Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Hati yang Bicara


__ADS_3

Maaf ya para pembaca...


emak terlambat up, soalnya lagi bawa anak emak berobat ke kota. Selamat membaca...


**************


Sekuat apapun Giani berusaha menghindari ciuman dan belaian Jero pada tubuhnya, perempuan itu tak bisa memungkiri reaksi tubuhnya yang seakan mendamba dan menginginkan Jero pula.


Tangan Giani yang awalnya berada di depan dadanya dan berusaha menahan tubuh Jero yang berada di atasnya, perlahan melemah. Entah bagaimana akhirnya tangan Giani melingkar dipunggung Jero. Bibirnya yang tadinya tetup rapat, kini dibukanya perlahan memberikan akses bagi Jero untuk memperdalam ciuman mereka.


Sisi gelap Jero yang ia katakan tadi membuat Giani tahu, menolak Jero saat ia sedang dalam mode cemburu berat tak akan ada gunanya. Giani pasti tak akan kuat melawan kekuatan Jero yang tinggi tinggi dan kekar itu.


Ciuman Jero yang tadinya agak kasar dan sedikit memaksa, kini berubah lembut saat ia merasakan Giani membalas ciumannya. Hati Jero menjadi senang, saat Giani justru membelai punggungnya dengan lembut.


Keduanya tak dapat berbohong kalau mereka saling merindukan. Jero mulai membuka baju Giani dan membuka bajunya sendiri. Ia tahu ini bukan gayanya, bercinta dengan pemanasan yang tak lama. Namun ia tak ingin Giani akhirnya berubah pikiran. Makanya, Jero langsung pada permainan inti. Ia tak ingin Palo tersiksa lebih lama.


**********


Tak ada kata yang terucap ketika semuanya selesai. Pergulatan panas yang baru saja terjadi menunjukan kalau keduanya memang saling mendambakan.


Saat napas keduanya kembali stabil, Jero meraih tangan Giani. Namun secara cepat Giani melepaskan pegangan tangan Jero. Bayangan wajah Aldo langsung bermain di pelupuk matanya.


"Ada apa, Gi?"


Giani bangun dan mengenakan pakaiannya secara cepat. "Aku harap ini yang terakhir, kak." Katanya sebelum meninggalkan kamar.


"Gi....!" Jero buru-buru mengenakan bajunya lagi dan menyusul Giani yang sudah masuk ke kamarnya. Namun Giani sudah menutup pintu kamarnya.


"Giani.....!" Jero mengetuk pintu kamar Giani.


"Aku mengantuk, kak." Kata Giani dari balik pintu.


"Aku masih ingin bicara, sayang."


"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Dan jangan panggil aku sayang."


Jero tersenyum. Ia rindu mendengar suara Giani yang membentaknya.


"Aku duduk di sini, sayang. Aku berharap kalau kamu akan keluar. Palo belum puas nih. Kita kan sudah dua bulan lebih pisahnya. Masakan hanya satu ronde." Jero duduk di lantai sambil bersandar pada pintu kamar Giani.


"Aku nggak mau lagi, kak. Kita kan sudah mau pisah."


"Tapi kan belum benar-benar pisah. Jadi, boleh dong aku berharap lebih."


Tanpa Jero tahu, Giani pun sedang duduk sambil bersandar pada pintu kamarnya.


"Kamu nyebelin, kak. Nggak pegang janji. Aku benci!"


Jero kembali tersenyum. "Aku lebih baik dibenci olehmu dari pada dimurkai Tuhan."


"Maksud kamu apa sih?"


"Aku kan janji di hadapan Tuhan untuk setia padamu sampai maut memisahkan. Makanya sekarang aku ingin mempertahankan rumah tangga kita."


Hening.....


"Gi, kamu belum tidur kan?" Tanya Jero sambil mengetuk pintu sebanyak 2 kali.


"Kak, aku nggak bisa bersamamu. Aku sangat menyayangi kakakku. Kak Aldo, selalu sakit hati melihatmu."


