
Mata Jeronimo yang sedang memandang layar laptopnya langsung tertuju pada Giani saat istrinya itu sudah keluar dari kamar mandi. Istrinya terlihat seksi dengan balutan handuk putih.
"Bee, ayo mandi!" Ujar Giani melihat Jeronimo hanya memandangnya saja.
"Iya istriku. Aku akan mandi."
"Gosok baik-baik tubuhmu, terutama bibir dan si palo yang disentuh oleh Feronika. Aku tak mau ada bekasnya di tubuhmu!" Kata Giani tegas lalu masuk ke dalam walk in closet.
Jero terkejut mendengar perkataan Giani. Pantas saja sejak di helikopter dan di mobil yang membawa mereka pulang, Giani sama sekali tak mau berdekatan dengan Jero. Ia beralasan capek dan langsung tidur. Bukankah istrinya itu yang menginginkan dia untuk membiarkan Feronika menyentuhnya?
Selesai mandi, Jero tak menemukan Giani ada di kamar. Ia pun turun ke bawa dan melihat istrinya itu sedang memasak.
"Sayang, ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jero sambil mendekat.
"Kau sudah selesai mandi? Sudah menggosok tubuhmu secara benar?
Jero mengangguk. "Aku mandi selama 30 menit sayang. Bibirku bahkan hampir bengkak karena aku sangat kuat menggosoknya."
Giani mendekati suaminya. Ia melingkarkan tangannya di leher Jero. Perlahan ia mencium bibir suaminya itu. Jero terkejut namun ia menyambutnya dengan hati yang gembira. Sungguh ia tak pernah menduga Giani akan menciumnya dengan sangat mesra.
"Terima kasih karena palo tetap tidur saat disentuh." kata Giani saat ia melepaskan ciumannya.
"Mungkin Palo akan berdiri hanya kalau disentuh olehmu. Buktinya sekarang ia sudah bangun sekalipun tak disentuh." Jero mengambil tangan Giani dan meletakkannya pada inti tubuhnya.
"Kamu mesum, Bee." Giani menarik tangannya dan segera berbalik menghadap ke depan kompor.
"Palo kangen. Sudah 4 hari tak menemui nido." rengek Jero sambil memeluk Giani dari belakang. Ia dengan sengaja menggesekkan tubuhnya membuat Giani tertawa.
"Palo harus menunggu karena aku lapar."
Jero melepaskan pelukannya. Ia menurut saja dari pada Giani mengamuk dan justru ia tak dapat kesempatan menjenguk nido malam ini.
30 menit kemudian keduanya sudah duduk saling berhadapan sambil menikmati makan malam.
"Bee, gimana perasaan kamu saat melihat Fero setelah sekian lama berpisah?" Tanya Giani.
"Biasa saja. Tak ada yang istimewa. Memangnya kenapa?"
Giani menggeleng. "Jika aku ketemu lagi dengan pak guru Paul, aku tak tahu apakah hatiku akan bergetar lagi atau tidak."
"Siapa pak guru Paul?"
"Guru privat ku. Dia sangat tampan dan penuh sejuta pesona. Dia mengajarkan matematika dan Fisika padaku. Aku sangat suka setiap kali dia mengajar. Bahkan aku dulu sering berdoa agar ketika ia datang mengajar hujan akan turun sehingga ia akan lama bersamaku. Pak guru Paul sangat tampan dengan motor sportnya."
Jero menatap Giani dengan hati yang terbakar cemburu. "Apakah dia tampan?"
"Ya."
"Siapa lebih tampan, aku atau pak guru Paul."
"Pak guru Paul."
"Giani, aku serius bertanya."
"Aku juga serius menjawabnya."
Wajah Jero mulai cemberut. "Apakah dia seorang bule? Atau mungkin dia blesteran?"
"Tidak. Pak guru Paul orang asli Indonesia. Dia sangat lembut dan aku suka sekali melihat wajah tampannya yang berkacamata."
