
"Sir, Miss, what do you want to eat?" tanya Alexa saat ia sudah berada di deretan kursi tempat Oliver dan gadis bule itu duduk.
Oliver menatap gadis itu dengan mesra. "Honey, you want to eat?"
Gadis itu menatap daftar menu yang ada. "I don't want to eat. just drink juice."
"Oh baby, you must eat. I don't want you to be sick." Oliver membelai wajah cantik gadis itu. Alexa merasakan ada sesuatu yang kembali menusuk hatinya. Ia merasa jijik melihat bagaimana dua mahluk berbeda jenis itu saling berpandangan mesra sambil tangan Oliver yang tak berhenti membelai wajah gadis itu.
"Ehm...." Alexa berdehem karena kedua mahluk di sampingnya itu belum juga memutuskan akan makan apa.
"Sudah bisa memutuskan?" tanya Alexa dalam bahasa Indonesia. Ia tak peduli apakah mereka akan menanggapinya atau tidak.
"Ya. kami makan kentang dan roti saja. Untuk minum jus apel." Oliver menjawab pertanyaan Alexa dengan bahasa Indonesia juga. Alexa memberikan senyum termanisnya sebelum menuju galley dan menyiapkan semua pesanan penumpang kelas bisnis ini yang berjumlah 7 orang.
Entah mengapa perasan Alexa menjadi tak tenang. Tangannya bahkan harus tersiram dengan air panas.
"Aow....!" Alexa mendesis karena tangannya terasa perih dan sakit.
"Ada apa, kak Alexa?" tanya Monica, salah satu pramugari yang baru bergabung selama 1 bulan di maskapai ini.
"Tidak apa-apa. Hanya kena air panas sedikit."
Monica melihat punggung tangan Alexa yang agak merah. 'Kak, diberi salep agar tak melepuh. Atau kakak mau aku menggantikan Kakak membagikan makanan mereka?"
"Tidak. Aku bisa, kok." Alexa tak mau Monica menggantikannya walaupun tangannya memang agak sakit. Ia tak mau Oliver sampai berpikir kalau Alexa takut berhadapan dengan mereka.
Monica membantu mengatur makanan di meja dorong. Setelah itu ia kembali bertugas di kelas ekonomi. Penumpang saat ini memang hampir penuh.
Alexa sudah membagikan makanan dan minuman penumpang yang lain. Ia mendekati tempat duduk Oliver dan gadisnya yang ada di deretan kursi paling depan.
"Enjoy the meal." Ujar Alexa setelah meletakan makanan dan minuman Oliver dan gadis itu di meja mereka.
"Feed me, baby." Kata gadis itu membuat Oliver mencium pipinya dengan gemas. Ia mengambil satu potong kentang dan menyuapi gadis itu.
Alexa buru-buru pergi dari sana. Hatinya kali ini bagaikan di hantam oleh batu yang sangat besar. Alexa bahkan merasa matanya agak panas. Ia mendorong meja itu dengan agak cepat, setelah itu Alexa masuk ke toilet. Ia menatap wajahnya ke cermin. Ada satu butiran bening yang menetes di pipinya.
Kenapa aku harus menangis? Menjijikan. Ingat Alexa, kau yang meminta Oliver untuk menghentikan semua kegilaannya. Dia itu bukan lelaki yang baik. Kalau memang dia menyukai mu, dia akan terus mengejar mu kan? Kenapa harus secepat itu berpaling pada gadis lain?
Alexa menggelengkan kepalanya. Ia benci dengan kata hatinya sendiri. Ia menghapus air matanya dengan cepat. Mengambil tissue untuk memperbaiki make up nya.
"Aku harus secepatnya punya pacar. Pria asli Indonesia." kata Alexa pada dirinya sendiri.
*******
Sepanjang perjalanan Alexa merasakan siksaan dalam batinnya. Oliver dengan tidak tahu malunya, selalu memanggil Alexa. Mulai dari meminta air panas karena kekasihnya sakit perut, meminta selimut, dan lain sebagainya yang tak mampu lagi author tuliskan mengingat betapa kesalnya Alexa karena Oliver selalu pamer kemesraan (he....he...he...).
