Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Pengakuan Giani


__ADS_3

Pagi ini, sudah 4 kali Giani bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Sekalipun ia sudah meminum obat anti muntah yang dokter berikan, namun tetap saja ia rasa mual dan muntah itu selalu datang.


"Gi.....!" Panggil Aldo sambil memasuki kamar adiknya.


Sambil memegang perutnya, Giani keluar dari kamarnya.


"Kamu muntah lagi?" Tanya Aldo.


"Iya, kak." Giani melangkah menuju ke tempat tidurnya.


"Kamu mau makan apa? Nanti kakak akan meminta pelayan menyiapkannya."


Giani membaringkan badannya. "Aku ingin makan gado-gado, ingin makan bakso, pokoknya semua makanan yang dari Indonesia."


"Kakak akan carikan di restoran Asia." Aldo membalikan tubuhnya untuk pergi namun Giani memanggil kakaknya kembali.


"Kak...!"


Aldo menoleh kembali ke arah Giani. "Ada apa?"


"Mengapa Joana sudah beberapa hari ini tidak datang?"


Aldo menarik napas panjang. "Kami betengkar."


"Kenapa kak?"


"Dia menyangka kalau aku masih mencintai Finly karena melarang Jero dan kamu untuk bersama."


"Kak, jangan sia-siakan Joana. Dia sudah pernah terluka karena kematian George. Aku ingin Joana bahagia."


"Aku akan menemuinya malam ini."


Giani tersenyum. Setelah Aldo pergi, Giani merasakan kalau dia sangat merindukan Jero. Setiap kali ia membaca pesan Jero, entah mengapa rasa mual dan muntahnya akan hilang.


Tangan Giani memegang ponselnya. Haruskah aku menelepon Jero? Mengapa diriku ingin sekali mendengar suaranya? Aku ingin menatap wajahnya ya?


Panggilan hatinya begitu kuat. Giani langsung melakukan panggilan videocall.


Di dering pertama, Jero langsung mengangkatnya. Pria bule itu terlihat ada di kamarnya. Sepertinya ia baru saja mandi.


"Hallo kak!" Sapa Giani sambil menahan debaran di jantungnya. Jero masih bertelanjang dada dan tubuh bawahnya hanya memakai handuk.


"Hallo, Gi. Kenapa wajahmu kelihatan pucat. Kamu sakit?" Tanya Jero dengan wajah prihatin.


"Nggak. Hanya saja aku baru bangun."


Jero menoleh ke arah jam dinding. "Di sanakan sudah jam 9 pagi. Tumben kamu bangunnya terlambat."


"Pengaruh salju mungkin."


Jero terkekeh. Hati Giani bergetar melihat wajah Jeronimo yang tersenyum. Ia merindukan tatapan mata penuh cinta setiap kali mereka selesai bercinta. Ia rindu bersandar di dada Jero sampai akhirnya tertidur dengan nyenyak di sana. Ya Tuhan, aku sungguh mencintainya.


"Gi, ada apa?" Tanya Jero saat dilihatnya kalau Giani sepertinya melamun.


"Nggak. Kenapa baru mandi? Di sana kan sudah jam 9 malam?" Giani mengalihkan pembicaraan.


"Pulang kerja, aku mampir di pos penjagaan. Kebetulan proyek di Bali mendapat keuntungan besar. Makanya aku membelikan sembako untuk mereka. Mereka juga mengirim salam unrukmu, Gi." Kata Jero membuat rindu Giani semakin menggebu. Ia juga merasa terharu. Jero yang dulunya cuek dengan lehidupan orang lain, ternyata kini ikut peduli dengan mereka yang berkekurangan.


"Aku bangga padamu, kak." ucap Giani terus terang.


"Terima kasih, Gi."


"Aku tutup dulu, ya? Bye....!" Giani mengahiri panggilan videocallnya. Ia tak ingin kalau Jero akhirnya tahu kalau Giani sangat merindukannya.


***********


Joana yang baru turun dari mobil, terkejut saat melihat Aldo yang berdiri di depan lobby apartemennya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Joana dengan wajah dingin.


"Kita harus bicara, Jo."


Joana menempelkan kartu miliknya di depan pintu sehingga pintu bisa terbuka. Aldo buru-buru mengikuti langkah Joana sebelum pintu itu kembali tertutup. Di dalam lift pun mereka kembali berdiam diri. Sampai akhirnya mereka masuk ke dalam unit apartemen Joana yang ada di lantai 9.


Setelah melepaskan sepatu kerjanya dan menggantikanya dengan sandal rumah, Joana duduk di depan Aldo.


