Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Aldo vs Jero


__ADS_3

Mata Giani menatap lelaki tampan yang sudah terbaring di sampingnya. Alis yang tebal yang terbentuk rapih, bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir yang sedikit tebal. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan rambut coklat. Jeronimo, sempurna dari segi fisik. Mungkin itulah sebabnya Finly dan perempuan lainnya begitu tergila-gila padanya. Belum lagi keahliannya di atas ranjang. Giani sendiri hampir tak bisa menolak setiap kali Jero menyentuhnya. Lelaki itu bukan hanya mencari kepuasannya sendiri saat bercinta. Ia harus memastikan kalau wanitanya juga mengalami hal yang sama.


Malam ini Jero sama sekali tak menyentuh Giani. Ia hanya memeluknya dengan erat dan meminta Giani untuk menemaninya tidur. Mungkin karena pengaruh sedikit mabuk, Jero langsung tertidur saat mereka masuk ke kamar.


Duduk di tepi tempat tidur, sambil menatap wajah bule di depannya membuat Giani tersenyum. Jero yang dulunya pendiam dan sedikit cuek, kini sudah berubah menjadi lelaki yang banyak bicara dan sedikit cengeng. Jero kini gampang terharu, apalagi mengenai perasaannya pada Giani.


Jika Jero akan pulang ke Jakarta, apakah aku akan merindukannya? Apakah aku akan menangis saat memikirkannya seperti ketika aku berada dalam pesawat? Haruskah kami bercerai? Tapi, kak Aldo akan sakit hati setiap kali melihat Jero. Bukankah seharusnya aku tak memikirkan Jero lagi? Dia sudah bebas dari Finly. Dia juga sudah banyak berubah. Mama Sinta mengatakan kalau Jero sudah menjadi semakin dekat dengan Tuhan.


Giani perlahan berdiri. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh Jero. Setelah itu, ia meninggalkan kamar Jero dan menuju ke kamarnya. Giani ingin tidur walaupun ia sendiri merasa kalau rasa kantuk itu tak juga datang.


**********


Pagi harinya, Giani kembali sibuk menyiapkan sarapan untuk orang rumah. 2 orang pelayan yang biasa bekerja di sini, kemarin pamit untuk tidak masuk karena kerabat mereka ada yang meninggal.


Saat sarapan sudah Giani sajikan di atas meja, ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 pagi. Giani pun berniat untuk membangunkan Alexa dan mama Sinta. Namun, bunyi pintu depan yang terbuka membuat Giani menoleh dengan kaget.


"Kak Aldo?" Giani terkejut melihat kakaknya sudah pulang. Bukankah Aldo mengatakan akan lama di Jakarta?


Aldo masuk dengan wajah yang terlihat datar. "Mana Alexa?"


Baru saja Giani akan menjawab, dari atas tangga terdengar ada orang yang memanggilnya..


"Papa?"


Alexa terlihat senang. Ia memegang pinggiran tangga dan turun dengan agak cepat.


"Hati-hati Eca!" seru mama Sinta yang berjalan di belakangnya.


"Anakku!" Aldo langsung memeluk Putrinya dengan perasaan rindu.


"Papa kok sudah pulang. Katanya lama di Jakarta." Ujar Alexa saat papanya sudah melepaskan pelukannya.


"Papa kangen Eca."


"Eca juga kangen papa. Eh, papa di sini ramai. Ada oma, ada om Jero. Kami jalan-jalan diantar tante bule." Kata Alexa antusias.


Aldo menatap Giani. Hal inilah yang membuat Aldo pulang cepat. Ketika papa Denny mengatakan kalau mama Sinta ke Amerika ditemani Jero.


"Aldo!" Mama Sinta mendekat. Aldo mengambil tangan kanan mama Sinta dan menciumnya sebagai tanda hormat pada mantan mertuanya itu.


"Apa kabar, ma?" Sapa Aldo.


"Baik, nak. Mama kangen sekali dengan Alexa. Ingin tahu bagaimana keadaannya. Papa nggak bisa menemani mama ke sini. Jadilah mama mengajak Jero." Kata Sinta menjelaskan. Ia dapat melihat wajah mantan menantunya itu terlihat kurang bersahabat.


