Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Panggilan Sayang


__ADS_3

Saat Finly meninggalkan ruangannya, Aldo jadi termenung. Ia sungguh tak mengira, Finly yang cantik dan energik kini menjadi tak berdaya karena penyakit berbahaya yang setiap saat dapat mengancam nyawanya.


Aldo mengusap wajahnya kasar. Hatinya sungguh terusik. Bagaimana pun, dia dulu sangat menyayangi dan memuja Finly. Membayangkan Finly akan meninggal saat usianya baru 32 tahun tentulah sangat disayangkan.


tok.... tok.... tok...


Pintu ruangan Aldo diketuk.


"Masuk!"


Pintu terbuka. Joana muncul dengan wajah cantik. Ia mengenakan rambut palsu dengan panjang sebahu membuat kecantikannya semakin terlihat.


"Hai sayang!" Aldo langsung berdiri dan menyambut tunangannya itu.


"Sudah selesai rapatnya?" Tanya Joana sambil menyeka bibir Aldo yang terkena lipsticknya karena lelaki itu baru saja mencium bibirnya.


"Sudah. Kita pergi makan siang sekarang?"


"Sebenarnya aku membuat makan siang untuk kita." Kata Joana sambil menunjukan rantang makanan ditangannya.


"Aku terlalu fokus menatap wajahmu sampai tak melihat ada apa ditanganmu." Aldo mengambil rantang makanan itu dari tangan Joana lalu melangkah ke arah sofa yang ada di ruangannya itu.


Saat ia membuka penutup rantang makanan itu, ia langsung terpana. "Wah, ayam kari kesukaanku."


"Aku menelepon Giani untuk menanyakan makanan kesukaanmu."


Aldo menarik tangan Joana sehingga perempuan itu duduk dipangkuannya. "Makanya, tinggal saja di rumah bersamaku. Kau akan tahu semua kesukaanku."


"Nantilah kalau kita sudah menikah. Aku tak mau para pelayan di rumahmu menganggap aku perempuan nggak benar karena mau tinggal serumah tanpa ikatan. Walaupun di tempat asalku itu hal yang biasa, namun di Indonesia, itu sesuatu yang tidak biasa kan?"


Aldo membelai wajah Joana. "Baiklah. Tapi malam minggu nanti aku akan menginap di apartemenmu."


"Kenapa? Biasanya juga habis dapat jatah langsung pergi." Joana pura-pura bingung pada hal dia sudah tahu alasannya.


"Alexa akan menginap di tempat Finly setiap kali malam minggu. Aku mengijinkannnya karena Alexa juga mau. Biarlah sesekali mereka bersama."


"Baiklah. Sekarang makan dulu ya?" Joana bangun dari pangkuan Aldo. Ia segera menyiapkan makan siang mereka walaupun hatinya sedikit kecewa karena Aldo tak menceritakan tentang kedatangan Finly ke kantornya.


***********


Langkah Giani terhenti di tangga terakhir saat melihat Jero ada di dapur dan sedang memasak.


"Kak.....!" Panggilnya.


Jero menoleh. "Selamat siang, sayang. Duduklah, akan kubuatkan susu untukmu."


Giani mengangguk. Ia melangkah menuju ke meja makan. Jero dengan cepat menyiapkan susu untuk Giani. Untunglah untuk minuman yang satu ini, masih masuk ke leher Giani.


"Kakak nggak ke kantor?"


"Aku masih cuti. Tadi Selly sudah datang dan membawa beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani. Sebelum ia datang, aku memintanya untuk mampir ke supermarket untuk belanja. Makanya sekarang aku masak."


"Aku bantu ya?"


"Nggak, sayang. Kamu habiskan saja susunya. 15 menit lagi semua masakan ini akan siap. Aku juga sudah lapar." Kata Jero lalu kembali berkutat dengan wajan dan spatula.


