Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Milik Jero jangan diganggu


__ADS_3

Alexa sudah lama tertidur pulas. Ia tertidur dengan cerita dongeng yang Juan ceritakan tanpa menggunakan buku. Entah bagaimana Juan mendapatkan cerita itu, yang pasti Alexa sangat suka mendengarnya. Juan sangat pintar membawakan cerita. Suara, mimik wajah dan gerakan tangannya sangat pas dengan isi cerita yang dia bawakan.


Walaupun saat ini jam sudah menunjukan pukul 11.30 malam, namun Finly tak juga bisa memejamkan matanya. Sedangkan Juan justru sudah tertidur nyenyak sambil tangannya memegang tangan Alexa. Finly sering melihat Aldo dan Alexa juga tertidur seperti itu.


Perlahan Finly keluar dari kamar. Ia lupa meminum obatnya hari ini. Saat menghabiskan waktu bersama Alexa, Finly memang tak merasakan sakit. Mungkin benar apa yang dikatakan sang pendeta. Hati yang gembira adalah obat. Tapi semangat yang patah keringkan tulang.


Selesai meminum obatnya, Finly memilih duduk di ruang tamu sambil menikmati susu khusus yang diresepkan dokter untuknya.


"Mengapa belum tidur?" Tanya Juan yang ternyata ikut keluar kamar.


"Ranjang nya jadi sempit. Aku tak suka tidur terlalu sesak." Kata Finly sengaja dibuat kesal agar Juan mau pulang.


"Kalau begitu, aku tidur di sofa saja. Kau masuklah ke kamar."


Finly menatap Juan. "Kanapa kamu tak pulang saja?"


"Aku takut kalau Alexa akan mencariku saat ia bangun."


"Nanti aku katakan padanya kalau kamu ada pekerjaan. Alexa pasti mengerti."


Juan duduk di samping Finly. Di raihnya kedua tangan Finly dan digenggamnya erat. "Fin, ayo kita bangun lagi hubungan kayak dulu. Aku sampai sekarang tak pernah berhenti mencintaimu. Aku tahu kalau dulu aku telah menyakitimu dengan memilih pergi dari pada menjalani hubungan jarak jauh."


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi."


"Kau masih mencintai Jeronimo atau kau masih mencintai Geraldo?"


Finly menarik tangannya dari genggaman Juan. "Kau tahu tentang hubunganku dengan Jero?"


Juan mengangguk. "Aku tahu apa yang menyebabkanmu bercerai dengan Geraldo. Adik angkatmu itu kan? Kau diam-diam menjalin hubungan dengannya. Namun semuanya berubah karena Jeronimo kini bahagia dengan adik iparmu."


Finly menunduk. "Ini hukuman Tuhan padaku karena tak setia pada mas Aldo. Aku menerima sakitku ini dengan ikhlas."


Juan berpindah tempat. Ia berlutut di hadapan Finly dan kembali memegang kedua tangan Finly. "Mari kita bangun hubungan ini kembali. Mari kita bersama menjalani hari-hari bahagia. Aku ingin menebus semua kesedihan yang pernah kubuat padamu yang menyebabkan kau jatuh cinta pada Jeronimo."


"Aku sakit, Juan. Lagi pula aku sudah lama move on darimu."


"Aku rasa, kita bisa bahagia bersama. Aku bisa membuatmu jatuh cinta lagi padaku."


Finly menatap cinta pertama dalam hidupnya. Lelaki yang telah mengajarkan padanya banyak hal. "Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Alexa. Aku tak ingin yang lain."


Juan mencium tangan Finly dengan sangat lembut.


"Aku ingin kau berpikir lagi, Fin."


Finly berdiri. "Malam ini atau nanti, jawabanku masih sama." Lalu ia segera masuk ke kamarnya.


Juan menatap punggung Finly yang menghilang di balik pintu. Hatinya sedih. Finly menolaknya. Namun ia bertelad tak akan mundur. Jujur, Juan yang sangat menginginkan memiliki anak dalam hidupnya, sudah menyukai Alexa dipertemuan pertama mereka. Alexa telah mencuri hatinya.

