Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Ngambek


__ADS_3

Saat Jeronimo membuka matanya, ia langsung menutupnya kembali karena silau sinar matahari yang masuk menembus kaca jendela. Tirai penutup kaca sepertinya sudah dibuka bahkan pintu balkon pun sudah terbuka.


Ia memijat kepalanya yang terasa sakit lalu perlahan membuka matanya kembali. Kakinya mendorong tubuhnya ke atas dan punggungnya akhirnya bisa bersandar di kepala ranjang.


Matanya mencoba menatap jam dinding yang tepat ada di depannya. Astaga? Sudah jam 11 siang? Pantas saja Jero merasa kamar ini agak panas. Pastilah pintu balkon sudah sejak tadi di buka.


Setelah menemukan kesadarannya kembali, Jero turun dari tempat tidur. Ia yang masih mengenakan baju kantor segera membuka kemejanya dan melemparnya asal. Langkahnya sedikit sempoyongan menuju ke kamar mandi.


Setelah berendam dalam bak mandi, Jero pun segera mengenakan baju rumahnya dan turun ke bawah. Dia ingat kalau hari ini sabtu sehingga ia tak perlu memikirkan kantor.


Sambil menuruni tangga, Jero memeriksa ponselnya apakah ada sms atau pesan wa. Ternyata ada pesan dari Giani.


Kak, aku pergi keliling Jakarta menemani


Joana dan pacarnya. Sebenarnya ingin mengajak kakak tapi kakak semalam pulang dalam keadaan mabuk. Jadi aku ajak kak Beryl saja untuk pergi bersama kami. Makanannya sudah aku siapkan di meja makan. Kalau selesai makan jangan lupa minum obat untuk meredahkan sakit kepalamu.


"Kalau mau pergi, ya pergi saja. Tak perlu lapor segala! Pakai acara ngajak Beryl lagi, memangnya gue terganggu? Cih!" Ketus Jero lalu meletakan hp nya di atas meja makan.Ia kemudian membuka kulkas dan mengeluarkan botol air mineral lalu menuangkannya di dalam gelas dan meminumnya sampai habis.


Jero membuka penutup makanan. Perutnya langsung berbunyi melihat makanan yang sudah disiapkan oleh Giani.


Namun, baru 3 suapan makanan itu masuk ke dalam mulutnya, bayangan Beryl yang sedang jalan bersama Giani membuat hati Jero gelisah.


"Damn!" Jero meletakan sendok dan garpu yang ada di tangannya dengan kasar di atas piring.


Kenapa juga gue harus mikirin kebersamaan mereka? Kenapa juga perasaan gue jadi nggak enak kayak gini?


Jero mengambil piring makanannya. Ia membuang sisa makanan di dalam tempat sampah, setelah itu ia meletakan piring kotor di dalam cuci piring.


"Kak, selesai makan, kalau aku nggak ada, piringnya langsung di cuci ya? Supaya nggak mengundang semut, tikus atau kecoa untuk baik ke atas tempat cuci piring. Aku jijik dengan semua binatang itu."


Kaki Jero terhenti saat mengingat perkataan Giani itu. Ia berusaha mengambaikannya. Namun entah kenapa langkahnya justru kembali ke depan tempat cuci piring. Ia mengambil mencuci piring, sendok, garpu dan gelas yang digunakannya tadi.


Saat sedang mengeringkan tangannya dengan lap, ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan video call dari Finly.


"Ya, Fin?" Sapa Jero.


"Jer, aku butuh kamu." Finly menangis. Sepertinya ia berada di kamar hotel.


"Ada apa?"


"Aldo memukulku karena aku tak mau tidur dengannya." Kata Finly sambil menunjukan memar di pipinya.


Jero terkejut. "Sampai segitunya?"


"Aku butuh teman curhat, Jer. Aku sakit hati."


"Kamu dimana?"


"Di hotel xxx." Finly menyebutkan salah satu hotel bintang lima yang letaknya agak dipinggiran kota.


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang." Kata Jero lalu segera mengambil kunci mobilnya yang ada di gantungan kunci di dekat meja makan.


**********


"Ah..., sunggguh menyenangkan!" Teriak Joana sambil merentangkan tangannya. Ia dan George baru saja selesai bermain wahana banana boat dan donat boat.


"Are you happy, baby?" Tanya George sambil melingkarkan tangannya dipinggang ramping Joana.


"Yes!"


