
Giani terkejut saat turun dari taxi ada sebuah mobil mewah berwarna putih yang parkirnya tepat di depan teras depan. Mobil itu kelihatannya masih baru.
"Waw...ini kan mobil yang aku lihat di pameran kemarin? Harganya lumayan mahal." guman Giani sambil mengelilingi mobil itu.
"Apakah ada tamu?" Giani kembali bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap mobil Jero yang sudah ada di garasi.
"Suka?"
Giani berbalik. "Suka. Mobil siapa ini? Apakah ada tamu?"
Jero tersenyum. "Mobilmu."
"What?"
Jero mendekat. Di tangannya ada kunci mobil. Ia membukanya lalu lalu mengambil surat yang ada di dalam mobil dan memberikannya pada Giani.
"Ini memang mobil atas namaku. Astaga, harga mobil ini mahal, sayang. Aku kemarin baru saja membacanya." Mata Giani berbinar. Sebenarnya ia memang berencana ingin memiliki mobil sendiri dengan hasil usahanya. Ia bahkan sudah membuat janji untuk ke sebuah diler mobil senin nanti. Giani ingin membelinya secara kredit.
"Tinggal mencari sopirnya saja." Ujar Jero.
"Aku punya sim."
Jero terkejut. "Sejak kapan?"
"Sejak 2 bulan yang lalu. Kak Beryl yang mengusulkan aku untuk kursus mengemudi. Jika dia menjemputku ke restoran atau ke rumah, aku yang menjadi sopirnya.
Dasar si playboy! Selalu saja berusaha mendapatkan cara untuk merebut istri gue.
Cup
Satu kecupan Giani berikan di pipi Jero. "Terima kasih sayang."
Hati Jero bergetar. Ia menatap Giani dengan lembut. "Aku senang kalau kau menyukainya."
"Boleh aku mencobanya keliling kompleks?"
Jero mengangguk. Giani langsung masuk dan duduk dibelakang kemudi. "Sayang, ayo naik!" ajak Giani.
Jero pun masuk dan duduk di sebelah Giani dengan senang hati. Giani langsung menjalankan mobilnya.
"Waw...keren!" seru Giani saat mobil mulai keluar dari pintu gerbang. Ia mengarahkan mobilnya keliling kompleks perumahan. Naik ke kanan, belok ke kiri dan kembali lagi ke jalan utama.
"Sayang, awas ya kalau kita tersesat." Ujar Jero mengingatkan. Hampir 10 bulan ada di perumahan elite ini, Jero bahkan tak pernah mengelilinginya.
"Tenang saja, kak. Aku sudah biasa jalan sehat keliling kompleks. Aku sudah menguasai semua jalan-jalan di perumahan ini." Kata Giani dengan antusias. Perasaannya sangat senang karena mobilnya ini memiliki interior sangat mewah dan yang paling terbaru. Dalam mobil ini juga sudah terpasang GPS yang terhubung dengan geogle map sebagai petunjuk arah.
Satu jam lebih mereka putar-putar kompleks lalu kembali ke rumah. Jero mengakui kalau kemampuan menyetir Giani memang sudah baik.
"Sayang, mau makan apa malam ini? Akan ku masak semua keinginanmu." Tanya Giani saat memasuki rumah.
"Aku mau memasak bersamamu."
Giani mengangguk. Saat ia memasuki dapur ternyata di meja sudah tersedia bahkan makanan.
"Aku yang membelinya tadi." kata Jero saat Giani menatapnya.
"Baiklah. Mari kita masak!"
Giani mencuci tangannya dan menggunakan apron. Jero pun melakukan hal yang sama. Keduanya memasak bersama sambil sesekali menceritakan lelucon yang menghadirkan tawa di dapur.
setiap kali Jero melihat dahi Giani yang berkeringat, ia akan mengambil tisue dan langsung menyekanya. Giani pun menghadiahkan ciuman singkat dibibir Jero saat Jero selesai menghapus keringatnya..
Selesai memasak, keduanya segera duduk di meja makan.
"Sayang, makanannya banyak. Kita bagikan untuk para penjaga gerbang di perumahan ini ya?" Kata Giani.
"Memangnya kau biasa membagikan makanan pada mereka?"
"Ya. Kadang aku membawa kopi dan kue. Kasihan mereka harus berjaga 1x24 jam. Mendapat makanan gratis akan membuat uang jajan mereka bisa disimpan untuk keluarganya kan?"
Jero menatap Giani dengan hati yang semakin tersentuh. Kau memang malaikat, Gi.
Selesai makan, Jero yang membawa makanan ke pintu gerbang. Ada 4 orang yang berjaga di sana.
"Terima kasih tuan Dawson. Biasanya nyonya Dawson yang membawa makanan ke sini. Kalian sungguh keluarga yang diberkati." Kata salah satu penjaga yang ada di sana saat Jero membawa kotak makanan yang ada beserta dengan beberapa botol minuman dingin.