"Mana ada orang tampan berkacamata? Yang ada justru kelihatan kutu buku."
"Aku masih menyimpan foto pak guru Paul!" Giani mengambil ponselnya dan membuka galeri. Lalu menemukan satu foto yang sudah lama tak pernah ia buka.
"Ini!"
Jero mengambil ponsel Giani. Ia terpana melihat pria tampan berkacamata. Sial! Guru ini memang tampan.
__ADS_1
"Bagaimana? Tampan kan?"
Jero menyerahkan ponsel Giani kembali. "Biasa saja. Tak ada yang istimewa. Wajah pribumi!"
"Hei....! Jangan menghina pak guru Paul. Dia adalah pria yang baik."
"Mengapa kamu masih menyimpan fotonya?"
"Memangnya kenapa jika aku menyimpannya? Dia salah satu guru yang telah memberikan ilmu padaku. Aku menyimpan semua foto guru yang pernah mengajar padaku. Namun yang paling istimewa adalah pak guru Paul."
"Cih...!"
"Kamu cemburu?"
"Cemburu pada pria seperti dia? Memalukan sekali!"
Giani menahan senyumnya. Ia tahu kalau Jero pasti cemburu. Ia sebenarnya hanya ingin menggoda suaminya namun Jero justru cemburu. Giani memang pernah merasa jatuh cinta pada pak guru Paul. Namun itu hanyalah cinta monyet yang akhirnya berhenti ketika pak guru Paul tak lagi mengajarnya. Apalagi saat Giani mendengar kalau pak guru itu sudah menikah dengan teman sesama guru yang ada di sekolah itu.
Saat keduanya sudah berada di kamar, Jero terlihat tidur sambil membelakangi Giani.
"Bee, sudah tidur ya? Palo tak ingin menemui nido?"
"Aku mengantuk!" Kata Jero sambil memendam hasratnya. Ia begitu ingin menyentuh istrinya. Namun rasa cemburunya begitu besar. Bagaimana mungkin Giani mengatakan kalau pak guru Paul lebih tampan darinya? Sungguh memalukan!
"Ya, sudah. Kalau kamu nggak mau memasuki nido, untuk seterusnya jangan menyentuh aku sampai anak kita lahir."
Jero langsung berbalik mendengar ancaman Giani. "Jangan gitu, Mel." Jero langsung memeluk istrinya.
"Katanya ngantuk!"
"Aku tidak mengantuk. Hanya kesal saja karena kamu mengatakan bahwa Pak guru Paul lebih tampan dariku."
Giani tersenyum. "Cemburu?"
"Tentu saja."
Giani terkekeh. "Pak guru Paul memang paling tampan saat itu di mataku. Namun setelah aku jatuh cinta padamu, tak ada pria yang paling tampan selain dirimu."
"Ya. Aku hanya ingin menggoda mu tadi."
Jero menatap wajah istrinya. "Kamu serius?"
"Aku selalu serius, Bee."
Jero tersenyum senang. "Maafkan aku sayang. Rasanya tak sanggup menerima saat tahu kalau kamu pernah memiliki seseorang yang sangat spesial di masa lalu mu. Aku sangat egois kan? Aku mencintaimu seperti orang gila sampai tak rela kalau pernah ada seseorang di masa lalu mu."
Giani membelai wajah suaminya. "Mari kita lupakan masa lalu. Yang ada sekarang, hanyalah masa depan. Aku, kamu dan si kembar."
Jero menunduk. Ia mencium istrinya dengan penuh rasa cinta berbalut gairah yang ingin segera dituntaskan.
*********
Keesokan harinya, Giani terkejut melihat Jero pulang dari kantor sambil menggunakan sebuah kacamata.
"Sayang, sejak kapan kamu memakai kacamata?"
"Aku merasa kalau mataku sedikit ada masalah. Mungkin karena terlalu sering berada di depan laptop. Terlihat tampan kan?"
