
visual Beryl ada di part ini ya guys
Tangan Giani mendorong dada Jero dengan kuat ketika ia hampir kehabisan napas.
"Kamu gila kak! Mau membunuhku ya?" Kata Giani ketika berhasil melepaskan diri dari ciuman Jero.
"Aku mau kamu!" Jero kembali menarik tubuh Giani namun perempuan itu memukul lengan Jero dengan sangat kuat.
"Kakak, ini ditengah jalan."
"Jalannya sepi!"
"Aku tetap nggak mau."
"Aku akan memaksamu! Kau istriku jadi kewajibanmu adalah melayaniku!" Kata Jero pelan namun nadanya terdengar penuh penekanan.
"Aku tak akan menolak melayanimu, kak. Tetapi aku sekarang sedang datang bulan. Kakak lupa ya?"
"Ah.....!" Jero mengacak rambutnya dengan kasar. Ia segera menjalankan mobilnya dengan wajah kesal. Sedikit tinggi lajunya membuat Giani sebenarnya takut namun gadis itu memilih untuk memakai sabuk pengamannya lalu memejamkan matanya.
********
Mama Sinta langsung tersenyum melihat Giani dan Jero yang turun dari mobil.
"Kalian bertengkar ya? Kok wajahnya cemberut?" Tanya mama Sinta.
"Jero mengantuk, ma. Mau ke kamar dulu." Jero langsung melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Kalian bertengkar?" Tanya mama.
"Kak Jero marah karena aku pakai baju sedikit terbuka tadi."
"Baju yang difoto itu?"
Giani mengangguk.
"Sepertinya dia cemburu dengan Beryl. Oh ya, ada apa sih sampai kamu meminta mama menelepon Jero dan mengajak kalian untuk datang ke rumah mama?"
Giani yang sudah memakai celemeknya tersenyum menatap mamanya. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Mama pasti sedih jika tahu kalau Jero bersama Finly.
"Semalam kak Jero mabuk. Aku nggak mau dia mabuk lagi jika keluar dengan teman-temannya. Kami memang sedang marahan karena salah pengertian."
"Anak itu. Kenapa juga harus mabuk? Seharusnya kan bicara baik-baik?"
"Ma, masak apa kita?" Tanya Giani mengalihkan pembicaraan.
"Lihatlah bahan-bahannya. Kamu tentukan sendiri, deh."
Giani pun membuka kulkas dan mengeluarkan ikan, daging dan sayuran. Mama membantu seadanya saja karena ada 2 orang pelayan yang juga ikut membantu.
Jam 5 sore, papa Denny pulang dari bermain golf. Ia langsung membangunkan Jero dan mengajaknya berbincang sambil menikmati kopi.
*********
"Ma, Giani mandi dulu ya?" Kata Giani saat semua makanan sudah tersaji di atas meja.
"Ya. Mandilah. Mama juga mau mandi sebelum kita makan bersama."
Giani naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar Jero sambil membawa tasnya. Ia memang tadi membawa beberapa baju saat ke pantai. Ada celana jeans dan kaos putih.
Giani keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang membungkus tubuhnya. Saat ia membuka handuk untuk memakai bajunya, pintu kamar terbuka.
"Ah...!" Giani berteriak kaget lalu kembali melingkarkan handuk itu ke tubuhnya.
__ADS_1
Jero kelihatan cuek walaupun jantungnya berdetak sangat cepat melihat Giani yang hanya menggunakan baju dalam saja.
"Aku mau mandi!" Kata Jero dan langsung melangkah ke kamar mandi. Ia merasa si palo harus ditenangkan dengan air dingin.
1 jam kemudian, mereka berempat sudah makan malam bersama.
"Pengiriman kainnya sudah berhasil. Mereka puas dengan kualitas kain kita. Proyekmu di Spanyol sudah setengah sukses." Kata Denny.
"Kok baru setengah pa?" Tanya Jero tak mengerti.
"Kau kan di sana mengerjakan 2 proyek. Proyek untuk bersama tuan Mendez dan proyek bersama Giani." Kata Papa Denny sambil menatap anak dan menantinya dengan wajah menggoda.
"Proyek bersama Giani?" Jero mengerutkan dahinya.
"Jero, segitu aja nggak mengerti. Maksud papa adalah pekerjaanmu menanam benih di rahim Giani." Kata mama membuat Jero langsung tersedak.
"Minum, kak!" Kata Giani sambil menyodorkan gelas berisi air putih.
Jero langsung meminum semua isi air yang ada di gelas itu.
"Kenapa, Jer? Perkataan papa salah ya? Atau perlu trik dari papa supaya cepat? Dulu mama langsung hamil di bulan pertama pernikahan kami. Iyakan, ma?" Denny menatap istrinya diikuti anggukan Sinta.
Wajah Jero langsung bersemu merah. Bagaimana Giani bisa hamil? Berhubungan pertama kali saja nanti di Spanyol. Gengsi juga mengakuinya di hadapan papa dan mama.
"Pa, ma, kami usaha, kok. Mungkin belum waktunya." Kata Jero sambil memegang tangan Giani. "Iyakan sayang?"
Giani sebenarnya tak sanggup untuk mengatakan iya. Ia takut berbohong pada papa Denny dan mama Sinta. Ia tahu mengapa dia tak hamil. Ia meminum pil pencegah kehamilan.
"Eh, iya. Mungkin belum waktunya." Kata Giani. Ia dapat melihat raut kecewa wajah mama. Namun perempuan parubaya itu tersenyum.
