Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (Bonus Part 6)


__ADS_3

Wajah cantik Alexa menjadi merah. Apa maksud kedatangan mamanya Oliver?


"Nyonya, ada keperluan apa ya?" Tanya Alexa.


Elvira yang duduk di samping Alexa meraih tangan gadis itu. "Alexa sayang, aku senang karena Oliver memilih gadis Indonesia untuk menjadi pasangannya. Mommy bahagia karena setelah sekian lama, Oliver akhirnya bisa move on dari masa lalunya yang menyakitkan."


Mommy? Apakah aku nggak salah dengar?


"Nyonya.."


"Mommy, sayang. Panggil aku dengan sebutan mommy."


"Tapi aku dan Oliver..."


"Oliver pasti belum ingin memperkenalkanmu pada kami. Dia trauma sebenarnya membangun hubungan dengan gadis lain." Wajah Elvira berubah sedih. "Dulu dia pernah terluka. Saat dia jatuh cinta untuk yang pertama kali, dengan penuh semangat dia memperkenalkannya pada kami. Ternyata, gadis itu hanya menginginkan uang Oliver. Dia pergi, meninggalkan anakku. Oliver mengalami guncangan yang sangat berat. Selama 1 tahun, ia hanya mabuk dan mabuk saja. Akhirnya, setelah dia bangkit lagi, Oliver jadi pria nakal yang banyak mempermainkan wanita. Mommy sedih melihat keadaannya. Sampai akhirnya Minggu lalu, mommy melihat kau dan dia hadir di acara resmi penghargaan itu. Ini pertama kali Oliver mengajak seorang gadis ke acara yang banyak wartawannya." Elvira menghapus air matanya. Ia menatap Alexa dengan penuh kasih. Tangannya memegang pipi Alexa. "Nak, teruslah bersama Oliver. Jadikan dia sebagai putraku yang dulu. Yang penuh kasih dan ramah pada siapa saja. Hilangkan dari padanya sikap arogan dan suka memaksa. Mommy ingin Oliver menjadi pria baik-baik lagi. Dan mommy tahu kalau kamulah orangnya."


"Tapi aku...."


Elvira memeluk Alexa. "Cepatlah menikah. Mommy ini sakit. Mommy takut mati tanpa melihat Oliver menikah. Mommy rindu memiliki cucu."


Hati Alexa tersentuh. Ia tak tahu harus bicara apa. Saat pelukan mereka terlepas, Alexa tak tahan ingin menghapus air mata Elvira.


"Sayang, mommy mohon, jangan bilang ke Oliver kalau mommy datang ke sini ya? Dia akan marah. Oliver paling tidak suka kalau mommy dan Daddy terlalu ikut campur dalam masalah pribadinya."


Alexa hanya bisa mengangguk. Ia tak tega mengatakan kalau lelaki mesum yang hampir memperkosanya itu sungguh sangat dibencinya.


"Mommy pulang dulu ya." Kata Elvira.


"Ok, nyo eh..mommy."


Alexa mengantar Elvira sampai di samping mobil yang sudah menunggunya. Seorang sopir berseragam hitam-hitam membukakan pintu untuk Elvira.


"Mommy minta no hp kamu boleh nggak?" tanya Elvira.


Alexa menyebutkan nomornya.


"Nanti kita akan saling memberi kabar ya? Besok mommy akan ke Madrid. Mungkin 3 bulan lagi baru balik ke sini. Mommy harap, saat kembali ke Jakarta, sudah ada kabar baik dari kalian berdua." Elvira masuk ke dalam mobilnya. Ia melambaikan tangannya sebelum mobil itu berlalu dari hadapan Alexa.


Alexa masuk lagi ke dalam rumah. Ia bingung dengan apa yang baru saja diketahuinya. Tentang masa lalu Oliver dan bagaimana harapan nyonya Elvira padanya.


"Duh...., pusing!" Alexa menepuk jidatnya sendiri. Ia bergegas ke ruang makan. Mungkin dengan makan makanan kesukaannya, ia dapat melupakan Oliver dan mamanya.


