron dan meletakkannya di atas pantry.


"Aku mandi dulu, bi. Sudah jam 7." Kata Jero lalu segera menaiki tangga menuju ke kamarnya. Saat ia membuka, dilihatnya Giani yang sudah membuka mata namun masih memeluk guling.


"Hai....!" Sapa Jero sambil mendekat. Ia duduk si tepi tempat tidur sambil membelai wajah Giani. "Mau sarapan?"


Giani menggeleng. "Mau dipeluk oleh Bee."


Jero tersenyum. Ia pun naik ke atas tempat tidur lalu memeluk Giani. Keduanya saling berhadapan. Jero dengan lembut mengecup dahi Giani sambil mengusap punggung istrinya itu. Giani memejamkan matanya. Menikmati sentuhan suaminya dan juga menghirup bau badan Jero yang sangat ia sukai.


"Mel, sekarang aku mau mandi dulu ya? Jam 9 ada rapat di kantor." kata Jero lembut.


Giani mengangguk walaupun hatinya belum rela. Ia ingin lebih lama menikmati belaian Jero dipunggungnya.


Jero pun bergegas ke kamar mandi. Tak sampai 15 menit ia sudah keluar dan langsung tersenyum melihat Giani yang sudah menyiapkan pakaiannya.


"Terima kasih, sayang." ujar Jero.


"Sama-sama." sahut Giani lalu segera masuk ke kamar mandi. Ia menggosok giginya dan mencuci wajahnya. Giani masih malas untuk mandi.


"Selesai rapat, apakah masih ada agenda kerja lagi?" Tanya Giani setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi.


"Belum tahu juga. Selly yang mengatur jadwalku." Jawab Jero sambil mengenakan sepatunya. Begitu selesai, ia segera berdiri. Tangannya meraih jas dan tas kerjanya.


"Ayo kita turun untuk sarapan, Mel."


Giani melingkarkan tangannya di lengan Jero, lalu keduanya turun bersama.


"Sarapannya enak!" Kata Giani membuat Jero tersenyum senang.


"Makan yang banyak, Mel. Ada dua bayi dalam perutmu. Mereka membutuhkan nutrisi yang banyak."


Giani hanya mengangguk. Bi Lumi jadi senyum-senyum sendiri melihat kemesraan pasangan yang baru saja berbaikan kembali.


"Aku pergi, Mel. Kalau ada apa-apa telepon aku ya?" Pesan Jero saat Giani mengantarnya sampai di depan pintu.


"Bee, jangan lama-lama pulangnya."


"Kalau pekerjaanku sudah selesai, aku akan cepat kembali." Jero mengecup bibir istrinya lalu segera masuk ke dalam mobilnya. Ia melambaikan tangan pada Giani sebelum menjalankan mobilnya.


Saat Giani menutup pintu lalu melangkah memasuki rumahtiba-tiba ia merasa perutnya tak enak. Giani bahkan merasa mual. Ia pun bergegas ke toilet.


*********


Selesai rapat pagi ini, Jero ada pertemuan dengan pihak perusahaan yang akan mengisi barang-barang di hotel terbaru mereka.


"Nona Anggita?" Jero terkejut karena yang datang adalah Anggita dan bukan mamanya.


"Hallo tuan Dawson!" Anggita mengulurkan tangannya.


Jero menyambut uluran tangan itu. "Panggil saja Jero."

__ADS_1


"Baiklah, Jero!" Anggita tersenyum senang. Jero yang kata orang cool dan kurang ramah, nyatanya hari ini sangat ramah padanya.


"Bagaimana dengan kerja sama kita?" Tanya Jero setelah keduanya duduk saling berhadapan.


"Tuan Frangky sudah memeriksa barangnya dan proses pemasangan di masing-masing kamar sementara berjalan. Hanya saja ada beberapa barang yang agak beda dengan gambar yang pernah kami tunjukan seperti meja dan kursi dalam kamar. Soalnya proses pembuatannya mengalami hambatan di bahan bakunya. Karena itu saya menawarkan model yang lain untuk suite room, harganya tetap sama."


Anggita mengulurkan katalog gambar yang dibawahnya. Jero membacanya secara seksama. "Saya harus melihat kualitas barangnya sebelum menerima tawarannya."


"Baiklah. Kalau mau kita dapat pergi sekarang ke toko furniture kami."


"Boleh. Kebetulan 2 jam kedepan jadwal saya kosong."


Jero pun pamit pada sekretarisnya dan pergi dengan Anggita. Keduanya naik ke mobil Jero sementara mobil Anggita di bawa oleh sopirnya.


Anggita terlihat sangat senang. Jujur saja saat melihat Jero pertama kali, Anggita langsung jatuh hati pada pria bule ini. Perawakannya yang tinggi, sangat cocok dengan Anggita yang memiliki tinggi badan bak seorang model.


Sementara itu di rumah keluarga Dawson...


Giani meraih ponselnya. Ia merasa sangat bosan sendirian di rumah. Walaupun ada bi Lumi dan pelayan lainnya, namun Giani tetap saja merasa kesepian.


Iseng-iseng ia membuka berita-berita yang sedang viral. Matanya langsung terbelalak saat melihat foto Jero yang sedang berdansa dengam seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian yang cukup terbuka dibagian dadanya. Jantung Giani langsung berdetak cepat. Apalagi saat membaca headline berita itu :ANAK PENGUSAHA FURNITURE NAMPAK MESRA BERDANSA DENGAN PENGUSAHA MUDA.


