
Selesai mandi, Oliver mencari handuk yang ada dalam kamar mandi. Ia terkejut saat tangannya memegang handuk itu ternyata agak basah. Namun karena tak ada handuk lain, Oliver tepaksa memakainya. Ia akan mengambil handuk lain dari lemari. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat ranjang yang sudah kosong.
Kemana gadis itu?
Oliver hendak mengambil ponselnya namun iia tak menemukan ponsel dan juga bajunya. Ia bergegas membuka lemari pakaian ternyata tak ada apapun di sana.
"Ah......!" Oliver berteriak kesal saat dilihatnya kalau kabel telepon di kamar itu sudah putus. Ia membuka pintu tapi pintu itu tak bisa dibuka.
Handuk basah yang membungkus tubuh Oliver mulai membuat tubuhnya menjadi dingin. Oliver bahkan merasa tubuhnya menggigil. Saat ia membuka handuk dan hendak membungkus tubuhnya dengan selimut yang ada, selimut itu juga ternyata sudah basah.
"Aku sungguh terlalu meremehkanmu, Alexa. Alexa......! Aku akan menghabisimu jika kita bertemu. Aku janji!" Tangan Okan terkepal. Ia mencari remote AC namun tak menemukan barang itu. Haruskah ia berdiri di balkon kamar dalam keadaan tanpa baju? Bisa jadi berita viral besok pagi.
Sementara itu, Alexa sudah berada di bandara.
"Alexa? Aku pikir kamu akan pergi dengan si bos." Alista jadi kaget.
"Bos mendadak ada urusan penting. Koperku di mana?"
"Sudah di masukan ke bagasi. Nomor bagasinya ada di tangan ketua rombongan. Pesawatnya akan berangkat 30 menit lagi."
Alexa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia tahu kalau perbuatannya sudah keterlaluan. Namun ia sungguh kesal dengan Oliver.
2 jam berlalu....
Kevin membuka kamar tempat Oliver berada. Ia jadi gelisah saat Alista mengirim pesan padanya kalau ia dan Alexa sudah mendarat di Jakarta.
"Kenapa lama sekali kamu baru datang?" Oliver sangat senang melihat Kevin.
"Maafkan aku, tuan. Tak pernah aku pikirkan kalau nona Alexa akan mengalahkan anda." Kevin menahan tawa melihat bagaimana keadaan bosnya itu.
"Cepat Carikan baju saja."
Kevin mengangguk. Tak sampai 15 menit ia sudah kembali dengan baju santai yang dibelinya dari butik yang ada di sebelah hotel.
"Di mana Alexa?" tanya Oliver saat ia sudah selesai ganti pakaian dan duduk sambil menikmati kopinya.
"Ia sudah sampai di Jakarta, tuan."
"Besok, atur jadwalnya untuk berangkat ke Madrid. Dia harus mendapatkan balasan dariku."
"Tuan, apakah obsesimu untuk menaklukan nona Alexa semakin besar? Aku takut nanti tuan sendiri yang akan terluka. Tak bisakah tuan melupakannya dia?"
Oliver menghabiskan kopinya. Ia selalu mendengarkan perkataan Kevin. Asisten nya itu adalah penasehat terbaiknya. Namun, haruskah ia melepaskan Alexa?
"Ayo kita kembali ke Jakarta!" Ujar Oliver sambil melangkah mendahului Kevin. Ketika ia sudah turun ke lobby hotel, seorang pegawai hotel memanggilnya.
"Tuan, ini ada titipan dari nona Alexa." Katanya sambil memberikan sebuah kantong plastik berwarna hitam. Saat Oliver membukanya, ia hanya bisa menahan geram saat melihat kalau isinya adalah jubah handuk, baju yang ia kenakan tadi dan ponselnya. Ingin rasanya Oliver berteriak namun Kevin langsung meraih kantong plastik itu dan mengajak bosnya pergi.
***"*********
Tawa Giani dan Joana pecah saat mendengar cerita Alexa.
"Kau sungguh berani dan juga nekat. Persis seperti bibimu." Kata Joana.
"Apa yang akan kau lakukan jika ketemu bosmu itu?" Tanya Giani.
"Aku nggak akan ketemu lagi dengannya. Tadi pagi aku sudah resign."
"Apa?" Joana dan Giani sama-sama terkejut.
__ADS_1
"Sayang, menjadi pramugari kan adalah impianmu sejak kecil. Kau bahkan sangat ingin kerja di maskapai itu sejak kau SMP. Kenapa harus resign?" Tanya Jaoana sedikit menyesali keputusan Alexa.
"Tenang saja, mami. Aku kemarin saat meninggalkan perusahaan itu, salah satu maskapai sudah menghubungiku. Mereka siap menerima aku bekerja dengan gaji yang sama dengan perusahaan yang lama. Jadi mulai besok, aku akan bekerja di maskapai yang baru. Lusa aku akan mendapatkan penerbangan pertamaku." Kata Alexa dengan wajah yang begitu tenang.
