Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Ulang Tahun Giani


__ADS_3

Jam 10 malam, Giani baru tiba di rumah. Ia heran melihat mobil Jero tak ada di sana. Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah sambil menyalahkan lampu yang memang belum dinyalahkan..


Kemana si Jeronimo ya? Biasanya juga kalau pulang terlambat ia akan memberitahu lebih dulu.


Giani membuka ponselnya. Tak ada panggilan atau pun pesan dari Jero. Ia sebenarnya ingin memeriksa gps mobil Jero namun ia memutuskan untuk mengabaikannya.


Kami tak lama lagi akan berpisah. Mungkin sebaiknya aku tak mencari tahu di mana keberadaan Jero.


Giani pun memutuskan untuk segera mandi dan mengenakan baju tidurnya. Ia harus tidur cepat agar besok tampil segar di pembukaan kedai kopinya yang baru.


Rasanya Giani belum lama terlelap dalam mimpi saat ia merasakan ada ciuman hangat di pipinya.


"Baby, ayo bangun!"


Giani membuka matanya perlahan. Ia menatap Jero yang duduk ditepi tempat tidur. "Sayang, kau dari mana?"


"Selamat ulang tahun!" Kata Jero sambil berdiri. Di belakangnya ada kue ulang tahun dan beberapa balon yang dihias sangat cantik juga sebuah kotak hadiah yang lumayan besar ada di atas sofa.


"Kau menyiapkan semua ini? Sejak kapan?" Giani langsung turun dari tempat tidur. Seumur hidupnya, ia tak pernah mendapatkan suprise HUT seperti ini.


"Ya. Aku datang jam 11 lewat tadi. Kau sudah tertidur sangat nyenyak. Maaf, aku tak pandai merangkai dekorasi ulang tahun. Ini saja aku buat dengan melihatnya di internet.


Giani memeluk Jero. Jujur saja, hatinya sangat bahagia. Ia bahkan tak bisa menahan air matanya.


"Terima kasih sayang."


Jero menarik tangan Giani menuju ke meja yang ada di depan sofa. Keduanya berlutut di depan meja, tepatnya didepan kue ulang tahun. Sebuah tulisan sederhana namun penuh makna ditulis di sana "HAPPY BIRTHDAY MY WIFE"


"Nyalahkan lilinnya."


Giani mengambil korek api yang disodorkan Jero. Ia pun memasang lilin dengan angka 21.


"Apa harapanmu, Gi?" Tanya Jero saat Giani selesai memasang lilin ulang tahunnya.


Giani memejamkan matanya. Agak lama ia berdoa. Setelah itu ia langsung meniup lilinnya. Jero sebenarnya sangat penasaran ingin menanyakan apa isi permohonan Giani namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Buka hadiahnya!" Ujar Jero.


Giani membuka hadiah yang besar itu dengan rasa penasaran. Matanya langsung terbelalak melihat apa yang dihadiahkan Jero untuknya. Sebuah mesin pembuat kopi yang terbaru dan tercanggih.


"Barangnya sudah ada? Aku pikir belum ada di Jakarta. Aku memang sudah melihat barang ini di internet." Giani tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia kembali memeluk Jero dan menghadiahkan satu ciuman panjang di bibir pria bule itu.


"Barangnya memang baru masuk di gudang. Belum ada harganya karena masih harus melihat pajak barangnya. Aku menyogok temanku yang ada di gudang beacukai. Aku membayar 2x lipat dari harga pokoknya. Dia memberikannya walaupun harus menunggu malam dulu supaya gudang sudah sepi. Makanya aku terlambat pulang."


"Makasi sayang, aku suka hadiahnya." Giani kembali mencium Jero. Kali ini ciuman mereka lebih lama dari yang tadi. Namun saat ia ingat sesuatu, ia pun melepaskan pertautan bibir mereka.


"Kau sudah makan?" Tanya Giani.


Jero menggeleng.


"Mau aku masak sesuatu?"


Jero menggeleng. "Aku mau makan kue ulang tahunmu. Tapi kamu yang suapin."