Tak lama kemudian, masakannya selesai. Melihat semua makanan yang disajikan oleh Jero di atas meja, membuat selera makan Giani langsung muncul. Mungkin pengaruh kehamilan atau juga karena memang ia yang sudah sangat kelaparan karena bangun tidur sudah hampir jam 11 siang, Giani hampir menghabiskan semua yang telah disiapkan Jero di atas meja.


"Ah, kenyangnya. Anak ini memang menyukai masakan papanya. Makasih ya, kak."


"Sama-sama, sayang. Eh, nggak usah dibereskan. Biar aku saja."


"Tapi kak!"


"Sayang, kandunganmu kan masih umur muda. Belum boleh salah bergerak. Menurut yang aku baca, kalau kehamilan sudah memasuki usia 5 atau 6 bulan, itu sudah kuat. Si ibu disarakan untuk banyak bergerak namun tidak boleh terlalu berlebihan juga. Lebih baik sekarang, kamu tunggu aku saja di teras belakang, sambil menikmati angin danau yang sejuk, nanti kalau aku sudah selesai, aku akan menyusul."


"Ok." Giani merasa sangat dimanja. Ia berdiri sambil meraih ponselnya lalu mendekati Jero yang sementara membersihkan peralatan makan.

__ADS_1


"Kak...!"


Jero menoleh. "Ada apa, sayang?"


"Cium!"


Jero mendekat lalu mencium bibir Giani dengan sangat lembut.


"Terima kasih!" Ujar Giani lalu segera melangkah menuju ke teras belakang. Ia memutuskan untuk pergi ke pondok yang ada di depan danau. Ia sudah lama tak duduk di sana. Giani menyetel sandaran kursi agar lebih ke bawah sehingga ia bisa nyaman untuk berbaring. Sambil memainkan ponselnya, Giani pun duduk menikmati siang sejuk.


Setelah menunggu hampir 20 menit, Jero datang sambil membawa minuman dingin dan mangga muda lengkap dengan sambal campuran gula merah.


"Duh, kak. Enak sekali mangganya. Belinya di mana?" Ujar Giani saat sudah memasukan satu potong ke dalam mulutnya.


"Nggak beli, sayang. Mangga yang ada di teras samping sana sudah berbuah."


"Oh ya? Aku boleh dong setiap hari memakannya."


"Boleh. Asal jangan kebanyakan." Kata Jero lalu duduk di samping Giani. Perempuan itu langsung bersandar di dada Jero saat tangan suaminya melingkar di bahunya.


"Gi, jangan panggil aku kakak, ya. Kesannya aku jadi tua amat. Pada hal usia kita kan nggak beda jauh." Kata Jero sambil menautkan jarinya tangan mereka.


"Cukup jauhlah, kak. 8 tahun lebih."


"Tapi wajahku kan imut, jadi nggak jauh kelihatannya."


Giani tertawa.


"Kok tertawa, Gi?"


"Habis, kakak itu paling parno mendengar kata tua."


"Iyalah. Aku takut nanti kamu berpaling pada pria yang lebih mudah dan energik."


Giani mengangkat kepalanya sehingga bisa menatap wajah suaminya. "Kau tampan, kak. Terlihat maskulin banget. Aku suka melihat wajahmu saat tidur. Dan kau masih terlihat muda dan energik. Buktinya, aku hamil langsung dúì9⁹ķua anak sekaligus."


"Sudah pintar merayu, ya?" goda Jero sambil membelai wajah istrinya dengan punggung tangannya.


Jero tersenyum. "Panggil aku 'bee'."


"Bee? itukan artinya lebah."


"Iya. Karena aku lebah yang tergila-gila untuk mengisap manisnya dirimu."


"Terus, kakak panggil aku apa?"


"Mel."


"Mel?"


"Iya sayang. Mel itu artinya madu dalam bahasa Latin."


"Kenapa nggak honey saja?"


