
Hai pembacaku...
besok tgl 15 pagi..kisah si kembar Gabrian dan Gabriel akan dirilis. Jadilah pembaca pertama ya. Dalam kisah ini masih ada cerita tentang romantisnya pasangan Eca dan Oliver serta Giani dan Jero
*********
Pak Guru Paul
Alexa begitu bergembira saat melihat pria tampan berkacamata itu, yang walaupun usianya sudah tak muda lagi namun ketampanannya tak pernah memudar.
Paul sangat terkejut melihat Alexa muncul di sekolahnya tempat mengajar yang adalah juga sekolah Alexa waktu SMA.
"Hallo Alexa, tumben datang ke sini." Ujar Paul sambil menjabat tangan Alexa. Wajah cantik Alexa menjadi sumringah. Namun wajah Oliver bagaikan tanpa ekspresi. Ia hanya berdiri di belakang istrinya tanpa mengatakan apapun.
"Pingin nostalgia aja, pak." Ujar Alexa sambil mengelus perutnya. Tak mungkinlah ia mengatakan kalau tiba-tiba saja kangen ingin bertemu dengan gurunya itu.
Mereka pun duduk di taman sekolah sambil.berbincang banyak hal. Oliver terlihat sedikit dongkol saat istrinya itu tertawa ketika mengenang bagaimana teman-teman se-gank nya dulu menuliskan puisi cinta pada pak guru itu walaupun tahu kalau pak guru Paul sudah menikah.
"Usia bapak berapa sekarang?" tanya Oliver penasaran.
"45 tahun."
45 tahun? Bagaimana ia dulu waktu berusia 25 tahun? Pasti lebih tampan dari sekarang. Pantas saja bibi Giani begitu bersimpati padanya. Dan Eca kecil begitu mengaguminya. Sekarang saja ia kelihatan masih berusia 30 tahun. Decak Oliver dalam hati.
Setelah puas berbincang-bincang, Alexa mengundang pak guru Paul untuk makan siang di rumah bibi Giani hari Sabtu nanti. Dan Paul dengan senang hati menerimanya.
"Ah, senang sekali rasanya bisa berjumpa dengan beliau." Kata Alexa sambil mengusap-usap perutnya saat ia dan Oliver sudah dalam perjalanan pulang.
"Kenapa juga harus mengundang pak guru Paul untuk makan siang akhir pekan ini?" tanya Oliver kurang suka.
"Bibi Giani yang mengundangnya. Tadi waktu aku bilang ke bibi ingin ke sekolah, bibi Gani langsung meminta aku mengajak pak guru ke rumahnya."
"Apa nggak takut paman Jero cemburu?"
"Kenapa juga takut paman cemburu? Usia mereka sudah pada tua semuanya." Alexa jadi heran dengan tanggapan Oliver. Ia menyandarkan punggungnya. "Aku mau tidur sayang. Bangunkan aku jika sudah di rumah ya?"
Oliver hanya mengangguk dengan hati yang dongkol. Begitu senangnya Alexa bertemu dengan pak guru Paul sampai ia lupa bersikap manis pada Oliver.
*******
Untuk Sabtu siang ini, bukan hanya Oliver yang wajahnya terlihat cemberut, namun si paman Jeronimo Dawson pun terlihat cemberut saat Alexa, Giani, pak guru Paul dan istrinya asyik bercanda ria sambil menikmati makanan penutup yang Giani buat.
Istri pak guru Paul adalah seorang wanita cantik. Dia adalah istri kedua pak guru karena istri pertamanya meninggal karena melahirkan anak pertamanya.
Istri keduanya bernama Yohana. Usianya 10 tahun lebih muda dari pak guru. Giani bahkan lebih tua 3 tahun dari istri pak guru.
"Haruskah kita cemburu? Lihatlah paman, istri pak guru sangat cantik. Bahkan ia lebih muda dari pada bibi Giani. Mungkin kita terlalu berlebihan cemburu pada pak guru itu." Ujar Oliver.
"Tetap saja aku tak suka cara istriku mengaguminya. Terlalu berlebihan. Bertahun-tahun rasa kagumnya itu tak pernah berkurang." Jeronimo masih memasang wajah kesal.
Giani yang melihat suaminya langsung berdiri. Ia mendekati Jeronimo.
"Sayang, ayo gabung di sana!" Ajak Giani. Ia tahu kalau Jeronimo cemburu. Tangannya dengan sangat lembut melingkar di lengan Jeronimo. Agak terpaksa Jero mengikuti langkah Giani. Oliver pun mendekat.