*********


Hari ini Alexa ke kantor pusat maskapai tempatnya bekerja. Ia dipanggil oleh maneger untuk menghadap. Alexa berharap kalau jadwalnya ke luar negeri akan dia dapatkan lagi.


Sejak Alexa pulang dari Madrid, kapten Haris sudah jarang sekali menghubunginya. Alexa bahkan merasa kalau pilot tampan itu sengaja menjaga jarak.


Sesampai di kantor, Alexa segera menuju ke ruang Pak Surya.


"Selamat siang, pak."


Pak Surya tersenyum. "Alexa, ayo silahkan masuk!"


Alexa masuk dan duduk di sofa bersama pak Surya. Keduanya duduk saling berhadapan.


"Alexa, saya memanggil kamu karena perusahaan menginginkan agar kamu memberikan traning kepada 10 pramugari baru yang akan bekerja di maskapai kita."


"Kok saya, pak? Saya kan pramugari bukan tim pelatih. Bukankah maskapai ini ada tim khusus untuk itu?" Tanya Alexa merasa heran.


"Memang. Tapi kami mencoba cara yang berbeda sekarang untuk melatih calon pramugari yang baru. Kamu dinilai sebagai pramugari yang pintar dan sangat baik kinerjanya. Makanya Alexa menjadi salah satu tim yang akan bekerja di tim ini."


"Dan saya tak mendapat jadwal terbang?"


"Jadwal terbangmu Senin dan Selasa. Hari Kamis sampai Sabtu, Alexa harus masuk kantor. Tenang saja, gajimu sebagai pramugari ditambah dengan bonus-bonus yang lain akan tetap dibayarkan seperti biasa."


Alexa sedikit kecewa mendengarnya. Ini bukan masalah gaji. Uang bulanan yang diberikan oleh papanya bahkan lebih banyak dari gaji yang ia terima sebagai pramugari. Alexa hanya ingin berada dalam kabin pesawat dan melayani para penumpang.


"Bagaimana Alexa?"


"Jadi aku hanya melayani penerbangan lokal saja? Aku tak akan pernah ke luar negeri lagi?"


Surya tersenyum. "Tenang saja. Setelah tugas anda di sini selesai, anda akan mendapatkan jadwal penerbangan ke luar negeri kembali.


"Berapa lama saya harus bekerja di sini?"


" 3 Bulan."


"Apa?" Alexa terkejut.

__ADS_1


"Ini memang sudah aturan yang ditetapkan oleh pihak perusahaan."


"Pak, tidak bisakah hanya 1 bulan saja?"


"Maaf Alexa, memang waktunya sudah seperti ini."


Alexa masih mempertimbangkan. Ingin rasanya ia berhenti saja. Namun ia sangat menyukai pekerjaan nya ini. "Baiklah, pak."


"Terima kasih, Alexa."


*********


Alexa mendapat jadwal memberikan materi jam 4 sore. Saat mereka selesai, waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Pegawai yang bekerja sudah pulang semuanya. Alexa pun masuk ke ruangan khusus untuk tim pengajar. Ia membereskan barang bawaannya. Ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Ternyata Felicia yang meneleponnya.


"Hallo, de!" Sapa Alexa.


Terdengar suara tangis Felicia.


Alexa yang akan keluar dari ruangan terpaksa duduk lagi. "Ada apa?"


Felicia yang kini duduk di kelas 1 SMA, curhat kalau ia baru saja putus cinta. Alexa sebenarnya malas untuk mendengar kisah seperti ini. Namun ia tak mau mengecewakan adiknya. Ia pun mendengarkan kisah putus cintanya Felicia. Saat ini Felicia sedang mengikuti perkemahan dalam kegiatan sekolahnya.


"Cia, kamu belum diapa-apain kan sama pacarmu itu?" Tanya Alexa


"Hanya ciuman di pipi saja."


"Ya sudah. Nggak usah patah hati kayak gini. Buktikan padanya kalau kamu gadis yang kuat dan hebat. Kamu cantik dan pintar, pasti akan datang cowok yang lebih hebat darinya. Ok?"


"Tapi dia tampan, kak."


