
Maaf ya....baru up
emak masuk rumah sakit lagi...
Adakah yang tahu obat asam lambung?
selamat membaca...
**********
Alexa bersyukur karena sampai mereka tiba Madrid, Oliver sama sekali tak mengganggunya lagi.
Saat pesawat sudah berhenti, Alexa, Lisa, bersama pilot dan co-pilot berdiri di dekat pintu.
Oliver keluar dari kamarnya. Ia terlihat tampan menggunakan kaos hitam ketat yang membungkus tubuh atletisnya berpadu dengan celana jeans.
"Terima kasih kapten atas perjalanannya yang menyenangkan." Kata Oliver sambil menjabat tangan pilot dan co-pilot. Ia lalu menatap Lisa. "Terima kasih juga atas pelayanan mu Miss Lisa."
"Sama-sama tuan." kata Lisa dengan senyum termanisnya.
Oliver lalu menatap Alexa tanpa berkedip membuat Alexa memalingkan wajahnya.
Oliver maju dan berbisik di telinga Alexa.
"Nona Alexa, terima kasih juga untuk tendangan mu tadi malam. Aku jadi semakin bersemangat untuk tidur denganmu." katanya sangat pelan namun dengan suara yang terdengar sangat menggoda.
Wajah Alexa langsung memerah. Apalagi saat Oliver dengan tidak malunya mencium pipi Alexa.
"Tuan!" Alexa menatapnya marah.
Oliver hanya tertawa. Ia mengenakan kacamata hitamnya dan segera menuruni tangga.
"Dasar lelaki mesum!" Ucap Alexa sambil menyeka pipinya yang dicium Oliver.
Lisa menatap Alexa dengan tatapan tak percaya. "Apakah si tampan itu melakukan sesuatu padamu?"
"Tidak. Aku hanya tak suka dengan sikapnya. Sok tampan!" ujar Alexa lalu segera menuju ke bagian belakang pesawat untuk mengambil kopernya.
Selesai dengan urusan di bagian imigrasi, Alexa dan Lisa segera melapor ke kantor maskapai untuk mendapatkan jadwal penerbangan selanjutnya.
"Nona Lisa, kau akan terbang kembali ke Jakarta 2 hari lagi. Sedangkan nona Alexa, kami belum mendapatkan jadwal untukmu." Kata Ruth, wanita yang bertugas di bagian administrasi maskapai.
Alexa mendengus kesal.
"Kalian akan di antar ke apartemen milik maskapai." Ujar Ruth lalu segera memanggil seorang pria untuk mengantar Alexa dan Lisa.
30 menit perjalanan dari bandara ke tempat penginapan. Mereka tiba di salah satu kompleks apartemen. Alexa dan Lisa segera di bawa ke lantai 12, di unit nomor 12A. Sebuah ruangan berlantai 1 dan memiliki 2 kamar.
"Aku mau mandi dulu!" ujar Alexa lalu segera masuk ke salah satu kamar. Saat ia baru saja akan membuka seragam pramugarinya, ponselnya berbunyi. Ternyata dari kapten Haris.
"Hallo, Kapten!" sapa Alexa.
"Haris saja, Eca."
Alexa tertawa. Haris memang sudah mendengar bagaimana orang-orang yang ada di rumahnya memanggil dengan sebutan 'Eca'. Sejak saat itulah Haris memanggilnya dengan nama kesayangannya itu.
"Baiklah, Haris."
"Aku baru tahu kalau kamu diterbangkan ke Madrid. Aku jadi terkejut mendengarnya."
"Aku sendiri cukup kesal mendengarnya. Namun mau bagaimana lagi? Ini perintah bos yang memiliki maskapai penerbangan."
"Kapan kau akan kembali ke Jakarta? Aku akan meminta jadwalmu kembali bersamaku. Rasanya ada yang kurang jika kamu tak ada."
Alexa hanya terkekeh. "Kan banyak pramugari cantik di maskapai kita."
"Tak ada yang bisa menandingi mu, Eca."
"Berhentilah merayu, Haris. Sekarang aku mau mandi dulu."