Jero menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku tak bisa merubah masa lalu, Gi. Andai waktu dapat diulang, aku pasti tak akan jatuh cinta pada Finly. Namun dibalik semua ini, aku bersyukur. Bukankah karena hubunganku dengan Finly, kau akhirnya mau menikah denganku? Kau adalah cahaya hidupku. Aku bersyukur menikah denganmu. Aku mohon, jangan pergi dariku. Aku akan bicara dengan Aldo dan meminta maaf sekaligus memohon restunya untuk membiarkan kita bersama. Kau mau kan, Gi?"


Hening.......


"Gi, plase, jawab pertanyaan aku."

__ADS_1


"Aku tak mencintaimu." Terdengar suara Giani yang tegas dan penuh keyakinan.


"Jangan bohong, Gi. Kamu bukan tipe gadis yang hanya mencari kepuasan raga saat kita bercinta. Aku tahu ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Aku tahu kau merindukan aku walaupun tak sebesar dengan rasa rindu yang kupunyai untukmu. Berikan kita waktu untuk bersama kembali, aku yakin perasaanmu padaku akan menjadi sama seperti perasaanku padamu."


Hening.......


Jero masih bersandar di pintu kamar. Ia enggan untuk kembali ke kamarnya.


30 menit kemudian, pintu kamar Giani terbuka. Jero langsung berdiri dan menatap Giani.


"Gi, kamu mau memberi aku kesempatan kan?" Tanya jero dengan mata yang berbinar.


"Aku haus.....!" Giani mendorong tubuh Jero yang menghalangi langkahnya. Ia menuju ke dapur dan Jero mengikutinya.


"Gi.....!"


Giani mengeluarkan botol air mineral dari dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Sebelum Giani mengambil gelas yang sudah berisi air itu, Jero buru-buru mengambilnya dan meminum sampai habis air yang ada dalam gelas itu.


"Kak......!" Giani melotot.


Jero tersenyum. "Apa?"


Giani berdecak kesal. Ia meminum air itu langsung dari botolnya. Setelah itu, ia meletakan botol minuman itu di atas meja dan berjalan kembali ke kamarnya. Jero terus mengikuti Giani.


"Kak....!" Langkah Giani terhenti di depan pintu. Ia berbalik dan menatap Jero. "Kak, ayo kembali ke kamarmu."


"Gi, masih kangen!" Rengek Jero dengan wajah yang dibuat agak memelas.


"Nggak lucu, kak. Kamu kan sudah tua, tak seharusnya berwajah imut kayak abg."


"Aku sudah tua?"


"Nggak nyadar juga? Usiamu sebentar lagi 30 tahun. Itu sudah tua!" Ujar Giani lalu dengan cepat ia masuk ke kamarnya saat melihat Jero yang sedikit linglung sambil memegang wajahnya.


"Gi....!" Jero mengetuk pintu kamar Giani.


Jero akan marah namun ia kemudian tersenyum. Bule tua ini akan menaklukanmu sayang....


Jero kembali ke kamarnya sambil tersenyum. Ia yakin kalau Giani juga memiliki rasa cinta untuknnya. Jero menyentuh palonya. "Sabar ya palo. Kita masih punya 4 hari untuk menaklukan Giani dan nido. Kamu mau tahu apa itu nido? Nido itu dalam bahasa Spanyol artinya sarang, sayang. Baguskan? Palo masuk ke nidonya." Jero jadi tertawa sendiri.


*************


Keesokan paginya, Giani bangun agak kesiangan. Semalam ia tak bisa tidur nyenyak. Entah kenapa wajahnya tak bisa berhenti tersenyum mengingat kejadian semalam. Di samping hubungan intim yang kembali terjadi diantara mereka, juga percakapan yang terjadi dibalik pintu kamar.


"Selamat pagi....!" Sapa Giani saat melihat mama Sinta dan Alexa yang sudah duduk di meja makan. Alexa menikmati susunya dan mama Sinta menikmati secangkir teh.


"Bibi kok kesiangan sih bangunnya?" Tanya Alexa.


"Iya. Maaf ya...mau sarapan apa?" Tanya Giani sambil mengikat rambutnya dan memakai celemek.


"Para pelayan sementara menyiapkan." Kata Mama Sinta.


Giani akan melangkah ke dapur saat Alexa memanggilnya. "Bibi.....!"


"Ya sayang...!"


"Leher bibi kenapa? Kok ada merahnya? Di gigit nyamuk atau semut?" Tanya Alexa dengan polosnya.


