
Alexa baru selesai makan. Giani senang karena Alexa sangat penurut. Akibat kecelakaan itu, Alexa memang belum bisa berjalan secara baik. Ia harus membutuhkan tongkat penyanggah. Kadang, kalau ia terlalu lelah, maka Alexa menggunakan kursi roda.
Dokter mengatakan kalau dengan terapi yang teratur, Alexa akan kembali berjalan dengan baik.
Joana juga sering menginap di rumah ini. Giani senang melihat ada sesuatu diantara Aldo dan Joana. Walaupun keduanya berusaha menyembunyikannya, namun Giani dapat melihat kalau keduanya saling menutupi perasaan.
"Bibi, papa sudah ke Jakarta?"
"Iya. Tadi pagi. Eca masih tidur. Soalnya papa berangkatnya jam 4 pagi."
Alexa tersenyum. Dari sinar matanya, ia terlihat tak sabar menunggu sesuatu yang akan datang.
Kemarin, oma Sinta meneleponnya. Mengatakan tentang kedatangannya. Namun Alexa harus merahasiakannya pada papa dan bibinya. Supaya menjadi kejutan.
"Ada apa senyum-senyum?"
Alexa menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Kata tante bule, kita harus selalu tersenyum supaya hati jadi senang."
Tangan Giani membelai pipi Alexa yang sudah kembali cabi. Rambut di kepalanya pun sudah tumbuh.
"Eca, bibi ke dalam dulu ya? Eca masih mau duduk di luar?"
"Iya. Eca mau main game dari tablet. Bibi masuk aja. Nanti kalau Eca sudah mengantuk, Eca akan panggil bibi."
Giani mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah. Di New York ini, Aldo menyewa salah satu rumah yang letaknya agak dipinggiran kota. Udaranya sejuk karena banyaknya pepohonan. Rumah ini bertingkat dua dan memiliki 4 buah kamar. 2 kamar di atas, dan dua lagi di lantai bawah. Walaupun rumah ini tak sebesar dengan rumah mereka di Jakarta namun Giani sangat suka dengan model rumahnya yang klasik. Di depan rumah, ada sebuah pondok kecil. Di sinilah sekarang Alexa duduk sambil bermain game. Ia ingin menunggu kedatangan omanya bersama paman Jero. Menurut oma, mereka akan tiba pukul 1siang waktu New York.
Sambil bermain game, mata Alexa terus memandang ke arah gerbang. Pagar rumah ini hanyalah pagar mini. Alexa dapat leluasa melihat ke luar rumah.
Bosan bermain game, Alexa menatap jam yang ada di tabletnya. Sudah jam 2 lewat dan omanya belum juga datang. Saat ia akan menekan tombol merah di dekat meja, tiba-tiba ia melihat sebuah taxi berhenti dan turunlah 2 orang yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Alexa ingin berteriak namun omanya memberi isyarat agar Alexa diam.
Jero mendorong 2 koper sambil mengikuti langkah mama Sinta memasuki halaman rumah.
"Cucu kesayangan oma...!" Sinta memeluk cucunya dengan perasaan bahagia.
"Oma, Eca kangen."
"Oma juga sangat kangen."
Setelah Sinta melepaskan pelukannya, gantian Jero yang memeluk Alexa. "Hallo cantik!"
"Eca nggak cantik lagi. Rambut Eca sudah nggak ada." Alexa mengungkapkan kesedihannya.
"Siapa bilang Eca nggak cantik. Eca tetap cantik dengan atau tanpa rambut." Ujar Jero membuat Alexa kembali tersenyum.
"Mana bibimu?" Tanya oma.
"Bibi ada di dalam. Mungkin sedang memasak atau buat kue bersama pelayan." Jawab Alexa.
"Ayo kita ke dalam!" ajak oma.
Oma langsung mendorong kursi roda Alexa sementara Jero kembali menarik koper.
Mereka memasuki pintu depan yang memang dibiarkan Giani terbuka agar bisa mendengar suara Alexa.
"Bibi....!" Panggil Alexa.
__ADS_1
Giani yang memang sedang membuat kue dengan 2 orang pelayan, segera mencuci tangannya. Ia mencari Alexa di ruang tamu.
Mata Giani langsung terbelalak melihat siapa yang datang. Jantungnya bahkan hampir berhenti berdetak, melihat siapa yang berdiri di belakang mama Sinta.
"Kejutan......!" Teriak Alexa lantang.
Giani tersenyum. Bersikap tenang seperti seperti biasanya.
"Mama Sinta?" Perempuan itu mendekati Sinta. Mengambil tangan kanan mama Sinta dan menciumnya lembut. Setelah itu ia memeluknya.
