
ok"Aku sudah memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya itu. Namun Alexa sangat ingin menjadi pramugari sejak ia kecil. Oh... putriku, aku bisa gila jika tak mendapatkan kabar seperti ini." Aldo tak dapat menahan air matanya. Sudah 3 jam sejak berita pesawat itu hilang kontak, tak ada tanda-tanda keberadaan pesawat itu.
Giani menepuk pundak kakaknya. Ia juga sebenarnya sangat sedih menerima berita jatuhnya pesawat itu. Mereka semua sudah berkumpul di rumah Aldo. Juan dan Jero langsung ke bandara untuk mendapatkan informasi terkini.
Oliver yang duduk di sudut ruangan pun nampak sangat terpukul. Ia tak sanggup membayangkan jika harus kehilangan gadis yang sangat dicintainya itu. Ia segera menelepon Kevin. "Kevin, segera dapatkan informasi kapan titik terakhir pesawat itu terlihat di radar. Kita harus turun tangan dan mencari pesawat sial itu. Aku tak bisa tinggal diam saja. Gunakan segala keahlian mu untuk mencari keberadaan pesawat itu."
"Baik, tuan."
Oliver segera mendekati keluarga Alexa. "Aku mau mencari informasi melalui jaringan penerbangan. Nanti ku kabari lagi.'
'Iya, nak. Pergilah!" Ujar Wulan. Sementara Joana hanya mengangguk pelan. Ia masih sock atas berita yang baru saja di terimanya.
3 jam sebelum kecelakaan pesawat terjadi.....
Seperti biasa, Alexa bertugas di kelas satu. Penumpang hari ini cukup padat, baik di kelas satu maupun di kelas ekonomi.
Setelah mengantarkan makan malam bagi para penumpang, Alexa yang kali ini dibantu oleh Jordan, pramugara asal Singapura itu pun beristirahat karena mereka masih akan menempuh perjalan sekitar 3 jam lebih lagi.
"Kayaknya hujan ya, kak?" ujar Jordan sambil merenggangkan otot-otot nya.
"Iya. Hujannya cukup deras. Dan masih ada sekitar 3 jam lebih lagi perjalanan."
Alexa pun hendak mengistirahatkan tubuhnya saat ia mendengar seorang anak yang menjadi penumpang kelas satu ini menangis cukup keras.
"Hallo, sweety! why are you crying?" tanya Alexa sambil mendekati anak itu. Ia seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun. Ia dan ibunya berangkat dari Singapura setelah mengunjungi ayah mereka yang bekerja di sana.
Ibunya yang sedang hamil 7 bulan tersenyum. "Jika hujan, anak saya memang sering ketakutan." kata ibu anak itu yang diketahui bernama Jesika, dan anaknya Rahel. Mereka sudah berkenalan tadi saat Alexa membantu menyuapi Rahel.
"Jangan takut dengan hujan, sayang. Mau dengar kakak bercerita?" tanya Alexa. Ia duduk di samping kursi Rahel yang kebetulan kosong sambil.punggungnya menutupi jendela yang ada.
Alexa pun mulai bercerita, kisah anak-anak yang dulu sering diceritakan oleh mama Finly. Alexa paling suka cerita tentang kisah penyelamatan binatang-binatang. Rahel perlahan mulai menatap Alexa sambil tersenyum. Ketakutan di wajahnya mulai hilang dan ia nampaknya tertarik dengan cerita Alexa.
1 jam kemudian, Rahel sudah tertidur, demikian juga dengan mamanya. Alexa mengambil selimut dan menutupi tubuh gadis kecil itu. Ia akan kembali ke galley karena 1 jam sebelum pesawat mendarat, ia harus memberikan lagi Snack untuk para penumpang berupa kue dan kopi atau teh.
Saat ia tiba di galley, Jordan sudah tak ada. Mungkin dia pergi istirahat di ruangan tidur yang ada. Alexa pun memilih duduk saja di tempat duduk yang ada di galley, karena ia takut nanti akan terlambat memberikan Snack untuk para penumpang.