"Mana Jero?" Tanya Aldo.


"Mungkin masih di kamarnya." Jawab Giani lalu mulai menyiapkan alat makan.


Mama Sinta menuju ke kamar Jero untuk membangunkan anaknya.


Melihat mama Sinta pergi dan Alexa yang asyik menonton film kartun, Aldo mendekati adiknya. "Siapa yang mengijinkan Jero tinggal di sini? Dia kan bisa tinggal di hotel?"

__ADS_1


"Mama Sinta yang meminta. Aku mana berani menolaknya?"


"Apakah dia bertindak kurangajar padamu?"


Giani menatap kakaknya. "Tidak, kak."


"Kakak harap kau tidak lagi dekat dengannya, Gi. Kau harus mendapatkan pria lain yang lebih baik darinya."


"Aku tahu, kak." Giani pura-pura menyiapkan meja makan pada hal hatinya sangat berdebar. Bagaimana kalau Aldo tahu kalau mereka sudah tidur bersama?


Tak lama kemudian, Jero dan mama Sinta keluar dari kamar. Jero dapat merasakan tatapan mata Aldo yang kurang suka melihatnya. Namun Jero berusaha bersikap biasa. Ia tak mau kalau Alexa sampai tahu apa yang terjadi diantara mereka.


"Apa kabar?" Sapa Jero pada Aldo.


"Baik." Jawab Aldo dingin tanpa menatap Jero.


"Eca sayang, ayo kita sarapan!" Ajak Giani. Alexa meninggalkan ruang TV dan segera duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya.


Suasana makan pagi terasa agak kaku. Hanya sesekali terdengar suara Alexa yang menayakan tentang keadaan Jakarta pada papanya.


Selesai sarapan, Aldo menatap Alexa. "Eca main dengan oma dulu, ya. Ada sesuatu yang mau papa omongin dengan bibi dan paman Jero."


"Ok."


Mama Sinta langsung mengajak Alexa ke halaman belakang.


Giani membereskan meja makan, lalu duduk kembali. Aldo duduk di kepala meja sedangkan Giani di sisi kanan dan Aldo di sisi kiri.


Aldo melepaskan ponselnya dan menatap Jero dan Giani secara bergantian.


"Jero, aku harap supaya kamu tak menganggu adikku lagi. Sejujurnya, sejak awal aku tak suka dengan pernikahan kalian. Namun Giani bersikeras untuk menikahimu agar kau tidak lagi menganggu Finly. Dulu memang aku dibutakan dengan cintaku pada Finly. Kini, setelah aku tahu kalau anakku baik-baik saja tanpa mamanya, aku memutuskan untuk lepas dari Finly. Sekarang, adikku juga ingin lepas darimu, jadi lebih baik saat kau pulang nanti, segera tanda tangani berkas perceraian itu. Biarkan aku dan adikku bahagia tanpa ada kalian dalam hidup kami." Kata Aldo tegas.


"Aku mencintai Giani. Dan aku tak ingin berpisah darinya." Kata Jero sambil menatap Giani dan Aldo secara bergantian.


"Jangan bicara cinta di hadapanku.!" Aldo menampar meja yang ada di depannya. Rahangnya mengeras menahan marah. "Kau hanya mencintai Finly. Silahkan! Sekarang kalian bebas untuk melakukan apa saja. Aku dan Giani akan menjalani kehidupan baru di sini."


"Aku mencintai Giani. Aku sungguh mencintainya. Andai waktu dapat diulang, aku pasti tak akan pernah membiarkan diriku berhubungan dengan Finly. Aku minta maaf padamu, Aldo. Maafkan aku yang sudah menyakitimu. Menikah dengan Giani membuat hidupku banyak berubah. Aku bahkan tak pernah lagi berhubungan dengan Finly semenjak kami menikah. Aku mohon padamu, Aldo. Berikan aku kesempatan untuk membahagiakan Giani." Kata Jero dengan wajah penuh permohonan.