Giani tertawa. Ia tahu kalau perkataan Giani yang memuji pak guru Paul dengan kacamatanya sangat mempengaruhi suaminya.
"Bagaimana? Aku terlihat tampan kan?"
"Nggak, Bee. Kamu terlihat seperti bule tua yang kutu buku."
"Apa?"
Giani langsung pergi meninggalkan suaminya. Jero membuka kacamatanya.
__ADS_1
"Kacamata sialan!" guman nya lalu membuang kacamata itu.
*********
"Pak, di lobby ada nona Finly!"
Juan yang sedang membaca laporan keuangan mengangkat kepalanya. Ia mengerutkan dahinya. "Finly?"
"Iya. Katanya dia adalah sahabat pak Juan." Kata Ulfah sekretaris Juan.
"Bagaimana orangnya?"
"Cantik. Seperti seorang model. Walaupun sebenarnya terlihat agak kurus."
Juan tersenyum. "Biarkan dia masuk, Ulfah!"
Ulfah mengangguk. "Baik, pak."
Juan berdiri dari kursi kerjanya. Ia berdiri di depan cermin sambil melihat penampilannya. Tampan! Ia tertawa menyadari kesombongannya.
Tak lama kemudian Ulfah mengantar Finly masuk. Sudah seminggu Juan tak bertemu Finly karena ia kesal Finly selalu menolaknya. Jujur, Juan rindu dengan cinta pertamanya itu.
"Hai....!" Sapa Finly terlihat agak gugup saat berhadapan dengan Juan.
"Duduklah!"
Finly duduk berhadapan dengan Juan di sofa putih yang ada di ruangan itu.
"Ada keperluan apa?"
Finly menunduk. Seharusnya ia tak gugup seperti ini untuk berbicara dengan Juan. Ia sudah memikirkan ini selama 1 minggu. Seharusnya ia sudah siap untuk mengatakannya.
"Juan, aku....aku...., aku mau menikah denganmu."
Wajah Juan langsung tersenyum. Ia berdiri dan langsung berlutut di depan Finly. Ia berdiri diantara kaki perempuan itu. Tangannya langsung menggenggam tangan Finly.
"Benarkah? Kau sungguh-sungguh?"
Finly mengangguk. Maafkan aku, Juan. Aku harus melakukan ini demi kebahagiaan Aldo dan Joana.
"Aku sangat senang, Finly. Kapan kau ingin kita menikah?"
"Secepat yang kau mau!"
"Hari ini? Ah...tidak....Aku tak mau tampak terburu-buru. Aku ingin pernikahan kita istimewa walaupun ini pernikahan kedua bagi kita. Berikan aku satu minggu untuk menyiapkan segalanya."
Hati Finly tersentuh saat melihat ketulusan Juan. "Juan, aku sakit."
"Aku akan merawat mu. Kita akan keliling dunia untuk mencari obat terbaik bagimu."
"Juan, mengapa kau harus sebaik ini?"
"Karena aku mencintaimu."
"Bagaimana jika cintaku padamu sudah berakhir?"
"Aku akan menumbuhkan nya kembali. Aku sangat yakin bisa membuatmu jatuh cinta lagi padaku."
"Kalau aku mati, kau pasti akan sedih."
"Sesingkat apapun waktu yang Tuhan berikan untuk kita nikmati, aku akan tetap bersyukur karena pernah bersamamu."
Finly langsung memeluk Juan sambil menangis. Ya Tuhan, tolong kembalikan rasa cinta yang pernah kumiliki dulu. Bolehkah aku bahagia walaupun hanya sebentar?
Juan mengeratkan pelukannya. Ia bahagia. Ada tekad dalam dirinya untuk mencari kesembuhan bagi Finly. Ia berharap semoga keajaiban itu akan ada.
Hai....simak novel terbaru aku yuk !
__ADS_1
ISTRI PERTAMA YANG MENJADI ISTRI KEDUA