Keduanya saling bertatapan penuh cinta lalu berciuman mesra.


Giani yang melihatnya dari jauh langsung tersenyum.


"Keduanya sangat mesra." Kata Beryl.


"Ya. George pria yang romantis makanya Joana sangat mencintainya walaupun dia sudah tua."

__ADS_1


"Apakah Jero juga pria yang romantis?"


Giani tertawa. "Dia pria yang menyebalkan."


"Menyebalkan bagaimana maksudnya?"


Giani menatap Jero. "Tanyakan saja padanya. Dia pasti akan menjawabnya dengan jujur."


Joana dan George ikut bergabung bersama Beryl dan Giani di tenda yang tersedia di dekat pantai.


"Foto bersama yuk!" ajak Joana sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.


Mereka berempatpun berfoto bersama. Foto yang pertama, Giani dan Joana duduk sementara George dan Beryl berdiri dibelakang mereka. George memeluk Joana dari belakang sementara Beryl meletakan tangannya dibahu Giani yang terbuka karena gadis itu hanya menggunakan tanktop dan celana pendek.


foto yang kedua mereka berempat berdiri berdampingan dan tangan Beryl melingkar di pundak Giani sedangkan Giani menyandarkan kepalanya di bahu Beryl.


Setelah selesai mengambil gambar, Giani memeriksa ponselnya sementara George dan Beryl sedang mencoba wahana lain.


Betapa terkejutnya Giani saat melihat gps mobil Jero dan mobil Finly menunjukan mereka ada di wilayah yang sama. Giani memeriksa melalui pencarian tempat dan ia semakin terkejut saat menyadari kalau itu adalah sebuah hotel.


"Ada apa, Gi?" tanya Joana.


"Gps di mobil Jero dan Finly menunjukan kalau mereka ada di sebuah hotel."


Joana langsung mengambil ponsel Giani dari tangan Giani. Ia mengutak-atik sebentar. "Dia baru 15 menit ada di sana. Ayo unggah foto yang tadi. Kamu sudah berteman dengan Jero di media sosialmu kan? Tandai dia."


Giani langsung mengungah foto itu. Ia berharap kalau tak terjadi apapun antara Finly dan Jero.


Tiba-tiba dia ingat mama Sinta. Giani langsung tersenyum.


************


Finly menangis dalam pelukan Jero.


"Sudah, jangan menangis!" Kata Jero sambil mengusap kepala Finly.


"Aku tak menyangkah kalau Aldo akan sekasar ini. Aku sudah tak tahan lagi dengannya. Ayo kita ke London dan tinggal di sana."


Finly mendongak. "Aku nggak mau tunggu sampai setahun. Aku ingin bersamamu sekarang!" Finly menarik tengguk Jero dan langsung mencium bibir Jero dengan gairah yang tak terbantahkan. Jero membalas ciuman Finly.


dret...dret....dret...


Bunyi ponsel Jero yang diletakan di dalam saku celananya membuat Jero melepaskan ciuman Finly.


"Jangan diangkat." Kata Finly sambil membuka kemejanya.


"Ini dari mama." Jero turun dari tempat tidur dan segera menuju ke sofa.


"Hallo, ma." Sapa Jero.


"Kamu di mana, nak?"


"Eh, aku ada di luar rumah."


"Kamu sudah baca postingan Giani? Dia memangnya ada di mana? Mengapa juga kamu membiarkan istrimu jalan dengan orang lain? Mama mau kau menjemput Giani sekarang dan bawa ke rumah. Kita akan makan malam bersama. Usahakan jam 4 sore kalian sudah ada di sini."


"Tapi ma...!" terlambat. Mama Sinta sudah memutuskan sambungan telepon.


Jero membuka notifikasi instragramnya. Matanya langsung terbelalak melihat foto Giani. Tangan Beryl yang ada di bahu Giani membuat aliran darah Jero menjadi panas. Tidak! Giani adalah wanitanya. Jero tak rela ada tangan pria lain yang menyentuh Giani. Bahu Giani adalah tempat faforit Jero menyandarkan kepalanya saat mereka tidur bersama dan jero memeluk Giani dari belakang.


"Fin, aku harus pulang!" Kata Jero sambil berdiri.


Finly yang hanya mengenakan baju dalamnya saja, terkejut melihat Jero. "Maksudnya apa?"


"Mama meminta aku mengajak Giani untuk makan malam di rumah."


