Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Pria dari Masa Lalu


__ADS_3

Wajah Juan masih setampan yang dulu. Bahkan di mata Finly, Juan terlihat semakin tampan dengan jambang tipis yang menghiasi wajahnya. Yang berbeda hanyalah potongan rambutnya. Kalau dulu Selalu dipotong cepak, kini dipotong rapih ala cowok korea. Di telinga kanan Juan juga telah terpasang anting-anting yang menambah kesan maconya.


"Apa kabar, Fin? Lama sekali kita tak jumpa?" Juan langsung meraih tangan Finly dan menggengamnya erat.


"Baik!" Jawab Finly berusaha tersenyum manis. Finly baru saja kembali dari Singapura untuk menjalankan pengobatannya di sana selama 1 minggu.


"Kita makan siang, bareng yuk! Atau suamimu akan menjemput?"


"Tidak!"


"Kalau begitu ayo!" Juan dengan penuh semangat mengambil koper yang dipegang oleh Finly.


"Kamu masih seperti dulu!"


Juan menoleh ke arah Finly yang berjalan di sampingnya. "Suka memaksa?"


Finly tersenyum sambil mengangguk. Juan memang seperti itu. Waktu mereka pacaran dulu, Juan selalu memaksakan kehendaknya pada Finly. Boleh dikata, Juan seorang diktator.Apa saja yang sudah diputuskannya, Finly harus taat padanya.


Sebuah mobil mewah sudah menunggu Juan. Mereka pun masuk ke dalam dan sang sopir langsung mengantar Juan dan Finly ke sebuah restoran seperti yang sudah diperintahkan Juan.


"Kamu tak banyak berubah, Fin. Hanya saja kamu agak kurus dan sedikit terlihat pucat. Apakah kamu sakit?" Tanya Juan penuh perhatian. Mereka kini berada di sebuah restoran dan sedang menunggu pesanan datang.


"Aku hanya kelelahan saja."


Juan tersenyum. "Bagaimana kabarmu sekarang? Aku dengar kamu menikah dengan salah satu pengusaha terkenal yang bernama Geraldo Purwanto ya?"


"Kami sudah bercerai."


Juan mengerutkan dahinya. "Kenapa?"


"Aku melalukan kesalahan. Akhirnya kami bercerai. Namun hubungan kami baik-baik saja. Aku punya satu orang putri yang berusia 6 tahun lebih. Sekarang dia tinggal dengan papanya. Dan kamu? Apakah sudah menikah?"


Juan tersenyum kecut. "Aku menikah 2 tahun yang lalu dengan seorang model asal Spanyol. Namun pernikahan kami hanya manis di awalnya saja. Aku menginginkan istri yang selalu akan mendampingiku. Aku juga menginginkan anak-anak dalam rumah tanggaku. Namun Chalse terlalu mementingkan karirnya sebagai seorang model. Ia juga belum menginginkan anak. Kami sering bertengkar karena dia jarang di rumah. Akhirnya kami pun bercerai."


Finly tertawa kecil. "Nasip kita ternyata sama."


Juan menatap gadis yang pernah sangat dicintainya. Saat ini ia bahkan merasakan kalau ia masih mencintai Finly.


"Sebenarnya, 8 tahun yang lalu, aku kembali ke Jakarta untuk mencarimu. Namun kedatanganku sangat terlambat. Di hari aku mencarimu, adalah hari pernikahanmu dengan Geraldo. Sebenarnya aku sedikit kecewa namun aku juga tahu kalau aku yang meninggalkanmu waktu itu. Sekarang kita bertemu lagi secara tak sengaja. Bukankah ini suatu kebetulan yang baik? Kita bahkan sudah sama-sama bercerai."


Finly menatap Juan. "Aku sakit, Juan. Penyakitku ini tak akan mungkin disembuhkan. Aku mengidap kanker darah stadium 4. Kau ingat dulu kan? Aku sering mimisan. Ternyata itu adalah awal aku sudah mengidap penyakit ini."


Juan menatap Finly tak percaya. Bagaimana mungkin Finly yang begitu cantik dan sangat lincah mengidap penyakit yang mematikan ini.


Pesanan mereka akhirnya datang juga. Keduanya makan tanpa banyak bicara. Selesai makan, Juan memaksa untuk mengantar Finly ke apartemennya walaupun perempuan itu menolaknya.


"Terima kasih karena sudah mengantarku." Kata Finly saat mereka sudah tiba di depan pintu apartemennya.


"Fin, bagaimana kalau kita mencoba kembali bersama?" Tanya Juan sambil menahan tangan Finly yang sudah memegang gagang pintu.


Finly menatap Juan. "Jangan sia-sia kan waktumu untuk orang sakit seperti aku. Jangan kasihan melihat keadaanku sekarang."


"Aku tidak kasihan padamu, Fin. Kalau pun memang waktu hidupmu tak lama lagi, ijinkan aku untuk bersama denganmu dan menemanimu sampai kau menutup mata."

__ADS_1


Hati Finly menjadi tersentu mendengarnya. "Terima kasih, Juan. Namun untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati kesendirianku." Finly menarik tangannya dari genggaman Juan. "Selamat siang! Terima kasih sudah mentraktirku makan siang." Finly membuka pintu apartemennya dan segera masuk tanpa menoleh lagi ke arah Juan.


Finly langsung duduk sambil mengingat masa lalunya bersama Juan. Pria pertama dalam hidupnya. Pria yang juga telah merebut kesuciannya. Dulu Finly sangat memujanya. Namun kini Finly tak ingin memikirkan kebahagian dirinya sendiri. Ia ingin berobat dan memiliki waktu yang lebih lama untuk menikmati kebersamaannya dengan putrinya Alexa.