Aldo menatap adiknya. "Giani, apakah kamu mencintai laki-laki ini? Kalau kamu memang mencintainya, silahkan pergi dengannya dan lupakan aku dan Alexa."


"Aku tidak mencintai kak Jero. Bukankah sejak awal pernikahan aku sudah mengatakannya pada kak Aldo? Tujuanku menikahinya, hanyalah untuk memisahkan dia dengan kak Finly." Ujar Giani walaupun ada sesuatu yang sangat sesak memenuhi dadanya.


"Kau dengar itu kan, Jero? Adikku tidak mencintaimu. Jadi sebaiknya kau pergi. Menginaplah di hotel. Aku tak suka melihatmu ada di rumahku. Mama Sinta kuijinkan tinggal di sini. Namun tidak denganmu." Aldo berdiri. Ia segera menaiki tangga, menuju ke kamarnya.


Jero menatap Giani. "Gi, mengapa aku merasa kalau kau punya perasaan untukku?"


Giani berdiri. "Sebaiknya kau bereskan pakaianmu, kak. Aku akan bicara dengan Mama Sinta."


"Gi...!" Jero menahan tangan Giani.


"Kak, aku menyayangi kak Aldo. Dan aku akan melakukan apa saja untuk membuat kakakku bahagia."

__ADS_1


"Termasuk mengorbankan perasaanmu?"


"Jika memang itu diperlukan." Giani menarik tangannya dari genggaman Jero. Ia segera menuju ke taman belakang.


Jero merasakan hatinya kembali sakit. Ia sungguh tak mau melepaskan Giani.


**********


Mama Sinta memilih untuk ikut dengan Jero ke hotel. Alexa menangis saat omanya harus pergi.


"Kenapa oma nggak menginap di sini lagi? Kan oma pulangnya nanti lusa."


Mama Sinta mengusap kepala cucunya. "Besok, oma akan datang ke sini lagi. Kita akan menghabiskan waktu bersama. Paman Jero ada pekerjaan penting. Makanya oma harus memaninya.


Alexa memeluk omanya dengan sangat erat. "Janji ya kalau oma akan datang besok."


"Iya. Oma kan nggak pernah bohong pada Eca." Sinta berusaha menahan air matanya. Ia tak ingin membuat Alexa sedih. Ia bisa saja tinggal di sini sampai besok. Namun mama Sinta tak mau membuat Jero kesepian.


Setelah berpamitan, Mama Sinta dan Jero diantar oleh taxi yang sudah dipesan Giani.


Alexa masih terlihat sedih. Ia duduk dengan wajah yang ditekuk.


"Eca, kok cemberut?" Tanya Aldo.


"Eca sedih. Kenapa oma nggak tinggak di sini?"


"Besok kan oma datang lagi ke sini. Sekarang Eca makan dulu ya?" bujuk Giani. Ia mendorong kursi roda Alexa dan masuk ke rumah.


***********


Besoknya mama Sinta datang sendiri. Ia akan menghabiskan waktu bersama Alexa. Aldo memilih tak ke kantor. Ia tak mau kalau Jero tiba-tiba datang dan mencari kesenpatan untuk bertemu Giani.


Mama Sinta coba berpikir keras. Tiba-tiba ia ingat dengan Joana. Untunglah mama Sinta menyimpan nomor telepon Joana. Mama Sinta menjelaskan kalau dia dan Jero sudah tak tinggal lagi di rumah Jero.


"Joana, maukah kau menolong aku?"


"Apa yang bisa ku bantu?"


"Jero ingin ketemu Giani. Namun Aldo tak mengijinkan Giani keluar. Giani juga sepertinya tak mau ketemu Jero."


"Baiklah. Aku akan berusaha. Tante tenang saja." Kata Joana lalu mematikan hubungan telepon


Berhasilkah Joana mempertemukan Jero dan Giani?


Apa yang kalian inginkan saat mereka bertemu?


Jangan lupa komentarnya ya......


like dan Vote


.

__ADS_1


__ADS_2