"Dasar manja!" Giani segera berdiri. "Aku ambil pisau dan piring dulu ya?" Giani segera keluar dari kamar. Jero memejamkan matanya. Hatinya sesak. Jero tak tahu apa itu. Namun ia sungguh merasa galau.


Tak lama kemudian Giani kembali dengan peralatan makan, pisau dan segelas susu coklat untuk Jero. Pria bule itu memang tak suka minum susu putih.


Setelah memotong kuenya, Giani pun menyuapi Jero. Sesekali ia juga menikmati kue itu.


"Enak." ujar Giani.

__ADS_1


"Tapi tak seenak kue buatanmu."


"Oh ya? Mungkin karena kue buatanku dibuat dengan rasa cinta sedangkan kue ini dibuat hanya karena ingin mencari keuntungan."


"Apa maksudmu dibuat dengan cinta?"


"Aku membuatnya bukan karena ingin mencari keuntungan, namun untuk menyenangkan orang-orang yang aku cintai."


Jero menatap Giani. "Apakah aku termasuk didalam daftar orang yang kau cinta?"


Giani diam sejenak. Ia kemudian tersenyum. "Kau termasuk orang-orang yang akan selalu kudoakan. Berarti bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang kucintai."


"Mencintai seperti apa?"


"Seperti aku mencintai kak Aldo, seperti aku mencintai Alexa, seperti aku mencintai Joana."


Jero terlihat sedikit kecewa. Ia berharap Giani akan mengatakan kalau Giani mencintainya dengan cara yang tak sama seperti ia mencintai kakaknya. Namun rasanya tak mungkin. Sejak awal Giani sudah mengatakan kalau ia menikahi Jero hanya untuk memisahkan Jero dari Finly.


"Sayang, ada apa?" Tanya Giani.


"Bolehkah kita bercinta malam ini? Kamu sudah selesai datang bulan, kan?"


Sepulang dari Malaysia, Giani memang mendapatkan haidnya.


"Ya. Aku sudah selesai."


"Jadi boleh dong?" Mata Jero sudah berkabut dengan gairah. Ia ingin bercinta malam ini dan melupakan tentang tanggal perpisahan mereka yang semakin dekat.


"I am yours...!" Bisik Giani lalu segera melangkah menuju ke ranjang mereka. Jero langsung berdiri dan menyusul Giani. Saat ia memeluk istrinya itu, hatinya berdebat kencang. Nikmatilah malam ini, Jero. Karena tinggal sesaat lagi kau tak akan menikmati keintiman seperti ini.


********


Selesai acara pembukaan, dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun Giani. Acara ini dipandu oleh Beryl sendiri. Para tamu pun banyak yang memberikan selamat dan juga hadiah.


"Papa? Mama?" Giani langsung mendekati mertuanya.


"Selamat ulang tahun, sayang." Mama Sinta memeluk Giani dan memberikan hadiah sebuah jam tangan mewah.


"Semoga Tuhan memberkati usahamu sehingga semakin banyak pembelinya." Kata Papa Denny.


"Terima kasih, pa."


Jero mendekati Papa dan mamanya. Ia memeluk orang tua yang telah membesarkannya itu.


"Papa dan mama kapan datang dari Singapura?" tanya Jero setelah mempersilahkan Papa dan mamanya duduk. Giani pun ikut duduk bersama mereka setelah meminta seorang pelayan membawakan kue dan kopi untuk mertuanya.


"Kami datang tadi malam. Mama sengaja memang tak mau memberitahukan pada kalian supaya bisa membuat kejutan diulang tahunnya Giani." Kata Papa.


Mama Sinta memegang tangan Giani. "Gi, menjadi wanita pengusaha yang sukses memang bagus. Namun mama ingin melihat kamu hamil. Jero sudah mau 30 tahun. Memangnya sampai kapan lagi kalian akan menundanya?"


Giani menatap Jero.


"Mudah-mudahan tahun ini Giani bisa hamil, ma. Kami akan berusaha." Kata Jero sambil menekan rasa sesak di dalam hatinya.


