Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Papi Juan (Part 5).


__ADS_3

Bagaimana jadinya, duda keren yang sudah dua tahun lebih tak menyentuh wanita dan gadis polos yang tidak pernah mengenal pacaran apalagi sentuhan seorang laki-laki saling ciuman seperti ini?


Juan merasa kalau Wulan seperti memiliki magnet karena setiap kali berdekatan dengan gadis itu, ia selalu ingin menyentuhnya. Sedangkan Wulan begitu terbuai dengan ciuman itu. Juan memang sangat ahli berciuman sehingga Wulan tak mampu menolaknya.


Ciuman itu akhirnya terlepas. Keduanya hampir saja kehabisan oksigen. Juan menatap mata gadis yang kini ada di bawahnya. Wulan juga sedang menatapnya. Dan entah apa yang terjadi, keduanya saling berciuman kembali. Seolah bibir Wulan begitu manis sehingga Juan tak pernah bosan menciumnya.


Bunyi ponsel Wulan yang ada di kantong celananya membuat ciuman mereka terlepas. Wulan menatap Juan. "Tuan....!" panggilnya dengan napas yang belum stabil.


Juan kembali ke alam sadarnya. Ia berdiri dan membiarkan Wulan juga ikutan bangun.


"Hallo nona..!" Sapa Wulan saat melihat Alexa yang meneleponnya.


"Bibi Wulan, Eca lupa bilang kalau untuk masuk ke dalam walk in closet harus menekan pin di tiang pintu. Pin nya 345710. Kalau nggak alarm nya akan berbunyi."


"Alarmnya sudah terlanjur berbunyi non."


Alexa tertawa. "Maafkan Eca ya."


"Nggak masalah nona!" Wulan memasukan ponselnya kembali ke kantong celananya. Ia melihat Juan yang masih berdiri tak jauh darinya. Suasana canggung terlihat diantara mereka.


"Wulan...maaf, aku..."


"Nggak masalah, tuan. Aku akan melupakannya. Aku mau ambil sepatu dulu ya?" Wulan masuk kembali ke kamar Alexa, memasukan pin di pintu walk in closet. Pintu terbuka dan ia langsung mengambil sepatu roda Alexa.


Saat Alexa keluar dari kamar, Juan masih berdiri di sana. Bersandar pada dinding, menyilang kan kedua kakinya dan memasukan tangannya di saku celananya. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Wulan rela berdiri selama beberapa jam asal menemukan pemandangan seperti ini. Oh Tuhan, aku harus berhenti menonton telenovela dan drama Korea. Inilah jadinya selalu melihat pria-pria tampan dengan badan atletis, aku jadi sering melamun ingin mendapatkan pria seperti mereka.


Juan menoleh ke arah Wulan yang masih berdiri di depan pintu kamar Alexa. "Wulan....!"


Ketahuan sedang menatap Juan, wajah Wulan terasa panas. Ia buru-buru melangkah melewati Juan. "Permisi tuan....!" Katanya lalu sedikit berlari meninggalkan Juan yang masih terpaku melihatnya.


"Ah......!" Juan mengacak rambutnya frustasi. Kejadian ini terulang lagi, aku dengan mudahnya tergoda menciumnya. Kenapa bibir gadis itu sangat manis rasanya. Aku seakan tak mau berhenti menciumnya? Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat aku bergairah. Apakah karena kesamaan wajahnya dengan Finly? Dulu, waktu bersama Finly, aku bisa menahan diriku selama berminggu-minggu tak menyentuhnya. Aku memang harus menjauhinya.


**********


"Papi, kita ikut bersama ke vila ya?" bujuk Alexa pada Juan.


"Sayang, papi di rumah saja ya?" Juan tak mau pergi karena vila itu punya kenangan indah bersama dengan Finly. Saat Finly hamil, mereka menghabiskan beberapa bulan di sana. Juan belum siap kembali. Dia merasa akan menjadi nyamuk penganggu karena di sana Aldo akan bersama Joana dan Giani akan bersama Jero. Juan tahu bagaimana romantisnya Jero pada Giani. Juan kadang iri melihatnya.


"Ayolah papi. Semenjak mama Finly meninggal, papi nggak pernah lagi jalan-jalan ke luar rumah."


"Papi kan sering mengajak Eca dan Cia ke mall, ke taman, makan di luar."


"Papi, inikan liburan ke luar kota. Eca nggak mau pergi kalau papi nggak pergi!" Wajah Alexa jadi cemberut. Ia bersedekap sambil menoleh ke arah lain.


"Sayang....!" Juan jadi tak tega. Alexa memang bukan darah dagingnya. Namun Juan menyayanginya seperti ia menyayangi Felicia. "Baiklah. Papi akan pergi!"


