
Ketika urusan di Bali selesai, Giani pun pulang bersama Jeronimo. Suaminya itu tetap menunggu Giani sekalipun Frangki sudah berulang kali meneleponnya dan memintanya untuk cepat pulang karena pekerjaan yang sudah menumpuk di Jakarta. Jero sama sekali tak memberikan kesempatan pada Beryl untuk bisa berduaan dengan Giani. Beryl pun dibuat jengkel olehnya.
Saat mereka sudah tiba di Jakarta, Jeronimo memang harus lembur. Ia bahkan sudah dua malam ini pulang jam 11 malam. Tubuhnya sangat lelah dan ia terkadang langsung tidur tanpa mengganti pakaiannya.
Giani pun sibuk dengan restorannya yang semakin banyak saja pelanggannya. Pesanan antarpun semakin meningkat. Giani bahkan harus menambah 2 motor untuk memenuhi layanan pesan antar.
Beryl harus kembali ke London karena pekerjaannya di sana sudah menunggu. Untunglah kedua restoran itu semuanya terhubung dengan aplikasi yang dibuat oleh Beryl. Giani dan Beryl bukan hanya bisa mengontrol kerja para pegawai melalui CCTV tapi juga omset penjualan dan bahan-bahan yang digunakan.
3 minggu sudah mereka kembali ke Jakarta.
Hari ini Giani merasa kalau kepalanya agak sakit. Mungkin kerena kemarin ia agak kehujanan karena ikut mengantar pesanan dengan motor.
"Dina, aku mau pulang cepat ya. Hari ini kepalaku agak sakit." Kata Giani.
"Wajah nyonya memang kelihatan pucat. Apakah perlu aku antar?"
"Naik taxi saja." Kata Giani berusaha tersenyum sambil berdiri. Tak lama kemudian, taxi yang dipesannya sudah datang. Giani pun langsung pulang.
**********
Jeronimo kaget saat tiba di rumah, lampu taman dan lampu teras tidak menyala.
Apakah Giani belum pulang? Pada hal sekarang sudah jam setengah sembilan malam.
Jero membuka pintu depan. Lampu di ruang tamupun tak menyala.
Ia melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya namun Giani tak ada di sana..
Apakah benar kalau Giani belum pulang?
Jero melepaskan bajunya dan segera masuk ke kamar mandi. Si palo agak sakit karena sudah 3 hari ini Jero pulang malam. Ia tak tega membangunkan Giani yang sudah sangat lelap.
Selesai mandi dan mengenakan baju rumah, Jero turun lagi ke bawah. Ia pun menelepon Giani. Jero tahu kalau Beryl tak ada di Jakarta. Apakah mungkin Giani pergi dengan Joana?
Ponsel Giani aktif namun tak diangkatnya. Jero jadi kesal sendiri. Tiba-tiba ia mendengar ada suara dari kamar tempat Giani biasa tidur. Jero bergegas ke sana. Saat ia membuka pintu, Di lihatnya Giani keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan sangat lemah. Jalannya saja seperti mau jatuh. Giani bahkan masih menggunakan baju yang dipakainya tadi pagi saat Jero mengantarnya ke restoran.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Jero sambil mendekati Giani dan langsung memegang tangannya. Kata 'sayang' atau 'baby' memang sudah biasa diucapkan oleh Jero semenjak mereka di Bali. Giani tahu kalau kata itu diucapkan Jero untuk membuat Beryl kesal. Namun ternyata sudah terbiasa diucapkan Jero.
"Aku demam, dan perutku juga agak sakit." Giani langsung menyandarkan kepalanya di lengan Jero karena memang ia merasa pusing.
"Apakah kamu kelelahan, baby? Ayo berbaring dulu." Jero langsung mengangkat tubuh Giani, dan menggendongnya. Ia berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuh Giani secara perlahan-lahan.
Saat tangannya memegang dahi Giani, Jero terkejut merasakan panasnya. Jero ingat kalau di kotak obat ada termometer digital. Ia segera keluar kamar dan menuju ke kotak obat yang letaknya menempel di salah satu dinding ruang makan. Setelah menemukan barang yang dicarinya, Jero kembali ke kamar.
