
"Bagaimana, kak?" Tanya Giani dengan suara yang pelan tanpa ada penekanan.
Jeronimo masih diam. Ia tak dapat membayangkan bagaimana marahnya Finly saat tahu kalau nomornya diblokir. Sedangkan Jero mengambaikan panggilannya atau lama membalas pesannya, Finly akan histeris apalagi jika nomornya sampai diblokir. Namun saat Jero menatap Giani, ia merasa tak mau kehilangan moment penting dalam hidupnya. Giani adalah gadis yang akhir-akhir ini membuatnya merasa nyaman. Bukan hanya kepuasan di atas ranjang, namun entah apa yang dimiliki oleh gadis itu sehingga selelah apapun Jero dalam pekerjaannya, saat ia pulang dan melihat Giani, rasa lelahnya langsung hilang.
"Baiklah." Kata Jero.
"Mana hp nya. Biar aku yang ketik pesannya."
Jero menyerahkan ponselnya.
Giani mengetik pesan pada Finly. Setelah itu ia menyerahkan kembali ponsel Jero. "Sekarang, kakak yang blokir."
Jero langsung memblokir nomor Finly sebelum perempuan itu membaca pesannya.
"Sudah." Ujar Jero.
Giani memegang tangan Jero. "Makasi, sayang."
Jero terkejut mendengar panggilan itu. Dadanya bagaikan mengembang oleh rasa hangat yang membanjiri relung hatinya.
"Sayang, kita dansa, yuk!" Ajak Giani.
"Nggak ada musiknya."
"Dari hp kan bisa." Giani memutar sebuah lagu dari ponselnya. Lagu lawas milik Bryan Adams judulnya : EVERTHING I DO I DOIT FOR YOU.
"Lagunya nggak terlalu melo."Protes Jero saat Giani sudah berdiri.
"Aku suka kata-katanya. Romantis." Ucap Giani lalu segera melingkarkan tangan kirinya dipinggang Jero, dan tangan kanannya meraih tangan kanan Jero untuk digenggamnya. Keduanya pun bergerak perlahan mengikuti irama lagu.
Tatapan mereka saling bertemu dan Jero tak bisa menahan dirinya lagi untuk mencium bibir tipis Giani. Keduanya berciuman sangat lama. Bahkan ketika lagu itu berhenti, ciuman itu masih terus berlanjut.
"Sayang.....!" Tubuh Giani bergetar saat ciuman Jero sudah turun ke lehernya.
"Ayo ke kamar." bisik Jero.
"Nggak mau. Aku ingin di sini." kata Giani.
"Sayang, ini di taman dan orang bisa saja melihat kita."
Giani melangkah dan mematikan lampu taman. "Kita punya pagar keliling yang tinggi, beb. Lagi pula rumput di sini tebal." Giani membuka daster hello kitty nya. Ia lalu membentangkan daster itu di atas rumput lalu bebaring di atasnya.
Jero menelan salivanya kasar. Kepalanya langsung berdenyut kencang karena memandang pemandangan indah di depannya.
"Come on baby!" Panggil Giani dengan gerakan yang menggoda. Jero pun langsung membuka kemejanya, lalu celana jeans miliknya. Ia tertawa senang karena Giani sungguh tak terduga orangnya.
********
"Enak?" Tanya Giani saat ia memijat punggung Jero. Mereka baru saja selesai dengan aktifitas bercinta di alam terbuka. Dan saat keduanya baru saja akan menetralkan napas setelah mencapai puncak kenikmatan bersama, hujan tiba-tiba saja turun. Giani yang tahu kalau kehujanan akan membuatnya sakit, langsung mendorong tubuh Jero yang masih ada di atasnya dan segera berlari masuk ke dalam rumah. Akibatnya tubuh Jero terpental ke belakang dengan punggung mengenai pot bunga.
"Iya. Enak. Aku tuh bingung, badan kamu kecil tapi bisa melempar aku segitu kuatnya."
Giani terkekeh. "Itu namanya gerakan refleks yang akan membuat tenaga kita kadang menjadi 3 kali lebih besar." Kata Giani lalu menyudahi pijatannya dipunggung Jero.
Hujan masih turun dengan sangat deras. Suara guntur kadang terdengar membelah malam yang semakin larut.
Saat Giani keluar dari kamar mandi, Jero masih duduk di atas tempat tidur sambil memegang ponselnya. Ia main game seperti biasanya.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" Tanya Giani sambil naik ke atas tempat tidur dan ikut duduk di samping Jero.
