Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Dua Garis atau Satu Garis?


__ADS_3

Giani masih bersandar dikepala ranjang sambil memejamkan matanya. Namun ia belum juga tertidur karena perutnya masih tak enak dan rasa mual kembali ia rasakan.


Pintu kamar terbuka. Walaupun dengan mata yang masih tertutup, Giani dapat mencium bau bubur telur. Ia membuka matanya. Di lihatnya Jero yang sedang mendekatinya sambil membawa nampan berisi baskom dan segelas teh hangat.


"Bi Lumi sudah datang?"


Jero menggeleng. "Belum. Aku menelepon bi Lumi untuk menanyakan resepnya. Kalau tunggu bi Lumi datang, kau bisa mati kelaparan."


Jero duduk dipinggiran tempat tidur. "Aku nggak tahu apakah rasanya enak atau tidak, tapi menurutku sih enak."


"Mari kucoba."


"Aku suapi!"


"Kak, aku bisa sendiri."


"Aku suapin!"


"Baiklah tuan pemaksa!"


Jero hanya terkekeh mendengar Giani memanggilnya tuan pemaksa. Ia pun mulai menyuapi Giani.


"Enak. Walaupun agak asin"


"Garamnya kebanyakan ya?" Jero terlihat kecewa.


"Hanya kelewat dikit aja. Namun masih enak untuk dimakan. Ayo suapi lagi!"


Jero tersenyum. Ia jadi semangat kembali menyuapi Giani.


"Habis. Mau lagi?" Tanya Jero saat suapan terakhir masuk ke mulut Giani.


"Sudah, kak. Perutku jadi hangat. Rasa mualnya sedikit berkurang. Terima kasih."


Cup.


Mata Jero membulat saat Giani mengecup pipinya. Ada rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya. Perasaan senang yang datang karena merasa dihargai.


"Sama-sama, sayang."


Giani membaringkan tubuhnya. "Aku mau tidur lagi."


"Obatnya diminum dulu, Gi."


"Oh....!" Giani bangun kembali. Jero pun menyiapkan obat yang harus diminum Giani. Setelah Giani meminum obatnya, Jero langsung membawa peralatan makan yang kotor, mencucinya. Sementara ia mencuci, terdengar bunyi bel pintu pagar. Jero tahu kalau Bi Lumi dan suaminya yang datang. Ia memang tadi sudah menelepon. Kalau ada tamu yang bernama Bi Lumi dan pak Leo, langsung dipersilahkan masuk.


Dari dalam rumah, Jero menekan remote control dan pagar pun terbuka sendiri.


"Selamat pagi tuan!" Sapa bi Lumi dan paman Leo bersamaan.


"Selamat pagi. Giani sedang tidur. Dia ada di kamar bawah. Saya mau mandi dulu ya. Ada rapat di kantor." Kata Jero lalu segera melangkah menaiki tangga.


Bi Lumi dan paman Leo pun langsung mengeluarkan belanjaan untuk masak. Tadi sebelum ke sini, mereka mampir dulu ke pasar. Bi Lumi tahu persis, jika sakit, Giani paling suka dibuatkan sup kacang merah pakai tulang sapi.


Tak lama kemudian, Jero turun dengan pakaian yang rapih. Ia membuka kamar Giani dan melihat jika istrinya itu masih terlelap. Jero pun menemui bi Lumi di dapur. Paman Leo sementara membersihkan halaman.


"Bi, aku ke kantor dulu. Sesekali periksa Giani, ya? Aku khawatir kalau panasnya naik lagi."


"Baik, tuan. Apakah non Giani sudah ke dokter?"


"Belum. Namun dokter Edy sudah memberinya resep. Aku sudah menebusnya semalam."


"Eh, tuan kalau pulang nanti, mampir lagi di apotik, ya?"

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Beli tes kehamilan untuk nona."


"Ha?"


"Mual, pusing dan muntah adalah tanda awal orang yang lagi hamil."


Jero hanya mengangguk. Ia pun segera pergi sambil membawa tas kerjanya.


********


"Loe kenapa?" Tanya Frangki saat melihat Jero yang sudah membereskan barang-barangnya saat rapat selesai.


"Gue harus pulang. Giani sakit."


"Cie..cie....segitu khawatirnya."


"kasihan, kan. Di rumah tak ada orang." Jero terpaksa berbohong.


"Ya sudah. Pergi sana!"


Jero tersenyum. Ia meraih kunci mobilnya dan bermaksud akan pergi namun ia kembali berdiri di hadapan Frangki.


"Saat bini loe hamil, tanda-tanda apa yang terlihat."


Frangki terbelalak. "Giani hamil ya?"


"Gue belum tahu. Makanya gue akan mampir untuk membeli tespack."


"Waktu itu bini gue pusing. Lalu ia merasa mual dan muntah. Di tambah dengan keinginannya untuk makan makanan tertentu."


"Kok sama ya?"


Jero langsung melangkah meninggalkan ruang kerjanya. Perasaannya jadi tak menentu. Membayangkan ada mahluk kecil yang tumbuh diperut Giani. Mahluk yang adalah sebagian dari dirinya membuat hati Jero bergetar. Benarkah ia bahagia jika anak itu memang ada?


"Jero....!" Finly menghadang langkah Jero saat pria bule itu sudah sampai di halaman parkir.


Jero sangat terkejut karena ia tak menyangka kalau akan ketemu Finly setelah sekian lama mereka tak bertemu bahkan kadang sekali berkomunikasi.