"Sayang, aku mau mengukur suhu badanmu." Jero membuka 2 kancing kemeja Giani yang paling atas lalu memasukan termometer itu diketiak Giani.
Setelah terdengar bunyi 'bip', Jero langsung mengambilnya lagi.
"Sayang, panasmu 38,7. Kita ke dokter saja ya?"
"Aku nggak kuat jalan, kak. Rasanya pusing sekali." jawab Giani lemah sambil terus menutup matanya.
"Mana nomor telepon dokter Edy?"
"Tadi aku sudah menelepon dokter Edy. Namun beliau ada di luar kota. Dokter sudah mengirimkan resep obat di pesan wa ku. Namun aku nggak tahu siapa yang harus pergi menebusnya."
"Kenapa nggak telepon aku dari tadi?" Tanya Jero kesal karena Giani tak memanggilnya.
"Aku nggak mau menganggu kakak. Aku tahu kakak sibuk."
"Mana ponselmu?" Tanya Jero.
__ADS_1
"Di atas nakas, kak."
Jero mengambil ponsel Giani. "Apa passwordnya?"
"Tanggal lahirmu, kak."
Hati Jero bergetar. Entah mengapa ia senang saat tahu kalau kode membuka ponsel Giani adalah tanggal lahirnya.
"Aku pergi menebus obat ya?"
Giani hanya mengangguk.
Sampai di depan pintu kamar Jero membalikan badannya.
"Apakah bisa aku tinggalkan sendiri?"
Giani hanya mengangguk lagi.
Jero pun segera pergi. Ia kesal karena rumah mereka tak punya pelayan. Giani hanya meminta bantuan pelayan yang ada di rumah mama Sinta jika dia butuh orang untuk membersihkan rumah dan mengurus taman. Alasan Giani tak mau punya pelayan yang tinggal di dalam rumah karena kebiasaan Jero yang memang selalu mengajak Giani bercinta di sembarangan tempat. Namun kali ini Jero ingin ada pelayan. Ia tahu Giani pasti kelelahan. Tugasnya membersihkan rumah, memasak ditambah lagi harus mengontrol restorannya.
Untunglah apotik 24 jam tersedia di depan jalan masuk perumahan. Setelah mendapatkan obat yang Giani butuhkan, Jero bergegas kembali ke rumah.
"Minum obatnya, sayang." Jero sudah menyiapkan 3 macam obat yang sudah diresepkan dokter Edy.
"Aku masih pusing, kak."
"Aku bantu untuk bangun."
Giani bangun setelah Jero memeluknya dan membantunya untuk duduk sambil bersandar pada kepala ranjang. Akhirnya Giani bisa meminum obatnya.
"Tidurlah lagi." Jero kembali membaringkan tubuh Giani. Ia melihat kalau Giani kurang nyaman dengan baju yang dikenakannya. Celana jeans ketat dan kemeja. Jero membuka lemari Giani. Sebagian baju Giani memang masih ada di kamar ini. Setelah menemukan sepasang piyama, Jero segera membantu Giani mengganti bajunya.
1 jam kemudian.....
*********
Rasanya Jero masih ingin tidur namun sayup-sayup ia mendengar kalau ada orang yang muntah di kamar mandi.
Jero bergegas untuk bangun walaupun sebenarnya kepalanya masih pusing. Ia mengetuk pintu kamar mandi.
"Gi....sayang....kamu kenapa?"
Tak ada sahutan hanya terdengar suara air kloset yang disiram. Jero akan mengetuk lagi namun Giani telah membuka pintu. Wajah perempuan itu terlihat pucat dan ada keringat di dahinya.
"Kenapa, Gi?" Jero segera melingkarkan tangannya dipinggang Giani lalu memapah istrinya itu kembali ke tempat tidur.
"Perutku rasanya mules. Berputar-putar dan rasanya mual. Akhirnya aku muntah." Kata Giani lalu ia naik ke atas tempat tidur. Tak membaringkan tubuhnya hanya bersandar di kepala ranjang.
