Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Palo & Nido


__ADS_3

Giani sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi. Ia ingin supaya Jero sudah tak ada saat ia keluar nanti.


Berendam dengan sabun aroma terapi, membuat pikiran Giani menjadi tenang. Ia hampir saja tertidur karena begitu enaknya berendam. Akhirnya, ia keluar dari bathtup, membasuh tubuhnya di atas shower. Setelah itu ia mengeringkan badannya dan mengenakan setelah piyama lengan panjang dan celana panjang.


Saat Giani membuka pintu kamar, dilihatnya Jero sudah tertidur di atas ranjangnya sambil memeluk guling.


"Kak....bangun...! Ayo pindah ke kamarmu!" Giani menggoyangkan bahu Jero dengan sedikit kesal.


"Ngantuk, Gi!" Kata Jero dengan suara yang agak parau tanpa membuka matanya.


"Kak, ayo pindah! Aku nggak mau kita tidur sekamar lagi." Giani menarik tangan Jero.


Pria bule itu membuka matanya. "Gi, aku 3 hari lagi akan pulang. Biarkan aku di sini. Please...!"


"Aku nggak mau, kak. Ayo sana pergi."


"Palo kangen nido, Gi."


"Apaan sih palo...nido." Giani duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah cemberut.


"Gi, semalam kita kan hanya satu ronde saja. Apakah malam ini nggak bisa satu ronde lagi?" Tanya Jero. Ia bangun dan mendekati Giani. Duduk di samping Giani sambil menatap wanita yang dicintainya itu dengan intens.


Giani menatap Jero namun baru beberapa saat ia langsung memalingkan wajahnya. "Kenapa lihat aku seperti itu?"


"Suka aja."


"Kita akan bercerai, kak. Seharusnya kita nggak boleh tidur di kamar yang sama."


"Siapa bilang aku mau bercerai denganmu?"


"Kak!" Giani mencubit pinggang Jero dengan kesal.


"Duh, sakit sayang."


"Jangan panggil aku, sayang."


"Kamu kan masih istri aku." Kata Jero sambil mencolek pinggang Giani.


"Kakak...!" Giani protes atas tindakan Jero. Ia menggeser tubuhnya agak menjauh.


"Masa hanya kamu aja yang bisa menyentuh tubuh aku. Aku juga boleh, dong."


Giani memutar bola matanya kesal. Jero justru tertawa. Ia senang melihat wajah kesal Giani. Ingin rasanya ia menarik istrinya itu untuk ada dalam pelukannya.


"Gi, palo beneran masih kangen, nih!" Kata Jero sambil mengambil tangan Giani dan meletakannya di atas juniornya.


"Kak...!" Giani berteriak kaget. Ia langsung berdiri. "Kalau kakak nggak mau keluar, aku tidur di kamar kak Aldo saja." Kata Giani lalu melangkah menuju ke pintu kamar. Namun saat ia menggerakan gagang pintu ke bawah dan menariknya, pintu itu tak mau terbuka.


Giani menoleh ke arah Jero. "Kak, dimana kuncinya?"


"Sudah ku telan."


"Kak, berhenti bercanda. Mana kuncinya. Aku haus!" Giani mencari alasan.


"Aku sudah mengambil air putih. Tuh!" Tunjuk Jero ke arah meja. Di sana sudah tersedia gelas dan ceret air yang sudah terisi penuh dengan air putih.


"Buka pintunya! Aku mau tidur di kamar kak Aldo!" rengek Giani.


"Kuncinya sudah aku telan, Gi!"


"Jangan bodohi aku, kak."


"Beneran, Gi."


Giani melangkah ke arah sofa dan duduk di sana sambil menekuk wajahnya. Kedua tangannya dilipat di depan dada.


Jero mendekati Giani. Ia berjongkok di hadapan Giani. "Gi, aku hanya ingin bersamamu beberapa hari ini. Siapa tahu saja hatimu akan berubah dan menarik kembali berkas perceraian kita. Sumpah demi apapun, aku nggak mau bercerai denganmu, Gi." Jero memegang tangan Giani. Perempuan itu berusaha menarik tangannya namun Jero tak mau melepaskannya.


"Sakit, kak."


"Makanya diam. Tangannya nggak usah dilepaskan."

__ADS_1


Giani menurut. Ia merasa percuma saja melepaskan tangannya. Jero akan menahannya sekeras mungkin dan Giani tak mau tangannya sakit.


"Gi, malam ini palo masuk ke nido ya? Boleh nggak?"


"Nido nggak mau!"


"Kok nggak mau, Gi. Kita kan belum tanya sama nido."


"Tetap jawabannya tidak!"