Alarm yang Alexa pasang berbunyi. Ia pun membuka sabuk pengamannya dan segera memanaskan air dan kue yang akan dibagikan. Tak lama kemudian, Jordan sudah datang.
"Kak, hujan sepertinya cukup deras."
Alexa mengangguk. Ia memang merasa kurang nyaman dengan perjalanan kali ini. Namun Alexa tak henti-hentinya berdoa. Ia tak tahu mengapa, namun wajah mamanya selalu terbayang.
Lampu tanda menggunakan seatbelt menyala saat pesawat mengalami goncangan. Alexa dan Jordan saling berpandangan. Merasa kurang nyaman, Alexa segera menuju ke ruangan kokpit karena ia mulai mendengar kalau penumpang sudah terbangun dan mulai panik. Alexa sempat melirik jam tangannya. Mereka sebenarnya sudah memasuki kawasan Australia. Mungkin 1 jam lagi lalu mereka akan tiba.
"Kep, para penumpang mulai gelisah. Mereka meminta penjelasan tentang apa yang terjadi." ujar Alexa.
Kapten Faris, menatap Alexa. "Kita memang kehilangan kontak dengan menara kontrol. Sistem pemancar radar pesawat seperti dihantam oleh petir. Kembalilah ke kabin penumpang. Buatlah mereka tenang."
"Baik, Kep."
"Alexa....!"
Alexa menoleh lagi.
"Gunakan sabuk pengaman mu. Cuaca sangat buruk. Beberapa menit ke depan sepertinya akan ada badai."
"Ok, Kep." Alexa meninggalkan ruang kokpit. Perasaannya mulai gelisah. Bayangan wajah mamanya seperti tak mau hilang dari pelupuk matanya.
Guncangan keras terjadi lagi. Alexa dan Jordan saling berpandangan karena mereka merasa kalau pesawat turun secara cepat.
"Kak, perasaanku jadi tak enak." ujar Jordan.
Alexa menatap jam tangannya lagi. Perkiraan masih sekitar 45 menit lagi untuk sampai di bandara Sidney.
Guncangan terjadi lagi. Para penumpang mulai berteriak panik. Alexa juga mendengar Rahel yang menangis histeris. Alexa yang sudah duduk dan siap memasang seatbelt nya, terpaksa masuk ke ruangan kelas 1.
__ADS_1
"Bapak, ibu harap tenang, cuaca memang lagi buruk. Ada hujan dan sedikit badai. Mari tetap duduk sambil terus menggunakan seatbelt." Ujar Alexa lalu ia mendekati Rahel. Duduk di samping gadis kecil itu.
"Kakak...Rahel takut...!"
Alexa menggenggam tangan Rahel sambil tersenyum. "It's ok, sweety. Let's go pray." Alexa mengajak Rahel berdoa. Gadis itu pun memejamkan matanya.
"Tuhan tolong jaga dan lindungi kami. Amin."
Alexa merasakan pesawat semakin turun. Ia memang beberapa kali ada dalam suasana penerbangan yang buruk namun baru kali ini Alexa merasa sangat takut. Ia dapat melihat kalau pohon-pohon semakin dekat. Benturan yang keras terjadi. Pesawat seperti menabrak sesuatu. Teriakan panik para penumpang terdengar.
"Tutup matamu, Rahel. Lawan rasa takutmu, sayang. Letakan kedua tanganmu di lehermu dan menunduk. Ikuti kakak!"
Rahel mematuhi perintah Alexa. Semuanya terjadi begitu keras. Alexa merasakan kalau mamanya berdiri di hadapannya. Tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Mama bersamamu, nak!" demikianlah Alexa mendengar suara lembut mamanya sebelum ia sendiri menutup matanya.
**********
"Mereka jatuh di kawasan hutan yang ada di pulau Fraser. Kemungkinan besar di perbukitan yang banyak pohon-pohon nya."
