
Ini foto si kembar Dawson yang akan mengguncangkan putri bungsu keluarga Thomson.
Anggita merasa ada yang aneh dengan dirinya. Seharusnya ia tak terbuai dengan rayuan maut Beryl yang menyebabkan dia mau menyerahkan dirinya pada pria bule itu. Tapi, siapa yang bisa menahan keinginan hati? Wajah bule Beryl setampan wajah bule Jero. Bedanya adalah Beryl sangat pintar merayu.
Beryl adalah pria pertama dalam hidupnya. Anggita sudah mencari tahu siapa Beryl..Dia adalah play boy kelas kakap yang masih sangat digilai oleh banyak wanita. Namun entah mengapa Anggita percaya saja dengan apa yang dikatakannya. Ia bahkan merasa jatuh cinta pada Beryl. Pria itu sangat romantis. Kelewat romantis menurut Anggita. Sehari, ia bisa sampai 4 atau 5 kali mengirimi Anggita bunga. Belum lagi pesannya yang setiap 2 jam selalu ada.
Setelah 3 bulan mereka bersama, Anggita merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya. Ia jadi suka makan sesuatu yang asam dan pedas. Ia juga sering merasa mual dan muntah. Anggita pun tahu ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam rahimnya.
"Aku hamil!" Ujar Anggita saat ia datang ke apartemen Beryl sore ini.
Beryl yang baru saja meletakan minuman dingin untuk kekasihnya itu langsung terkejut. Ia duduk di samping Anggita. "Ha-hamil? Tapi bagaimana bisa?"
"Bisalah, Beryl. Hampir setiap malam kamu memasukiku."
"Aku tahu. Tapi kan kamu bilang ini bukan masa suburmu."
"Memangnya setiap hari aku sedang dalam masa tak subur? Aku kan sudah memperingati kamu untuk menggunakan pengaman. Kamu bilang aman."
Beryl mengacak rambutnya kasar. Ia sungguh bingung dengan apa yang terjadi. Hamil? Memiliki anak, berati harus menikah? Bukankah selama ini hanya Giani yang membuatnya ingin menikah. Tapi dengan Anggita?
"Baiklah kalau memang kau tak mau bertanggungjawab, aku pikir sebaiknya kita jangan meneruskan hubungan ini. Aku permisi!" Anggita meraih tasnya dan berdiri.
"Gita, duduk dulu!' Beryl menahan tangannya. Anggita melepaskan tangannya dari genggaman Beryl.
"Aku tahu kalau kamu adalah tipe lelaki yang tak mau terlibat dengan pernikahan. Makanya aku tak akan memaksamu. Jangan minta aku untuk mengugurkan kandungan ini, karena aku takut sama Tuhan. Akan lebih mudah bagiku jika kamu tak pernah menemui aku lagi." Anggita langsung pergi meninggalkan Beryl sendiri. Hatinya sakit karena Beryl tak menerima kehamilannya ini. Namun ia juga tak menyalahkan Beryl sepenuhnya karena ia sejak awal ia sudah tahu bahwa Beryl memang lelaki play boy. Dirinya saja yang terlalu mudah dirayu.
Sementara Beryl setelah Anggita meninggalkan apartemennya hanya bisa termenung. Ia pikir kalau Anggita akan memaksanya, akan menangis sambil memohon-mohon padanya agar Beryl mau bertanggungjawab. Perempuan itu hanya pergi begitu saja dan justru itu yang membuat Beryl sesak.
Anggita sangat cantik. Akan mudah baginya untuk menemukan pria pengganti diriku. Bagaimana jika ada pria yang mau bertanggungjawab? Apakah anakku akan memanggil orang lain dengan sebutan daddy? Tidak! Aku tak mau anakku memanggil orang lain dengan sebutan itu. Dan dia akan memanggilku apa? Uncle atau om? Aku bisa gila jika itu terjadi. Apakah pria itu juga akan menyentuh Anggita? Tidak! Aku adalah pria pertama dalam hidupnya. Pria pertama yang menyentuhnya. Aku tak akan rela jika ada pria lain dalam hidupnya.