"Senang melihat mama yang sudah kembali seperti dulu." Kata Giani.
"Mama juga senang melihat kalian."
Saat pelukan mereka terurai. Giani menatap Jero. Mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Jero ingin sekali menarik Giani dan memeluknya erat. Hatinya begitu senang seperti mau melompat keluar saat melihat Giani. Namun, saat mendapati sikap Giani biasa saja, Jero pun menahan dirinya. Ia hanya membalas uluran tangan Giani. " Hallo, Gi!" Sapa Jero. Ia dapat merasakan lembutnya tangan Giani yang dulu selalu digenggamnya erat.
"Hallo, kak!" Giani buru-buru menarik tangannya. Ia menatap mama Sinta. "Apakah mama dan kak Jero sudah makan?"
"Sudah. Tapi mama rindu kopi buatanmu. Benarkan, Jer?" Mama menatap Jero.
"Iya. Sangat kangen dengan kopi buatanmu, Gi!" Sahut Jero jujur. Giani hanya tersenyum.
"Duduklah. Akan ku buatkan kopi dan mengambil kue. Kebetulan aku sedang membuat kue. Mudah-mudahan sudah ada yang masak." Giani bergegas ke dapur. Ia segera membuat kopi sambil menetralkan perasaannya sendiri. Tangannya bergetar saat jari mereka bersentuhan. Hati Giani tersentuh melihat tubuh Jero terlihat agak kurus. Apakah dia tersiksa berpisah dariku? Ataukah dia sesang banyak pekerjaan?
Giani membawa kopi dan kue ke ruang tamu. Ia menyajikannya di atas meja.
"Ah, harum kopinya sangat menggoda." Ujar mama Sinta. Dia sebenarnya bukanlah peminat kopi. Namun setelah Jero menikah dengan Giani dan ia membuka cafe kopinya, Sinta pun jadi menyukai minum kopi.
Mereka pun kopi bersama. Sesekali ada percakapan yang terjadi antara Sinta dan Giani sedangkan Jero asyik bercakap dengan Alexa.
"Eca, hati-hati!" Kata Sinta. Ia khawatir dengan kaki Alexa.
"Kalau naik tangga, Eca lebih suka sendiri. Kata dokter, Eca harus sering jalan supaya kakinya kuat."
"Paman gendong saja?" Jero menawarkan diri.
"Nggak paman. Eca mau sendiri." Alexa duduk kembali dan menjalankan kursi rodanya sampai di dekat tangga.
"Oma, kita bobo sore bersama, yuk! Oma pasti capek kan?"
Sinta mengangguk. Ia menatap Giani. "Gi, mama dan Jero menginap di sini ya? Nggak mau mama menginap di hotel. Maunya di sini bersama kalian."
"Boleh, ma. Nanti Giani siapkan kamarnya. Mama tidur di kamar Giani saja. Kak Jero di kamar tamu. Biar nanti Giani tidur dengan Alexa." Ujar Giani.
"Ok. Mama mau menemani Alexa, ya? Kalian berbincang saja." Kata Mama Sinta lalu segera melangkah menaiki tangga bersama Alexa.
Saat tubuh mama Sinta dan Alexa menghilang di ujung tangga, Giani dan Jero terlihat sangat kaku. Keduanya diam beberapa saat sampai akhirnya Jero berbicara.
"Aku selalu merindukanmu, Gi. Sangat rindu sampai aku kadang tak bisa tidur karena merindukanmu."
Giani tahu Jero tak bohong. Ada lingkar hitam di mata Jero.
"Aku juga sering tak napsu makan. Selalu saja merindukan masakan buatanmu. Jika rindu kopi buatanmu, aku selalu ke cafemu. Walaupun tetap saja kopi di sana tak seenak buatanmu." Kata Jero sambil terus memandang Giani. Yang ditatap terlihat biasa saja.
"Mengapa kakak mempersulit proses perceraiannya? Bukankah kakak sudah berjanji untuk bercerai denganku?" Tanya Giani setelah beberapa saat bungkam.
__ADS_1
Jero menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Maaf kalau kali ini aku ingkar janji. Aku tak mau berpisah denganmu, Gi. Dulu aku sepakat untuk berpisah denganmu sebelum aku menyadari bahwa aku sangat mencintaimu. Setelah aku menyadarinya, aku pun ingat dengan janji pernikahan kita. Kita hanya bisa diceraikan oleh maut."
"Kak, bukankah kesepakatan kita sebelum menikah adalah berpisah setelah 1 tahun? Aku bahkan sudah setuju dengan menambah waktu 1 bulan." Giani berkata tanpa berani menatap wajah Jero. Tatapan mata Jero sangat menusuk hatinya. Hanya sesekali saja ia menoleh ke arah Jero lalu kembali menoleh ke tempat lain.
