Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 17)


__ADS_3

Mata Alexa membulat saat merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Tangannya yang ada di depan dada berusaha mendorong tubuh Oliver namun ia tak bisa. Oliver sudah mendorongnya sampai ia punggungnya menyentuh dinding. Tangan kiri Oliver sudah memegang tengkuknya dan tangan kanan Oliver sudah memeluk pinggangnya dengan sangat erat.


Tubuh Alexa memberontak namun hatinya sungguh bergetar menerima ciuman itu. Oliver walaupun penuh paksaan dalam melakukan ciuman itu, namun ia sama sekali tak kasar.


Saat Alexa hampir terbuai dengan kelembutan itu, akal sehatnya kembali datang.


"Lepaskan.....!" Ia berhasil mendorong Oliver. Wajahnya merah padam antara rasa malu dan kesal karena sudah terbuai dalam ciuman bule ini.


Oliver tersenyum tipis. "Aku tahu, kau menikmati ciumanku, sayang."


"In your dream....!" Alexa melangkah pergi dengan gerakan yang sangat cepat. Ia pun meninggalkan toilet itu.


Hardi langsung tersenyum melihat Alexa yang datang. Ia memberikan gelas minuman yang memang sudah disiapkannya untuk gadis itu.


Alexa langsung meminumnya sampai habis.


"Kau mau tambah?" tanya Hardi.


"Boleh juga." Alexa menyerahkan gelas kosong di tangannya. Hardi pun meninggalkan dia untuk mengambil minuman lagi.


"Kau minum bagaikan orang yang kehausan karena baru selesai berciuman." bisik Oliver yang entah dari mana sudah muncul di belakang Alexa.


Mata Alexa melotot ke arah Oliver. "Pergi sana, cari gadis mu."


Oliver mengedipkan matanya. "Kita baru saja selingkuh, sayang."


Alexa langsung menjauh. Ia mencari Hardi.


"Sudah nggak sabar ya?" goda Hardi saat Alexa menemuinya.


"Aku haus." Kata Alexa dan kembali menghabiskan minumannya.


"Mau lagi?"


"Cukup. Nanti aku diabetes karena minuman ini cukup manis."


Hardi tertawa."Namun tak dapat mengalahkan manisnya senyummu."


Wajah Alexa jadi agak tersipu mendengar rayuan Hardi. "Dasar lebay."


Oliver yang melihat pasangan itu dari jauh merasakan darahnya mendidih. Alexa tak pernah tertawa seperti itu padanya. Ia segera mencari Bella. Di ajaknya Bella pulang walaupun acaranya belum selesai.


Alexa, yang tak melihat Oliver dan Bella merasa senang sekaligus juga merasa ada sesuatu yang hilang. Entah kenapa, dia ingin melihat Oliver ada di sini. Aku sepertinya sudah mulai gila. Alexa berkata dalam hati.


*********


Felicia menatap kakaknya yang berdiri di pintu kamarnya. Semenjak Alexa menjadi pramugari, ia sudah jarang datang ke rumah ini.


"Felicia, kamu lagi sibuk?"


"Nggak. Aku baru saja selesai belajar."


Alexa melangkah masuk. Ia duduk di sebelah adiknya yang memang sedang duduk di atas ranjangnya sambil menonton TV.


"Bagaimana kabar pacarmu itu?"


Felicia tersenyum. "Aku sudah punya pacar yang baru, kak. Namanya Jordan."


"Kayak nama orang bule."


"Dia memang bule. Asal Kanada." Felicia mengambil ponselnya dan menunjukan foto bule itu.


"Bagaimana menurut kakak?"


Alexa menatap layar ponsel adiknya. "Tampan sih."


"Kebanyakan bule kan memang tampan. Makanya aku suka."


"Kamu kok milih bule. Memangnya cowok lokal itu nggak ada yang menarik hatimu?"


"Kak, cinta itu datang tanpa kita duga. Kadang kita punya keinginan untuk memiliki pacar yang modelnya kayak gini, namun pada akhirnya kita justru jatuh hati pada orang yang sama sekali berbeda dari apa yang kita bayangkan."


"Ish....pintar juga kata-katamu. Jangan-jangan nilai sekolahmu jadi menurun karena kebanyakan baca filosofi tentang cinta."


Felicia tertawa. "Kakakku yang cantik, aku tetap juara satu. Tak pernah berubah."