"Pak guru Paul. Istrinya sangat cantik dan masih muda. Aku yakin kalau pak guru nggak mungkin tertarik dengan perempuan lain kan, pak?" Tanya Giani.
Pak guru Paul mengangguk. Ia menyentuh tangan Yohana lalu mengecupnya lembut. "Aku mencintai istriku. Istriku juga tahu. Terkadang pada siswa nakal sering mengirimiku hadiah, coklat dan bunga dengan kata-kata mesra. Namun istriku ini sangat bijaksana menerimanya. Karena ia tahu kalau aku tak mungkin tertarik pada perempuan lain."
Giani melirik suaminya. Dia ingin rasa cemburu Jeronimo pada pak guru tampan itu akan berakhir. Jeronimo pun akhirnya bernapas lega. Pak guru Paul dapat mengerti apa maksud dari pertanyaan Giani. "Giani dan Alexa sudah ku anggap seperti teman dan anakku sendiri. Mereka para murid yang luar biasa menurutku karena keduanya sangat pintar dan menghargai apa yang telah ku ajarkan."
Kali ini Alexa yang berbicara. "Tapi pak, bolehkah saat ini aku meminta sesuatu yang agak berbeda? Aku juga nggak tahu kenapa, namun aku ingin sekali pak guru mengelus perutku. Entah kenapa bayi yang ada di perutku begitu ingin dielus oleh bapak. Bolehkan Bu Yohana?"
Yohana mengangguk. "Jangankan dielus. di peluk sekaligus aku juga nggak akan marah. Sayang nanti bayinya ileran."
Wajah Oliver kembali cemberut. Di peluk? Aduh, rasanya kok nggak rela ya?
__ADS_1
Paul mendekati Alexa. Ia mengelus perut Alexa yang mulai kentara itu. Lalu dengan lembut ia membawa Alexa ke dalam pelukannya. Hati Alexa jadi senang.
"Makasi, pak. Rasanya sangat puas." kata Alexa saat pelukan mereka terurai.
Paul menepuk kepala Alexa perlahan. "Jaga baik-baik anaknya ya? Walaupun nanti bapak sudah pensiun saat ia mulai bersekolah, bapak akan tetap mengajarinya."
"Wah, kau dengar itu, sayang? Pak guru Paul akan tetap menjadi gurumu." Ujar Alexa sambil mengelus perutnya sendiri.
Akhirnya acara makan siang itu berakhir dengan senyum kebahagiaan dari semuanya. Pak guru Paul akhirnya pulang bersama istrinya dan Alexa pun kembali ke rumah mereka bersama Oliver.
Tinggallah Giani dan Jeronimo di kamar tidur mereka.
Giani mendekati Jeronimo yang sedang menonton siaran bola sambil duduk di sofa sambil berselojor kaki. Sabtu begini, disaat anak-anak tak sekolah, rumah justru terasa sepi karena mereka akan berada di rumah Opa dan omanya.
"Sayang, sudah nggak cemburu pada pak guru Paul lagi kan?" tanya Giani sambil duduk di tepi sofa.
Jero tersenyum. Ia mengambil remote dan mematikan TV nya. Lalu ia menarik Giani agar ikut berbaring dengannya di atas sofa. Tubuh Giani memeluk Jeronimo dengan kepala yang bersandar pada dada bidang suaminya itu. Jero segera melingkarkan tangannya dipunggung istrinya. Ia mencium pipi Giani dengan penuh kasih.
"Aku sudah mengerti mengapa kau kagum dan sangat menghormati mantan gurumu itu. Aku tidak akan marah lagi, sayang. Aku juga dapat melihat pancaran matanya yang memandang wajah istrinya. Sama seperti caraku memandang mu."
"Kita sudah semakin tua, sayang."
"Siapa bilang aku sudah tua? Memangnya aku sudah loyo di ranjang?"
"Ih...Bee, kok bicaranya ke ranjang sih?" Giani mencubit lengan suaminya.
"Aku hanya kangen kamu, sayang. Sudah satu Minggu ini si Palo menganggur karena kamu terus menemani kedua putri kita yang sakit. Sekarang mereka sedang bersenang-senang di rumah papa dan mama, kenapa tidak kita manfaatkan untuk menikmati waktu berdua?"
Giani tersenyum. "Sayang, minggu depan aku mau ke London ya? Aku kangen dengan Gabrian."