Jero hanya tersenyum. Ia mengeluarkan 2 lembar uang 100 ribu. "Ini, pak. Buat tambah-tambah beli rokok."
"Makasih, tuan.."
Jero menjalankan mobilnya kembali dan menuju ke rumah. Giani baru saja selesai membersihkan dapur.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau mandi? Aku siapkan air hangat?"
Jero mengangguk. "Aku mau berendam. Sama kamu."
Wajah Giani langsung merah. "Sayang, satu hari ini kita sudah melakukannya 2 kali. Pagi dan siang."
"Sebaiknya memang sampai 3 kali. Supaya kayak minum obat.3x1."
Giani tertawa. "Aku capek. Besok kan kita harus berangkat pagi."
"Aku janji kalau kita hanya berendam saja."
"Tapi tadi siang juga ngomongnya gitu. Hanya ingin disuapin. Namun selesai makan tangannya sudah merayap ke mana-mana."
Jero terkekeh. Ia mendekati Giani sambil melingkarkan tangannya di bahu istrinya. "Tapi kamu juga suka kan? Buktinya kamu mendesah sambil bilang, ayo sayang...lebih cepat lagi."
Giani mencubit perut Jero dengan gemas. "Diam!"
"Sakit, babe."
"Ngomong sekali lagi, aku cubit lebih keras."
"Ok!"
10 menit kemudian keduanya sudah berada di kamar mandi. Saat Jero masuk ke dalam bathtub, ia meringis menahan rasa perih saat luka belas cakaran Finly dilengan dan lehernya terkena air sabun.
Giani yang sudah lebih dulu masuk ke dalam bathtub menoleh dengan kaget.
"Ada apa, sayang?"
"Lenganku luka."
Giani langsung memegang lengan Jero dan juga bagian leher yang terlihat ada garis-garis acak berwarna merah.
"Tadi siang kenapa aku nggak melihat ini ya?" Tanya Giani.
"Tadi siang saat aku buka baju, kamu kan sudah memejamkan mata."
"Sebel!" Giani memukul pundak Jero.
Jero tertawa.
"Kok bisa kayak gini?" Tanya Giani sambil mengusap pelan lengan Jero.
"Selesai mandi, aku kasih salep ya?"
Jero hanya mengangguk.
Giani membalikan badannya sehingga ia bersandar di dada Jero. Ia memejamkan matanya menikmati sabun aroma terapi dan juga lilin aroma terapi yang dipasang di sekitar bathtub.
Selama hampir 30 menit mereka berendam. Setelah itu membersihkan diri dan segera memakai piyama masing-masing.
Giani mengambil saleb dan mengoleskannya di lengan dan leher Jero yang terluka.
"Nggak mau minum obat pereda rasa sakit?" Tanya Giani.
"Nggak." Jero memakai kemeja piyamanya dan segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Giani ke kamar mandi untuk mencuci tangannya setelah itu ia pun ikut bergabung bersama Jero didalam selimut tebal.
"Sayang, sudah berdoa malam?" Tanya Giani.
Jero membuka matanya. "Kamu yang pimpin ya?"
Giani mengangguk. Keduanya duduk di atas tempat tidur lalu berdoa. Selesai itu mereka kembali tidur. Jero memeluk Giani dari belakang. Ada perasaan damai yang ia rasakan.
*********
Jam 6 pagi, keduanya sudah berangkat ke puncak. Giani merengek pada Jero. Ia ingin membawa mobil barunya ke sana. Awalnya Jero tak mengijinkan karena jalan ke puncak yang tak sama dengan jalan di Jakarta. Namun Giani meyakinkan Jero kalau ia bisa. Akhirnya Jero mengijikannya.
Vila yang menjadi tempat tujuan mereka adalah Vila milik keluarga Prayunata. Letaknya paling puncak dan ada perkebunan teh.
"Perkebunan teh ini milik papa Denny?" Tanya Giani.
"Ya. Papa Denny mempercayakan keponakannya untuk mengurus kebun teh ini. Dulu waktu aku masih kecil, hampir setiap minggu kami pasti ke sini."
"Apakah kamu dan kak Finly pernah ke sini berdua?"
"Nggak." Jero menggeleng dengan kuat. "Kami tak pernah ke sini berdua saja."
Giani tersenyum. Ia menggandeng tangan Jero. "Kita jalan-jalan ke kebuh teh sambil ambil foto-foto ya?"
2 jam kemudian, Giani memposting foto dirinya yang sedang berdiri di depan mobilnya dan foto kedua, ia dan Jero yang berdiri diantara pohon teh. Jero memeluknya dari belakang sementara Giani memegang tangan Jero yang melingkar di perutnya. Foto itu diambil oleh salah satu pekerja yang ada. Giani menuliskan pada postingannya.
__ADS_1
Terima kasih sayang untuk hadiah ulang tahun
yang terlalu cepat diberikan. i like it. Weekend yang sangat menyenangkan.
Giani yang sudah banyak memiliki teman semenjak pembukaan restorannya, langsung mendapat banyak komentar di postingannya itu.