"Baguslah. Eh, kalung berliontin lumba-lumba yang pernah kakak berikan padamu, di mana?"


"Aku masih menyimpannya.". Felicia membuka laci nakas yang ada di dekat tempat tidurnya. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dan menyerahkannya pada Alexa.


"Boleh kakak pinjam nggak?"


"Ambil aja sekalian kembali. Aku sebenarnya tak terlalu suka dengan karakter lumba-lumba. Walaupun lumba-lumba itu gambaran kasih sayang yang tulus dan suka menolong. Ia juga punya pasangan sekali seumur hidup. Jika pasangannya mati, lumba-lumba tak akan mencari yang lain. Sama seperti burung merpati."


Alexa terkejut mendengar apa yang dikatakan adiknya. Pasangan sekali seumur hidup? Cih, lalu apa artinya ia memberikan kalung yang sama pada Bela? Dasar play boy!


Alexa keluar dari kamar Felicia sambil membawa kalung itu. Dia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan. Ada rasa benci saat mengingat wajah Oliver namun ada rasa ingin bertemu dengan cowok bule itu.

__ADS_1


"Eca....!" Panggil Juan saat Alexa menuruni tangga.


"Papi....!" Alexa tersenyum memandang papi Juan yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Ia memang sudah jarang datang ke rumah ini. Apalagi saat dirinya sudah sibuk sebagai seorang pramugari.


"Senang melihat kamu ada di sini." kata Juan saat Alexa duduk di depannya.


"Kangen saja dengan Felicia."


Juan tersenyum. "Dia selalu mengatakan merindukanmu. Kadang ia tidur di rumah sebelah karena ingin ketemu denganmu."


"Jadwal penerbangan Eca sejak pindah maskapai memang agak padat. Kadang baru sehari di rumah, harus berangkat lagi."


"Sampai kapan Eca akan menjadi pramugari? Sejujurnya papi agak khawatir dengan pekerjaan Eca itu. Nggak tertarik melanjutkan bisnis papa Aldo? Atau kalau Eca mau dapat bekerja di kantor papi."


"Nantilah, Pi. Usia Eca juga baru 24 tahun."


"Usia 24 tahun sebenarnya sangat cocok bagi seorang wanita untuk segera menikah."


"Eca belum ketemu dengan orang yang cocok."


"Papi pikir Oliver benar-benar menyukaimu."


Alexa menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia tahu kalau papi Juan menjalin kerja sama dengan Oliver.


"Oliver sekarang sudah punya pacar, Pi. Lagian Eca juga tak menyukainya."


"Kadang cinta itu hadir tanpa kita tahu, nak. Nanti di saat cinta pergi barulah kita menyadarinya. Seperti papi dulu. Awalnya papi mengira kalau papi nggak menyukai mami Wulan. Namun saat mami Wulan pergi, papi baru menyadari kalau papi menyukainya."


Wulan muncul dari arah ruang makan. "Ayo makan malam bersama. Sudah lama kita tak makan bareng."


Alexa mengangguk. Ia memang rindu masakan mami Wulan. Ia merasa memiliki banyak cinta baik di rumah papi Juan maupun di rumah papa Aldo.


**********


Hari ini adalah hari libur Alexa. Ia ingin memanjakan dirinya untuk ke salon untuk merawat rambut dan kulit wajahnya. Maklumlah, Alexa masih terikat kontrak dengan perusahaan shampo. Sebagai bintang iklannya, Alexa harus menjaga rambutnya. Alexa jadi teringat dengan mama Finly. Mamanya juga pernah menjadi bintang iklan shampo saat masih mahasiswa.


Setelah mandi dan memakai baju santai, Alexa pun segera pergi dengan mobilnya. Namun baru setengah perjalanan, Alexa merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya. Gadis itu berhenti untuk memeriksanya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat kalau ban depan sebelah kiri kempis.


Aduh, kok bisa gini sih? Kelihatannya juga mau hujan. Di jalan yang agak sepi lagi.


Alexa mendengus kesal. Ia sengaja ikut jalan belakang untuk menghindari macet. Namun kenyataannya, ia justru terjebak dengan situasi seperti ini. Baju yang dikenakannya justru sangat tak mendukungnya untuk mengganti ban mobil. Rok jeans di atas lutut dan kaos putih ketat. Alexa menelepon mami bule untuk meminta bantuan. Tapi ponsel mami bule tak aktif. Telepon rumah pun tak ada yang mengangkat.