"Ok. Nanti kita saling telepon lagi ya. Aku sekarang akan menuju ke Malaysia."
__ADS_1
"Take care, Haris." ujar Alexa sebelum mengakhiri percakapan mereka. Alexa tahu kalau Haris menyukainya. Namun ia harus yakin benar kalau hatinya juga ada untuk pilot tampan itu.
Menjadi pramugari memang cita-citanya sejak kecil. Walaupun papa Aldo lebih menginginkan Alexa untuk meneruskan perusahaan keluarga, namun Alexa ingin menikmati dulu pekerjaannya sebagai pramugari. Alexa berpikir, nantilah kalau usianya sudah 30 tahun, barulah ia akan mengurus perusahaan keluarganya itu.
***********
Lisa ternyata hanya satu hari berada di Madrid. Sore ini, ia sudah ikut penerbangan ke Singapura. Alexa jadi bosan berada di apartemen sendiri. Ia sudah mengecek jadwal yang ada, namun namanya belum ada.
Berkeliling kota Madrid tak membuatnya merasa senang. Ia pun kembali ke apartemen. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Kevin, asistennya Oliver ada di sana.
"Bagaimana anda bisa masuk?" tanya Alexa.
"Tentu saja sebagai asisten tuan Oliver, saya punya akses untuk datang di sini. Oh ya, ini gaun untuk anda. Malam nanti pukul 8, saya akan menjemput anda untuk makan malam."
Alexa mengerutkan dahinya. "Makan malam? Memangnya ada acara perusahaan?"
"Ya."
"Baiklah." Alexa menerima paper bag itu. Setelah Kevin pergi, Alexa membuka ponselnya dan mencari tahu acara khusus apa yang ada di perusahaan namun ia tak menemukannya. Ulang tahun maskapai masih 2 bulan lagi. Apakah ada yang berulang tahun dari salah satu bos yang ada?
Jam 8 tepat, Kevin sudah menjemput Alexa. Mobil pun akhirnya berhenti di sebuah restoran mewah yang ada ruang VVIP nya. Perasaan Alexa mulai tak enak. Apalagi saat Kevin membukakan pintu VVIP dan ternyata hanya ada Oliver di sana. Kevin bahkan tak ikut masuk.
"Selamat malam nona Alexa!" Sapa Oliver dengan senyum manisnya.
"Kevin mengatakan padaku kalau ada acara perusahaan. Kalau tahu hanya makan malam berdua denganmu, aku pulang saja." Alexa membalikan tubuhnya hendak pergi. Namun saat ia membuka pintu, ternyata pintu terkunci dari luar.
"Apa-apaan ini? Cepat buka pintunya." teriak Alexa dengan geram.
"Ayolah, Alexa. Hanya makan malam saja. Mengapa kau terlihat begitu takut padaku? Apakah kau takut jatuh cinta pada pesonaku?"
"Apa? Hallo, anda mungkin tampan, tuan. Namun pesona anda tak mungkin membuatku suka dengan anda." Alexa mencibirkan bibirnya.
"Kalau begitu, mengapa kamu takut untuk duduk di depanku dan makan malam bersama? Aku hanya ingin minta maaf atas kekasaranku padamu di pesawat." Oliver berdiri, lalu menarik kursi yang ada di depannya. Alexa pun akhirnya duduk, membuat Oliver tersenyum senang.
"Semoga kau suka dengan makanannya. Ini adalah salah satu restoran Asia yang terkenal di Madrid. Aku tahu kalau sebagai gadis Indonesia, kau pasti lebih senang makan nasi." Ujar Oliver sambil membuka penutup makanan yang ada.
Alexa yang semenjak datang ke Madrid ini hanya makan roti, langsung tersenyum melihat makanan yang ada di depannya.
Alexa menatap Oliver. "Terima kasih, tuan."
"Dan ini adalah anggur terbaik. Tanpa alkohol. Cobalah!" Kata Oliver lalu menyerahkan gelas yang sudah terisi anggur itu. Alexa mengangguk. Ia hampir saja meminum anggur itu. Namun otaknya memperingati dia untuk hati-hati dalam menerima minuman dari lelaki belang seperti Oliver.