*********
"Aku harap kalau kamu tak akan menghalangi permintaanku ini." Kata Finly sambil menatap Aldo yang sedang berdiri di depan pintu balkon sambil memasukan tangannya pada saku celananya.
"Lakukan apa maumu! Aku dengan senang hati akan menandatangani surat perceraiannya. Hanya saja, hak asuh Alexa ada padaku."
Finly sebenarnya sedikit terkejut saat menyadari bahwa Aldo sama sekali tak menentang keinginan Finly untuk bercerai.
"Kamu memang lebih pantas mengasuh, Alexa." ujar Finly lalu membuka lemari pakaian. Ia mengeluarkan koper dan mulai mengisi baju-bajunya.
"Aku pindah ke apartemenku yang dulu."
"Terserah."Aldo menekan rasa sakit di hatinya. Cukup sudah ia bertahan selama ini demi Alexa. Putri tunggalnya itu sudah mengerti dan tidak mempersoalkan akan keberadaan mamanya yang memang jarang punya waktu untuknya.
Selesai mengisi baju-bajunya di dua koper besar, Finly pun memanggil pak Leo agar membawa koper itu ke mobilnya.
"Aku akan kembali nanti untuk mengambil barang-barangku yang lain. Aku juga tak meminta harta gono-gini dalam perceraian ini. Aku hanya ingin dipersidangan pertama, kamu langsung menyetujui perceraian ini." Kata Finly lalu segera meninggalkan kamar.
Aldo memegang dadanya. Berusaha untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa inilah yang terbaik bagi mereka.
Saat Finly turun ke lantai satu, ia melihat Alexa yang sedang bermain sepeda di teras depan.
"Mama mau pergi, Alexa. Mulai sekarang ini Alexa tinggal dengan papa." Kata Finly.
"Ok. Bye...!" kata Alexa dengan begitu santainya. Saat mobil mamanya berlalu, Alexa turun dari sepedanya dan masuk ke dalan rumah. Ia melihat papanya yang baru saja menuruni tangga.
"Papa, mama sudah pergi. Papa jangan sedih ya? Eca akan menjaga papa."
Geraldo sangat terharu mendengar perkataan putrinya. Seharusnya dia yang akan menghibur anaknya namun kini Alexa yang justru menghiburnya.
"Papa akan baik-baik saja, sayang."
"Kita akan ke tempat tante bule kan?"
Geraldo mengangguk. "Papa mandi dulu ya?"
"Eca juga mau mandi." gadis kecil itu langsung berlari mencari bi Lumi. Geraldo menatap putrinya. Kalau Alexa saja bisa kuat, maka dirinya pun harus kuat.
*********
Finly masuk ke dalam apartemennya. Ia duduk di atas sofa sambil melihat ponselnya. Emosinya langsung menyala saat melihat postingan Giani.
"Dasar perempuan kampungan! Kita lihat saja Giani, bagaimana aku akan membuat Jero kembali padaku jika perceraianku dengan Aldo sudah selesai." guman Finly sambil melempar ponselnya dengan kesal.
Hatinya sakit. Jujur ia sangat cemburu. Di lubuk hatinya, ia sebenarnya juga merasa takut kalau Jero benar-benar akan meninggalkannya.
Tidak! Jero mencintaiku. Aku adalah wanita yang selalu diinginkannya. Aku akan membangkitkan kembali rasa cintanya padaku seperti dulu. Aku tak mau kehilangan Jero. Aku mencintai Jero. Seharusnya aku memang tak boleh menikah dengan Aldo. Seharusnya dulu aku mengajak Jero lari ke London dan hidup berdua di sana.
Finly menangis. Ia mengambil dompetnya. Di sana ada fotonya bersama Jero. Ia mencium foto itu dengan penuh kasih.
Jangan pergi dariku , Jero! Aku janji akan berjuang untuk cinta kita. Kau milikku. Hanya milikku.
********
"Dingin?" Tanya Jero sambil menarik tubuh polos Giani yang hanya ditutupi selimut agar lebih mendekat padanya.
"Iya. Dingin-dinginnya bukannya pakai mantel justru di ajak buka-bukaan." ketus Giani.
Jero terkekeh. Ia mencium pipi Giani dengan gemas. "Sayang, minggu depan aku ada pekerjaan di Malaysia. Kamu ikut ya?"
"Berapa hari?"
"Sepertinya 2 hari."
"Jadikan 4 hari ya?"
"Kenapa?"
"2 hari kamu kan kerja, dua hari lagi kita pakai untuk saling menghangatkan."
"kamu sudah mulai genit ya.."
"Kan kamu yang ajarin aku, sayang."
Jero kembali mencium pipi Giani. Tiba-tiba saja ia merasa tak ingin momen seperti ini pergi dari hidupnya.
__ADS_1
So....bagaimana selanjutnya?
Jangan lupa LIKE, KOMEN DAN VOTE ya?? yang banyak biar emak senang dan semangat 🤣🤣