"Percaya deh sama kakak, dia terlihat tampan karena kamu suka padanya. Kalau hatimu sudah move on, kamu pasti dapat melihat kalau dia tak setampan yang kamu lihat sekarang ini. Ok? kakak mau pulang dulu. Sudah malam."


"Ok, kak. Bye...."


Alexa memasukan ponselnya ke dalam tas punggungnya. Ia menatap arlojinya dan sedikit terkejut. Ternyata memakan waktu hampir 40 menit mendengar curhat Felicia.


Ia pun keluar dari ruangannya. Saat ia tiba di pintu keluar, pintu itu sudah tertutup. Alexa terkejut. Satpam yang biasa duduk di dekat pintu pun tak ada.


Alexa mencoba pintu yang lain, ternyata terkunci juga.


"Hallo......, ada orang di luar?" Teriak Alexa.


Tak ada sahutan sama sekali. Alexa mencoba naik ke lantai 3. Ia tahu di salah satu ruangan ada balkon yang bisa menolongnya untuk melihat keluar. Namun, pintu menuju ke balkon itu juga sudah ditutup.


Alexa hampir saja menelepon pak Surya saat ia melihat kalau ada suara di ruangan direktur.


Alexa melangkah perlahan. Kebetulan pintu ruangan direktur terbuka sedikit.


"Hallo, selamat malam...! Maaf menganggu, pak!" Alexa mendorong pintu itu perlahan. Alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang sedang duduk di balik meja kerja dan sedang menatapnya.


"Oliver?" Alexa merutuki dirinya yang melupakan kalau Oliver adalah anak pemilik maskapai ini. Tentu saja dialah yang menjadi direkturnya.


Oliver tersenyum menatap Alexa. "Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Aku baru selesai memberikan materi bagi pramugari baru. Tapi saat akan keluar, semua pintunya sudah terkunci."


"Satpamnya ke mana?"


"Nggak tahu." Alexa mengangkat bahunya.


"Berarti kamu juga ikut terkunci, dong." Alexa menatap Oliver dengan penuh selidik. Apakah mungkin Oliver menjebaknya?


"Nggak. Aku memang kalau lembur biasa tidur di sini. Di balik pintu itu ada ruangan kamar dan dapur kecilku."


"Lalu dimana asistenmu yang bernama Kevin itu?"


Oliver tersenyum. "Dia minta ijin untuk kencan. Ini kan malam minggu. Mungkin dia tak pulang dan akan tidur di rumah pacarnya."


"Cih, belum menikah tapi sudah tidur bersama." Alexa mencibir.


"Hei, nona. Itu hal yang biasa di zaman seperti ini."


"Biasa menurutmu tapi tidak untukku. Ya sudah, aku mau mencari jalan keluar dulu." Alexa keluar dari ruangan Oliver. Namun baru beberapa langkah, ia berbalik lagi.


"Oliver, kamu kan bosnya di sini, masa kamu nggak punya akses untuk membuka pintu."


"Semua nya selalu ditangani oleh Kevin. Sayangnya, saat kencan, Kevin selalu mematikan ponselnya."


"Lalu aku harus bagaimana?"

__ADS_1


"Satpamnya pasti kembali. Tapi biasanya sekitar jam 11 malam."


"Apa? Jam 11 malam?" Alexa sudah membayangkan betapa laparnya ia nanti karena tadi ia sarapan sudah jam 11 siang sehingga saat jam makan siang masih kenyang. Sekarang saja perutnya sudah mulai berbunyi.


"Bagaimana kalau kamu temani aku di sini? Sebentar lagi pekerjaan ku akan selesai. Siapa tahu kau mau menjadi pasanganku."


"No. Lebih baik aku menunggu di luar." Alexa langsung meninggalkan ruangan Oliver. Ia sampai di depan pintu utama dan memilih duduk di meja resepsionis. Jam tangannya sudah menunjukan pukul 19.15 menit.


2 jam berlalu....


Baterai ponsel Alexa hampir habis karena ia memilih main game. Maagnya mulai sakit karena ia memang sudah kelaparan. Air minum di botol minumannya pun sudah habis.