"Di gigit paman Jero!" Ujar Jero yang tiba-tiba saja sudah berada di ruang makan.


Giani jadi gugup. Apalagi mama Sinta yang menatapnya sambil tersenyum.


"Kok paman Jero menggigit leher bibi, sih?"


"Soalnya bibi nakal. Di suruh membuat kopi nggak mau. Makanya paman gigit saja." Jawab Jero dengan santainya lalu duduk di depan Alexa dan mamanya.

__ADS_1


"Jangan digigit, paman. Kan sakit.Terus kenapa wajah paman sepertinya memakai bedak?" Alexa jadi penasaran.


"Ini karena paman dalam perawatan. Soalnya ada yang bilang paman ini sebagai bule tua." Kata Jero sambil menatap Giani.


"Bule tua?" Alexa tertawa. "Paman kan memang sudah tua."


"Benarkah?" Jero jadi khawatir sambil memegang wajahnya.


"Iya. Kan kalau sudah menikah namanya orang yang sudah tua. Kalau masih muda kayak Eca ini."


Semua tertawa mendengar perkataan Alexa. Giani pun segera menuju ke dapur dan membantu para maid dalam membuat sarapan.


Selesai sarapan pagi bersama, mereka pun kembali jalan-jalan diantar oleh Joana. Kota New York sangat besar dan banyak tempat untuk diukunjungi. Mama Sinta nampak sangat bersemangat bersama Alexa. Maklumlah, terakhir mengunjungi kota ini 15 tahun yang lalu. Makanya mama Sinta sangat antusias.


"Gi, kata Alexa lehermu digigit Jero ya?" Tanya Joana membuat wajah Giani menjadi merah. Ia tak menyangka percakapan tadi pagi di meja makan diceritakan Alexa pada Joana.


"Kami....." Giani yang sedang memilih sayuran untuk bahan makan malam mereka terlihat menjadi gugup.


"Kalian bercinta ya?"


Giani akhirnya mengangguk. "Jero jadi cemburu saat aku mengatakan kalau Beryl melamarku."


Joana tertawa. "Jero bahaya ya kalau sedang cemburu. Jadi berapa ronde."


"Satu."


"Kok hanya satu?"


Giani melotot ke arah Joana karena suara temannya itu terlalu kuat. Ia takut Jero yang ada di ujung lorong akan mendengarnya.


"Kenapa hanya satu? Kamu nggak kasihan ya pada Jero. Kalian sudah lama tak bersama."


"Seharusnya dia tak mendapatkan kesempatan itu. Aku janji kalau ini yang terakhir."


Joana tertawa. "Yang terakhir? Memangnya Jero setuju?"


"Dia harua setuju." Ujar Giani lalu mendorong keranjang belanjaannya. Ia tak mau lagi bicara tentang Jero.


********


Selesai makan malam, Mama Sinta dan Alexa menikmati salad buatan Giani, setelah itu, mereka langsung naik ke atas karena Alexa merasa capek.


Giani yang masih membersihkan dapur mempercepat pekerjaannya. Tadi memang dia melihat Jero sudah masuk ke kamarnya. Namun ia takut nanti Jero keluar lagi.


Setelah dapur bersih dan rapih, Giani segera masuk ke dalam kamarnya. Ia hampir saja berteriak kaget melihat Jero yang sudah duduk di atas ranjangnya sambil memainkan ponselnya.


"Kak, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Giani kesal.


"Palo mau masuk ke nidonya."


"Nido?"


"Nido itu artinya sarang."


"Kak.....!" Teriak Giani sambil melempar Jero dengan bantal.


"Kenapa!"


"Kamu mesum!" Pekik Giani.


"Bukan aku tapi palo. Tanya aja sama nido kalau dia nggak mau."


"Aku mau mandi, saat aku keluar dari kamar mandi, kamu harus pergi!" Giani segera melangkah ke kamar mandi dengan wajah kesal. Ia merasa perlu berendam untuk mendinginkan kepalanya yang tiba-tiba saja terasa panas.


Malam ini, berhasilkah Palo menemui nido?

__ADS_1


Mana komentarnya????


Jangan lupa like dan vote nya ya???


__ADS_2