"Kenapa tak tidur lagi?" Tanya Jero.
"Kalau berbaring pusingnya justru bertambah. Enaknya duduk seperti ini." Kata Giani sambil memejamkan matanya.
Jero meraba dahi Giani. Panasnya sudah turun.
"Kak, tolong telepon kak Aldo. Minta bibi Lumi ke sini dengan pak Leo. Bilang juga kalau bibi harus menginap di sini untuk menjagaku."
"Aku bisa menjagamu."
"Kakak kan sibuk. Kata kak Beryl, kakak akan ada pertemuan dengan pihak perusahaan dari Singapura dan Malaysia hari ini."
Jero jadi jengkel mendengarnya. Ngapain juga si Beryl memberitahukan jadwal kerjanya. Ia kan ada di London.
__ADS_1
"Aku bisa meminta meetingnya di tunda."
Giani membuka matanya. "Nggak perlu, kak. Cepat telepon saja bi Lumi. Lagi pula aku sangat lapar. Ingin makan bubur telur buatan bi Lumi. Dari kemarin siang aku belum makan."
"Ya ampun, Gi. Kok nggak kasih tahu aku sih? Kamu tuh ya mau cari mati sendiri." Jero jadi marah. Ia segera meraih ponsel Giani dan melangkah keluar kamar. Ia menelepon Aldo.
"Ada apa, Ni?" Sapa Aldo dari seberang.
"Ini dengan Jero. Giani lagi nggak enak badan. Jadi dia minta bi Lumi dan pak Leo untuk ada di sini selama beberapa hari."
"Sakit apa adikku?"
"Semalam demam. Pagi ini sudah mual dan muntah-muntah."
"Oh...baiklah. Aku akan meminta bi Lumi ke sana sekarang juga."
"Eh, boleh bicara dengan bi Lumi sebentar?"
"Ok"
Tak lama kemudian...
"Hallo tuan Jero!" terdengar suara bi Lumi.
"Bi, bagaimana cara membuat bubur telur? Giani ingin makan itu. Kalau tunggu bibi datang kan paling nyampenya hampir 1 jam. Jadi aku mau membuatnya saja."
Bi Lumi pun memberitahukan cara membuat bubur telur. Jero yang memang sangat encer otaknya langsung menyimpan itu di memori kepalanya.
"Makasi, bi." Ia langsung menuju ke dapur.
*********
Bibi Lumi menyerahkan ponsel Aldo.
"Ngomong apa si Jero?" Tanya Aldo. Mereka memang sedang sarapan.
"Non Giani ingin makan bubur telur katanya. Menunggu bibi sampai ke sana agak lama. Jadi minta resepnya. Tuan Jero kayaknya mau membuat bubur itu sendiri."
"Oh...." Aldo hanya mengangguk.
Wajah Finly langsung kesal. Sejak kapan Jeronimo mau masak? Kenapa juga Jero harus repot menyediakannya? Pesan lewat online kan bisa?
"Tuan, apa mungkin non Giani hamil?" tanya Bibi Lumi.
"Hamil?" Aldo mengerutkan dahinya. "Bisa saja dia hamil."
Bi Lumi tersenyum melihat wajah kesal Finly.
"Bibi siap-siap dulu, tuan!"
"Ya. Bibi boleh tinggal di sana berapa lamapun yang Giani inginkan." Ujar Aldo.
"Makasi, tuan." Bi Lumi bergegas ke kamarnya.
Aldo menatap istrinya. "Kenapa wajahmu kayak orang yang kesal seperti itu?"
"Siapa yang kesal?" Finly langsung berdiri. Ia meninggalkan meja makan dan berjalan ke luar rumah. Di taman, ia berusaha menghubungi Jero namun lelaki itu tak mengangkat ponselnya.
Wah.....Finly kesal banget....
Terus gimana keadaan si Giani ya....???
__ADS_1
Sebelum lanjut, like, komen dan vote ya??