"Kita serahkan semuanya pada Tuhan.Mama yakin tak lama lagi Giani akan hamil. Mama akan buatkan ramuan untuk menyuburkan kandungan." Kata Sinta antusias membuat Giani semakin merasa bersalah.
Selesai makan dan berbincang sebentar, Giani dan Jero pamit pulang. Sepanjang perjalanan kedua saling diam tak bicara. Giani kembali memilih memejamkan matanya dan akhirnya ia tertidur.
"Gi, bangun. Kita sudah sampai!"
Jero segera melangkah meninggalkan Giani yang masuk lebih dulu ke dalam rumah. Giani pun turun dan mengikuti langkah Jero. Saat ia berada dalam rumah, ponselnya berbunyi.
"Hallo kak Beryl?"
Jero yang akan menaiki tangga menegok ke arah Giani. Ngapain juga si Beryl menelepon Giani sudah jam segini?
"Aku baru saja sampai, kak. Oh, jadi dong. Sampai jumpa besok ya? Bye..." Giani menatap Jero yang masih berdiri di dekat tangga.
"Kak, besok aku dan Joana akan pergi ke..."
"Pergilah kemanapun kau suka. Tak usah meminta ijinku."
"Tapi kami akan ke...."
"Aku ngantuk!" Jero langsung menaiki tangga. Ia tak tahu mengapa harus marah-marah kepada Giani. Apakah karena palo yang tak bisa mendapatkan kesenangannya? Ataukah karena Giani yang semakin dekat dengan Beryl?
Jero berusaha tak perduli. Sesampai di kamar, ia segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya kembali merasa pusing. Ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Finly.
Sayang, aku bosan sendirian di rumah.
Aldo ada di kamar Alexa. Aku takut kalau Aldo akan memaksakan kehendaknya padaku. Pikirkanlah lagi rencana kita untuk ke London ya?
Jero membalas pesan Finly :
Tidurlah. 5 bulan lagi kita akan bersama...
Jero meletakan ponselnya di atas nakas. Ia bosan dengan suasana di dalam kamar. Jero menyalahkan TV. Ia mencari-cari siaran sampai akhirnya ia berhenti pada siaran film yang menyajikan film komedi romantis.
__ADS_1
Giani pasti suka jika ku ajak menonton film ini. Apakah sebaiknya aku ke kamarnya?
Jero berdiri. Namun baru beberapa langkah, ia terhenti. Bukankah aku sedang kesal dengan Giani? Kenapa juga aku masih memikirkannya?.
Jero pun kembali ke ranjangnya. Sungguh ia tersiksa dengan keadaan ini.
*********
Sepanjang hari ini Jero merasakan kalau perasaannya tidak enak. Ia merasa bosan dengan semua yang dikerjakannya.
"Selly, jam berapa aku dan Beryl akan mengadakan pertemuan?" Tanya Jero saat Selly memasuki ruangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Setengah lima jam pulang kantor. Selly selalu membersihkan ruangan Jero sebelum ia pulang.
"Oh ya, 1 jam yang lalu pak Beryl baru saja membatalkan pertemuannya. Katanya nanti saja jika beliau sudah pulang dari Bali."
"Ke Bali?"
"Iya, pak. Beliau meminta saya kemarin untuk memesan 4 tiket."
"4 tiket?"
"Ya. Atas nama pak Beryl, nyonya Giani, Joana dan George."
"Apa?"
"Tuan tidak tahu kalau nyonya juga ikut?"
"Jam berapa pesawatnya?"
"Jam 3 sore."
Jero ingat dengan apa yang dikatakan Giani tadi malam. Bodohnya aku tak mendengar penjelasannya tadi malam sampai selesai. Aku kan bisa melarang Giani untuk pergi. Menyebalkan!
Jero menampar meja kerjanya dengan wajah geram.
"Ada apa, tuan?"
"Eh,...tidak." Jero menggeleng sambil tersenyum.
Setelah Selly keluar, Jero segera menelepon ponsel Giani. Tidak aktif. Ponsel Beryl pun tidak aktif.
"Ah....!" geram Jero lalu melempar ponselnya begitu saja di atas meja. Ia tak mengerti dengan perasaannya yang tiba-tiba merasa gelisah.
********
Pukul 18.30, Jero tiba di rumahnya. Suasana sepi langsung memenuhi ruang hati Jero.
Kok gue kayak gini ya?
Jero mengambil hp nya lalu duduk di atas sofa ruang tamu. Ia membuka instagram Giani. Istrinya itu baru saja mengungah sebuah foto. Foto cafe kopi miliknya dan Beryl. Ada juga fotonya bersama Beryl. Beryl sedang melingkarkan tangannya di bahu Giani, unggahan itu tertulis :
......Persiapan akhir.........
...2 hari lagi open...
......Bersama pria terbaik..........
Cih, Beryl itukan playboy! Mana bisa dikatakan sebagai pria terbaik?
Jero akan melepaskan ponselnya saat sebuah pesan masuk. Pesan dari Giani.
Kak, sudah pulang? Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kakak. Ada dalam kulkas.
Jangan terlalu capek kerjanya ya? Aku mungkin satu minggu ada di Bali. Jangan terlalu merindukanku, ya? Kalau aku pulang si palo akan ku service dengan sangat baik.
__ADS_1
Jero melemparkan ponselnya di atas meja. Tiba-tiba ia ingat sesuatu.
"Hallo Frangky, kapan acara di Bali? Aku saja ya yang pergi. Ok."