__ADS_1


"Papi akan berjuang untuk mendapatkan lagi cinta mamamu, Eca." guman Juan lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Tak apalah malam ini ia tidur di atas sofa yang sempit ini. Yang penting ia bisa berdekatan dengan wanita yang dicintainya.


**********


Jeronimo memandang perut Giani yang semakin membesar. Ia seperti wanita yang sudah hamil 8 bulan saja pada hal usia kehamilannya baru memasuki usia ke-5. Mungkin karena di dalam perut istrinya itu ada dua bayi yang terus berkembang setiap harinya.


Ini hari sabtu. Hari ini Jero menemani Giani ke cafe pertamanya yang letaknya tak jauh dari kantor Aldo.


"Sayang, duduk dulu. Nanti kakinya bengkak karena kebanyakan berdiri." Kata Jero yang melihat Giani yang turun tangan sendiri meracik kopi karena banyaknya pelanggan yang datang juga yang memesan lewat online.


"Sebentar juga selesai. Bee mau minum kopi?"


Jero mengangguk. Giani pun membuat kopi untuk suaminya. "Nih kopi hitamnya untukmu, suamiku." Kata Giani lalu ikut duduk di samping suaminya. Keduanya ada di sudut ruangan cafe. Agak jauh dari meja-meja yang lain.


"Permisi nyonya, ini ada kiriman bunga untuk anda." Kata Roy. Manager yang bertanggungjawab di cafe ini.


Giani menatap bunga mawar putih itu. Ia mengucapkan terima pada Roy. Setelah managernya itu pergi, Giani mengambil kartu ucapan yang ada dan membukanya.


...***Hallo manis......


...jadi bolehkah aku terus mengagumimu?...


...Semakin perutmu membesar, kau terlihat semakin cantik***....


...Aku, si pengagum rahasiamu....


Wajah Jero terlihat merah padam menahan rasa marah dan cemburu. "Bee, biarkan saja orang mengagumiku. Aku kan tidak membalas perasaannya itu."


Jero menatap Giani dengan dahi berkerut. "Jelas apa yang dilakukannya salah. Kamu bukan gadis lajang. Tapi istri orang."


"Dulu juga kamu pernahkan gangguin istri orang, Bee. Apa mungkin ini karma?"


Wajah Jero menjadi tegang. Perasaannya tiba-tiba merasa tak tenang. Apakah benar ini karma atas semua yang pernah dilakukanku di masa lalu?


"Sayang, jika benar ini karma, kamu nggak akan ikut dalam permainan orang itu kan? Kamu nggak akan membuat aku menderita kan? Aku nggak mau kamu menghiananti aku. Aku akan menjadi gila karena cemburu. Aku mungkin bisa melakukan hal-hal yang berada di luar nalar."


Giani tersenyum melihat wajah ketakutan Jero. Ia sudah cukup tahu bagaimana gilanya Jero kalau cemburu. Di pegangnya wajah tampan bule itu. "Aku nggak akan menghianati kamu, Bee. Aku akan setia padamu."


Jero langsung memeluk istrinya dengan perasaan lega. Ia tahu kalau istrinya ini adalah wanita baik yang tidak mungkin akan selingkuh darinya.


"Bee, aku layani pelanggan dulu ya.." Giani berdiri. Ia menghadiahkan satu kecupan manis di pipi suaminya sebelum pergi. Giani memang tak ingin kehamilannya ini membuat ia malas bergerak.


Setelah Giani menjauh, Jero menatap lebel yang mengikat bunga mawar itu. Tangannya bergerak mengambil ponselnya dan memfotonya. foto itu dikirimkannya pada Rudy, sopir sekaligus orang kepercayaan Jero. Ia kemudian menuliskan pesan : tolong selidiki orang yang selalu memesan bunga mawar putih di toko bunga ini. Ia sudah seminggu mengirim bunga ini untuk istriku.