"Kenapa harus berhenti?" Joana mengejar jawaban atas pertanyaannya yang belum dijawab Alexa.
"Jika aku bertahan di maskapai itu, aku yakin kalau Oliver akan mencari cara untuk menjebak aku lagi. Aku yakin kalau saat ini akan sangat marah atas semua yang sudah kulakukan padanya. Kemarin saat aku ke kantor pusat, aku mendengar kalau Oliver terkena flu. Mungkin terlalu lama berada di ruang AC dengan tubuh polos nya itu." Alexa menahan tawa. Sebenarnya ia ingin menjenguk Oliver dengan wajah penuh kemenangan. Namun ia memilih pergi dan menjauhi harimau lapar itu.
"Eca, bibi takut kalau kamu nantinya akan suka pada Oliver. Dia kan tampan. Bibi saja kagum melihat wajahnya saat Eca mengirim fotonya. " Ujar Giani.
"Siapa yang tampan? Foto siapa yang dikirim oleh Eca?" Tanya Jero yang tiba-tiba saja muncul di ruang tamu dengan wajah yang terbakar cemburu.
"Fotonya cowok yang suka mengerjai Eca." Kata Giani sambil menahan tawa melihat tingkah posesif suaminya. Prinsip Jero masih sama seperti pertama kali mereka saling jatuh cinta. Punya Jero jangan berani diganggu.
Jero duduk di samping Giani. "Boleh uncle lihat?"
Giani mengambil ponselnya dan membuka foto yang dikirim Alexa padanya. Saat melihat foto itu, wajah Jeronimo langsung terkejut.
"Oliverio Felix Pregonas?" tanya Jero.
"Uncle mengenalnya?" tanya Alexa.
"Tentu saja, Eca. Tuan Pregonas kan salah satu pengusaha muda yang sukses tahun ini. Tapi yang kudengar sih kalau dia itu seorang Casanova. Uncle kurang setuju kalau kau dekat dengannya. Uncle takut kalau dia hanya terobsesi denganmu dan pada akhirnya kamu di sakitinya." Jeronimo berucap sungguh-sungguh.
"Eca nggak mau juga pria seperti dia. Eca kan nggak suka bule. Uncle lupa ya? Eca lebih suka pak guru Paul dari pada uncle Jero waktu Eca kecil."
Giani menahan tawa melihat wajah Jero kembali cemberut saat nama pak Guru Paul disebut.
Alexa tahu kalau ia sudah salah bicara. Makanya ia langsung memberi kode sama mami bulenya.
"Kami pulang dulu ya? Sudah sore." Joana berdiri diikuti oleh Alexa.
"Nggak tunggu sampai makan malam?" tanya Giani.
"Sayang, kok masih cemberut?"
Jero menarik Giani yang sudah berdiri sehingga istrinya itu kembali duduk di pangkuannya.
"Entah mengapa walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, aku merasa kalau pak guru Paul masih menjadi sainganku. Karena ia sampai sekarang masih menduda."
Giani tersenyum. "Siapa bilang kalau pak guru Paul masih menduda? Beliau sudah menikah lagi sejak 5 tahun yang lalu, sayang. Ia bahkan sudah memiliki anak lagi."
"Benarkah? Kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku?"
"Ngapain juga harus cerita? Pak guru Paul kan bukan orang penting dalam hidupku. Kamu dan anak-anak kita, adalah orang-orang terpenting dalam hidupku." Kata Giani sambil membelai wajah suaminya. Ia tahu, walaupun wajah Jero mulai ada kerutannya, ia tetap terlihat tampan.
"Aku tak akan berpaling darimu, Bee. Karena kau adalah bule tuaku yang sangat aku sayangi."
Jero langsung menarik tengkuk Giani dan mencium bibir istrinya. Keduanya larut dalam ciuman mesra.
"Come on dad, look for a room if you want to make out." Gabrian dan Gabriel yang baru pulang main bola kaki, langsung tersenyum masam melihat papa dan mama mereka yang sedang asyik bermesraan.
Giani langsung mendorong dada Jero saat mendengar suara anak-anaknya.
"Anak-anak, kalian sudah pulang?" Wajah Giani sedikit memerah.
"Yes, mommy. Bolehkah kami mendapat jus saat ini?" tanya Gabrian.
"Tentu saja sayang!" Giani langsung menuju ke dapur.
__ADS_1
"Lain kali kalau pulang langsung memberi salam. Jangan asal masuk saja." Kata Jero sambil menatap masam kepada anak-anaknya.
"Kamu sudah memberi salam, kok. Daddy dan mommy saja yang tak mendengarkannya." ujar Gabriel diikuti anggukan Gabrian.
"Dasar penganggu!" celutuk Jero namun kali ini wajahnya tersenyum. Ia pun segera menuju ke kamar nya.
"Aku ingin saat menikah nanti bisa seperti dad dan mommy. Mesra terus, sampai tua." Kata Gabrian sambil membuka sepatu ketsnya.