"Terlalu umum. Bee dan Mel. Bukankah kedengarannya manis? Lebah dan madu. Keduanya tak bisa dipisahkan bukan? Di mana ada lebah, di situ ada madu. Di mana ada Mel, disitu ada Bee."


Giani tertawa melihat wajah suaminya yang tampak lucu. "Kalau Bee dan Mel sudah resmi, jadi palo dan nido sudah nggak ada dong?"


"Eh, jangan....!" Seru Jero cepat. Menghilangkan palo dan nido berarti menghilangkan ciri khas bercinta mereka. "Palo dan Nido jangan dihilangkan. Mereka akan tetap kita pakai saat bercinta. Bee dan mel adalah panggilan sayang antara aku dan kamu. Supaya saat bercinta, kamu nggak akan berteriak, kak....! Namun Bee...! Kedengarannya seksi kan?"


Lagi-lagi Giani tertawa melihat mimik wajah Jero yang begitu serius saat menjelaskan.


"Baiklah, bee." Giani langsung menyebut nama itu saat dilihatnya wajah Jero menjadi cemberut.


Jero langsung tersenyum. "Nah, begitu dong, Mel."


"Aku mencintaimu, Bee."

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Mel."


Keduanya saling bertatapan mesra, dan entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah saling bertemu dan ciuman lembut yang panjang itu terjadi. Giani yang merasa posisinya agak terjepit, segera bangun dan duduk sambil mengakang kaki dipangkuan Jero. Ciuman mereka hanya sesekali terlepas untuk memberikan mereka waktu beberapa detik untuk menghirup udara segar, selebihnya mereka kembali berciuman.


"Mel, palo kayaknya bangun." ucap Jero di sela-sela ciuman mereka.


"Nido juga sepertinya ingin dijenguk."


"Ayo ke kamar!" Jero akan bangun namun Giani yang masih ada di pangkuannya mendorong dada suaminya.


"Biarkan Palo dan Nido ketemu di sini saja, Bee."


Mata Jero yang penuh dengan kilatan gairah tampak semakin bersinar. "Benar?"


Giani turun dari pangkuan Jero. Ia menurunkan tirai bambu yang ada sehingga pondok kecil itu terhalang dengan tirai bambu yang memang di pasang mengelilingi badan pondok.


Jero semakin bersemangat melihat Giani yang sudah membuka bajunya satu persatu. Ia pun melakukan hal yang sama. Keduanya kembali berpelukan untuk saling memuaskan raga satu dengan yang lain.


"Kak...!" Jerit Giani saat ia merasa keenakan atas sentuhan Jero.


"Bee, Mel. Bukan kakak...!" protes Jero.


"Bee.....! Kak...., Bee....!"


Itulah yang terdengar di dalam pondok kecil itu saat pasangan suami istri itu saling berbagi kehangatan cinta mereka dalam penyatuan di siang yang terik.


"Terima kasih, Mel" Ujar Jero saat keduanya sudah selesai. Jero menghapus keringat di dahi Giani lalu menarik tubuh istrinya untuk di dekap.


"Terima kasih juga, Bee."


Selama beberapa saat, keduanya saling diam sambil menetralkan deru napas masing-masing.


"Mel, ada sesuatu yang selama ini ingin kutanyakan padamu. Mengapa kamu memilih bersekolah di rumah?"