"Tungguin kamu!"
Giani menyandarkan kepalanya di bahu Jero membuat pria itu melepaskan ponselnya dan langsung melingkarkan tangannya di bahu Giani.
"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Giani sambil menikmati belaian tangan Jero di lengannya.
"Apa?"
"Seberapa besar rasa cintamu pada kak Finly?"
Jero diam sejenak. Lalu ia menarik napas panjang sebentar dan berkata," Sejak aku SMP, aku sudah mengaguminya. Ia cantik, sangat terkenal di sekolah karena kepintaran dan prestasinya. Tubuhnya juga sangat menarik. Ideal bagi semua pria yang menatapnya. Aku tahu banyak pria yang mengidolakan Finly. Jujur, saat itu aku sering membayangkan untuk bisa memeluk dan menciumnya. Sampai di ulang tahunku yang ke-17, Finly datang ke kamarku. Memberikan selamat dan menciumku. Sampai akhirnya aku kehilangan keperjakaanku saat itu juga. Hubungan kami terjalin diam-diam. Aku semakin tergila-gila padanya. Apalagi Finly juga tak pernah dekat lagi dengan pria manapun juga. Sampai akhirnya papa Denny mengetahui hubungan kami. Dia meminta aku mengahirinya karena Finly akan menikah dengan Aldo. Aku yang meminta Finly untuk menerima Aldo dan berjanji kalau hubungan kami akan tetap terjalin."
Jero berhenti dari ceritanya. Hatinya merasa malu saat harus menceritakan ini pada Giani.
"Tidak pernah mencoba dengan gadis lain?"
"Pernah. Selama di Australia aku dekat dengan beberapa gadis di sana. Aku bahkan jarang berhubungan dengan Finly. Namun saat aku kembali, perasaanku kembali terikat dengannya. Aku bahkan merasa lebih tergila-gila padanya."
Giani memutar arah duduknya sehingga berhadapan dengan Jero. "Sayang, jika hubungan kita sudah selesai, aku mohon, jangan kembali lagi dengan Finly. Dia sudah menjadi istri orang lain. Suatu dosa besar jika kamu masih mengingkannya. Hukum karma itu sungguh ada. Kalau kamu merebut milik orang lain, suatu saat juga milikmu akan direbut oleh orang lain."
Tangan Giani meraih tangan Jero. "Pernikahan kita adalah suatu pengajaran yang akan membuka matamu, di dunia ini Tuhan pasti akan menyediakan jodoh yang terbaik untukmu. Masih banyak gadis lain yang akan menyayangimu lebih baik dari Finly. Karena cinta bukanlah hanya tentang kepuasan di atas ranjang melainkan tentang bagaimana kita berbagi, bagaimana kita bisa tertawa bersama dan bagaimana kita bisa menangis bersama. Cinta yang benar itu adalah bukanlah mengambil milik orang lain namun bagaimana kita bisa bersama dan menjadi berkat juga bagi orang lain."
Jero diam mendengar perkataan Giani. Tiba-tiba ia mengingat wajah Geraldo dan Alexa. Hatinya menjadi gelisah memikirkan bagaimana selama ini ia telah menikmati apa yang bukan miliknya.
"Mari kita berdoa, memohon agar Tuhan mau menghilangkan rasa cinta di hatimu untuk kak Finly. Kau mau kan sayang?"
Jero mengangguk. Entah mengapa ia merasa menjadi orang yang paling berdosa saat ini. Hatinya bagaikan diramas sangat kuat sehingga menimbulkan rasa sakit.
***********
Jarum jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Namun Jero sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Giani sudah terlelap dalam dekapannya.
Tangan Jero membelai rambut Giani dengan sangat lembut. Giani tadi mengajaknya menyanyi lagu pujian bagi Tuhan. Dan saat Giani memimpin doa, hati Jero merasa sangat tenang. Ia menyadari tentang kesalahannya selama ini. Wajah papa Denny dan mama Sinta pun terbayang kembali. Apa yang dilakukannya bersama Finly adalah sebuah perzinahan. Itu adalah dosa yang sangat besar.