"Batalin saja, Jer. Ayo kita bercinta!" Finly turun dari tempat tidur lalu mendekati Jero. Ia memeluk tubuh Jero sambil mengusap perut Jero dengan lembut.

__ADS_1


"Maaf, Fin. Aku nggak bisa."


"Memangnya kamu nggak mau bercinta dengan aku?" Finly jadi tersinggung.


"Aku mau, Fin. Tapi kasihan mama." Jero mengecup dahi Finly. "Aku pergi ya?"


Finly menjadi sangat marah. Ia melempar semua barang yang ada di kamar itu. Tak perduli kalau ia harus membayarnya karena merusak fasilitas hotel.


"Aku membencimu, Giani! Aku membencimu!" Teriak Finly sambil menarik rambutnya sendiri.


*********


"Kamu di mana?" Jero menelepon Giani saat mobilnya sudah meninggalkan hotel.


"Masih di pantai. Ada apa?"


"Aku jemput kamu sekarang. 30 menit lagi aku sampai. Mama meminta aku membawamu ke rumah."


"Tapi kak, aku masih mau bermain dengan teman-temanku. Aku juga nggak enak sama kak Beryl."


"Suamimu itu aku bukan Beryl. Jadi kamu harus nurut perkataanku selama beberapa bulan ini sampai akhirnya kita akan selesai." Jero mematikan ponselnya dengan marah. Entah kenapa mendengar Giani menyebut nama Beryl membuatnya jadi cepat emosi.


Di pantai....


Giani menatap Joana. "Mama Sinta berhasil membuat Kak Jero pergi dari hotel. Jero sekarang sedang menuju ke sini untuk mengajakku ke rumah mama."


"Pergilah! Lagi pula aku sudah ingin kembali ke hotel. Capek seharian ini main di pantai. Oh ya, ke Bali nya jadi, kan?"


Giani mengangguk. "Besok. Tiketnya sudah dipesan oleh Beryl. Pesawatnya jam 3 sore."


"Ok. Kamu akan pamitan pada Jero?"


"Akan kulihat bagaimana dirinya memperlakukanku."


"Aku suka dengan caramu, Gi. Semoga sukses sampai beberapa bulan ke depan."


Giani hanya mengangguk. Ia mendekati Beryl dan George untuk pamitan. Beryl juga membicarakan tentang rencana ke Bali. Setelah berbincang beberapa hal, ponsel Giani berbunyi. Jero sudah menunggunya di tempat parkir.


Jero yang sedang menunggu di dalam mobil langsung melotot saat melihat baju yang Giani kenakan. Tank top super ketat sehingga menampakan lekukan tubuh Giani dan celana jeans yang sangat pendek. Menonjolkan paha putih Giani dan kaki jenjangnya.


Giani membuka pintu mobil dan segera duduk di samping Jero.


"Memangnya kamu sudah kehabisan baju, sampai harus menggunakan baju yang serba terbuka seperti ini?" Tanya Jero sambil menatap Giani tajam.


"Hallo..., ini di pantai kak! Untung saja aku nggak memakai bikini." Ketus Giani.


"Memangnya kamu mau pakai ini ke rumah mama?"


Giani melepaskan sabuk pengaman yang baru saja dipakainya. Giani mengeluarkan kemeja dan rok jeans dari dalam tas punggungnya. ia melepaskan tank top kemudian menurunkan celana pendek yang dikenakannya.


Jero buru-buru memalingkan wajahnya. Damn! Palo bereaksi dengan cepat. Jero tak bisa menahannya. Palo sepertinya mendesak dan minta di keluarkan.


Giani dengan santainya berganti baju di dalam mobil. Ia dapat melihat wajah Jero yang memerah menahan gairah.


"Jalankan saja mobilnya, kak." Kata Giani.


Jero pun menjalankan mobilnya. Napasnya terlihat belum teratur. Jero berusaha berkonsentrasi sambil memandang jalan di depannya.


"Palo kenapa, kak?" Tanya Giani sambil mengusap paha Jero membuat lelaki itu menginjak rem mobilnya secara mendadak. Ia menatap wajah polos Giani dengan tatapan tajam.


"Kamu biang masalah untukku!" Kata Jero lalu menarik tengkuk Giani dan mencium bibir Giani dengan lembut namun penuh tuntutan yang tak terbantahkan.


BERIL DAWSON



Apa kejadian selanjutnya???

__ADS_1


komen yang banyak ya...


like, juga VOTE supaya akunya semangat.😁😁


__ADS_2