"Eh, aku minum anggurnya nanti setelah makan. Bolehkah aku meminta air putih dalam kemasan botol? Aku tak boleh minum sembarangan air karena memiliki alergi." Alexa sebenarnya sedang berbohong. Ia tak memiliki Alergi apapun. Ia hanya merasa kalau air dalam kemasan lebih aman untuk diminum.
Oliver menelepon Kevin. 5 menit kemudian, Kevin datang sambil membawa beberapa botol air mineral.
Alexa menarik napas lega melihat air itu dalam botol itu masih tersegel. Ia pun menikmati makan malamnya dengan nikmat. Oliver juga terlihat menikmati makan malam dengan nikmat juga.
"Kau tidak meminum anggurnya?" tanya Oliver saat mereka sudah selesai makan.
"Sedikit lagi, tuan. Aku masih kenyang."
Ponsel Oliver berbunyi. Setelah melihat kalau yang meneleponnya adalah salah satu rekan bisnisnya, Oliver keluar ruangan, setelah sebelumnya pamit pada Alexa. Kesempatan itu digunakan Alexa untuk mengambil gelas yang berisi anggur. Ia mencium bau anggur itu. Gadis itu langsung tersenyum miring. Ia tahu apa yang sudah dimasukan ke dalam gelas anggurnya. Dengan cepat, Alexa menukar gelas anggurnya dengan Oliver. Alexa bahkan membuang anggur dari gelas Oliver disalah satu pot bunga yang ada di sana dan menuangkannya dengan anggur yang baru.
Saat Alexa mendengar langkah kaki Oliver, ia pura-pura menyesap anggurnya.
"Kau sudah minum?" tanya Oliver dengan mata yang berbinar.
"Sudah, tuan."
"Panggil aku Oliver, cantik."
"Baiklah, Oliver. Kau tidak meminum anggurmu?"
Oliver mengambil gelas yang ada di sampingnya. Ia meminum habis anggur yang ada di dalam gelasnya.
Alexa tersenyum. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Oliver saat obat itu bekerja. Alexa sudah dilatih oleh Joana untuk tidak sembarangan makan dan minum dengan seseorang yang baru dikenal. Ia juga sudah belajar banyak tentang obat-obat tertentu yang bisa dimasukan ke dalam makanan dan minumannya. Mau menjebak aku? Tak semudah itu, pria mesum!
"Alexa, kau sudah punya pacar?"
Alexa menggeleng. "Saya masih ingin serius dengan pekerjaan."
__ADS_1
"Aku dengar kau dekat dengan kapten Haris."
"Ya. Dia pria yang pantas untuk ku dekati."
"Bagaimana dengan aku?"
Alexa sekali lagi hanya tersenyum. Ia melihat bagaimana wajah Oliver menjadi merah. Ia juga melihat bagaimana tangan Oliver yang memegang tengkuknya.
"Oliver, saya mau ke toilet dulu sebentar. Aku mau buang air."
"Silahkan!"
Alexa pun melangkah menuju ke luar. Ia tersenyum ke arah Kevin dan 2 orang bodyguard yang sedang berjaga di luar.
"Aku mau ke toilet dulu." ujar Alexa.
"Toiletnya ada di ujung sana, nona." ujar salah satu bodyguard. Alexa hanya mengangguk. Ia melangkah menuju ke toilet. Namun saat dilihatnya mereka tak mengikuti langkahnya, Alexa langsung berbelok ke kiri dan keluar dari restoran itu mengikuti pintu belakang. Kebetulan ada taxi yang lewat, maka segeralah gadis itu naik taxi dengan senyum kemenangan. Thanks mami bule. Pelajaranmu sangat berguna untukku.
Alexa menyebutkan alamat apartemennya. Ia merasa ingin tertawa membayangkan wajah Oliver yang pasti sangat merah sekarang.
********
Kembali ke restoran....