"Tuhan pasti akan mengampunimu, sayang. Jika kamu sungguh-sungguh mau kembali ke jalan yang benar, Tuhan akan menolongmu." Kata Giani selesai berdoa. Ia memeluk Jero dan entah mengapa pelukan Giani membuat tangis Jero pecah. Ia bagaikan menemukan rasa tenang yang selama ini tak pernah di dapatkannya lagi. Hidupnya selama ini hanya tentang bagaimana mengejar keuntungan besar dan hanya tentang Finly dan bagaimana mengumbar napsu bersama perempuan itu.
Jero mencium pipi Giani. Ia merasa kalau Giani bagaikan malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyadarkan tentang kesalahannya selama ini.
*********
"Good morning, baby!" Ujar Jero saat ia menemukan istrinya itu sedang berada di dapur dan sedang menyiapkan sarapan. Tangannya melingkar erat dipinggang Giani dan mencium leher Giani dari belakang.
"Kak.....!" Giani mendesis menahan geli karena kecupan-kecupan kecil di lehernya.
"Siapa kakak?"
Giani langsung membalikan badannya. "Sayang, jangan ganggu aku. Nanti makanannya gosong."
Cup
Satu kecupan manis diberikan Jero dibibir merah istrinya. Saat Jero akan mencium lagi, Giani buru-buru menutup mulutnya. "Aku belum gosok gigi, sayang."
"Biarin!" Jero menarik tangan Giani yang menutup mulutnya namun Giani langsung melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia mematikan kompor lalu segera menyiapkan piring untuk mengangkat kua ikan dan sayur yang dibuatnya.
"Sarapan sekarang?" Tanya Giani.
__ADS_1
Jero mengangguk dan langaung duduk di depan meja makan.
"Mau pakai nasi, sayang?"
"Sedikit saja."
Giani menyiapkan semuanya. Untuk Jero dan juga dirinya. Saat Giani selesai mengatur makanannya ia menatap Jero. "Mau pimpin doa makan?"
"Kamu saja, Gi. Rasanya belum siap memimpin doa."
"Baiklah." Giani menutup matanya dan melipat tangannya. "Tuhan, terima kasih untuk berkatMu pagi ini. Kami boleh bangun dengan tubuh yang sehat dan kuat. Kami juga hendak menikmati makanan dan minuman. Kuduskan semuanya ini sehingga menjadi kekuatan bagi kami di hari ini. Amin."
"Makasi, sayang." Ujar Jero lalu mulai menikmati sarapannya. Ia sungguh merasa sarapan pagi ini sangat enak dan nikmat.
"Gi, besok kan hari sabtu. Kamu kosongkan jadwalmu, ya? Kita pergi liburan ke puncak?"
Giani tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah sayang."
*******
Jero memasuki lobby kantor dengan perasaan senang pagi ini. Semua kariawan di sapanya dengan manis.
"Selamat pagi, Selly!"
Selly tersenyum. "Selamat pagi, pak. Wajah bapak kelihatan berseri pagi ini"
"Ya. Hari ini aku memang senang. Antarkan jadwalku ke mejaku sekarang ya?" Jero melangkah menuju ke ruangannya..
"Eh, pak...!" Selly lupa memberitahukan kalau Finly sedang ada di ruangan Jeronimo.
Sebuah bantal kursi langsung mendarat di kepala Jero saat ia memasuki ruangannya.
"Aow...!"
"Sakit ya?"
Jero menoleh dengan kaget. "Finly?"
"Apa maksudmu mengirim pesan seperti itu padaku? Dan apa maksudmu juga memblokir nomorku?" Finly langsung menyerang Jero dengan pertanyaan yang diucapkan dengan nada yang sangat tinggi. Untunglah ruangan Jero ini kedap suara sehingga teriakan Finly tak akan terdengar sampai di luar.
"Aku ingin kita selesai, Fin."
Plak!
Satu tamparan dari Finly mendarat keras di pipi Jero. "Aku tak akan pernah membiarkan kamu menyingkirkan aku."
"Hubungan kita salah, Fin. Kamu sudah punya suami. Aku juga sudah punya istri."
"Aku akan cerai dari Aldo. Berkas perceraianku sudah dimasukan ke pengadilan. Kamu juga akan pisah dari Giani. Jadi dimana letak kesalahannya?"
"Aku tak akan cerai dari Giani!" Kata Jero pelan namun sangat menusuk hati Finly. Benarkah?
Bagaimana kelanjutannya? see you next part
jangan lupa dukung cerita ini ya....
Maaf baru up, keluargaku ada yang meninggal.
__ADS_1