"Bicaralah!" Kata Joana, wajahnya masih terlihat dingin.

__ADS_1


"Jo, Alexa menanyakanmu."


"Aku akan meneleponnya."


"Aku juga merindukanmu." Kata Aldo sambil berdiri dan berpindah tempat duduk di samping Joana. "Jangan seperti ini, Jo. Aku hampir gila kamu tak mau menerima teleponku dan membalas pesanku. Please, jangan tak memperdulikan aku!"


"Aldo, kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Lalu bagaimana dengan rasa dendamu pada Jero? Tidak dapatkah kau memaafkannya? Giani dan Jero berhak untuk berbahagia. Mereka akan punya anak."


Aldo diam sebentar. Beberapa hari ini memang dia banyak berpikir. Dia sering melihat adiknya melamun. Aldo merasa kalau Giani menyimpan kepedihannya.


"Kalau memang Giani mencintai Jero, aku akan membiarkan mereka bersama. Aku yakin kalau lau bersamaku, rasa dendam dan marahku kwpada Jero akan hilang." Aldo meraih tangan Joana dan menciumnya dengan sangat lembut. "Please, kembalilah padaku."


Joana menatap wajah duda keren yang telah mencuri hatinya itu. Ia melihat pandangan mata yang sangat berharap dan penuh cinta untuknya. Ia tak dapat mendustai kata hatinya. Ia merindukan Aldo, Alexa dan Giani selama beberapa hari ini. Ia rindu bersama dengan mereka.


"Aldo, aku ingin bahagia bersamamu dan Alexa. Tapi aku juga ingin Giani bahagia."


"Kita akan membantunya agar menemukan kebahagiaannya."


"Kalau begitu, aku mau kembali padamu. Aku juga sangat merindukanmu."


Aldo langsung memeluk Joana dengan perasaan bahagia. Ia tak dapat berbohong kalau dia mencintai wanita bule ini.


"Ayo kita ke rumah. Alexa dan Giani pasti senang melihat kita bersama." Kata Aldo sambil membwlai wajah kekasihnya dengan punggung tanganya.


"Ayo!"


"Kamu nggak bawa baju?"


"Untuk apa?"


Aldo tersenyum menggoda. "Memangnya nggak rindu untuk menginap?"


Joana tertawa. Ia mencium bibir kekasihnya dengan gemas. "Dasar genit!" Katanya lalu memeluk Aldo lagi dengan perasaan bahagia.


***********


"Kau tidak ke London? Mau melewati malam tahun baru di sini?" Tanya Jero kepada sepupunya. Keduanya ada di club milik Frangky. Club belum ada pengunjung karena masih sore.


"Aku akan ke New York besok."


Jero menekan perasaan sakit yang memenuhi dadanya. Ia tahu kalau Beryl pasti akan menemui Giani.


"Kau mau ikut?"


Jero menggeleng. "Aldo tak menyukaiku."


"Memangnya kau sudah menyerah? Bukankah kau mengatakan padaku kalau kau tergila-gila padanya?"


Jero mengerutkan dahinya. Ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan sepupunya itu. "Beryl, bukankah kau sedang mengejar Giani?"


Wajah Beryl tersenyum. "Ya. Siapa yang tak ingin bersama dengan gadis yang istimewa seperti Giani? Kau tahu kalau aku memujanya. Namun Tuhan telah membuat garis takdirNya sendiri untukmu dan Giani. Sayangnya, aku tak boleh ada di dalamnya."


"Maksudmu?"


"Ada sesuatu yang akan menyatukan kau dan Giani kembali. Sesuatu yang selama ini kau inginkan."


"Apa itu?"


Beryl menenguk minumannya sampai habis. Ia menatap sepupunya yang terlihat sangat penasaran dengan apa yang baru saja dikatakannya. "Berpikirlah! Kamu tahu kan kalau keluarga Dawson selalu memiliki kecerdasaran di atas rata-rata?" Ujar Beryl sambil jari telunjuknya menyentuh pelipis sepupunya.


"Hei dude, kamu jangan membuat aku penasaran."


Beryl tertawa. Ia kembali menuangkan minuman di dalam gelas dan langsung meminumnya sampai habis.


"Hei...! Bukankah ini masih terlalu sore untuk mabuk?" Jero merampas gelas yang dipegang Beryl.


"Aku tak berhak mengatakannya. Kau sendiri yang harus mencari tahu. Karena Giani mungkin tak akan mengatakannya padamu." Beryl mengambil botol minuman dan langsung meminumnya tanpa ada gelas. Ia melangkah meninggalkan Jero.