Hujan perlahan mulai turun.


"Ya ampun...! Sial sekali aku."


"Oliver?" Alexa merasakan kalau hatinya bergetar. Sudah seminggu semenjak kejadian di pesta ulang tahun itu. Sial, apakah aku merindukannya?


"Kenapa, Eca?"


"Ban mobilku kempis."


Oliver sedikit menunduk dan memeriksa ban mobil Alexa. "Di dekat sini nggak ada tukang tambal ban. Memangnya kamu mau ke mana? Biar aku mengantarmu."


"Nggak usah. Biar aku ganti dulu ban mobilku."


"Ini sudah hujan, Eca. Kamu mau sakit?"


"Tapi.....!"


"Kevin.....!" panggil Oliver.


Kevin yang duduk di balik kemudi, segera turun.


"Ada apa tuan?"


"Panggil orang bengkel kita untuk memperbaiki ban mobil Alexa. Kamu tunggu dan antar kembali mobilnya kembali ke rumah."


"Baik, tuan...!"


"Ayo, Eca...!" Oliver dengan cepat menarik tangan Alexa memasuki mobilnya karena hujan sudah semakin deras. Kevin pun segera masuk ke mobil Alexa.


Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Oliver memberikan sapu tangannya agar Alexa mengeringkan wajah dan bagian tangannya yang agak basah. Alexa menerima sapu tangan itu dan mulai mengeringkan wajah dan bagian tangannya yang agak basah.


"Terima kasih." Kata Alexa sambil menyerahkan kembali sapu tangan Oliver. Cowok itu menerimanya dan memasukan kembali sapu tangan itu ke kantong celananya.


"Kamu mau kemana?" tanya Oliver saat mobil mulai berjalan.


Alexa menyebutkan nama salon yang cukup terkenal di Jakarta ini.


"Kenapa ikut jalan belakang?" Tanya Oliver.


"Aku juga baru pertama kali ikut sini. Mami bule bilang kalau di sini bebas macet dan akan lebih cepat sampai." Kata Alexa. Ia menatap Oliver. "Kamu sendiri kenapa bisa ada di jalan yang sama denganku?"


"Kamu pikir kalau aku mengikuti mu? Maaf ya sayang, aku dan Kevin sedang memantau proyek pembangunan apartemen. Kamu pasti melewati kawasan pembangunannya tadi yang ada pagar berwarna merah. Kami akan kembali ke kantor pusat saat melihatmu sedang berdiri di dekat mobilmu."


Alexa merasa agak malu karena berpikiran jahat pada Oliver. Ia pikir Oliver mengikutinya.

__ADS_1


"Seperti yang kau minta, Eca. Aku sudah menarik semua bodyguard ku yang biasa mengawasi dan menjagamu dari jauh selama ini." Kata Oliver membuat Alexa memilih untuk diam saja.


Mereka pun akhirnya tiba di salon yang dimaksud. "Terima kasih." Kata Alexa sambil membuka sabuk pengamannya.


"Tunggulah, aku akan mengantarmu dengan payung." Kata Oliver lalu turun dari mobilnya, ia mengambil payung yang ada di bagasi belakang lalu melangkah ke bagian kiri mobilnya. Tangannya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Alexa turun.


Saat keduanya melangkah bersama untuk memasuki salon, kaki Alexa tiba-tiba saja terpeleset. Secara spontan Oliver menarik Alexa agar gadis itu tak jatuh. Tubuh mereka menjadi begitu dekat membuat jantung Alexa berdetak dua kali lebih lebih cepat.


"Kamu tidak, apa-apa?"


Alexa mengangguk. Tangan Oliver yang melingkar di pinggangnya membuat Alexa merasakan ada desiran halus di hatinya.


Saat masuk, bagian resepsionis sudah menyambutnya. Alexa langsung menunjukan bukti percakapan WA nya kemarin yang sudah memesan tempat untuk pelayanan hari ini jam 11 siang.


"Alexa Purwanto kan? Perawatan rambut dan juga wajah, semuanya tiga juga, empat ribu rupiah."


Alexa baru menyadari kalau ia hanya memegang ponselnya dan tasnya ada di dalam mobilnya.


"Ini...!" Oliver yang belum pergi, menyodorkan kartu nya pada gadis penjaga itu.


"Oliver ?" Alexa menatapnya protes.