"Ya. Aku juga mau seperti mereka. Mommy begitu sabar dan Daddy sering bersikap konyol dan kekanakan."
"Ya. Daddy memang sering menyebalkan. Sering cemburu tak pada tempatnya. Terlalu posesif ke mommy. Tapi mommy terlihat enjoy saja dengan sikap Daddy seperti itu."
Gabriel hanya bisa tersenyum. Ia tiba-tiba ingat gadis bermata lembut yang ditemuimya di Bali beberapa bulan lalu. Rasanya ia ingin jumpa lagi. Gadis yang sudah mencuri hatinya.
********
"Alexa sudah resign?" tanya Oliver tak percaya.
"Ya tuan. Kemarin pagi dia mengantarkan surat pengunduran dirinya. Dan yang kudengar ia sudah diterima di maskapai penerbangan yang menjadi saingan kita."
Oliver memegang kuat pulpen yang ada di tangannya. Pulpen itu bahkan sampai patah menjadi dua bagian.
"Jadi dia sudah pindah ke sana?" tanya Oliver seakan ingin membenarkan apa yang baru saja Kevin ucapkan.
"Ya. Ia langsung menjadi pramugari senior di sana. Alexa adalah pramugari yang sangat viral karena aksi penyelamatannya pada seorang ibu yang melahirkan di dalam pesawat setahun yang lalu. Ia juga pernah masuk dalam majalah Times sebagai 10 pramugari tercantik di dunia. Dan jangan lupa, dia adalah pramugari terfavorit pilihan seluruh pelanggan maskapai kita. Kepindahannya ke maskapai yang adalah saingan kita tentu sangat disambut baik oleh mereka."
Kepala Oliver semakin sakit mendengar semua prestasi Alexa yang baru saja Kevin sampaikan.
"Keluarlah!"
Kevin menunduk lalu melangkah keluar dari ruangan Oliver. Namun sebelum ia menutup pintu, ia kembali menatap Oliver.
"Tuan, lusa ada rapat pemilik saham di Mandrid. Tuan besar meminta anda untuk datang. Apakah saya akan meminta pilot untuk menyiapkan penerbangan malam ini?"
Oliver menatap asistennya. "Nanti aku sampaikan jam berapa kita akan ke Madrid."
Saat Kevin menghilang di balik pintu, Oliver mengambil ponselnya. Ia membuka galeri fotonya dan melihat foto-foto Alexa. Hatinya berdesir oleh rasa yang dulu pernah ia alami saat bersama dengan cinta pertamanya.
Tidak....! Tidak mungkin aku akan jatuh cinta padanya! Cinta itu omong kosong.
Oliver berusaha membuang rasa itu. Ia dulu pernah merasa sangat hancur karena percaya pada kekuatan cinta.
Aku hanya terobsesi padanya karena dia selalu menolakku. Tapi kenapa aku sepertinya merindukan gadis itu? Kenapa aku ingin bertemu dengannya?
Oliver berdiri dan berjalan ke sudut ruangan. Ia memasukan beberapa pecahan es batu ke dalam gelas dan menuangkan minuman ke dalam gelas itu. Aku kesal padamu, Alexa.
********
Wajah Alexa tersenyum melihat jadwal perjalanannya yang dikirim dari tempat kerjanya yang baru. Besok, ia akan terbang ke Tokyo. Menginap satu malam di sana dan ia akan terbang ke kembali ke Hongkong. Dari Hongkong ia akan kembali ke Jakarta.
"Akhirnya aku kembali terbang ke luar negeri." Ujar Alexa. Ingin rasanya ia melompat kegirangan. Alexa bukannya tak suka penerbangan lokal tapi penerbangan ke luar negeri selalu membawa sensasi yang tak bisa gadis itu ungkapkan. Alexa bergegas mengeluarkan kopernya. Koper yang masih ada logo tempat kerjanya yang lama. Alexa sebenarnya sedih karena harus meninggalkan maskapai yang menjadi idolanya itu. Namun ia tak mau berurusan lagi dengan Oliver.
Alexa pun mengambil koper yang lain. Ia harus bisa move on agar menikmati kebahagiaan di tempat kerja yang baru.
********
"Tuan, apakah ini tidak salah? Bukankah kita harus terbang ke Madrid? Kenapa kita akan terbang ke Tokyo dengan menggunakan pesawat perusahaan saingan kita?" Kevin menjadi bingung.
Oliver tersenyum. "Kau urus saja semuanya. Pastikan aku ada di pesawat yang pramugarinya adalah Alexa Purwanto. Jika semuanya sudah beres, kau berangkat ke Madrid, gantikan aku untuk rapat pemilik saham. Aku ingin menyapa gadisku di pesawat itu." Ujar Oliver dengan seringai di wajahnya. Kevin tahu, Oliver tak bisa berhenti dengan Alexa dan ia yakin, Oliver sudah jatuh cinta pada gadis itu.
__ADS_1
Bagaimana kisah perjumpaan mereka di pesawat?
Dukung emak terus ya??