Beryl berdiri. Ia meraih ponselnya. "Hallo Frangky, temani gue ya?"
"Buat apa?"
"Memilih cincin untuk melamar Anggita."
"Apa? Loe beneran mau nikah? Bukankah loe pernah bilang hanya Giani yang bisa membuat loe ke pelaminan?"
"Dan gue harus membunuh pria bucin itu jika ingin mendapatkan Giani. Sekarang, Tuhan sudah menunjukan siapa wanita yang tepat buat gue."
"Siapa?"
"Anggita."
"Kenapa loe yakin kalau Anggita adalah jodoh loe?"
"Karena dari semua perempuan yang pernah tidur dengan gue, hanya Anggita yang bisa membuat gue melupakan pengaman. Makanya Anggita hamil."
Frangky tertawa. "Baiklah. Gue senang karena loe dan Jero akhirnya mau menikah juga. Kita ketemu di mall biasa ya?"
"Ok."
__ADS_1
Malamnya, Beryl menemui Anggita di rumahnya. Perempuan itu terlihat biasa saja saat menyambut Beryl. Tak ada mata sembab yang menunjukan kalau gadis itu menangis seharian. Sial! Apakah Anggita secepat itu sudah melupakanku?
"Ada apa?" Tanya Anggita dingin.
Beryl berlutut di depan Anggita. "Menikahlah denganku!" Ia membuka kotak cincin berwarna putih gading itu.
Anggita terkejut. Ia tak menyangka kalau Beryl akan memintanya menikah.
"Kamu nggak salah minun obat kan?"
"Come on, Git. Aku sudah seharian dipenuhi dengan ketakutan kalau anakku akan memanggil orang lain dengan sebutan daddy. Aku juga hampir gila membayangkan kau akan disentuh oleh pria lain. Aku baru menyadari kalau aku sungguh jatuh cinta padamu, Anggita."
Anggita tersenyum. Matanya sudah berkaca-kaca. "Beryl, apakah kamu sungguh-sungguh mau menikah denganku? Aku takut jika beberapa tahun kemudian kau akan bosan padaku. Aku menginginkan pernikahan sekali seumur hidup."
Beryl meraih tangan Anggita dan memasukan cincin itu. "Ingatkan aku jika nanti aku mulai tak setia padamu. Bantu aku ke jalan yang benar jika aku mulai melupakan janji suci pernikahan kita. Anggita, kaulah wanita yang kuinginkan dalam hidupku."
"Beryl, aku belum menyatakan setuju, kenapa kau sudah memasukan cincinnya di jari manis ku?" Tanya Anggita dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Aku yakin kau tak akan menolak bule ganteng ini."
Anggita langsung memeluk Beryl dengan hati yang bahagia. "Aku mau Beryl!"
Beryl mencium puncak kepala Anggita sambil tangannya sudah mengusap perut rata wanita yang kini sudah menjadi tunangannya. "Kita akan membesarkan dia bersama, sayang."
"Iya."
"Oh ya, mamamu di mana? Aku ingin membicarakan ini dengannya. Kita harus menikah cepat sebelum perutmu membesar."
"Mamaku sedang ke luar kota. Mungkin 2 hari lagi baru pulang."
"Dasar bule mesum!" Anggita memukul dada Beryl dengan gemas. Keduanya tertawa bersama.
(Ada yang minta kisah Beryl dan Anggita, segitu aja ya?)
********
Jeronimo yang sedang berada di ruang kerjanya segera berlari ke arah kamar bayi yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidur mereka saat mendengar suara tangisan bayinya. Jero tak ingin Giani terbangun karena istrinya itu baru saja tidur setelah menyusui kedua anak kembar mereka. Ternyata Gabrian yang menangis. "Duh, kakak kenapa bangun lagi?" Jero mengangkat anaknya itu dan langsung menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Sementara tangannya yang satu memperbaiki letak selimut Gabriel.
"Apakah kamu masih lapar sayang? Daddy buatkan susu saja ya? Jangan ganggu bunda. Bunda baru saja tidur." Jero membawa Gabrian keluar kamar. Semenjak Giani melahirkan, kamar mereka memang sudah pindah ke lantai bawah karena Jero tak ingin Giani naik turun tangga disaat luka bekas operasinya belum sembuh.