"Beryl....!" Panggil Jero.


"Malam ini aku pulang ke London. Mungkin agak lama baru kembali ke Jakarta."


"Beryl!" Panggil Jero sekali lagi.


Sepupunya itu hanya mengangkat tangannya dan sambil terus melangkah ke arah pintu keluar. Begitu ia sampai di dalam mobilnya, Beryl menarik napas panjang. Ia kemudian tersenyum. "Selamat berbahagia, Mo. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang bapak." gumannya lalu segera menjalankan mobilnya. Ia berusaha menghibur hatinya. Akhirnya, aku patah hati juga....


********

__ADS_1


"Apakah hari ini kau bisa makan?" Tanya Aldo begitu masuk ke kamar adiknya. Di lihatnya Giani sedang duduk di atas tempat tidur sambil berselojor kaki.


Giani menatap kakaknya. "Ya. Aku makan sedikit."


"Masih pusing?"


Giani menggeleng.


Aldo duduk di tepi tempat tidur. "Gi, kamu tahu kalau aku sangat menyayangimu, kan? Semenjak kematian Gisela, kau menjadi saudaraku satu-satunya. Aku sudah berjanji pada papa dan mama untuk menjagamu seumur hidupku. Namun aku juga menyadari bahwa kau sudah dewasa dan ingin punya kehidupan sendiri."


"Kak, ada apa?"


"Jujurlah padaku, Gi. Apakah kau mencintai Jero?"


Giani tertunduk. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. "Kak, aku....aku.....maafkan aku jika harus melukaimu. Aku memang mencintai Jero."


" Kau hanya memikirkan kebahagiaanku dan tak memikirkan kebahagiaanmu?"


Giani menatap kakaknya tak mengerti.


"Kak...!"


"Aku mengijinkanmu untuk bersama Jero. Kalian seharusnya bersama. Kehamilanmu sebagai petunjuk dari Tuhan kalau kalian memang berjodoh."


"Kak, apakah kau sungguh menginjinkanku bersama Jero? Kau tak akan sakit hati?"


Aldo menggeleng. "Aku mencintai Joana. Dan untuk bisa berbahagia bersama Joana, aku harus berdamai dengan masa laluku. Aku memaafkan Finly dan juga Jero."


Giani memeluk kakaknya sambil menangis. "Kak, terima kasih."


"Maafkan kakak yang terlambat menyadarinya."


"Aku memaafkanmu, kak. Tapi, bolehkah aku kembali ke Jakarta?"


Aldo melepaskan pelukannya. Ia menatap adiknya. "Kenapa?"


"Aku tak suka tinggal di sini. Aku rindu Indonesia. Aku ingin melahirkan anakku di Indonesia."


Sebelum Aldo menjawab, Joana dan Alexa tiba-tiba masuk.


"Papa, Eca juga mau pulang. Eca kangen opa dan oma. Eca juga kangen dengan sekolah Eca."


Aldo menatap Joana. "Tapi...."


"Aku akan ikut bersama kalian!" Kata Joana sambil membelai kepala Alexa.


Aldo bernapas lega. "Baiklah. Kita akan pulang ke Jakarta."


"Yess....!" Teriak Alexa senang.


***********


Makan bersama di tahun baru bersama keluarga tentulah sangat menyenangkan. Sinta bahagia karena semua anak-anaknya dapat berkumpul.


"Jer, kamu kok makannya sedikut?" Tanya mama Sinta.


"Jero masih kenyang, ma? Tadi makan kue banyak."


Finly yang duduk di depan Jero tersenyum. Ia tiba-tiba ingat Alexa. Andai saja Alexa ada di sini, pasti akan sangat membahagiakan.


"Fin, hidungmu berdarah!" Ujar Mama Sinta membuat Finly panik. Ia buru-buru menyeka hidungnya dengan tisue.


Clara menatap adik iparnya itu dengan seksama. Sebagai dokter, ia merasa ada yang tak beres dengan Finly. "Fin, kamu sering mimisan?"


"Nggak. Baru kali ini." Kata Finly sambil tersenyum. Ia semakin merindukan Alexa.


nah...bagaimana menurut kalian?


Apakah Finly kembali bersama Aldo?


Apakah Finly jadian dengan Beryl?


Apakah Beryl bersama Joana saja?


Bagaimana akhirnya Jero tahu tentang kehamilan Giani?


Berikan emak vote, like and comentnya..

__ADS_1


Maaf kalau banyak typo. Emak bangun jam 3 subuh khusus nulis part ini karena emak yakin yang lain pada penasaran 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2