
Alexa
Oliver
Ada senyum bahagia di wajah Oliver saat ia meletakan tubuh Alexa di atas tempat tidurnya. Tangannya bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut Alexa yang menutupi wajahnya.
Aku akui, kau memang sangat cantik walaupun mulutmu sedikit pedas. Sekarang, aku bebas melakukan apa saja padamu. Kau akan bangun dengan rasa terkejut yang sangat besar he...he...
Tangan Oliver membelai pipi mulus Alexa sambil wajahnya perlahan turun dan mengecup bibir manis gadis itu yang memang sangat disukainya. Ciumannya turun ke leher Alexa, menikmati harum tubuh pramugari terbaik yang ada di masakapai nya itu.
Tangan Oliver perlahan membuka kancing kemeja Alexa. Darahnya berdesir saat melihat betapa mulusnya dada gadis itu. Saat Oliver akan menyentuh gunung kembar yang sangat menggoda itu, Alexa tiba-tiba berbicara dalam tidurnya.
"Mama, Eca rindu. Rindu mama yang di sorga."
Deg!
Tangan Oliver melayang di udara. Entah mengapa perkataan Alexa membuat hatinya tak tenang. Ia kemudian kembali menutup kancing kemeja Alexa dan turun dari tempat tidur.
Sial! Kenapa aku kayak gini ya? Seharusnya ini kesempatanku untuk mengerjai gadis ini. Dia ternyata sudah kehilangan mama nya. Jadi data yang ku dapat tentang dia, salah dong. Itu pasti ibu sambungnya.
Ponsel Alexa bergetar. Oliver mengambilnya dari dalam tas. Walaupun ponsel itu memiliki kode untuk membukanya, itu bukan masalah bagi Oliver karena ia sangat ahli untuk membuka ponsel yang terkunci.
Ada 3 panggilan dari mami bule, dan satu pesan WA.
Eca sayang, ada di mana? Papa khawatir kamu belum tiba di rumah.
Oliver pun membalasnya :
Mami, maaf ya. Eca malam ini nggak pulang. Kami mau kasih surprise pada salah satu teman di maskapai. Acaranya tengah malam jadi rencananya mau menginap di apartemennya saja.
Mami bule :
Ok, nak. Tetap hati-hati ya.
Jangan sampai minum alkohol
Saat dilihat Oliver kalau baterei ponsel Alexa hampir habis, ia pun mengisi daya ponsel itu dengan charger miliknya karena tipe handphone mereka ternyata sama.
Setelah mandi dan membersihkan dirinya, Oliver naik ke atas tempat tidur dan memeluk Alexa. Hati Oliver merasa tenang. Tak lama kemudian ia tertidur.
********
Alexa merentangkan tangannya lalu membuka matanya perlahan. Ia berusaha untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dari jendela kaca yang sudah dibuka.
Alexa membuka selimut yang menutupi tubuhnya, melihat baju yang dikenakannya sampai akhirnya, otaknya menyadarkan dia kalau gaun tidur yang dipakainya, bukan miliknya. Alexa tidak pernah mempunyai gaun tidur dengan tali spageti dan warna hitam. Ia tak suka dengan warna hitam karena akan mengingatkannya pada kematian mamanya.
Ingatannya langsung kembali pada kejadian tadi malam.
"Good morning, honey!"
Alexa menoleh ke arah suara itu. Di salah satu sudut kamar, nampak Oliver sedang duduk menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada. Sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Dasar licik! Apa yang kau campurkan di makananku? Bagaimana aku bisa tertipu olehmu sedangkan aku melihat kau sendiri makan dari nasi goreng yang sama?" Tanya Alexa sambil turun dari tempat tidur. Dadanya naik turun karena emosinya meledak.
"Siapa yang bilang aku mencampurnya di makanan? Aku memberikan obat tidurnya di dalam minumannya."
"Tapi air mineral itu masih tersegel."
Oliver tersenyum mengejek. "Aku menggunakan jarum suntik khusus dari penutup nya untuk memasukan obat tidur itu."
"Dasar licik! Lalu bagaimana aku bisa ganti baju?"
"Akulah yang menggantinya nona. Masa kamu tidur dengan kemeja dan rok yang ketat itu."
"Ah.....!" Alexa berteriak kesal. Ia menyerang Oliver namun cowok itu sudah siaga sehingga mampu menghindari pukulan Alexa.
"Kamu jahat Oliver. Kamu tak punya hak melihat tubuhku. Kamu bukan calon suamiku. Dasar kamu kurang ajar!" Alexa menyerang Oliver dengan ganas. Ia sungguh kesal saat menyadari betapa mudahnya Oliver melihat tubuhnya.
Alexa akhirnya lelah sendiri. Matanya mulai panas. Namun ia tak mau menangis di depan Oliver.
"Mana bajuku yang semalam?" tanya Alexa.
"Aku sudah membuangnya karena roknya sudah sobek."
"Oliver....!" Alexa melempari cowok itu dengan bantal. Kali ini Oliver tak sempat menghindar.
"Aku sudah siapkan baju ganti untukmu, sayang. Nih!" Oliver memberikan sebuah paper bag.
Alexa terpaksa mengambilnya. Ia tak mungkin pulang dengan gaun tidur ini.
__ADS_1
Ia segera menuju ke kamar mandi. Rasanya ia perlu mendinginkan kepalanya yang panas.
Hampir 30 menit Alexa berada di kamar mandi. Ia keluar dengan sebuah gaun berwarna putih yang sangat pas ditubuhnya. Alexa hampir saja kagum dengan gaun ini. Sayangnya, karena gaun ini disiapkan oleh Oliver, Alexa bersikeras akan membuangnya begitu sampai di rumah.
Saat keluar kamar mandi, Oliver sudah tak ada. Alexa pun menyisir rambutnya. Ia mengambil tasnya dan memeriksa ponselnya. Alexa terkejut melihat batreinya penuh. Gadis itu memeriksa ponselnya. Ada pesan dari mami bule. Alexa mendengus kesal melihat Oliver sudah membalasnya menurut versinya sendiri. Pada hal Alexa tak pernah menginap di rumah temannya.
Ia pun keluar kamar. Di sana nampak Oliver sedang mengatur meja.
"Ayo makan!"
"Nggak mau."
"Aku berani sumpah, tak ada apapun yang aku campurkan di sini. Aku tahu kalau kau harus segera pulang."
Alexa diam sejenak. Perutnya memang sudah minta diisi karena sekarang sudah jam 10 pagi.
"Ayolah, Alexa. Satpamnya nanti akan datang jam 11 siang. Nanti penyakit asam lambungmu kambuh."
Alexa masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Hei, kalau aku mau memperkosamu, semalam aku sudah melakukannya. Kau tidur kayak kerbau. Namun aku tak mau melakukannya. Karena aku ingin kau dalam keadaan sadar saat kita bercinta nanti."
Alexa mencibir. "Mimpi kamu kalau ingin bercinta denganku."
"Orang kan bisa saja bermimpi. Siapa tahu menjadi kenyataan."
Alexa akan pergi namun perutnya kembali berbunyi.
"Ayolah, Eca!"
Alexa menoleh dengan kaget. Bagaimana Oliver tahu nama panggilannya?
Langkah Alexa diarahkannya ke meja makan. Ia duduk di depan Oliver. Ada nasi, ayam panggang, dan sayur kangkung tumis. Indonesia sekali masakannya.
"Makan, yuk!"
"Kamu bule tapi sekedarnya masakan Indonesia."
"Mamaku orang Indonesia. Wajahku saja yang bule karena 80 persen mirip papaku. Tapi aku dibesarkan di Indonesia sejak usia 3 tahun sampai lulus SMP."
Alexa menikmati sarapan yang dibuat Oliver. "Kau yang masak atau pesan online?"
"Ayam panggangnya aku pesan namun tumis kangkung aku yang buat."
Alexa menikmati sarapannya dalam diam. Sebenarnya ia ingin sarapan dalam jumlah yang banyak, namun ia gengsi untuk mengakui kalau makanan buatan Oliver enak.
Selesai makan, sebenarnya Alexa ingin mencuci piring namun Oliver melarangnya karena ia takut kalau gaun Alexa yang berwarna putih menjadi kotor.
Selesai Oliver membersihkan dapurnya, Alexa pun langsung pamit. Ia tersenyum melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 lewat 15 menit.
Oliver mengikuti Alexa sampai di lantai 1. Namun Satpam tak ada di sana.
"Duh, kemana si satpam penjaga kantormu ini?" Alexa jadi kesal.
Oliver maju sampai di depan pintu. Ia merogoh kantong celana. Ternyata sebuah kunci. Pintu pun dibukanya. Alexa menatap kesal pada Oliver.
"Jadi, dari semalam, kau memiliki kunci ini?"
Oliver tertawa. "Bagaimana mungkin aku tak memiliki kunci sementara aku sering tinggal di sini."
"Ih....!" Alexa maju. Sebelum keluar, ia menginjak kaki Oliver dengan sepatu hak tingginya.
"Aow.....!" Oliver meringis karena kakinya sangat sakit. Namun Alexa sudah melangkah keluar. Ia menuju ke tempat mobilnya di parkir.
*********
Giani menatap ponakannya yang duduk di pondok dekat danau. Sejak Alexa datang tadi, gadis itu terlihat duduk di sana sambil menatap ke arah danau.
"Eca lagi ada masalah ya?" tanya Jero yang baru pulang dari supermarket.
"Nggak tahu, bee. Sejak ia datang, ia hanya duduk di sana tanpa bicara apapun. Ia bahkan meminta aku menghubungi mami bulenya untuk mengatakan kalau dia ada sini."
"Apa dia putus cinta?"
Giani menggeleng. "Kalau dia punya pacar, dia pasti cerita sama aku."
"Ya kamu tanya dong."
Giani membuat 2 minuman dingin lalu membawanya pada Alexa.
"Eca, minum yuk!"
Alexa menatap Giani. "Makasih, bi." Alexa menerima jus orange itu.
__ADS_1
"Kamu ada masalah?" tanya Giani.
Alexa menarik napas panjang. "Aku benci pada seseorang, bi."
"Siapa?"
Alexa pun menceritakan awal pertemuannya dengan Oliver sampai dengan kejadian tadi malam.
"Dia terobsesi denganmu karena mungkin hanya kamu gadis yang tak mau tidur dengan nya."
"Tapi kan aku memang tak suka dengan wajah bulenya itu. Aku lebih suka dengan pria Indonesia."
"Seperti kapten Haris?"
Wajah Alexa menjadi sedih. "Kapten sepertinya menghindari ku. Ia bahkan jarang sekali kirim pesan atau meneleponku."
Giani tersenyum. "Eca, kalau kau memang menyukai kapten Haris, tak apa-apa jika kau yang menghubungi dia lebih dulu."
"Aku juga tak mengerti dengan perasaanku, bi. Bibi kan tahu, aku hanya ingin menikah dengan cinta pertama dalam hidupku. Seperti bibi dan uncle Jero."
Giani menarik napas panjang. Ia memang tak pernah menceritakan latar bekakangnya menikahi Jero. Giani ingin kenangan Alexa pada Finly adalah kenangan yang baik.
"Tak semua orang akan memiliki kisah yang sama seperti bibi dan paman Jero. Kau akan memiliki kisahmu sendiri, nak."
Alexa mengikat rambut panjangnya. Ia merasa gerah.
"Gaunmu cantik." Puji Giani. Namun ia juga tersenyum melihat tanda merah di leher putih Alexa.
"Eca, semalam saat kau di tempat Oliver, kamu yakin tak terjadi sesuatu?"
Alexa mengerutkan dahinya. 'Oliver mengatakan kalau dia tak menyentuhku. Lagi pula, jika terjadi sesuatu, aku pasti merasakannya, bi. Bukankah orang mengatakan kalau pertama kali bercinta, seorang perempuan akan merasakan sakit di inti tubuhnya?"
"Baguslah. Berarti tanda merah yang ada di lehermu itu, bekas gigitan nyamukkah?"
"Tanda merah?" Alexa terkejut. Ia mengambil kaca yang ada dalam tasnya. Mata gadis itu langsung terbelalak. "Ih....dasar bule mesum!"
"Siapa bule mesum?" Jero tiba-tiba muncul.
Alexa merasakan emosinya naik lagi. Jika Oliver ada di depannya, ia pasti sudah mencakar wajah pria itu.
"Tenang, Eca. Bibi akan bantu kamu membalas dendam pada bosmu itu. Asalkan kau harus menurunkan sedikit egoku." Kata Giani.
Alexa menatap bibinya tak mengerti.
"Ikuti saja saran bibimu, Eca. Karena pamanmu ini bukan hanya bertekuk lutut padanya. Namun sampai bucin tingkat akut." Ujar Jero membuat Giani menatap suaminya dengan bola mata yang seperti ingin keluar dari tempatnya. Ia tak mau sampai Jero membocorkan masa lalu mereka.
"Maksud bibi?"
Giani membisikan sesuatu. Tak lama kemudian Alexa mengangguk walaupun nampak ragu. "Bagaimana jika gagal, bi?"
"Dengan pesona yang kau miliki, kau pasti bisa, nak."
Alexa tersenyum manis. Tak lama kemudian, ia pun pamit untuk pulang.
"Sayang, apa yang akan kau ajarkan pada Alexa? Apakah seperti cara yang kau lakukan untukku?" tanya Jero penasaran.
Giani menatap suaminya. "Agak berbeda, Bee. Karena bule yang sekarang ini lebih berbahaya. Dia Casanova yang punya dendam di masa lalu. Akan kubuat bocah itu mendapatkan karmanya sendiri."
"Jangan terlalu kejam, sayang. Nanti justru Eca yang jatuh dalam pelukannya."
Giani tersenyum penuh misteri. "Tenang saja, Bee. Aku tahu kemampuan ponakan ku itu."
Jero memeluk istrinya dari belakang. "Sebelum kamu sibuk dengan kisah balas dendam Alexa, layani dulu si Palo. Sudah seminggu kau membiarkan dia menganggur. Tamu bulananmu sudah selesaikan?"
Wajah Giani memerah. Suaminya ini sungguh tak pernah berubah.
"Anak-anak kan ada di rumah mama Shinta. Mereka akan pulang sore." Jero mulai mencium leher istrinya.
"Bee, ini jam 1 siang."
"Memangnya kenapa? Kau lupa kalau kita pernah bercinta di dalam kantorku sebelum makan siang?" Jero langsung mengangkat tubuh Giani dan memeluknya seperti koala.
"Aku berat, Bee."
"Jangan ragukan kemampuanku."
"Tapi usiamu...."
"Aku masih perkasa, sayang. Diamlah. Jangan menyebutku bule tua." Kata Jero membuat Giani langsung tertawa. Sungguh ia bahagia menikmati kehidupan pernikahannya dengan si bule tua ini.
Wah, strategi apa yang akan Giani lakukan agar Alexa dapat membalas dendamnya?
Dukung emak terus ya
__ADS_1