Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Masa Subur


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Jero tak henti-hentinya tertawa membayangkan bagaimana Giani mengerjainya dengan obat tidur.


"Ada apa?" Tanya Giani sambil menatap jero yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu kok bisa dapat ide seperti itu, Gi?"


"Kalau tak diberi obat tidur, nanti kamu menemui Finly. Iyakan?"


"Iya sih. Makasi ya karena tak membuat aku bertambah berdosa lagi. Malam pernikahan itu, aku memang sedang kesal. Namun aku harus jujur, saat melihatmu keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur itu, palo kayaknya sudah mulai tergoda."


Giani terkekeh. Ia ingat bagaimana malam itu mengerjai Finly dan Jero.


"Oh ya, tanda merah di leher aku, kamu buatnya malam itu juga?" Tanya Jero penasaran. Setelah satu tahun menikah, barulah ia tanyakan.


"Nggak. Aku buatnya pagi, sebelum aku mandi."


"Kok sekarang nggak dibuat lagi?"


Giani menoleh dengan kaget. "Bukankah saat itu kamu malu? Bahkan terlihat sedikit marah dengan tanda merah yang kubuat?"


Jero tersenyum nakal. "Itukan dulu, Gi. Aku nggak sadar saat kau membuatnya. Kalau sekarang, aku justru mau tahu bagaimana rasanya."


"Pasti si palo langsung bangun."


Keduanya tertawa bersama. Sungguh, suasana yang penuh kebahagiaan tercipta di dalam mobil. Baru kali ini keduanya terlibat cerita yang membuat mereka tertawa dan saling menggoda.


Akhirnya, mereka pun tiba di rumah sakit. Terlihat papa Denny yang begitu setia menemani. Ia sepertinya sedang membacakan sebuah novel. Mama Sinta memang sangat suka membaca. Ia dulu pernah menulis beberapa cerita pendek di sebuah majalah. Namun, karena ia memilih untuk fokus pada anak-anaknya, ia pun melupakan keinginannya untuk menjadi penulis terkenal.


"Hallo, pa!" Sapa Jero dan Giani bareng. Papa Denny tersenyum melihat keduanya datang sambil berpegangan tangan.

__ADS_1


"Hallo juga anak-anakku. Mama pasti senang jika kalian datang. Ayolah mendekat, sapa mama kalian. Tadi pagi, mama menggerakan kedua kakinya." Kata papa Denny dengan wajah gembira.


Jero langsung memegang tangan mamanya. "Hallo, ma. Maaf ya baru datang melihat mama. Aku ke Bali menemani Giani. Aku terburu-buru tapi tak sempat pamitan pada mama." Kata Jero sambil mengusap tangan mamanya.


"Ma, tetap berusaha untuk bangun ya. Kami selalu berdoa untuk mama. Kak Jero sudah biasa memimpin doa. Ia bahkan rajin beribadah. Aku yakin, kalau mama bisa bangun, kak Jero tak akan menggerutu lagi jika mama memintanya untuk menemani mama ke ibadah ibu-ibu." Kata Giani sambil mengusap wajah cantik mama Sinta.


Jero terkekeh mendengar perkataan Giani. Dia memang pernah menceritakan pada Giani, betapa ia tak suka mengantar mama ke ibadah ibu-ibu karena ibadahnya agak lama.


Tiba-tiba dari kedua sudut mata mama Sinta terlihat ada air bening yang keluar.


"Pa, mama menangis." Pekik Jero membuat Denny yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berlari mendekati tempat tidur istrinya. Ia melihat wajah istrinya yang basah.


"Pasti mama terharu mendengar kamu audah banyak berubah, sayang." Kata Giani.


Papa mengangguk setuju. "Ya. Mama jarang sekali menangis kalau ia sedih. Justru ia akan menangis saat merasa bahagia. Papa yakin mama bisa mendengarkan kita." Papa Denny mencium dahi istrinya. "Sayang, cepatlah bangu. Aku kesepian makan dan tidur tanpamu."


Giani sangat terharu melihat betapa kasihnya papa Denny pada mama Sinta. Pada hal dulu mereka berdua menikah karena dijodohkan. Mereka justru bertemu pas di hari pernikahan. Namun mereka akhirnya saling jatuh cinta dan sangat menjaga komitmen pernikahan mereka. Mama Sinta pernah menceritakan kisah cintanya pada Giani saat mereka memasak bersama.