********


Giani sangat terharu melihat Jero yang sedang menyetrika baju-baju bayi mereka. Kemarin mereka ke toko dan membeli baju untuk anak kembar mereka. Jero memilih baju bernuansa biru dan kuning. Sementara Giani lebih memilih baju berwarna putih.


"Bee, kenapa nggak menyuruh pelayan untuk menyetrikanya?"


"Nggak apa-apa, sayang. Aku mau baju pertama yang mereka pakai nanti adalah baju yang aku cuci dan aku setrika dengan tanganku sendiri."


"Baiklah. Tapi kalau capek, istirahat aja."


"Sudah hampir selesai, kok."


Giani menatap wajah tampan suaminya yang sudah berkeringat. Jero nampak sangat hati-hati saat menyetrika dan melipat baju-baju itu. Giani jadi makin kagum dengan si bule ini.


"Mengapa menatap aku terus?" Tanya Jero tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan yang sementara dilakukannya.


"Kok tahu kalau aku sedang menatapmu, Bee?"


"Aku punya mata batin yang bisa mengetahui kalau ada orang yang diam-diam menatap wajahku."


"Cih, dasar bule! Rasa percaya dirinya berlebihan. Siapa juga yang memandang wajahmu?"


Jero menahan senyum. "Jangan bohong, Mel. Nggak baik untuk anak-anak kita."


Jero mencabut colokan setrika lalu meletakan baju bayi terakhir yang disetrika di keranjang baju.


"Memang benar. Tak banyak pengusaha sukses yang mau melakukan seperti apa yang aku lakukan. Karena tak banyak juga yang memiliki kisah manis seperti yang kita miliki, dan betapa beruntungnya aku mendapatkan istri yang luar biasa seperti dirimu!" Kata Jero lalu menghadiakan satu kecupan manis di dahi istrinya.


Hati Giani mengembang dengan rasa bahagia. "Bee sudah siapkan nama untuk baby kembar kita?" Tanya Giani saat keduanya sudah berda di teras belakang dan duduk sambil berselojor kaki.


"Sudah."


"Apa?"


Jero mengambil ponselnya dan menunjukan beberapa nama yang sudah dipilihnya.


"Menurut kamu, nama mana yang bagus untuk anak-anak kita?"


"Nama yang ada di nomor 3. Menurut Bee yang mana?"


"Aku memang suka yang nomor 3. Jadi kita pilih yang ini aja ya?"


Giani mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jero. Tangannya membelai perutnya yang sudah semakin besar. "Bee, aku sedih karena pernikahan kak Aldo dan Joana belum juga terlaksana."


"Kenapa?"


"Joana selalu menundanya. Aku tak tahu apa alasannya. Aku juga bingung. Apakah Joana tak mencintai kakakku?"


"Aku tak tahu sayang."

__ADS_1


"Aku harap bukan karena Finly."


Jero diam. Sebenarnya ia merasa ada sesuatu dengan Finly namun ia enggan membicarakannya dengan Giani. Apalagi perasaan Giani sangat sensitif semenjak dia hamil.


"Bee, kok diam saja sih? Nggak suka ya kalau aku sebut nama Finly?" Giani mulai cemberut


"Nggak, Mel. Aku hanya berpikir kalau ada sesuatu yang Finly sembunyikan. Sepertinya Finly sakit. Alexa cerita padaku saat ia datang kemarin. Katanya Finly pingsan saat main ke rumah mereka. Hidung Finly berdarah."


"Oh ya? Kok Eca nggak cerita ke aku sih?"


"Kan kemarin saat Eca datang kamu sedang tidur. Kamu bangun di saat Eca tak lama lagi dijemput oleh Aldo. Makanya ia nggak sempat cerita ke kamu."


"Iya juga, sih. Bee, apakah perubahan sikap Finly secara tiba-tiba karena ia mengidap penyakit yang berbahaya?"


Jero menggeleng. "Aku tak tahu, sayang." Ia membelai wajah Giani dengan punggung tangannya. "Bagiku yang terpenting adalah kamu dan anak-anak kita."


Giani mencium pipi Jero. Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Jero. Tiba-tiba ia merasa penasaran dengan keadaan Finly.


*******


Hari ini Finly mengajak Alexa jalan-jalan ke mall untuk belanja baju dan sepatu.


"Eca sayang, di pernikahan papa Aldo dan tante bule, Eca ingin pakai sepatu apa?" Tanya Finly saat mereka berada di sebuah toko sepatu khusus anak-anak.


Wajah Alexa menjadi sedih. "Kayaknya, papa sama tante bule nggak jadi menikah."


"Kenapa?"


"Eca nggak tahu, ma. Semalam Eca mendengar papa dan tante bule bertengkar. Terus tante bule bilang kalau tante bule nggak mau menikah sementara mama menderita. Memangnya mama menderita karena apa?"


Apakah Joana tahu tentang sakitku? Apakah Aldo mengatakannya pada Joana?


"Ma...!" Alexa menggoyangkan tangan mamanya. Sepertinya ia menanti jawaban dari mamanya.


"Memangnya mama akan menderita kalau papa dan tante bule menikah?"


Finly menggeleng. "Nggak sayang. Mama justru senang kalau mereka menikah." Finly merasa harus bertemu sengan Joana.


"Hallo 2 wanita cantik!"


Finly dan Alexa sama-sama menoleh.


"Juan?" Finly terkejut bertemu dengan Juan di toko ini.


"Siapa om ini, ma?" Tanya Alexa penasaran.


Juan mengulurkan tangannya. "Om Juan. Calon papa tirimu."


Finly terkejut. Juan....!!!


Nah, ayo..gimana kisah selanjutnya???


jangan lupa like, komen dan vote

__ADS_1


__ADS_2