"Ayo kita buktikan!"


"Buktikan bagaimana?"


"Palo harus bertemu langsung dengan nido. Untuk membuktikan apakah nido mau atau tak mau."


"Sudahlah, kak." Giani menepis tangan Jero yang mulai membelai pahanya dengan gerakan menggoda.


"Ayolah, Gi! Kalau memang nido nggak siap, palo nggak akan masuk, kok. Aku janji!" kata Jero sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya.


"Janjimu susah dipercaya, kak."


"Kali ini aku akan menepatinya, Gi!"


Giani menahan tangan Jero yang kini sedang membuka kancing piyamanya. "Kak, aku akan mengijinkan palo melihat nido untuk membuktikan apakah nido siap atau tidak. Namun kau harus berjanji kalau ini benar-benar yang terakhir. Aku tak akan membiarkanmu menyentuh aku lagi."


"Persyaratannya sulit, Gi."


"Ya sudah!" Giani berdiri. Jero la langsung berdiri dan memeluknya dari belakang. "Baiklah. Aku setuju kalau malam ini yang terakhir. Tapi kalau boleh 5 ronde."


"Nggak. 2 ronde."


"Please, Gi. Inikan yang terakhir. 4 ronde saja."


"3. Dan tidak ada penawaran lagi."


"Tapi...!"


"3 atau tidak sama sekali."


"Tapi kita lihat apakah nido mau."


"Nido pasti mau."


"Percaya diri sekali!" Giani mencibir.


"Palo yakin nido pasti mau." Kata Jero dan langsung membalikan badan Giani. Saat .erka berhadapan, Jero langsung mencium bibir Giani dengan sangat lembut.


30 menit kemudian....


"Gi, palo masuk ya...!" Kata Jero yang kini sudah siap di hadapan nido.


Giani tak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya. Ada rasa ingin sekaligus kesal karena tubuhnya sangat menikmati sentuhan Jero.


"Hallo Nido, palo comes inside!" bisik Jero dan langsung menyatuhkan tubuh mereka. Giani tak bisa menahan desahannya. Tubuhnya tak bisa berbohong. Ia sangat menikmati penyatuan mereka. Ia tak mampu menolak pesona Jero dan palonya. Sungguh yang Giani rasakan bukan hanya kepuasan raga. Tapi juga ketenangan jiwa.


4 jam kemudian.......


Waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Giani langsung membalikan tubuhnya ketika penyatuan mereka yang terakhir selesai. Perempuan itu kelelahan di gempur selama 3 ronde oleh Jero. Walaupun Jero kelihatan masih sanggup bertahan sampai pagi, namun Giani konsisten dengan perjanjian mereka. 3 ronde dan semuanya selesai.


"Buka pintu kamarnya, kak. Aku harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Sebaiknya kakak kembali ke kamar sebelah." Kata Giani lalu menarik selimut dan menutup tubuh polosnya.


Jero turun dari atas ranjang. Ia mengenakan pakaiannya kembali. Di tatapnya punggung Giani yang nampak bergerak teratur menunjukan tidurnya yang nyenyak.


Tidurlah, Gi. Semoga besok hatimu semakin terbuka untukku. Jangan berpisah, Gi. Aku dan kamu saling mencintai. Palo dan nido adalah pasangan yang cocok.


Jero mencium kepala Giani sebelum meninggalkan kamar itu.


*********


Selesai sarapan pagi bersama, Alexa mengajak paman Jero dan omanya untuk duduk di pondok yang ada di depan rumah. Giani pun menyiapkan minuman ringan dan kue untuk mereka bertiga.

__ADS_1


"Oma pulangnya 2 hari lagi ya?" Tanya Alexa.


"Iya sayang. Kasihan paman Jero. Pekerjaannya pasti sudah menumpuk di sana." Ujar Sinta sambil membelai kepala cucunya.


"Oma, mama Finly baik-baik saja kan?"


Giani tersentuh hatinya mendengar Alexa menanyakan Finly.


"Iya sayang. Mama Finly baik-baik saja. Eca kangen nggak?" Sinta juga senang karena Giani menayakan Finly.


"Sedikit." Ujar Alexa.


"Kalau mama Finly datang lagi, Eca mau nggak bicara dengan mama?" Tanya Sinta penasaran.


"Eca masih takut kalau mama mau memaksa Eca untuk pergi lagi." Alexa terlihat sedih.


"Mama nggak akan memaksa Eca untuk pergi lagi. Mama hanya ingin melihat Eca saja. Boleh nggak?" Tanya Sinta lagi.


Alexa mengangguk. "Boleh."


