
Ada yang bilang antara cinta dan napsu bedanya sangat tipis. Keduanya saling melengkapi dan saling mengisi.
Giani awalnya merasa kalau hasrat dalam dirinya muncul setiap kali berdekatan dengan jero karena pesona tubuh pria itu. Jero tahu bagaimana membuat perempuan terlena oleh karena sentuhannya.
Seperti juga saat ini. Ketika cumbuan dan belaian Jero kembali dirasakannya, otak Giani ingin menolaknya namun hati dan tubuhnya memberikan respon yang berbeda. Giani bukan hanya mendamba, tapi dia merindukan sentuhan Jero. Padahal 2 hari yang lalu mereka baru saja saling menyatu.
Pergulatan yang panas itu akhirnya selesai, ketika 3 jam mereka menikmati kepuasan raga bersama.
"Tidurlah!" Jero menarik tubuh Giani dalam dekapannya, seolah tak puas selama 3 jam mereka saling memeluk dalam balutan gairah.
Sejujurnya Giani sangat lelah. Ingin rasanya ia tenggelam dalam dekapan Jero yang saat ini begitu nyaman dirasakannya. Tidur dengan wajah yang berada di dada Jero selalu membuat Giani terlena. Namun ia tahu kalau ia sampai tertidur, maka Jero pasti tak akan melepaskannya lagi ketika mereka terbangun. Giani hanya pura-pura memejamkan matanya. Ia bisa merasakan kecupan Jero didahinya, sampai akhirnya pelukan Jero dirasakannya sudah tak seerat tadi, Giani tahu kalau Jero sudah terlelap. Perlahan, ia melepaskan tangan Jero yang memeluknya. Giani berjalan perlahan menuju ke kamar mandi. Ia harus mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa percintaan mereka.
Selesai mandi dan mengenakan pakaiannya kembali, Giani pun menulis sesuatu di kertas memo yang tersedia di kamar itu. Ia memandang Jero yang nampak terlelap. Hati Giani kembali terasa sesak. Ingin rasanya ia memeluk tubuh kekar itu yang sudah berkali-kali memberikannya kehangatan. Tapi, mengingat kak Aldo yang terluka, Giani pun memutuskan keluar dari kamar itu.
"Sudah selesai?"
Giani hampir saja berteriak kaget saat melihat Joana yang berdiri tak jauh dari pintu kamar.
"Jo, sudah berapa lama kamu ada di sini?"
"Kurang lebih 30 menit. Aku menelepon ponselmu namun tidak aktif. Mana Jero?"
"Tidur."
"Jadi sudah salam perpisahan?"
"Sudah."
"Berapa ronde?"
Giani menepuk bahu sahabatnya itu. Wajahnya jadi merah. Keduanya melangkah bersama menuju lift.
"Jero pakai pengaman kan?" Tanya Joana saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Pengaman?"
" Atau kamu meminum obat kontrasepsi?"
Giani terkejut. "Aku.....Jero....ah, nggak mungkinlah. Yang lalu saja sudah pakai obat penyubur, minum susu persiapan kehamilan, nyatanya aku nggak hamil. Mungkin saja kami nggak ada kecocokan."
Joana tersenyum. "Gi, kadang kehamilan itu datang di waktu yang tidak pernah kita pikirkan."
"Jo, jangan menakuti aku."
"Memangnya kalau kamu hamil, apa yang akan kamu lakukan?"
"Kak Jero sudah berjanji akan menandatangani surat perceraian kami begitu ia tiba di Jakarta."
Joana hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Gi, dulu aku benci banget sama Jero. Aku bantu kamu untuk mengerjainya karena kesal mendengar perbuatannya dengan Finly. Namun semakin aku mengenalnya, aku jadi tahu kalau Jero tak seburuk yang kita bayangkan. Apalagi saat melihatnya sekarang. Aku justru jadi sedih kalau kalian berpisah."
Giani tak menanggapi ucapan Joana. Ia hanya fokus memandang keluar kaca mobil. Ternyata musim gugur sudah datang. Banyak daun yang berguguran. Seperti juga bunga cinta di dalam hatinya, yang harus gugur sebelum berkembang.
***********
Hati Jero langsung terasa sakit saat ia bangun dan tak menemukan Giani ada di sampingnya. Ia pun turun dari tempat tidur, memakai celananya kembali. Lalu matanya menatap secarik kertas yang terletak di atas meja. Jero mengenal itu sebagai tulisan Giani.