Tangan Alexa mulai menekan perutnya. Duh, gimana nih. Tubuhku bahkan sudah berkeringat dingin.


Terdengar bunyi suara langkah. Alexa menoleh. Ternyata Oliver yang datang. Ia memegang piring di tangan kanannya dan sebotol air mineral di tangan kirinya.


"Kamu lapar kan? Nih, aku buatkan nasi goreng. Di jamin rasanya enak." Kata Oliver sambil meletakan piring berisi nasi goreng itu di atas meja. Tepat di depan tempat duduk Alexa.


"Aku nggak mau. Aku yakin kalau kamu sudah mencampuri sesuatu di dalam nasi goreng itu."


Oliver menarik kursi dan duduk di depan Alexa. "Jadi beneran kamu nggak mau? Ya sudah, aku makan saja. Sebenarnya di atas aku sudah makan, nggak masalah jika makan lagi." Oliver langsung memasukan satu suapan ke mulutnya.


Alexa mencium aroma yang sangat enak di nasi goreng itu. Apalagi ada telur dadarnya.


Perut Alexa kembali berbunyi. Ia melihat sudah dua kali Oliver mamasukan nasi goreng itu ke mulutnya. Tak mungkinlah dia akan memakannya kalau ada sesuatu yang dia campurkan.


"Aku mau makan!" Alexa menarik piring itu.


"Lapar?" kata Oliver sedikit mengejek.


"Tentu saja."


"Ya sudah kamu makan saja." Oliver meletakan sendok yang digunakannya.


"Aku nggak mau makan sendok bekas dari mulutmu."


Oliver terkekeh. "Aku nggak membawa sendok lain, nona. Dan aku malas untuk naik ke atas lagi."


Alexa membuka tasnya. Ia mengambil tissue basah dan membersihkan sendok yang digunakan oleh Oliver tadi. Setelah itu, ia mulai menikmati nasi goreng buatan Oliver. Alexa hampir saja berdecak kagum karena nasi goreng itu memang sangat enak.


"Ini buatanmu?" tanya Alexa kurang percaya.


"Ya. Selesai makan kau boleh ke dapur miniku dan mencuci wajan dan peralatan lainnya yang kupakai untuk memasak."


"Oke. Aku percaya."


"Rasanya enak?"


"Lumayan." jawab Alexa. Jelas saja ia tak mau memuji masakan Oliver.


Alexa menghabiskan semua nasi goreng itu. Ia melihat kalau botol minuman itu masih tersegel. Ia pun membukanya dan meminumnya sampai hampir habis.


"Terima kasih." Kata Alexa.


"Sama-sama sayang."


"Jangan panggil aku sayang."


"Kenapa? Aku suka padamu."


"Kau suka karena ingin membawaku ke ranjangmu saja. Setelah itu aku yakin kalau kamu akan membuang ku."


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


Alexa menatap Oliver dengan pandangan kasihan. "Oliver, berhentilah mempermainkan banyak wanita hanya karena di masa lalu ada satu wanita yang pernah menyakitimu. Kau akan mendapatkan karma dari Tuhan."


"Karma?"


"Ya. Kau akan jatuh cinta kembali namun perempuan itu sama sekali tak tertarik padamu. Kau bahkan akan mengejarnya, namun dia tak peduli."


Oliver menatap Alexa dengan tajam. "Apa maksudmu? Apa yang kau tahu tentang hidupku?"


Ya ampun, aku keceplosan. Sekarang Oliver ingin mencari tahu.


"Aku mau ke toilet!" Alexa berdiri. Namun ia merasa agak pusing. Tiba-tiba ia diserang rasa kantuk yang amat dalam. Alexa menatap Oliver. "Apa yang kau campurkan...."


Sebelum tubuh Alexa jatuh ke lantai, Oliver langsung memeluknya. "Aku mendapatkan mu, sayang." bisik Oliver lalu mengangkat tubuh Alexa menuju ke kamarnya.


Wah...wah....apa yang Oliver campurkan dimakanan Alexa ya?

__ADS_1


Dukung emak terus ya...


votenya mana???


__ADS_2