"Aldo dan Finly kok nggak kelihatan?" Tanya papa Denny.


"Eh, kak Aldo sedang ke Bandung. Alexa ada bersama Joana temanku."


Giani baru akan memanggil Alexa saat gadis cantik itu sudah berlari saat melihat opa dan omanya.


"Opa....! Oma....!" Teriaknya senang.

__ADS_1


"Cucu cantik, oma. Apa kabarmu sayang?" Sibta membelai wajah cucunya.


"Baik, oma."


"Mamamu ke mana?" Tanya Denny


"Mama sudah pergi dari rumah, opa." Kata Alexa membuat Giani dan Jero terperanjat. Kesehatan mama Sinta baru saja pulih. Ia bisa saja sok jika mendengar kalau Finly dan Aldo berpisah.


"Alexa, tante bulenya mana?" Tanya Giani berusaha mengalihkan topik pembicaraan namun Alexa ternyata lebih fokus pada opa dan omanya.


"Mamamu pergi dari rumah?"Tanya Sinta.


"Iya. Baju-baju mama semuanya sudah mama bawa. Kata bibi Lumi, mama tinggal di apartemennya." kata Alexa dengan begitu polosnya.


Sinta menatap Jero dan Giani. "Apa maksud semua ini? Apa yang kalian sembunyikan dari kami?"


"Eca main sama tante bule dulu ya?" Giani memanggil Joana dan memintanya untuk bermain dengan Alexa. Joana langsung membawa gadis kecil itu menjauh. Ia tahu ada sesuatu yang akan keluarga itu bicarakan.


"Ma, pa, kita ke ruangan kerja saja. Di sini ribut!" Ajak Giani. Mereka bertiga pun segera masuk ke salah satu ruangan yang ada di sudut cafe.


Setelah mereka berempat duduk di sofa, Giani pun langsung bicara.


"Kakak Finly dan kak Aldo dalam proses perceraian."


"Apa? Kenapa mereka bercerai?" Tanya Sinta kaget.


"Kami tidak tahu apa alasan kak Finly mengugat cerai kak Aldo. Kak Aldo sendiri tidak mengatakan alasannya." Ujar Giani sedikit khawatir melihat wajah mama Sinta yang merah menahan marah.


"Anak itu, apa maunya? Apa dia nggak sayang pada Alexa? Apa sebenarnya dia cari? Dia sudah mendapatkan suami yang baik seperti Aldo, apa lagi yang dia cari?" Mama Sinta mengepalkan tangannya.


Papa Denny menatap Jero membuat putranya itu memahami apa arti tatapan itu.


"Aku tak ada hubungannya dengan ini, pa." Kata Jero.


Mama Sinta menatap Giani. "Nak, jangan biarkan Finly menghancurkan rumah tangga kalian..San kamu Jero, jangan sekali-kali mendekati Finly. Mama membencimu jika itu terjadi."


Papa Denny memenepuk pundak istrinya. "Sabar, ma. Ingat tekanan darahmu."


"Aku ingin bicara dengan Finly sekarang juga. Ayo kita ke apartemennya, pa." Mama Sinta langsung berdiri.


"Ma, kakakku sudah setuju untuk bercerai." Kata Giani membuat Sinta duduk lagi.


"Benarkah?" Sinta belum percaya. Ia tahu bagaimana besar cinta Aldo untuk Finly.


"Kakakku tahu kalau kak Finly tak mencintainya. Alexa juga baik-baik saja walaupun kak Finly sudah pergi." Kata Giani.


"Bagaimanapun mama harus menemuinya. Ayo pa!" Sinta menarik tangan suaminya dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja itu.


"Gi....!" panggil Jero.


Giani yang menatap ke arah pintu memalingkan wajahnya dan menatap Jero.


"Ada apa?"


"Kita jangan pisah, ya?"


Giani terkejut. Mengapa Jero meminta supaya mereka jangan pisah?


Nah....ayo...


jangan lupa like, komen dan vote

__ADS_1


__ADS_2