Oliver merasakan dadanya sesak. "Siapkan pesawat pribadiku. Malam ini juga kita akan berangkat ke sana. Siapkan juga helikopter ketika kita ada di sana."
"Tuan, mengingat kondisi hutan yang lebat dan cuaca yang buruk, kemungkinan besar banyak korban yang...."
"Aku akan menemukan Alexa dengan tanganku sendiri. Apakah masih hidup atau tidak, aku akan membawanya pulang ke Indonesia." Saat mengucapkan itu, mata Oliver sempat berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit membayangkan kemungkinan terburuk yang harus Alexa alami. Tunggu aku, Eca. Aku akan menemukanmu, membawamu pulang. Tak akan kubiarkan kau menghilang di hutan itu.
*******
"Mama, Eca sangat rindu dengan mama." Alexa memeluk mamanya. Ia menangkis dalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mama juga kangen dengan, Eca."
"Apakah kita akan bersama lagi, ma?"
Finly tersenyum. Ia membelai rambut Alexa. "Mereka masih membutuhkanmu, nak." Finly mencium puncak kepala anaknya, lalu ia menghilang dari pandangan Alexa.
"Kakak.....!"
Alexa membuka matanya perlahan. Ia merasakan ada yang perih di bagian kepala dan tangannya. Kesadaran Alexa perlahan mulai kembali. Ia melihat sekelilingnya. barang-barang yang ada di bagasi bagian atas semua jatuh. Alexa membuka sabuk pengamannya, namun tangan mungil Rahel menahan tangannya saat Alexa akan berdiri.
"Kakak....!"
Mata Alexa terbelalak melihat tangan Rahel yang terluka.
"Jangan takut sayang! Kakak akan membersihkan lukamu." Alexa akan melangkah ke belakang dan mencari kotak obat, namun ia memeriksa Jesika yang meringis.
"Nyonya....!" Alexa mengeluarkan sebuah koper yang menimpah kaki Jesika. Ia melihat kaki wanita hamil itu memar. "Tunggu sebentar ya?"
Alexa menuju ke ruang galley. Ia melihat Jordan yang sudah jatuh di lantai. Dari kelas ekonomi, Alexa mendengar teriakan beberapa orang yang meminta tolong.
"Jordan, bangun....!" Alexa menepuk pipi Jordan. Lelaki blesteran Inggris-India itu perlahan membuka matanya.
"Kak....!" ia pun bangun sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Kamu terluka?"
"Kepalaku terbentur di meja pantry. Kakiku juga sakit."
"Tapi kamu bisa kan berdiri? Banyak penumpang yang terluka dan membutuhkan pertolongan kita."
Jordan bangun. Walaupun kakinya agak sakit, dengan tertatih, ia mengikuti Alexa yang sudah memegang kotak obat di tangannya.
Alexa membersihkan luka di tangan Rahel dan segera membalutnya. Setelah itu ia juga membersihkan luka di kaki Jesika.
"Kak Alexa, ada dua penumpang yang meninggal di kelas 1." lapor Jordan.
__ADS_1
Alexa merasa dadanya sesak. "Jordan, bantu mereka. Aku mau melihat keadaan Kapten Faris dan kapten Arjuna." Alexa menuju ke ruang kokpit. Agak susah ia membuka pintunya. Saat pintu terbuka, Alexa langsung menangis. Kapten Faris sudah meninggal. Sebuah kayu yang besar yang menembus kaca depan langsung menusuk dadanya. Sedangkan co-pilot Arjuna, kakinya terjepit.
"Kep....!"
"Alexa....! Kapten Faris..."
"Beliau sudah meninggal, Kep. Aku bantu kapten untuk melepaskan besi ini dan Kep tarik kakinya perlahan ya." Alexa mencoba melepaskan besi yang menjepit kaki kapten Arjuna.
"Ah.......!" teriak kapten Arjuna saat ia mencoba menarik kakinya.