"Biar saja, sayang. Kenapa sih kalau menggunakan kartuku?" Kata Oliver mesra sambil menepuk bahu Alexa.


Gadis penjaga itu tersenyum. Ia segera menggesek kartu Oliver dan menyerahkannya kembali.


"Berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentransfernya kembali." bisik Alexa.


"Bagaimana aku bisa memberikan nomor rekeningku? Bukankah nomorku sudah kau blokir?"


"Baiklah. Aku akan membukanya." Alexa segera di panggil untuk masuk ke dalam dan menerima pelayanan dari pihak salon.


"Pulanglah! Nanti aku pulang naik taxi online." Ujar Alexa sebelum masuk ke salah satu ruangan yang ada.


Selama 2 jam lebih, Alexa memanjakan dirinya dengan perawatan rambut dan wajah. Ia merasa segar saat keluar dari sana. Alexa baru saja akan menelepon taxi online saat ia melihat Oliver masih ada di ruang tunggu. Ia duduk di salah satu sofa sambil menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa. Seperti Oliver sedang tidur.


"Oliver, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Alexa sambil membangunkan cowok itu dengan cara menepuk lengannya.


Oliver membuka matanya. "Sudah selesai?"


"Aku kan tidak menyuruh mu untuk menunggu. Kenapa juga kau menunggu?"


Oliver memutar bola matanya. "Aku juga nggak mau menunggumu, Eca. Namun di luar masih hujan."


"Aku kan bisa memesan taxi online."


Oliver menatap Alexa dengan tatapan yang sulit Alexa artikan. "Kamu kan nggak bawa uang. Kalau ada sesuatu di jalan bagaimana?"


"Memangnya apa pedulimu?" Alexa langsung berjalan keluar dari salon.


"Tentu saja aku peduli, Alexa. Aku kan bilang kalau aku mencintaimu." Kata Oliver saat berhasil menyusul langkah Alexa.


Alexa membalikan badannya dan menatap Oliver. "Mencintaiku? Bukankah kamu sedang pacaran dengan si bule Bela? Dasar kamu cowok play boy ya? Aku sama sekali tak tertarik denganmu."


"Terima kasih. Walaupun kau tak menyukaiku, namun kau mau memakai kalung yang kuberikan untukmu."


Deg!


Alexa baru sadar kalau ia memakai kalung itu. Wajahnya menjadi merah. Ia seperti kehilangan kata-kata. Namun gadis itu berusaha menguasai keadaan. "Kebetulan aku sudah bertemu dengan jadi akan ku kembalikan."


Alexa mencari pengait Kalung itu namun Oliver buru-buru menarik tangan gadis itu.


"Kita kelihatan seperti pasangan yang Sedang bertengkar. Ayo pergi. Aku sangat lapar" Oliver membuka payung yang ada lalu ia menarik tangan Alexa menuju ke mobilnya yang terparkir.


Saat Oliver kembali menjalankan mobilnya, keduanya kembali diam. Mereka pun sampai di sebuah restoran.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Alexa.


"Aku lapar. Ayo turun!"


"Aku mau pulang, Oliver."


"Apa salahnya makan bersamaku? Kamu takut Hardi melihat kita? Aku saja tak takut dilihat eh Bela." Oliver turun dari mobil, Alexa pun mengikutinya. Setelah itu Oljver menyerahkan kunci mobilnya pada penjaga pintu dan segera masuk ke dalam bersama Oliver.


Keduanya pun makan bersama tanpa banyak bicara. Selesai makan, Oliver mengantar Alexa pulang ke rumahnya.


"Jangan lupa, kirimkan nomor rekeningmu." Kata Alexa.


"Ok."


Alexa membuka pintu mobil. Namun sebelum kakinya melangkah turun, Oliver tiba-tiba menarik tangan Alexa dan mencium pipinya dengan sangat lembut.


"Aku bahagia hari ini bersamamu." bisik Oliver.


Alexa langsung turun. Ia melangkah masuk tanpa menoleh lagi ke arah Oliver. Saat pintu tertutup, Alexa menyandarkan punggungnya di pintu. Ia memegang pipinya. Jantungnya berdetak cepat. Aku pasti sudah gila!


Bagaimana selanjutnya? Apakah Alexa akan semakin menyadari perasaannya?

__ADS_1


Dukung emak terus ya? 3 episode lagi kisah ini akan berakhir.


__ADS_2