Akhirnya, pesawat mendarat dengan mulus dan Alexa pun merasakan sedikit kelegaan karena pasangan sok mesra itu akan turun.
"Kak, mau makan malam di luar?" tanya Monica saat mereka sudah selesai melapor dan siap untuk ke hotel.
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 8 malam waktu Seoul. Udara Seoul cukup dingin.
"Lihat nanti deh kalau sudah di hotel. Soalnya aku sedikit capek. Mungkin mau flu sehingga badan terasa agak demam." Ujar Alexa berbohong pada hal hatinya yang sakit.
"Ada apa di sana?" tanya Anton sang pramugara. Ada orang yang nampak berkumpul sambil bertepuk tangan. Karena penasaran mereka pun mendekati kumpulan orang itu.
Mata Alexa langsung terbelalak. Di sana ada hiasan balon dengan sebuah bener bertuliskan Happy Birthday, Bella.
Oliver ada di sana dengan pacar bulenya itu. Ia sepertinya sedang memberikan kejutan di tengah-tengah ruang tunggu bandara. Gadis yang ternyata bernama Bella itu nampak haru. Apalagi Oliver berjalan mendekatinya sambil tangan kanannya membawa setangkai mawar merah, dan tangan kirinya memegang sebuah kotak kecil.
Ia menyerahkan mawar merah itu lalu membuka kotak kecil itu yang ternyata berisi sebuah kalung dengan liontin berbentuk lumba-lumba.
Bukankah itu seperti kalung yang Oliver berikan padaku di hari ulang tahunku? Dasar cowok kurang kreatif, apakah ia tak punya ide lain untuk memberikan hadiah pada pacarnya itu? Mengapa harus sama seperti aku sih?
Alexa bergumam dalam hati. Namun akhirnya ia sadar. Hallo Alexa, kenapa juga kamu sebel karena kalungnya sama? Kalung itu kan sudah kamu berikan pada Felicia, adikmu?
"Oh...so sweet banget. Memang orang kaya, ya? Jadi bisa buat apa saja." Anton berucap sambil menggelengkan kepalanya. Ia menatap Alexa. "Bukankah Oliverio Pregonas itu pacarmu, Alexa? Dia kan sering menjemput mu dulu di bandara dengan bunga mawar merahnya?"
Alexa tersenyum hambar. "Aku sudah memutuskannya. Muak dengan cowok lebay yang sok tampan itu. Aku sudah punya kekasih lain."
"Oh gitu ya..." Anton dan Monica mengangguk.
Mereka pun melewati kerumunan itu tanpa ada yang tahu kalau Alexa rasanya ingin mencakar wajah bule lebay itu.
Sesampai di hotel, Alexa satu kamar dengan Monica. Ia langsung mandi.
"Kak, kak Anton dan ibu Lidia menunggu kita untuk makan malam."
Monica mengangguk. Ia pun bergegas mandi dan segera ke lobby.
Setelah Monica pergi, Alexa justru tak bisa tidur. Ia menjadi gelisah. Tak tahu apa yang dipikirkannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar. Ia ingin jalan-jalan di sekitar hotel. Dan sialnya, Alexa justru berpapasan dengan Oliver yang sepertinya baru pulang dari toko. Terlihat dari kantong plastik yang dibawanya. Cowok itu pun berjalan kaki.
"Hi baby!" Sapa Oliver.
Alexa mengacuhkannya. Ia terus melangkah melewati Oliver. Namun tanpa ia duga, Oliver justru menarik lengannya sehingga keduanya kini berhadapan.
"Mau kamu apa, sih? Sana pergi, pacarmu pasti sudah menunggumu." Alexa berusaha melepaskan tangan Oliver namun cowok itu semakin kuat menariknya sehingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Alexa dapat merasakan hangatnya napas Oliver yang menyentuh kulit wajahnya. Dada Alexa berdetak sangat cepat.
"Kamu gemetar, Eca." bisik Oliver di dekat telinga Alexa.