"Kebetulan aku juga nggak banyak pekerjaan. Kita dapat pergi ke sana dan mengunjunginya. Namun sekarang, ijinkan Palo menemui Nido ya?"
Giani mengangguk. Ia selalu pasrah dalam dekapan suami bulenya yang memang agak mesum ini. Jero mengangkat tubuh Giani dan menidurkannya ke ranjang mereka.
"Bee, anak kita kan kembar. Apakah ada kemungkinan mereka menyukai gadis yang sama?" .
"Aku khawatir dengan kisah cinta mereka, bee. Aku tak mau anak-anak ku sampai patah hati karena menyukai gadis yang sama."
Jeronimo selesai membuka pakaiannya. Ia perlahan naik ke atas tempat tidur lalu menyentuh pipi istrinya. "Aku tahu mereka sudah memiliki jodohnya masing-masing. Aku yakin kalau mereka tak akan saling menyakiti hanya karena seorang perempuan."
Giani tersenyum walaupun hatinya memang masih saja was-was. Jero langsung menunduk. Memberikan ciuman panas pada istrinya itu. Ia ingin saat ini, Giani hanya konsentrasi padanya saja. Keduanya pun melewati siang itu dengan penuh kehangatan cinta. Cinta yang tak pernah berubah dengan berlalunya waktu. Cinta yang tumbuh atas nama perjanjian sementara saja. Cinta yang bersemi saat hati justru terpikat oleh sesuatu yang tak biasa. Cinta Jeronimo untuk Giani akan abadi.
*********
Pagi ini, Alexa terbangun dengan perut yang sangat sakit. Ia menyentuh bahu Oliver dan membangunkannya nya.
"Oliver, perutku sakit." Kata Alexa sambil meringis.
Rasa kantuk yang masih tersisa di matanya langsung hilang. "Sayang, memangnya kamu sudah mau melahirkan? 2 hari yang lalu kan baru saja genap 9 bulan."
"Aku nggak tahu, sayang. Rasanya pinggangku mau copot."
"Ayo kita ke rumah sakit saja." Oliver turun dari tempat tidur. Ia langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebentar. Lalu ia mengeluarkan satu koper dari walk in closet yang berisi dua perlengkapan Alexa dan bayi mereka.
Selama ini, setiap kali USG, Alexa tak mau tahu tentang jenis kelamin bayinya. Walaupun Oliver nampak sangat penasaran namun Alexa bersikeras ini akan menjadi kejutan bagi mereka karena anak pertama.
30 menit kemudian, mereka sudah tiba di rumah sakit. Dokter Kirana segera menangani Alexa. Tak lama kemudian, Aldo, Joana, Giani, Jero, Wulan dan Juan tiba di rumah sakit. Oliver bernapas lega karena ia tak sendiri. Apalagi tak lama setelah kedatangan orang-orang kesayangan Alexa, mama dan papanya juga datang. Sejak usia kandungan Alexa memasuki 8 bulan, orang tua Oliver memang sudah tinggal di Jakarta. Mereka ingin mendampingi Alexa saat melahirkan cucu pertama bagi mereka.
Alexa bersikeras kalau ia mau melahirkan secara normal. Karena ia ingin melewati semuanya secara natural. Oliver tak mampu menentang kemauan istrinya. Yang terpenting bagi Oliver adalah istri dan anaknya selamat.
Oliver menghapus keringat di wajah istrinya. Dokter mengatakan kalau Alexa masih pembukaan 4.
"Sayang ..., aku nggak tahan melihatmu seperti ini." Kata Oliver dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ini memang sangat sakit Oliver. Namun aku menjalaninya dengan ikhlas." Kata Alexa sambil sesekali menahan sakit yang menyerang perut dan pinggangnya.
1 jam kemudian......
__ADS_1
Sakit yang dialami oleh Alexa semakin bertambah. Dokter Kirana dan dua orang perawat sudah bersiap di samping tempat tidur Alexa. Oliver berdiri tepat di atas kepala istrinya. Ia terus memberikan Alexa kekuatan sambil sesekali mencium kepala istrinya yang sudah basah dengan keringat.
"Nyonya Pregonas, masih ingat pelajaran di kelas kehamilan kan? Bagaimana cara mengejan yang baik?" tanya dokter Kirana.