Jero menuju ke dapur dan membuat susu untuk putranya itu. Ia tersenyum saat melihat betapa lahapnya Gabrian meminum susunya. Mama Sinta masih tinggal bersama mereka. Namun hari ini mama Sinta sedang menemani papa Denny ke pesta pernikahan keponakan mereka.
Setelah Gabrian menghabiskan susunya, ia langsung tertidur. Jero kembali membawanya ke kamar dan meletakkannya di box bayi. Baru saja Jero akan pergi, gantian Gabriel yang menangis.
"Haus lagi kah? Daddy buatkan susu ya. Jangan berisik nanti bunda dan kakak akan bangun."
Begitulah kegiatan Jero hampir setiap malam. Makanya terkadang ia memilih bekerja dari rumah saja. Ke kantor pun kadang terlambat karena membantu mama Sinta memandikan si kembar.
"Bee, kenapa tidur di sini?" Tanya Giani saat menemukan suaminya itu tertidur di kamar si kembar dengan kasur yang di letakan di atas lantai.
"Malam ini si kembar agak cengeng." ujar Jero sambil membuka matanya dan perlahan ia duduk sambil menguap.
"Kenapa nggak bangunkan aku?"
__ADS_1
"Aku tahu kamu capek sayang, sayang."
"Ya sudah. Tidurlah di kamar kita. Biar aku saja yang menjaga si kembar. Sekarang sudah jam 6 pagi."
"Aku harus mandi dan pergi ke kantor. Pagi ini ada rapat penting."
"Bee, aku pijat sebentar? Kamu terlihat sangat lelah."
"Boleh."
Giani mengambil minyak zaitun dari kamar mereka. Kamar bayi dan kamar mereka memang ada pintu penghubung. Setelah itu ia mulai memijat punggung suaminya.
"Tanganmu masih seperti dulu, sayang. Selalu membuat kulitku menjadi panas."
"Bee, aku sedang memijat mu, nggak ada maksud menggoda."
Jero membalikan tubuhnya. "Mel, ini sudah hampir 8 minggu. Apakah aku belum boleh menyentuhmu?"
Giani tersenyum melihat kilatan mata Jero yang sepertinya sangat mendamba akan dirinya. "Sudah boleh, Bee."
Wajah Jero langsung tersenyum. "Benarkah? Boleh pagi ini?"
"Sudah nggak tahan ya?"
"Palo sepertinya sudah sangat menderita. Kangen banget sama Nido."
"Tapi kamu kan ada rapat pagi ini, Bee."
"15 menit saja, Mel."
"Memangnya kamu bisa hanya 15 menit? Biasanya juga paling cepat 1 jam."
"Kali ini harus belajar cepat. Takutnya si kembar bangun." Kata Jero dan langsung mendorong Giani di atas kasur.
"Bee, kok di sini? Nanti si kembar bangun."
"Makanya jangan ribut!" Ujar Jero dan langsung mencium bibir Giani yang sudah sangat dirindukannya.
Permintaan Jero yang meminta supaya Giani jangan ribut justru dilanggar oleh Jero sendiri. Ia berteriak saat mencapai puncak kenikmatan. Persamaan dengan itu Gabrian dan Gabriel pun menangis.
"Bee, mereka bangun kan." Giani buru-buru mendorong tubuh suaminya. Ia memakai gaun tidurnya secara cepat dan langsung menenangkan kedua bayinya.
"Brian....Briel....kalian sungguh kejam sama daddy. Kalian kan tahu kalau daddy nggak bisa kalau hanya satu ronde!"
Giani menatap tajam pada suaminya. "Ayo mandi. Ingat ada rapat."
"Mel, malam nanti di sambung ya?"
Giani hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Jero yang tidak pernah berubah walaupun sudah memiliki anak.
*********
Episode mendatang adalah kisah Finly dan Juan. Juga Joana dan Aldo....
__ADS_1
Beberapa episode lagi akan tamat guys....