Giani melingkarkan tangannya diperut Jero. "Karena aku dan orang tuaku trauma dengan apa yang pernah menimpah kami waktu kecil. Sebenarnya, aku punya kakak perempuan. Namanya kak Gisela. Jadi yang tertua Geraldo, yang kedua Gisela dan aku yang bungsu Giani. Waktu itu aku baru kelas 1 SD dan kak Gisela kelas 3 SD. Saat menunggu jemputan mama, kami bermain-main di depan pagar sekolah sambil jajan bakso tusuk. Tiba-tiba ada seorang lelaki mendekati kami. Mereka ternyata komplotan pencuri anak yang saat itu banyak menjual anak-anak kecil keluar negeri. Mereka memukul sang penjual bakso sampai pingsan lalu menarik aku dan kakak Gisel ke dalam mobil. Kami berusaha berteriak namun ketiga lelaki itu sangat kuat. Saat akan dimasukan ke dalam mobil, kak Gisel tiba-tiba mengigit tangan salah satu penculik dengan sangat kuat sampai tangannya berdarah. Pegangannya terlepas membuat kak Gisel berhasil melarikan diri dan berteriak. Mungkin karena melihat ada beberapa orang yang mendekat, penculik yang memelukku langsung melepaskan aku dan masuk ke dalam mobil. Saat itu, aku langsung pingsan. Ketika aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Dan aku diberi tahu kalau kak Gisel sudah meninggal. Katanya saat melihat aku pingsan, ia berlari ke arahku tanpa memperhatikan jalan. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Kepala kak Gisel terbentur di trotoar. Dia mengalami pendarahan otak yang sangat parah sampai akhirnya meninggal. Setelah kejadian itu, mamaku hampir gila. Ia mengurung aku di kamar dan tak mengijinkan aku keluar karena takut aku diculik. Akhirnya setelah keluargaku berhasil menerima kenyataan atas kematian kak Gisel, aku diminthomescoling saja. Aku tak diijinkan keluar rumah. Aku sendiri juga menjadi trauma untuk pergi ke luar. Kak aldo juga sempat homescoling selama 2 tahun. Namun papa berhasil membujuk mama agar kakak kembali ke sekolah. Begitulah adanya, Bee. Aku menjadi gadis rumahan sampai akhirnya niatku untuk merebutmu dari Finly membuat aku harus menghilangkan traumaku sendiri."


Jero tersentuh mendengar cerita Giani. Di belainya rambut istrinya dengan penuh sayang. "Tapi, jika si kembar sudah lahir dan telah memasuki usia sekolah, kamu akan mengijinkan mereka ke sekolah kan?"


"Tentu saja, Bee. Aku nggak akan mengurung mereka dalam rumah. Lagi pula banyak sekolah yang sistem keamanannya sudah bagus."


"Mel, kamu kan hanya sampai tingkat SMA, kok bisa menguasai beberapa bahasa, sih?"


"Belajarlah, Bee. Aku kursus online. Demikian juga dengan cara meracik kopi, aku juga kursus secara online dan mencoba beberapa resepku sendiri. Tinggal di rumah itu kan sangat membosankan."


"Aku yakin anak-anak kita akan pintar dan hebat seperti dirimu."


Giani mencium tangan Jero dengan penuh kasih. "Kamu juga pintar. Kata papa Denny raportmu selalu juara 1. Bahkan kamu lulus S2 saat usiamu baru 22 tahun."


"Berarti anak-anak kita nanti akan menjadi bibit unggul dong."


Keduanya tertawa bersama.


"Bee, aku haus."


"Sebentar ya sayang." Jero melepaskan tangannya yang melingkar di bahu Giani. Ia turun dari kursi dan segera melangkah keluar pondok.


"Bee...!" Teriak Giani.


Jero menoleh. "Ada apa, Mel?"


"Palonya ditutup dulu, dong. Masa polos gitu? Kalau ada drone yang melintas bagaimana? Bisa jadi viral di medsos."


Jero tertawa. Ia kembali masuk dan mengenakan boxernya. "Nidonya jangan dulu ditutup ya, sayang?"


"Dasar mesum!" umpat Giani sambil melempari Jero dengan satu potongan mangga. Jero hanya terkekeh. Hantinya bahagia. Tak ada yang bisa memberikan kebahagiaan ini selain Giani.


*Kalau sudah bahagia kek gini, sebaiknya ditamatkan saja ceritanya ya???

__ADS_1


Nah, ayo berikan vote buat emak....


jangan lupa di like dan komennya ya*???


__ADS_2