"Gi, kakak ingin ke Amerika untuk studi S3 sekaligus mengembangkan usaha di sana. Kakak juga ingin Alexa bisa melupakan mamanya. Walaupun ia tak pernah bertanya di mana Finly, namun kakak tahu kalau dia merindukan mamanya. Kakak juga ingin kau ikut dengan kami ke sana. Kita harus menjauh sebentar dari keluarga Prayudinata. Jujur saja, setiap kali kakak melihatmu bersama Jero, rasa sakit akibat perselingkuhannya dengan Finly masih terasa di hati. Kakak memang sudah merelakan hubungan kami terputus. Namun membuang cinta yang tumbuh sejak kecil, ternyata bukanlah hal yang mudah."


Itulah yang Aldo katakan saat ia menelepon Giani. Intinya, Aldo ingin Giani berpisah juga dengan Jero. Giani sadar, Jero telah menyakiti kakaknya begitu dalam. Jika ia terus bersama Jero, maka selamanya Aldo akan merasa terluka. Dan Giani tak ingin kakak yang sangat disayanginya itu akan terluka selamanya. Memang berpisah dengan Jero adalah cara terbaik menyembuhkan luka hati kakaknya. Tapi bagaimana jika Giani hamil? Sekalipun Jero berkata akan tetap menceraikan Giani, namun anak itu akan membuat mereka terhubung selamanya.


"Gi, kok melamun?" Jero menepuk punggung Giani, menyadarkan perempuan itu dari lamunannya.


"Papa kemana?" Tanya Giani saat melihat hanya ada Jero di ruangan itu selain mama Sinta dan dirinya.


"Papa tadi pamit mau pulang sebentar. Nggak apa-apa kita menjaga mama kan? Atau kamu capek dan ingin istirahat? Apakah aku minta pak Budi saja untuk mengantarmu?"


Giani tersenyum. "Aku nggak capek, kok. Kita mau tidur di rumah sakit aja, nggak masalah buatku."

__ADS_1


Jero meraih tangan Giani dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih karena menyayangi mama Sinta seperti mama sendiri."


Giani mencium pipi Jero. "Mamamu pantas untuk disayangi karena dia juga penuh kasih terhadap kita."


Tangan Jero berpindah ke pundak Giani. Ia menarik gadis itu dan memeluknya dengan sangat erat. Hati jero bahagia.


**********


Hari ini, berdasarkan petunjuk dokter, adalah masa subur Giani di mulai. Jero sengaja pulang saat jam baru menunjukan pukul 3 sore. Ia ingin membantu Giani memasak supaya istrinya tidak kelelahan.


Mereka pun memasak bersama dan menikmati makan malam dalam suasana hangat karena saling menyuapi.


Saat keduanya memasuki kamar, Giani langsung ke kamar mandi sedangkan Jero memilih duduk dipinggiran tempat tidur. Sejujurnya ia menjadi gugup untuk menyentuh Giani. Kali ini, tujuan mereka akan bercinta karena ingin Giani hamil. Perasaan takut gagal memenuhi rongga dadanya.


Saat Giani sudah keluar dari kamar mandi, Jero pun gantian mandi. Ia menyabuni palo sampai 3 kali untuk memastikan tak ada kuman yang menempel dan akan menganggu kualitas benihnya nanti.


Jero pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.


Giani sudah menggunakan lingre merah yang sangat menggoda mata untuk terus melihatnya. Ia sedang duduk di atas tempat tidur seperti sedang menunggu Jero.


"Gi, kau sudah siap?" Tanya Jero.


Giani tersenyum malu sambil mengangguk. Jero pun langsung membuka handuk yang melilit pinggangnya, lalu dengan tubuh polosnya, ia naik ke atas tempat tidur dan langsung menggoda istrinya dengan sentuhan-sentuhan lembut di tempat sensitif yang Jero sudah sangat hafal dimana letaknya. Ia tersenyum senang saat mendengar desahan Giani yang begitu menggodanya.


**********


Tangan Jero membelai perut Giani. Perempuan itu sudah tertidur setelah mereka bercinta. Walaupun Jero masih ingin bercinta lagi, namun ia menahan hasratnya. Ia tak mau Giani kelelahan dan membuat benihnya tak bertumbuh dengan baik.


"Tumbulah di perut mama, sayang. Papa begitu ingin melihatmu lahir." kata Jero lalu mencium perut polos Giani.

__ADS_1


Duh...kira-kira Palo berhasil nggak ya?"


__ADS_2