Mata Giani membaca kapan berita itu diunggah. Apa? Kejadiannya di malam saat aku kembali? Jadi dia pulang malam itu setelah berdansa dengan gadis cantik ini?


Emosi Giani tiba-tiba saja meledak. Ia bahkan merasa mual dan muntah. Akhirnya Giani pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Habis sudah makan siang yang baru saja dinikmatinya.


Dengan langkah yang lemah, Giani membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menelepon Jero. Panggilannya tak dijawab. Giani mencoba lagi. Tetap saja tak dijawab. Hati perempuan itu jadi semakin galau. Ia pun mencoba menghubungi sekretaris Jero. Nomor ponsel Selly sengaja diberikan oleh Jero agar Giani dapat menghubungi Selly jika Jero tak menjawab panggilannya.


"Hallo nyonya Dawson!" Sapa Selly ramah.


"Tuan Dawson sedang keluar bersama nona Anggita untuk mengecek barang, nyonya. Tadi saya ke ruangan tuan, ternyata ponsel tuan ketinggalan."


"Anggita? Yang minggu lalu melaksanakan ulang tahun?"


"Ya nyonya!"


"Terima kasih!"


Giani membanting ponselnya di atas tempat tidur. Apakah ia sengaja meninggalkan ponselnya karena pergi dengan Anggita? Atau memang dia melupakannya?


Tangan Giani kembali meraih ponselnya. "Hallo Selly, jika suamiku pulang, bilang ke dia cepat telepon aku ya?"


"Baik, nyonya!"


Hati Giani menjadi tak tenang. Ia kembali merasa mual.


2 jam berlalu, ponsel Giani akhirnya berbunyi. Ia melihat nama MY BEE di sana.


"Hallo sayang. Maaf ya ponselku ketinggalan. Ada apa?"


"Pulang sekarang, Bee. Aku sudah 4 kali muntah. Aku butuh kamu!" Kata Giani tanpa bisa menahan tangisnya. Entah mengapa ia tak bisa menahan air matanya.


"Mel, aku masih ada pertemuan penting untuk pembahasan masalah pembangunan apartemen."


"Minta Frangky untuk menggantikanmu. Aku akan marah kalau kamu nggak pulang sekarang! Aku butuh kamu, Bee."

__ADS_1


"Iya, Mel. Aku pulang sekarang!"


Giani tersenyum. Ia membelai perutnya. "Daddy akan pulang, sayang!"


40 menit kemudian Jero sudah sampai di rumah. Ia segera menuju ke kamar. Saat pintu dibuka, dilihatnya Giani baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mel, kamu muntah lagi? Kemarin kan sudah nggak muntah. Makannya juga sudah bagus."


"Sepertinya aku nggak boleh berjauhan denganmu." Kata Giani. Ia langsung memeluk Jero dengan sangat posesif. Jero membalas pelukan istrinya sambil tersenyum. Ia senang karena kehamilan Giani membuat perempuan itu lebih terbuka dengan perasaannya.


"Bee, siapa Anggita?" Tanya Giani tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya.


"Dia adalah rekan bisnisku. Kenapa?"


"Lalu kenapa di pesta ulang tahunnya kamu berdansa dengannya?"


"Dari mana kamu tahu?"


"Tak perlu mencari tahu dari mana aku mengetahuinya. Di malam kepulangan aku, kamu beneran ke pesta ulang tahunnya kan?" Suara Giani semakin melengking.


"Sayang, waktu itu aku nggak tahu kalau kamu akan pulang. Lagi pula status kita saat itu sudah bercerai."


"Oh, jadi karena sudah bercerai maka kamu seenaknya saja dekat dengan perempuan lain? Seandainya aku nggak pulang, kamu pasti sudah punya hubungan dengan dia kan?" Mata Giani melotot.


"Gi, aku hanya sekedar berdansa, nggak ada maksud apa-apa." Jero berusaha meraih tangan Giani namun perempuan itu menepisnya.


"Dan tadi saat kamu keluar dengannya, kamu sengajakan meninggalkan ponselmu?"


"Mel, aku beneran lupa membawa ponselku."


Giani cemberut. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia sendiri heran kenapa akhir-akhir ini menjadi manja dan cengeng pada Jero.


"Mel sayang, aku berani sumpah kalau nggak ada hubungan apa-apa dengan Anggita.


"Mana ponselmu?" Giani mengulurkan tangannya.


Jero mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan memberikan pada Giani.


"Instagram dan FB mu masih aktifkan?"


Jero mengangguk.


"Kalau begitu, mari kita berpose mesra agar si Anggita tahu kalau kamu sudah menikah." Giani menarik tangan Jero menuju ke sofa. Jero duduk sementara Giani ada dipangkuannya. Beberapa gaya mesra diabadikan Giani. Lalu setelah itu Giani membagikannya di akun instagram.


"Sekarang mau apa lagi?" Tanya Jero.


"Pingin bobo sambil dipeluk kamu, Bee!"


"Ya sudah, mari kita bobo!"


Giani dan Jero berbaring bersama. Setelah Giani membelakanginya, Jero langsung memeluknya dari belakang sambil mengusap perutnya..


Mau tahu kegilaan Giani selama hamil?


jangan lupa vote emak ya...

__ADS_1


komen dan like juga


__ADS_2