Kak, terima kasih selama 1 tahun ini telah memberikan aku banyak pengalaman. Mungkin
kisah kita harus seperti ini. Mencintai tak selamanya harus memiliki. Aku percaya, kakak tak akan pernah kembali ke kehidupan yang lama. Percayalah, akan datang hal baik pada orang-orang yang selalu berbuat baik.
__ADS_1
Jika memang perpisahan harus kita lalui, biarlah ini menjadi perpisahan yang manis. Kita tetap berteman tanpa ada palo dan nido.
Jero mendekap surat itu ke dadanya. Susah payah Jero menahan tangisnya namun ia tak bisa. Tangis Jero pecah juga. Giani telah menutup semua kesempatan bagi mereka untuk bersama.
Bel pintu berbunyi. Jero menghapus air matanya lalu membuka pintu kamarnya. Ia langsung tersenyum melihat wajah penuh kasih mama Sinta.
"Mama tahu kau butuh teman untuk berbincang. Makanya mama datang ke sini." Mama Sinta langsung masuk. Ia duduk di atas sofa. Jero mengikuti langkah mamanya dan duduk bersebelahan dengannya.
"Mama bicara dengan Giani sebelum kembali ke sini. Alexa menanyakan kamu terus. Mama terpaksa bohong bilang kamu ada kerjaan."
"Aku sebenarmya kangen dengan Alexa tapi mau bagaimana lagi. Aldo membenciku, ma."
Mama Sinta mengusap punggung putranya. "Sabar nak. Hanya doa yang bisa mengubah segala sesuatu. Kalau memang Giani adalah jodohmu, Tuhan akan mengembalikan dia padamu."
Jero mengangguk. "Aku pasrah saja, ma. Namun aku tak akan pernah berhenti berharap." Jero membaringkan kepalanya dipangkuan mamanya. Ia bersyukur karena Tuhan memberikan mama Sinta yang sangat mengerti tentang dirinya.
**********
2 minggu pun berlalu
"Nona Giani, saya mau mengabarkan kalau tuan Jero sudah menandatangani berkas perceraiannya. Bulan depan, akte perceraiannya akan keluar. Akan saya kirimkan pada anda jika semuanya sudah beres."
"Terima kasih." Giani mengahiri percakapannya dengan pengacara kakaknya itu. Ia merasakan kalau hatinya sangat sakit. Ada perasaan tak rela saat menyadari kalau sekarang ia bukan istri Jeronimo Dawson lagi.
"Gi, kamu kenapa?" Tanya Joana yang melihat wajah Giani berubah menjadi pucat. Mereka baru saja pulang dari dokter. Hari ini jadwal terapi Alexa. Saat ini, Aldo sedang menidurkan Alexa di kamarnya.
"Jero sudah menandatangani berkas perceraiannya. Aku...aku ke kamar dulu." Giani melangkah meninggalkan Joana yang ada di dapur. Giani merasa kalau air matanya hampir saja keluar.
"Mana Giani?" Tanya Aldo yang baru saja turun dari atas.
"Dia ke kamarnya." Kata Joana sambil mengaduk teh yang baru saja dibuatnya.
"Aldo, Giani tadi terlihat sedih saat ia menerima telepon dari pengacaramu. Katanya Jero sudah menandatangani berkas perceraiannya."
"Kenapa dia bersedih?"
Joana menyerahkan gelas yang sudah berisi teh pada Aldo. "Aku pikir Giani mencintai Aldo."
"Tidak mungkin. Giani sudah mengatakan kalau dia tak mencintai Jero. Bahkan itu dia katakan di hadapan Jero."
Joana yang berdiri di depan Aldo memandang pria itu dengan intens. "Kau adalah kakaknya. Apakah kau tidak melihat perubahan adikmu semenjak kunjungan Jero dan mama Sinta? Giani lebih banyak melamun."
Aldo meletakan gelas ditanganya. "Masa sih?"
"Aldo, apakah kamu begitu membenci Jero sampai tak menyadari kalau adikmu mencintai pria itu?"
Aldo mendengus kesal. "Jero tak pantas untuk Giani. Adikku berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya."
"Kamu jangan egois!" Sentak Joana Kesal.
"Aku egois? Aku hanya memikirkan kebahagiaan adikku. Jero itu laki-laki tak baik. Siapa yang tahu kalau dia dan Finly sekarang sudah bebas ketemu?"
"Jero tak tertarik lagi pada Finly!"
"Kamu tahu apa tentang Finly?"
"Lalu kamu tahu apa tentang Jero?"
Joana dan Aldo saling bertatapan dengan sinis.
__ADS_1
"Kamu jelek kalau marah!" Kata Aldo lalu menarik hidung Joana.