Alexa mengangguk. Ia mulai melakukan semuanya sesuai instruksi dokter dan perawat. Oliver kini berdiri di samping kanan istrinya. Membiarkan Alexa mencengkeram tangannya dengan sangat kuat. Air mata Alexa bahkan sudah mengalir sangat deras. Merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan.
"Ah....dokter, rasanya tak sanggup lagi." teriak Alexa hampir putus asa karena sang bayi belum juga keluar.
"Ayo sayang. Satu kali lagi. Aku yakin kali ini kamu bisa." Oliver memberikan semangat. Sebenarnya ia sudah tak sanggup melihat bagaimana kerasnya perjuangan Alexa. Namun ia tahu kalau ia harus menyemangati istrinya.
Alexa memejamkan matanya. Perlahan ia membukanya lagi. Dan ia bagaikan melihat mama Finly berdiri di dekat pintu masuk. Wajah cantik mamanya nampak bercahaya. Ia mengangkat kedua jempolnya seolah ingin mengatakan kalau Alexa hebat. Air mata Alexa mengalir. "Mama...!" gumamnya lalu ia mengejan sekali lagi.
"Owe.....owe.....!" terdengar suara tangisan bayi.
"Sayang, kau berhasil melahirkannya." Oliver pun tak dapat lagi menahan air matanya.
"Kau hebat nyonya Pregonas. Selamat! Anak kalian berjenis kelamin laki-laki." Ujar dokter Kirana membuat Oliver semakin haru karena memang ia begitu menginginkan anak laki-laki.
Tak lama kemudian, Oliver memberikan terapi kangguru bagi anaknya. Lalu ia berdiri di kaca, memperlihatkan wajah tampan putranya kepada para opa dan Oma yang kelihatan sudah tak sabar menunggu.
Semua begitu terpesona melihat bayi tampan yang nampak lelap dalam dekapan ayahnya. Elvira bahkan meneteskan air matanya. Ia mengingat waktu melahirkan Oliver 28 tahun yang lalu.
"Perkenalkan namaku AZIEEL EVANS PREGONAS."
Itulah yang Oliver tulis di halaman instagramnya sambil menunjukan fotonya yang memeluk putranya dengan sangat bangga. Oliver tahu inilah anugerah terindah dalam hidupnya. Memiliki anak dari wanita yang mencintainya dan yang sangat dicintainya.
"Sayang, terima kasih sudah melahirkan malaikat terbaik ini untukku." Ujar Oliver saat mereka sudah pulang ke rumah dan Alexa sementara menyusui putranya.
Alexa menatap suaminya dengan penuh kasih. "Terima kasih juga telah menjadi suami siaga yang terus mendampingiku sejak aku hamil sampai melahirkan putra kita."
Oliver mengecup pipi Alexa dengan sangat lembut. Lalu ia membelai pipi putranya yang nampak sangat lahap menikmati ASI.
"Dia sangat suka minum ASI."
"Ya. Sama kayak Daddy nya."
Keduanya tertawa bersama. "Sayang, jika Azieel sudah 2 tahun, aku ingin kita tambah momongan lagi ya?"
Alexa mengangguk. "Ok. Maunya ingin berapa?"
"6 kayaknya bagus. Rumah kita akan ramai."
"Ih...enak aja bilang enam. 3 cukup."
"5 kayaknya. Supaya aku bisa mengalahkan paman Jero yang memiliki 4 anak."
Keduanya kembali tertawa bersama. Rumah mereka kini akan menjadi ramai dengan kehadiran anak pertama mereka. Alexa sudah tak sabar melihat putranya tumbuh. Dia bersyukur dicintai oleh pria setampan dan sangat romantis seperti Oliver.
Bahagia terus ya, Eca dan Oliver.....
T A M A T
**********
Beberapa tahun kemudian....
Giani berdiri di depan sebuah ruangan perawatan di sebuah rumah sakit dengan hati yang hancur. Inilah yang ditakutkannya. Brian dan Briel jatuh cinta pada gadis yang sama. Sebagai ibu, apakah yang harus dia lakukan? Kini, pilihan ada ditangannya. Siapakah yang harus dia pilih untuk gadis cantik yang telah mencuri hati kedua anaknya???
Saksikan kisah si kembar Ian dan Iel dalam novelku 2 wajah 1 Cinta
Besok pagi sudah dirilis untuk episode pertama.
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini sampai selesai. Terima kasih untuk like, komen dan vote serta tips yang sudah diberikan. I love you all.
Nih si tampan Ian dan Iel
__ADS_1