Sinta memeluk cucunya. Ia tahu Finly selama ini tak menjadi ibu yang baik bagi Alexa. Namun bagaimanapun, Finly tetaplah ibu kandung Alexa.


Jero menatap Alexa dengan perasaan bersalah. Andai saja dulu ia tak selingkuh dengan Finly. Mungkin Finly dan Aldo masih tetap bersama. Alexa tak akan kehilangan kasih sayang Finly. Ah, andai waktu dapat diputar kembali, Jero pasti tak akan egois dengan perasaannya oada Finly.


"Paman Jero, nanti kalau tidak sibuk, datang lagi ke sini ya?" Kata Alexa sambil menyentuh tangan Jero membuat pria itu sedikit tersentak dari lamunannya.


"Iya sayang." Kata Jero sambil lalu membelai pipi Alexa.


"Paman, maaf ya kalau bibi Giani harus tinggal di sini lebih lama. Soalnya Eca kesepian kalau bibi nggak ada. Tante bule kan kerja, papa kerja. Jadi hanya bibi yang bisa menemani Eca."


Jero tersenyum. Ia tak menyangka kalau Alexa sangat dewasa pemikirannya. "Nggak apa-apa. Nanti kalau Eca sudah sembuh, kita dapat kumpul lagi di Jakarta."


"Kata papa, kita akan tinggal lama di sini. Sebentar lagi guru pribadi Eca akan datang. Jadi mungkin bibi akan lama tinggal di sini." Kata Alexa membuat Jero terkejut. Jika Aldo memilih untuk tinggal di Amerika, apakah itu pertanda kalau dia dan Giani tak akan pernah bersama lagi?


*********


Saat Giani memasuki kamarnya, ia segera mengunci pintu kamarnya dan menuju ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan membasuh wajahnya.


Selesai aktivitas membersihkan diri, Giani pun mengenakan gaun tidurnya dan segera naik ke atas tempat tidur.


Saat makan malam tadi, Jero memang tak ada. Kata mama Sinta, Sejak sore Jero keluar untuk menemui temannya.


Giani memang merasakan ada yang berubah dengan Jero. Sejak percakapan mereka tadi pagi di pondok itu, wajah Jero terlihat sedih.


Apakah Jero sedih saat mendengar perkataan Alexa yang mengatakan kalau mereka akan tinggal lama di Amerika?


Sudah satu jam lebih sejak Giani membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun ia tak juga tertidur. Perasaannya menjadi gelisah. Giani pun memutuskan untuk bangun dan kekuar kamar. Mungkin dengan minum susu, Giani akan merasa enak dan bisa tertidur.


Ketika Giani sampai di dapur, ia segera menyalahkan lampu dapur. Gadis itu hampir saja berteriak saat menemukan sosok Jero yang sedang duduk di depan meja pantri sambil memegang gelas yang berisi minuman. Di depannya ada sebotol minuman beralkohol yang isinya sudah berkurang setengah.


"Kak....!" Sapa Giani.


Jero turun dari tempat duduk, meletakan gelasnya di atas meja lalu mendekati Giani.


"Giani Fifera....!" Panggilnya lalu memegang dagu Giani dengan tangan kanannya. Bau minuman langsung tercium saat jarak mereka begitu dekat.


"Kak..., aku mau buat susu!"


Sebelum Giani bergerak, tangan kiri Jero sudah melingkar dipinggangnya. "Jika Alexa sudah sembuh, ayo pulang ke Jakarta, Gi. Jangan tinggal di sini. Aku nggak mau berpisah jauh darimu."


Giani merasakan tubuhnya bergetar saat ibu jari Jero menyapu bibir atasnya. Membelai dengan sangat lembut. Menimbulkan senyar aneh disekujur kulit tubuh Giani.


"Kak, jangan seperti ini. Semalamkan kita sudah berjanji."


"Palo nggak akan menjenguk nido walaupun sebenarnya dia ingin. Jadi kamu jangan takut. Aku hanya ingin memelukmu." Kata Jero lalu memeluk Giani dengan erat.


Tubuh Giani menjadi kaku. Hatinya bergetar. Pelukan Jero kali ini membuat Giani ingin menangis. Ada apa dengan denganmu Giani?


Maaf ya atas keterlambatanku up cerita ini.


Tugasku sangat banyak di kantor karena beberapa hari ambil cuti untuk mengurus anakku di kota. Sabtu ini pun harus lembur....

__ADS_1


Moga suka dengan kisah ini ya.....


Episode berikut, Aldo tiba-tiba akan kembali ke Amerika. Bagaimana tanggapan Aldo saat melihat Jero ada di sana?


__ADS_2