Jeronimo meletakan ponselnya kembali. Ia sungguh geram dengan orang yang menjadi penggemar rahasia dari Giani.


**********

__ADS_1


Joana membuka pintu apartemennya. Ia terkejut melihat siapa yang berdiri di sana. "Finly?"


"Boleh aku masuk?"


"Tentu saja!" Joana melebarkan daun pintu dan mempersilahkan Finly masuk.


Keduanya pun duduk saling berhadapan di ruang tamu.


"Ada apa?" Tanya Joana setelah keduanya saling diam beberapa saat.


"Alexa sedih karena kau belum juga menikah dengan papanya. Ada apa? Bukankah kalian sudah memesan gaun pengantinnya?"


"Aku belum siap menikah." Ujar Joana.


"Joana, aku sangat mendukung jika kamu menikah dengan mas Aldo. Dia pria baik. Selama ini aku sudah membuatnya menderita karena berselingkuh dibelakangnya. Berikan dia kebahagiaan yang tak pernah dia dapatkan saat bersamaku."


"Dia akan bahagia jika bersama dengan wanita yang dicintainya. Aldo masih mencintaimu. Kau adalah wanita pertama dalam hidupnya. Ia tak akan mungkin bisa melupakanmu begitu saja. Mengapa kalian tak bersama kembali? Alexa pasti akan lebih baik bersama papa dan mama kandungnya."


Finly menggeleng. "Mas Aldo berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Yang akan mendampinginya sampai tua. Aku tak bisa melakukan itu."


"Karena kau sakit?"


Finly mengangkat wajahnya dan menatap Joana. "Kau tahu?"


"Maaf. Aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Aldo waktu di kantornya. Aku memang mencintai Aldo. Namun aku juga tahu kalau jauh di lubuk hatinya, ia masih mencintaimu dan peduli padamu."


Finly menarik napas panjang. "Aku telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi istri yang baik baginya. Aku terlalu menyakiti mas Aldo. Keinginanku saat ini hanyalah ingin memiliki waktu yang lebih banyak lagi untuk melihat Alexa bertumbuh. Apakah aku bisa melihatnya sampai dewasa kelak, aku tak tahu. Namun yang membuat aku tak khawatir bahwa ketika aku harus pergi, aku tak perlu takut karena aku meninggalkan Alexa ditangan yang tepat."


Joana menatap Finly. Ia menundah pernikahanny dengan Aldo karena ingin melihat mantan pasangan suami istri itu bersatu kembali. "Kalau memang Tuhan masih memberikanmu waktu, biarlah waktu itu kau habiskan bersama keluargamu. Karena jika harus menikah dengan Aldo sekarang, aku tahu kalau aku akan menyakitimu."


"Hei, kamu tak akan menyakitiku, Joana."


"Maaf. Aku tak bisa."


Finly merasa sedih. Joana tak mau menikah dengan Aldo karena tahu kalau dia sakit. Namun di sisi lain Finly bersyukur karena Joana benar-benar adalah wanita yang baik. Dan itu yang membuat keinginannya untuk menikahkan Joana dan Aldo semakin kuat.


Ia keluar dari apartemen Joana dengan perasaan yang galau. Ia belum berhasil meyakinkan perempuan bule itu agar mau menikah dengan Aldo.


Saat ia mengendarai mobilnya. Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalanya. Finly pun tersenyum walaupun ia tahu idenya ini sangat konyol.


***********


"Bunga itu di pesan melalui telepon. Dan aku sudah menyelidiki nomor siapa yang menghubungi toko bunga itu. Ini orangnya." Rudy meletakan sebuah foto di atas meja kerja Jeronimo. Mata pria bule itu langsung menyala. Emosinya langsung memuncak.


Siapa ya pria itu?


Apa juga ide yang hendak Finly lakukan agar Aldo menikahi Joana?

__ADS_1


Dukung emak untuk episode berikut ya guys...


__ADS_2