"Terima kasih Tuhan!" Alexa bernapas lega. Ia mengambil sebuah kain, menutup wajah kapten Faris lalu membantu kapten Arjuna keluar dari ruang kokpit.
Suasana menjadi mencekam. Hujan dan angin masih terus terjadi dan di kabin kelas ekonomi pun masih terdengar jerit tangis minta tolong. Alexa sebagai Senior pramugari di penerbangan ini, Alexa berusaha tenang. Apalagi saat ia mendengar kalau salah satu pramugari ada yang meninggal.
"Kak, penumpang di kelas satu yang sedang hamil sepertinya akan melahirkan." Jordan melaporkan.
Alexa kaget mendengar laporan Jordan. Ia berlari ke kelas satu.
"Tolong...., sepertinya aku akan melahirkan!" Jesika memegang tangan Alexa dengan wajah yang merintih menahan sakit. Alexa bingung. Penerangan pesawat sangat minim.
"Jordan, bawa Rahel ke ruangan lain, lalu cari matras, kita akan membantu nyonya ini melahirkan."
Selama hampir 1 jam, Alexa dan Jordan membantu nyonya Jesika melahirkan. Dengan peralatan seadanya, ia dan Jordan berusaha menyelamatkan Jesika dan anaknya.
Suara tangis bayi terdengar. Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat. Vanesa, pramugari yang sudah memiliki 2 anak segera membungkus bayi mungil itu dengan kain yang sudah disiapkan. Ia mendekap bayi itu di dadanya untuk memberikan kehangatan.
**********
7 Jam semenjak pesawat jatuh, pertolongan belum juga datang. Hari mulai beranjak pagi.
"Kak, bajumu basah. Sepertinya darah." Ujar Jordan.
Alexa mengangkat kemeja seragamnya yang berwarna merah itu. Ia terkejut melihat kalau di pinggangnya tertancap pecahan kaca.
"Kak.....!"
"Tolong ambilkan kain kasa."
"Sudah habis, kak."
Alexa bersandar pada dinding pesawat. Ia menarik pecahan kaca yang menancap di pinggangnya. Ia menekan lukanya dengan sebuah kaos yang berserakan di lantai pesawat. Alexa merasa tubuhnya agak dingin.
Tiba-tiba Alexa mendengar suara helikopter. Tak lama kemudian ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Alexa.......! Alexa.....!"
Alexa menajamkan pendengarannya. "Oliver?"
Ia melihat ada bayangan orang masuk dari pintu pesawat yang telah copot. Ia mendekati Alexa.
'Sayang.....!" Oliver langsung memeluk Alexa saat melihat kalau belahan jiwanya itu masih hidup.
Alexa tersenyum dalam pelukan Oliver. Namun tiba-tiba pandangan Alexa menjadi kabur. Badannya langsung terasa ringan. Alexa kembali melihat bayangan mamanya. "Mama....!" guman Alexa sebelum ia menutup matanya.
"Honey....Eca....sayang." Oliver melepaskan pelukannya. Ia langsung terkejut melihat Alexa tak bergerak lagi. Darah segar mengalir dari pinggang Alexa. Wajah Alexa terlihat pucat. Bibirnya bahkan menjadi agak biru.
"Honey, no.....Eca.....Eca.....no baby...no....!" Oliver menepuk pipi Alexa. "Open your eyes baby....!" teriak Oliver panik.
Beberapa kru pesawat mendekat seiring terdengar suara langkah kaki dan suara anjing pelacak yang menyalak.
Beberapa kru mulai menangis melihat tubuh senior mereka diam tak bergerak. Pada hal dia tadi yang paling bersemangat untuk menolong para penumpang, membantu Jesika melahirkan sampai selamat. Tanpa Alexa sadari, begitu banyak darah yang telah keluar dari luka di pinggangnya.
**********
Kasihan Alexa.......
__ADS_1
Dukung emak terus ya walaupun alurnya nggak sesuai dengan harapan kalian...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