Wajah Alexa langsung berubah gembira. "Benarkah? Asyik...! Kita akan liburan. Eca akan memberi tahu Felicia supaya kita berdua bisa siap-siap.....!" Alexa langsung berlari menaiki tangga. Meninggalkan Juan yang masih ada di ruang tamu. Ia hanya bisa tersenyum menatap punggung Alexa. Baginya, kebahagiaan anak-anak, itu yang lebih utama.

__ADS_1


********


Saat akan berangkat ke vila, Joana meminta ijin pada Juan agar Wulan bisa naik ke mobil Juan karena mobil Aldo penuh dengan barang-barang. Di mobil Jero juga penuh karena Giani membawa satu pengasuh untuk menjaga putri kecilnya.


Maka berangkatlah mereka. Alexa duduk di depan bersama Juan yang menyetir sementara Felicia duduk bersama Wulan di belakang.


Sepanjang perjalanan, Wulan dan Felicia asyik bernyanyi lagu anak-anak. Juan tersenyum karena suara Wulan ternyata sangat merdu. Alexa tersenyum melihat papi Juan yang sering mencuri pandang ke arah Wulan melalui kaca spion. Ia pun mengetik pesan pada Joana dan Giani. Papi sering melihat bibi Wulan. Semoga papi mulai suka ya?


Sementara Wulan, ia pura-pura asyik dengan Felicia untuk menenangkan detak jantungnya yang seakan bergerak sangat cepat karena setelah ciuman di depan kamar Alexa, ia tak pernah lagi melihat Juan. Kini mereka justru satu mobil dan Wulan dapat sepuasnya menatap wajah tampan itu. Ya Tuhan, aku memang sudah gila. Mungkin sebaiknya aku berhenti saja bekerja. Aku bisa jatuh cinta pada tuan Juan. Sadar Wulan. Kamu itu hanyalah seorang pengasuh dan dia seorang tuan besar. Ia tak mungkin menyukaimu. Kisah gadis miskin dan seorang duda kaya hanya ada di telenovela dan novel-novel romantis.


Sesampai di vila, waktu sudah menunjukan pukul setengah 11 siang. Joana dan Giani langsung menurunkan makan siang dan juga makan malam yang telah mereka siapkan dari rumah. Mereka akan ada di sini dari hari jumat sampai hari minggu.


Anak-anak langsung bermain di halaman bersama Wulan dan Gladis pengasuh Joselin, putri bungsu Giani dan Jero.


"Wah, pohon mangganya sudah berbuah. Ayo kita ambil." Kata Gabriel.


"Tapi pohonnya tinggi. Apakah kita lempar pakai batu saja?" Tanya Gabrian.


"Eh....jangan asal lempar pakai batu. Nanti mengenai kepala orang. Biar bibi saja yang panjat pohonnya." Kata Wulan.


"Bibi, jangan. Nanti jatuh!" Ujar Alexa.


"Nggak masalah. Bibi sudah biasa melakukan ini di kampung." Kata Wulan lalu segera menaiki pohon mangga itu dengan lincahnya. Alexa sampai terkejut melihatnya.


Juan yang baru selesai jalan-jalan bersama Aldo dan Jero menyusuri perkebunan teh langsung tertarik melihat anak-anak yang asyik berkerumun di bawa pohon mangga sambil berebutan buah mangga yang jatuh dari atas.


"Bibi Wulan. Dia memang super woman!" Kata Gabriel.


Juan mendongak. Ia terpana melihat gadis itu berpindah ke sana kemari dari satu cabang ke cabang yang lain untuk mencari buah mangga yang sudah masak.


"Bibi Wulan, tu yang sebelah kanan kayaknya sudah masak.!" Gabrian berteriak.


"Yang mana?" Tanya Wulan. Ia menoleh ke bawa. Saat melihat Juan ada di sana, Wulan menjadi gugup. Ia malu terlihat memanjat pohon mangga. Saat ia akan berpindah tempat, pegangan tangannya terlepas dan...


"Bibi......!" teriak anak-anak sangat kencang.


Wulan memejamkan matanya. Ia sudah membayangkan sakitnya jatuh dari atas pohon mangga yang lumayan tinggi ini. Mungkin ada bagian tubuhnya yang patah atau juga dia akan mati. Tapi, Wulan merasakan tubuhnya melayang. Ia tak mendarat di tanah yang keras. Apalagi saat mendengar anak-anak yang bertepuk tangan.


"Hebat...! Paman Juan super hero!"


Mata Wulan perlahan dibukanya. Ia langsung menemukan wajah tampan Juan yang ternyata menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.