"Sakit Aldo!" Joana menepis tangan Aldo. Namun yang terjadi, Aldo justru menarik Joana sehingga gadis itu langsung menubruk dada bidang Aldo. Wajah mereka begitu dekat, dan entah siapa yang memulainya, bibir mereka sudah menyatu dalam ciuman yang hangat. Ciuman itu yang awalnya lembut, berubah menjadi ciuman panas yang membakar gairah. Aldo yang sudah berbulan-bulan tak menyentuh wanita, serta Joana yang sudah lama juga tak disentuh lelaki, membuat keduanya seakan lupa dengan status mereka yang hanyalah teman. Tangan Joana sudah melingkar di leher Aldo dan sementara tangan Aldo sudah menyusup masuk ke dalam kemeja Joana.
"Kak....!" Giani yang keluar dari kamarnya karena merasa haus, terkejut melihat Aldo dan Joana yang sedang berciuman dengan baju Joana yang sudah sangat berantakan.
Joana langsung mendorong tubuh Aldo dengan keras membuat Aldo terpental dan membentur kursi makan. Ia lalu memperbaiki letak kemeja dan roknya.
"Maaf....! Aku nggak bermaksud menganggu. Aku hanya haus." Giani buru-buru membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Ia menatap Joana dan Aldo secara bergantian. "Lanjutkan saja. Tapi, di kamar ya. Jangan di sini!" Ujar Giani lalu segera berlari menuju ke kamarnya. Ia merasa sangat senang melihat kakaknya yang sedang bermesraan dengan Joana.
Setelah Giani pergi, Joana langsung mengambil tas dan kunci mobilnya. "Aku pulang dulu ya...!" Pamitnya.
"Jo...!" Panggil Aldo.
Langkah Joana terhenti namun ia tak berani membalikan badannya. Tiba-tiba ia merasa kalau tangan Aldo melingkar di perutnya dan menarik tubuhnya agar menempel didada Aldo.
"Aku selama ini tak pernah mengenal wabita lain selain Finly. Aku begitu jatuh cinta padanya saat itu. Namun beberapa bulan ini, saat dekat denganmu, aku merasa ada sesuatu dalam hatiku. Aku takut mengakuinya karena sebenarnya aku trauma untuk memulai lagi dengan wanita lain. Tadi, entah mengapa aku begitu ingin menciummu. Dan aku tak menyesal melakukannya karena aku sadar, itu semua kulakukan karena rasa yang mulai tumbuh dalam hatiku." Aldo melonggarkan pelukannya lalu membalikan tubuh Joana agar mereka bisa saling berhadapan. "Maukah kau memulainya bersamaku? Aku yakin Alexa tak akan keberatan jika kita bersama."
Joana tersenyum. "Ini serangan mendadak, Aldo. Aku sungguh terkejut mendengarnya. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku juga merasa ada sesuatu yang tumbuh dalam hatiku setiap kali kita dekat. Tapi, berikan aku waktu untuk berpikir. Bolehkan?"
Aldo mengangguk. "Aku siap menunggu!"
Joana mengecup bibir Aldo. "Aku pergi dulu ya." Joana melangkah. Namun sebelum mencapai pintu ia berbalik. "Aku suka caramu menciumku." Katanya lalu segera berbalik dan meninggalkan Aldo yang masih terpaku di tempatnya. Tak lama kemudian Aldo tersenyum sambil merabah bibirnya sendiri. Kenapa aku merasa kayak ABG ya?
***********
Jakarta.....
Rapat baru saja selesai. Jeronimo langsung berdiri diikuti oleh Beryl. Mereka baru saja membahas perkembangan produksi Dawson Family yang ada di Asia.
"Jero...!" Panggil Beryl saat Jero akan keluar.
"Ada apa?"
"Bagaimana proses perceraianmu?"
Jero menatap Beryl. "Kami sudah resmi bercerai."
"Waw...bagus dong. Kini aku bisa mengejar Giani. Kamu nggak marah kan?"
Jero merasakan kalau hatinya perih. "Kamu serius dengannya?"
"Tentulah."
Jero mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian tersenyum. "Kejarlah jika kau mau. Bahagiakan dia jika memang dia mencintaimu juga." Lalu ia melangkah.
"Kamu nggak mencintai dia kan?"
Jero menghentikan langkahnya. Ia kembali berbalik dan menatap Beryl. "Aku tergila-gila padanya." Jawab jero lalu kembali melangkah.
Beryl terkejut. Nggak cinta tapi tergila-gila. Apakah sepupuku itu sudah gila?
So....bagaimana komentarmu???
Vote emak ya...
jangan lupa like dan koment
maaf banyak typo...
__ADS_1