"Gi, kau yang mengajarkan aku untuk menyadari bahwa perbuatanku bersama Finly adalah dosa yang besar. Kau juga mengajarkan padaku untuk semakin dekat dengan Tuhan. Imanku kembali bertumbuh bersamamu, Gi. Kebersamaan kita selama satu tahun lebih membuat aku percaya bahwa semua ini adalah rancangan Tuhan untuk membuat aku menjadi manusia yang lebih baik lagi. Gi, kita memang mengawali pernikahan ini dengan sebuah perjanjian. Namun salahkah aku, jika aku ingin mempertahankannya karena aku tahu kalau sebenarnya ikatan pernikahan itu kudus dan suci?"
Deg!
Jantung Giani berdetak 2 kali lebih cepat mendengar perkataan Jero. Ia tahu apa yang Jero katakan memang sebuah kebenaran. Pernikahan adalah ikatan suci dan kudus. Namun, ia tak bisa bertahan dengan ikatannya bersama Jero karena menjaga perasaan kakaknya. Giani sendiri belum juga mengerti bagaimana perasaannya pada Jero.
"Pengacara Fadly mengatakan kalau proses perceraian kita pasti akan terjadi."
"Mungkin. Namun pengacaraku mengatakan kalau pengadilan bisa saja tak mengabulkannya. Aku tak akan menyerah, Gi. Kau adalah hidupku."
Giani langsung berdiri. "Aku akan meminta pelayan menyiapkan kamar kakak."
Jero menatap Giani yang berjalan meninggalkannya. Hati Jero sakit melihat betapa dinginnya Giani padanya. Namun Jero tak akan menyerah. Selama 1 minggu di sini ia akan berusaha memperjuangkan pernikahannya bersama Giani.
**********
Saat makan malam, Jero terlihat sangat menikmati makanannya. Bukan karena suasana hatinya yang bahagia, tapi juga karena masakan buatan Giani yang sangat disukainya.
"Eca mau bobo dengan oma di kamar Eca. Bibi bobo aja dengan paman Jero." Kata Alexa saat ia sudah selesai meminum obatnya.
"Ok. Oma juga masih kangen dengan Alexa." Kata Sinta sambil mengerlingkan matanya. Sebenarnya sebelum tidur sore, keduanya sudah buat kesepakatan untuk membuat Jero dan Giani dekat.
"*Paman Jero sama bibi Giani kayaknya lagi marahan. Jadi Eca bobo dengan oma saja. Beri mereka kesempatan berduaan ya?" Kata Mama Sinta.
"Oke oma. Kita buat mereka baikkan lagi*."
Alexa tersenyum mengingat percakapannya dengan omanya tadi sore. Makanya, setelah makan malam, keduanya pun kembali naik ke lantai dua.
Giani tak bisa menolak keinginan mama Sinta. Ia mengerti kalau mama Sinta dan Alexa saling melepas rindu. Ia juga tak mungkin tidur di kamar kakaknya karena Giani sangat menghormati prifasi kakaknya.
Namun, jika ia tidur di kamarnya sendiri, itu berarti dia akan tidur bersebelahan kamar dengan Jero. Entah apa yang Giani rasakan. Kulit tubuhnya agak merinding membayangkan mereka akan tidur bersebelahan kamar.
Setelah mama Sinta dan Alexa naik ke atas, Giani menuju ke dapur untuk mencuci piring. 2 pelayan yang bekerja di rumah ini hanya datang jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore.
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jero.
"Aku bisa sendiri, kak. Lagi pula di sini ada mesin pencuci piringnya." Kata Giani yang sementara memasukan gelas dan piring ke dalam mesin pencuci.
Jero tak memperdulikan ucapan Giani. Ia melakukan tugas yang lain. Membersihkan meja makan dan mengepel lantai.
"Kak, istirahat saja." Kata Giani.
"Sudah hampir selesai, kok." Kata Jero yang sementara mengepel lantai.
"Kalau begitu biar aku saja." Giani mendekat dan hendak mengambil alat untuk mengepel lantai itu. Lantai yang masih basah justru membuat Giani terpeleset.
"Gi....!" Jero dengan cepat menangkap tubuh Giani sebelum ia jatuh ke lantai yang basah. Tubuh mereka menjadi dekat. Hembusan napas keduanya menyentuh kulit wajah masing-masing. Jero tersenyum. Ada dorongan dalam hatinya untuk mencium Giani.
Berhasilkah???
Beri kan pendapat kalian ya?
__ADS_1
Ayo...yang minta lanjut dan up cepat, sudah nge-vote belum????