Alexa dengan cepat menendang kaki Oliver, membuat pegangan tangannya terlepas. "Aku gemetar karena kesal dan menahan marah ingin memukulmu! Dasar bule sok ganteng, sok kaya, suka pamer. Memangnya kamu pikir apa yang kamu lakukan di bandara tadi itu sudah bagus? Ih... geli aku melihatnya." Alexa akan pergi namun Oliver kembali menahan tangannya.
"Kau cemburu?"
Alexa melotot. "Apa? Cemburu? Jangan terlalu percaya diri, bule. Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku katakan? Aku nggak suka cowok bule. Permisi!" Alexa mendorong tubuh Oliver dengan kesal. Ia melangkah kembali ke hotel. Hilang sudah moodnya untuk menikmati malam di Seoul.
*********
Kembali ke Jakarta, membuat kepala Alexa justru terus memikirkan Oliver. Untungnya dalam perjalanan pulang, tak ada Oliver di pesawat. Alexa lega sekaligus merasa ada yang hilang.
__ADS_1
Makanya saat tiba di Jakarta, Alexa langsung menghubungi Hardi dan mengajaknya untuk keluar berdua.
Hardi mengajak Alexa ke acara ulang tahun sahabatnya. Alexa pun menyetujui karena memang ia ingin lebih dekat dengan Hardi.
"Wah, Hardi, ini pacarmu?" tanya salah satu teman pengusahanya.
"Iya." Jawab Hardi cepat. Ia kemudian mengajak Alexa agak ke Sudut ruangan. "Maaf ya Eca. Aku sengaja mengaku kalau kamu adalah pacarku agar tidak diganggu oleh para play boy cap kadal."
"Nggak masalah."Alexa tersenyum senang. Namun senyumnya hilang melihat siapa yang masuk sambil bergandengan tangan. Oliver dan Bella si cewek bule.
"Oliver....!" Hardi menyapa Oliver. Keduanya berpelukan secara jantan.
"Kamu dengan siapa?" tanya Oliver pura-pura padahal ia sudah melihat Alexa.
"Bersama pacarnya." Kali ini Alexa yang bicara. Ia langsung bergelut manja di lengan Hardi.
Oliver terkejut. Hatinya bagaikan di cubit. Hardi pacarnya Alexa? Ya, wajah Hardi sangat Indonesia. Inikah pria impian Alexa?
Alexa tersenyum senang melihat wajah Oliver yang terkejut.
"Baby, ayo dansa!" Bella menarik tangan Oliver. Keduanya pun berdansa dengan sangat mesra.
"Hardi, kau mau dansa?" tanya Alexa.
"Tentu saja cantik. Ayo!"
Alunan manis lagu dansa yang lembut membuat para pasangan yang berdansa, ikut larut di sama. Oliver dan Alexa saling mencuri pandang.
"Tukar pasangan!" Ujar Bella. Ia menuju ke arah Hardi dan langsung menarik tangan cowok itu sementara Alexa tak bisa menolaknya.
"Aku nggak suka gaun mu. Terlalu terbuka bagian bawanya." kata Oliver pelan saat keduanya sudah berpasangan.
"Apa peduliku dengan gaunku? Pacarmu sendiri bajunya juga sangat seksi."
Senyum manis Oliver membuat jantung Alexa kembali berdetak cepat.
"Aku....!" Oliver bingung harus menjawab apa.
Lagu pun berhenti.
"Hardi, aku mau ke toilet ya?" pamit Alexa. Ia sebenarnya tak ingin buang air kecil. Hanya saja berada di dekat Oliver membuat Alexa selalu merasa panas.
Ia membuka pintu toilet dan mencuci tangannya. Ia mengambil tissue untuk memperbaiki dandannya.
Pintu toilet terbuka. Alexa terkejut melihat Oliver masuk dan langsung mengunci pintu.
"Kamu mau apa, Oliver?" Alexa panik.
"Just want to kiss you." kata Oliver. Tanpa hitungan apapun, ia langsung menarik tubuh Alexa dan mencium bibir gadis itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
What next???
jangan lupa vote dan like ya guys