Astaga, apa yang terjadi dengan diriku? Mengapa aku merasa horni seperti ini? Oliver merasa tubuhnya menjadi panas. Ada sesuatu yang bermain di dalam tubuhnya dan mendorongnya untuk segera mencari pelampiasan. Tangan Oliver langsung mengambil gelas yang tadi dipakainya untuk minum. Matanya langsung menggelap saat ia mencium bau yang sangat khas.
"Sial...!" Maki Oliver. "Kevin....!"
Hanya beberapa detik saja, Kevin langsung masuk. "Di mana gadis itu?"
"Di toilet, tuan."
"Pastikan dia segera keluar. Dia menukar gelas anggurnya saat aku keluar menerima telepon tadi."
"Jadi, bos yang meminum obat perangsang nya?"
"Ya. Obatnya sepertinya telah bekerja dengan sangat baik. Aku akan memberi pelajaran pada gadis itu sekarang juga. Siapkan mobil! Kita ikut pintu belakang supaya tak menarik perhatian!" Oliver segera keluar dari ruangan. Ia menuju ke tolilet yang ditunjukan oleh bodyguard nya. Saat Oliver masuk, ia terkejut melihat toiletnya kosong.
"Kalian tidak mengikutinya saat ia ke tolilet?" teriak Oliver marah.
"Maaf bos. kami pikir tak pantas mengikuti gadis yang akan ke toilet." jawab salah satu bodyguard.
Oliver mengepal tangannya keras. "Kita susul ke apartemennya."
Kevin segera bergerak cepat. Ia sendiri mengagumi kepintaran Alexa dalam menggagalkan rencana Oliver.
Untunglah jarak dari restoran ke apartemen hanya memakan waktu 10 menit. Oliver dengan tak sabaran segera masuk ke dalam apartemen. Namun yang dilihatnya apartemen itu kosong. Hanya ada gaun yang dipakai oleh Alexa tadi. Pakaian Alexa yang lain masih ada. Tapi dari rekaman CCTV, Alexa keluar lagi dengan buru-buru menggunakan jeans dan kaos tangan panjang. Terlihat kalau ia hanya membawa sebuah dompet kecil.
"Kemana gadis itu...?" Oliver berteriak marah. Obat yang masuk ke dalam tubuhny sudah bekerja dengan luar biasa.
"Kevin, ayo kita ke apartemennya Sonia." Ujar Oliver menyebut nama salah satu model yang menjadi kekasihnya. Ia tahu kalau Sonia tak pernah menolaknya.
Sebelum turun dari mobilnya, Oliver menatap Kevin. "Cari dimana gadis itu berada. Kalau tidak, kalian semua ku pecat!"
Oliver pun setengah berlari memasuki apartemen Sonia. Ia sungguh tak tahan untuk menyalurkan hasratnya. Walaupun sebenarnya Oliver tak menyukai Sonia lagi, namun ia terpaksa melakukannya.
**********
Sementara itu, di sebuah hotel yang sederhana, Alexa sudah tertidur sangat nyenyak. Ia tahu kalau Oliver pasti akan mengejarnya. Makanya gadis itu dengan cepat segera ganti pakaian dan pergi lagi. Biarlah malam ini dia keluar uang membayar hotel yang penting ia selamat dari amukan Oliver yang sudah dipengaruhi obat perangsang.
*********
Oliver menyingkirkan tangan Sonia yang masih memeluknya. Gadis itu sangat kaget karena Oliver datang dan langsung menyerangnya tanpa aba-aba.
Ponsel Oliver berbunyi. "Hallo Kevin."
"Nona Alexa menginap di salah satu hotel bintang 3. Dia ada di kamar 217."
"Pastikan kalian berjaga di sana. Aku akan menghampirinya untuk mengucapkan selamat pagi." ujar Oliver sambil turun dari tempat tidur. Ia mengenakan pakaiannya kembali lalu menatap jam tangannya yang masih menunjukan waktu pukul 6 pagi.
Kali ini kau tak akan lolos manis. Guman Oliver saat berjalan keluar dari apartemen Sonia.
__ADS_1
Bagaimana kisah Alexa selanjutnya? Jangan lupa dukung emak ya....