"Finly ada apa?"


Mata Finly sudah berkaca-kaca. "Jadi Giani hamil?"


"Aku belum tahu juga. Belum dites atau diperiksa."


"Kamu keterlaluan!" Finly memukul lengan Jero dengan tangannya. "Katamu kau tidur dengannya secara tak sengaja. Kalau dia sampai hamil, itu artinya kau selalu menggempurnya kan? Apa kau sudah tertarik padanya? Apakah kau sudah jatuh dalam perangkapnya?"


Jero langsung menarik tangan Finly dan mengajak perempuan itu masuk ke dalam mobilnya. Ia tak ingin ada keributan yang akan memancing para kariawan.


Tangis Finly semakin menggila. Jero berusaha membujuknya.


"Tenang dulu, Fin." Jero menahan tangan Finly yang masih saja menghajar tubuhnya dengan sembarangan. Finly memang seperti itu. Suka memberontak jika kemauannya tak terpenuhi.


"Seberapa sering kalian tidur bersama?" Tanya Finly sambil menatap Jero tajam.


"Seminggu sekali. Kadang juga bisa dua kali seminggu." Kata Jero sambil tertunduk. Ia tak ingin Finly tahu kalau sebenarnya hampir setiap malam ia tidur dengan Giani.


"Dasar kamu maniak!" Seru Finly dengan suara keras lalu kembali menghantam tubuh Jero dengan satu pukulan yang keras. Kali ini mengenai wajahnya Jero.


"Ingat Jero. Kamu janji padaku 1 tahun maka hubungan kalian akan selesai. Aku sudah merampungkan berkas pengajuan perceraianku. Itu berarti 3 bulan, 2 minggu lagi maka semuanya selesai." Ujar Finly lalu turun dari mobil Jero.


Damn!!

__ADS_1


Jero memukul stir mobilnya dengan perasaan jengkel. Entah mengapa perasaannya yang begitu senang saat menyadari bahwa kemungkinan besar Giani akan hamil anaknya, kini berganti rasa marah. Apalagi saat mendengar kata 3 bulan, 2 minggu, hati Jero bagaikan teriris sembilu.


**********


Giani tertegun mendengar perkataan bi Lumi. Hamil? Bukankah ia meminum pil anti hamilnya? Namun saat di Bali? Bukankah ia tak meminumnya? Ia yang tak menyankah kalau Jero akan menyusulnya ke sana, memang tak membawa pilnya. Lagi pula ia kan baru selesai datang bulan. Setelah kembali dari Bali, Giani kembali meminum pil itu.


Tangan Giani bergetar mengambil kalender meja yang ada di atas nakas dekat tempat tidur. Ia menghitung tanggal datang bulannya. Kalender yang dipeganh Giani terlepas secara tiba-tiba.


Giani baru menyadari bahwa ia sudah terlambat selama 4 hari. Biasanya haid Giani sangat teratur.


"Bagaimana non?" Tanya bi Lumi yang baru saja memberikan Giani makan siang.


"Aku memang sudah terlambat, bi."


"Ya ampun non. Itu tandanya hamil."


Giani menggeleng. "Tidak, bi. Ini tak boleh terjadi. Aku tak mau mengandung anak Jero. Aku tak mau selamanya terikat pernikahan dengan dia."


"Bagaimana jika non beneran hamil?"


Giani secara refleks memegang perutnya. "Aku tak mungkin membuangnya, bi. Ini juga adalah anakku. Tapi...."


Suara mobil Jero terdengar memasuki garasi. Kamar tempat Giani tidur saat ini memang hanya berbeda dinding dengan garasi.


"Bibi keluar dulu ya..." Bi Lumi segera keluar. Tak lama kemudian Jero masuk.


"Hai sayang....!" Sapanya lembut. Ia mendekati Giani yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Sudah makan?"


Giani mengangguk. Ia berusaha tersenyum walaupun masih bingung dengan keadaan dirinya.


"Sayang, ayo kita coba!" Kata Jero sambil mengeluarkan 3 buah tes kehamilan dari kantong plastik yang dibawahnya.


Giani terkejut. "Kakak ingin punya anak dariku?"


"Mama, Gi. Kau kan tahu kalau mama ingin sekali agar kau bisa hamil." Jero berdalih mengatakan alasan mama Sinta pada hal ia sendiri sangat berharap kalau Giani memang hamil.


"Tes nya besok pagi ya." Kata Giani.


"Memangnya tak boleh sekarang? Aku ingin tahu apakah garisnya ada dua atau satu."


"Urine di pagi hari sangat akurat. Kita tunggu besok saja tesnya."


"Atau kita ke dokter saja!"


"Sudahlah kak. Kita tes aja dulu. Sekarang aku mau tidur dulu." Giani membaringkan tubuhnya membelakangi Jero. Ia pura-pura tidur pada hal pikirannya sedang buntu. Bingung jika ternyata itu benar.


***********


Sepanjang malam, Giani sangat gelisah. Apalagi saat tudur, Jero selalu mengelus perutnya. Ia bahkan tidur saat hari sudah hampir subuh.


paginya....


"Gi, ayo bangun!" Jero menguncang bahu Giani.


Giani membuka matanya. "Ada apa, kak?"


"Ayo kita tes. Dua garis atau satu garis."


Bagaimana hasil tesnya???


Kalau like dan votenya meningkat, aku akan up secepatnya...😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2