Juan menelan saliva nya saat melihat bibir merah tanpa polesan lipstick itu. Kalau tidak ada anak-anak, Juan pasti tak akan melepaskannya.


"Kau baik-baik saja?"


Wulan mengangguk. Sungguh ia sangat gugup.

__ADS_1


Juan menurunkan tubuh Wulan perlahan.


Tak jauh dari sana, Aldo, Jero, Joana dan Giani berdiri dan melihat kejadian itu sambil tersenyum.


"Kita belum mengatur skenario untuk membuat mereka menjadi makin dekat, eh alam sudah mengaturnya sendiri." Ujar Joana.


"Mungkin Finly membantunya, dari atas." Kata Giani sambil tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, kita nggak usah lagi mengatur skenario untuk mereka. Ayo kita urus skenario kita. Apalagi udaranya dingin...!" Ujar Jero sambil melingkarkan tangannya di bahu Giani.


"Bee...!" Giani mencubit pinggang suaminya.


Aldo hanya bisa tersenyum melihat Jero dan Giani yang terlihat begitu mesra. Ia bersyukur karena Jero sangat mencintai adiknya. Dan hubungannya dengan Jero menjadi baik. Kini, Aldo, Juan dan Jero justru sedang bekerja sama untuk sebuah proyek. Mereka sudah menjadi seperti saudara.


**********


Selesai makan malam dan mendengarkan cerita dongeng dari Wulan, anak-anak akhirnya tertidur. Juan yang sedang duduk di ruang tamu bersama Aldo dan Jero, sesekali mencuri pandang ke arah Wulan yang terlihat sangat asyik berperan sebagai tokoh beruang yang diceritakannya. Anak-anak begitu terpesona karena Wulan bisa menirukan gerakan karakter apa saja yang ia ceritakan. Joselin pun yang baru berusia 2 tahun tak bosan melihatnya.


Wulan perlahan turun dari tempat tidur. Alexa dan Felicia tidur bersamanya. Gadis itu merasa belum mengantuk. Ia membuka pintu kamar dan berjalan menuju ke bawa.


Ruang tamu sudah sepi. Mungkin karena ini sudah jam sebelas malam. Hujan bahkan turun perlahan. Rambut Wulan dibiarkannya tergerai untuk melawan hawa dingin. Wulan kesal karena ia tak membawa mantel.


Wulan membuka kulkas dan mengambil sebuah apel. Ia memang merasa sangat lapar. Tadi saat makan malam ia hanya makan sedikit karena malu jika ketahuan makan banyak. Joana memang mengajak Wulan untuk makan bersama.


Tanpa Wulan sadari, di sudut ruangan, Juan duduk sambil memegang gelas minuman di tangannya. Juan memang sengaja duduk di pojok yang agak gelap. Ia ingin mengenang masa-masa indahnya bersama Finly di tempat ini.


Tiba-tiba aliran listrik menjadi padam. Wulan menjadi panik. Ponselnya bahkan tak ia bawa. Dengan cepat Wulan terbalik. Mencari tangga untuk kembali ke kamar. Namun karena gelap sekali, Wulan tak menemukannya. Ia mulai gemetar. Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pingangnya. Wulan hampir saja berteriak saat hidungnya mencium bau minyak wangi itu.


Wulan membalikan badannya. "Tuan...?" tanyanya masih dalam keadaan takut.


"Ssst....!" Juan meletakan jari telunjuknya di bibir Wulan. Tangannya yang satu menarik tubuh Wulan agar semakin menempel pada tubuhnya.


Sampai Wulan merasakan bibirnya disentuh kembali. Memang kali ini ada bau alkohol sedikit. Namun Wulan kembali tersihir. Ciuman kali ini sama lembutnya. Begitu indah membuat gadis polos itu kembali terlena. Wulan membalas ciuman Juan.


Tangan kanan Juan masih memeluk pinggang Wulan namun tangan kirinya sudah masuk ke dalam kaos longgar gadis itu. Membelai punggung Wulan secara langsung menyentuh kulitnya.


Wulan merasakan tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik yang sangat tinggi. Ia hanya memegang pinggiran kemeja Juan. Apalagi saat ciuman Juan sudah berpindah ke lehernya. Wulan merasakan kalau kakinya menjadi lemas.


"Tuan.....!" desis Wulan memanggil Juan pelan. Dan suara Wulan sangat merdu dan menggoda bagi Juan.


"Kau membuatku jadi gila!" bisik Juan lalu ia kembali mencium bibir Wulan. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuh Wulan dan melangkah ke arah kamarnya yang memang ada di lantai bawa.


**********


Kali ini, apakah ada yang bisa menghalangi duda keren ini????


Berikan komentarnya ya.....

__ADS_1


__ADS_2