
Hai, yang penasaran lihat wajah Beryl ada di bab sebelum part ini....
Happy reading
"Pembahasan hotel kita yang akan dibangun di Bali nanti bulan depan jadwalnya." Kata Frangky saat ia menemui Jeronimo di kantor mereka.
"Gue ingin melihat tanah yang akan dibangun itu. Katanya itu bekas cafe yang terbakar dan sudah dibiarkan agak lama ya? Jangan-jangan ada penunggunya."
"Loe percaya dengan hal-hal seperti itu? Gue rasa kalaupun ada maka biarkan orang-orang di sana yang membereskannya."
"Gue tetap harus memeriksanya. Ijin lingkungannya sudah keluar?" Tanya Jero mencari jalan untuk bisa pergi ke Bali.
"Sudah, pak. Berkas-berkasnya sudah siap." kali ini Selly yang menjawab.
"Baguslah. Siapkan tiket untukku siang ini." Ujar Jero sambil menandatangani berkas yang dibawa Selly.
"Jam 11 ada rapat di kantornya tuan Denny. Dan jam 2 ada pertemuan dengan wakil perusahaan dari Singapura. Karena tuan Beryl tak ada maka harus tuan yang menerimanya."
Enak benar si Beryl. Dia asyik dengan bini gue di Bali sementara gue harus menangani pekerjaannya.
"Besok saja kalau loe mau pergi. Kita kan ada janji makan malam hari ini dengan investor dari Jepang. Nggak enak kan kalau hanya gue yang menemui mereka." Kata Frangky lalu segera berdiri. "Gue kembali ke ruangan dulu ya. Sampai jumpa malam ini jam 7 malam."
Jero menahan kesal di hati. Rasanya ia ingin terbang ke Bali sekarang juga.
"Selly, coba periksa, jam berapa penerbangan terakhir ke Bali."
Selly mengambil tabletnya dan langsung memeriksa jadwal penerbangan ke Bali.
"Jam 11 malam, pak."
"Pesankan satu tiket untukku."
"Baik, pak." Kata Selly sambil menahan tawanya.
"Ada apa, