Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 4)


__ADS_3

Ada sesuatu yang menganggu tidur Alexa. Ia merasakan ada tangan yang memeluk pinggangnya. Sudah lama sekali Alexa tak merasakan pelukan hangat itu seperti yang biasa diberikan oleh papanya.


Hidung Alexa mencium bau khas minyak wangi yang sudah sangat dihafalnya. Secara cepat otak Alexa bekerja. Ia membuka matanya dan segera menjauhkan dirinya dari dekapan pria yang tak diinginkannya. Gadis itu melompat turun dari tempat tidur lalu menatap pria tampan yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Selamat pagi, honey!" sapa Oliver sambil mengedipkan matanya.


"Ba...bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?" tanya Alexa.


Oliver turun dari atas tempat tidur. "Aku katakan pada resepsionisnya kalau kamu adalah istriku. Sangat mudah meyakinkan mereka dengan beberapa lembar euro."


"Apa mau mu sebenarnya?" tanya Alexa sambil mundur beberapa langkah karena Oliver mendekatinya.


"Menjadikanmu sebagai milikku."


"Cih! Kau bukan tipeku." Alexa mencibir kesal.


"Kau juga sebenarnya bukan tipeku. Namun entah kenapa aku sangat suka dengan gadis yang sedikit liar sepertimu. Aku akui kalau kau sangat pintar." Oliver terus melangkah mendekati Alexa membuat Alexa juga harus mundur terus sampai akhirnya ia merasakan kalau punggungnya menyentuh dinding.


"Jangan mendekat. Kamu tahu kalau aku bisa belah diri." Kata Alexa sambil memasang kuda-kuda.


Oliver terkekeh. "Aku juga sabuk hitam di taekwondo. Pernah memenangkan beberapa turnamen. Aku juga selama 3 tahu menekuni kungfu dan muangtai. Kita akan lihat, siapa yang bisa menang."


Alexa langsung menyerang Oliver. Cowok itu dengan siaga langsung menangkis serangan Alexa. Maka terjadilah saling serang di kamar itu.


Oliver yang pada awalnya sedikit meremehkan kemampuan Alexa, akhirnya menjadi serius menanggapi serangan gadis itu.


Jangan ditanya bagaimana keadaan kamar itu. Mulai dari sofa, tv, meja hias, semuanya hancur berantakan.


Sampai akhirnya Alexa yang bertelanjang kaki tanpa sengaja menginjak pecahan kaca yang ada. Ia hampir saja jatuh terpeleset namun dengan cepat Oliver meraih tubuhnya sehingga Alexa langsung ada dalam gendongan Oliver sebelum ia terjatuh.


"Turunkan aku!" Alexa memberontak namun tangan Oliver yang kuat terus memeluk. Oliver berlari ke luar kamar. Ia menatap Kevin. "Bayar kerugian kamar itu." Katanya dan segera pergi sambil memeluk Alexa.


Sesampai di dekat mobilnya, sang sopir langsung membukakan pintu. Oliver terus memeluk Alexa sambil.


"Lepaskan aku!" teriak Alexa. Namun tubuh Oliver yang tinggi dan kekar, terlalu kuat untuk Alexa lawan.


"Ke rumah sakit!" perintah Oliver pada sopirnya.


Tak sampai 15 menit, mereka tiba di rumah sakit. Masih dalam keadaan memeluk Alexa, Oliver masuk dan langsung menuju ke ruang gawat darurat.


Dokter dan perawat langsung memeriksa kaki Alexa yang mengeluarkan darah. Mereka juga melihat beberapa memar di tubuh Alexa. Oliver baru menyadari kalau Alexa hanya menggunakan gaun tidur bertali spageti. Ia segera membuka jaket yang dipakainya dan memakaikannya di tubuh Alexa.


"Terima kasih." kata Alexa saat ia juga baru menyadari pakaian yang dikenakannya.


Kaki Alexa akhirnya dijahit.


"Untuk sementara jangan dulu berjalan. Sebaiknya menggunakan kursi roda. Lukanya cukup dalam." Pesan dokter. Ia memberikan beberapa obat dan salep yang harus Alexa gunakan.


Alexa sedikit meringis karena kakinya terasa sakit.


"Kau tinggal di apartemenku!" kata Oliver sambil mengangkat tubuh Alexa dan mendudukan nya di kursi roda.


"Aku mau ke apartemen maskapai."


"Siapa yang akan mengurus mu di sana?"


"Aku bisa mengurus diriku sendiri!"


"Kau bahkan tak diijinkan untuk berjalan dengan kakimu."


Alexa terlihat kesal. "Kalau kamu tak seenaknya masuk ke dalam kamarku dan memelukku tanpa permisi, aku tak mungkin akan seperti ini."


"Sudah diamlah! Kalau kamu tidak sok menunjukan keahlian belah dirimu, kakimu juga tak akan seperti ini."


Alexa diam. Dalam hati ia terus memikirkan bagaimana caranya lepas dari Oliver.


Saat sampai di halaman parkir, Oliver kembali mengangkat tubuh Alexa dan memasukannya ke dalam mobil.


Perjalanan menuju ke apartemen Oliver memakan waktu 20 menit. Apartemen Oliver berada di lantai paling atas dan terdiri dari 2 lantai. Untuk sampai ke penthouse nya itu diperlukan lift khusus yang hanya bisa terbuka dengan kode yang hanya diketahui oleh Oliver, Kevin.

__ADS_1


Oliver menggendong tubuh Alexa sampai mereka tiba di dalam sebuah kamar yang cukup luas.


"Istirahatlah. Sebentar lagi barang-barang mu dari hotel dan apartemen akan diantar oleh Kevin ke sini." ujar Oliver sebelum meninggalkan kamar.


Alexa merasa tubuhnya sangat lelah karena ia tadi bertarung cukup lama dengan Oliver. Seluruh bagian tubuhnya memang terasa sakit. Alexa pun mencoba membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian, gadis itu memejamkan matanya.


**********


Oliver yang baru selesai mandi segera turun ke bawa. Ia sempat mengintip ke kamar tempat tidur Alexa dan tersenyum puas melihat gadis itu terlelap.


"Selamat siang, bos." Sapa Kevin saat melihat Oliver.


"Apakah semuanya beres?" tanya Oliver lalu membuka kulkas dan mengeluarkan dua kaleng bir. Ia menyerahkan satu kaleng pada Kevin.


"Aku sudah membayar pihak hotel. Aku juga sudah membawa barang-barang nona Alexa. Handphone dan dompetnya ada dalam tas coklatnya. Dari tadi ponselnya berbunyi terus. Kayaknya kapten Haris menghubungi Alexa."


Oliver merasakan hatinya sakit mendengar nama Haris. Kenapa aku harus merasa sakit? Memangnya siapa Haris itu? Dia hanya salah satu pekerja di maskapai ku.


"Tuan, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Oliver menatap asisten yang sangat dipercayainya itu. Kevin sudah 5 tahun bersamanya. Kesetiaan Kevin sudah teruji.


"Ada apa?" tanya Oliver.


"Apakah tuan menyukai nona Alexa?"


"Menyukai katamu?" Oliver tertawa. "Sejak kapan aku menyukai perempuan? Rasa suka atau rasa cinta adalah suatu kebohongan. Aku hanya tertantang saja pada gadis itu. Dia tidak mudah di taklukan. Ia bahkan tak memandangku sebagai pria kaya yang banyak disukai oleh para gadis."


Kevin sekali lagi memandang bosnya itu dengan seksama. Oliver pernah patah hati pada gadis pertama yang disukai nya. Gadis itu hanya menginginkan uang Oliver. Dia akhirnya pergi dengan kekasihnya yang berprofesi sebagai sopir truk. Sejak saat itu, Oliver selalu mempermainkan wanita. Dia bahkan bersumpah tak akan pernah jatuh cinta seumur hidupnya.


"Papanya kan bukan orang sembarangan di Indonesia. Nona Alexa adalah anak salah satu pengusaha sukses. Aku pikir, bukan gaji seorang pramugari yang dicarinya namun menjadi pramugari adalah salah satu impiannya." Kata Kevin.


Oliver mengangguk setuju. "Dia punya tubuh yang nyaris sempurna sebagai seorang wanita. Satu lagi yang menantang ku, dia masih perawan. Aku ingin menjadi lelaki pertama dalam hidupnya."


Kevin hanya bisa mengangkat bahunya. Siapa yang berani menentang keinginan seorang Oliver? Bahkan orang tuanya sendiri tak bisa mengatur anak mereka itu.


"Alexa harus jadi milikku. Akan ku gunakan seluruh kekuatanku untuk menjadikannya perempuan yang akan memuaskan ku di ranjang." Seringai jahat muncul di wajah tampan Oliver. Ia bagaikan iblis berwajah malaikat.


*******


"Sudah bangun, baby?"


Alexa menoleh ke arah pintu. Oliver masuk sambil membawa sebuah nampan yang berisi berbagai macam makanan.


Alexa bangun dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Oliver mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. "Sekarang sudah jam 4 sore. Aku yakin kamu pasti lapar. Aku suapin ya?"


"Yang terluka itu adalah kakiku bukan tanganku. Jadi aku bisa makan sendiri."


Oliver mengangguk. Ia meletakan nampan makanan dipangkuan Alexa lalu membuka kaki nampan itu agar dapat berdiri dengan baik.


"Makanlah!"


Alexa mencium makanan itu satu persatu.


"Tenanglah Alexa. Aku tak menambahkan obat apapun di makanan dan minumannya. Asal kamu tahu saja, kalau aku tak bercinta dengan perempuan yang tak berdaya. Aku lebih suka perempuan yang sehat dan tak terluka."


Alexa mencibir. "Siapa juga yang mau bercinta denganmu?" Ujar Alexa lalu mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya. Ia makan dengan begitu lahapnya tanpa memperdulikan Oliver yang sedang menatapnya.


"Ah, kenyang sekali !" ujar Alexa setelah menghabiskan jus orangenya.


"Kau kecil namun makannya sangat banyak."


Alexa menatap Oliver. "Aku ingin cepat pulih sehingga bisa melawanmu."


"Kau sungguh keras kepala."


"Dan kau seorang pemaksa."


Oliver mengambil nampan makanan dari pangkuan Alexa. Ia berjalan keluar kamar dan memanggil pelayan untuk mengambil tempat makanan yang hampir semua isinya sudah habis.

__ADS_1


Alexa merasa ingin buang air kecil. Ia mencoba turun namun kakinya terasa sakit.


"Kamu mau kemana?"


"Mau buang air kecil."


"Aku akan menggendongmu."


"Tuan, apakah di rumahmu tak ada pelayan perempuan? Aku tak mau digendong olehmu."


"Sayangnya, semua pelayanmu sudah pulang. Tak ada siapapun di tempat ini selain kita berdua."


"Kau tak punya kursi roda?"


"Hei, apartemenku ini bukan rumah sakit."


Alexa merasa kesal. "Tapi...."


Oliver langsung mengangkat tubuh Alexa. Gadis itu berteriak kaget sambil memukul pundak Oliver.


Secara perlahan, Oliver mendudukkan Alexa di kloset.


"Keluarlah!" usir Alexa.


Oliver hanya membalikan badannya. "Aku tak akan mengintip!"


"Oliver, please...!"


"Percayalah, kau akan membutuhkan bantuan ku."


Dengan kesal Alexa mencoba berdiri untuk menurunkan CD nya. Ia merasakan kakinya sangat sakit."


"Ah.....!" teriak Alexa. Hampir saja ia merasa pusing.


Oliver akan membalikan tubuhnya namun Alexa segera berteriak. "Jangan berbalik!"


Oliver kembali memunggungi Alexa.


"Aku sudah selesai." Kata Alexa. Oliver membalikan tubuhnya. "Sepertinya kakimu berdarah." Oliver mengangkat tubuh Alexa dan membaringkannya kembali di atas tempat tidur.


"Aku mau ganti pakaian. Apakah bajuku sudah ada?"


Oliver menarik koper Alexa yang ada di dekat pintu masuk. Ia menariknya sampai di dekat tempat tidur.


"Baju apa yang akan engkau kenakan?" tanya Oliver saat membuka koper Alexa.


"Biar aku sendiri saja yang pilih." Alexa buru-buru menurunkan kakinya ke lantai namun ia kembali menjerit karena sakit ditelapak kakinya.


"Jangan membantah, baby." Oliver langsung membongkar koper Alexa. "Kau harus memakai Celana pendek yang agak longgar agar kakimu aman." Oliver langsung berdiri. Ia menuju ke sebuah lemari. Ternyata di sana ada baju yang sudah tersedia. Ia mengambil sebuah kaos dan celana pendek sebatas lutut yang agak longgar lalu kembali ke tempat tidur.


"Pakailah ini."


Alexa menatap baju itu."Ini milik siapa?"


"Milik kakak Perempuanku. Tapi ia sudah tak menggunakannya lagi karena ia sudah menikah dan tinggal di Belanda."


"Keluarlah. Aku mau ganti pakaian."


Oliver tersenyum. "Biar saja aku melihatnya. Toh, tak lama lagi aku akan menyentuh semua. bagian tubuhmu."


"Oliver...! Dasar kamu mesum!"


Oliver tertawa. Namun akhirnya ia keluar kamar juga. Alexa menarik napas lega. Ia Iangsung membuka jaket milik Oliver dan gaun tidurnya. Tubuhnya terasa gerah.


Sementara ia memakai pakaiannya, Alexa mencoba mencari cara bagaimana ia bisa meninggalkan penthouse Oliver.


Oliver yang berada di ruang kerjanya tersenyum menatap layar TV yang ada di depannya. Layar TV itu menampilkan gambar kamera CCTV yang ada di kamar tempat Alexa sementara mengganti pakaiannya.


*Dia memang sangat sempurna. Aku semakin tak sabar ingin tidur dengannya. Guman Oliver sambil menyentuh layar TVnya.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi di penthouse nya Oliver. Dapatkah Alexa meloloskan dirinya?


Dukung emak terus ya guys*...


__ADS_2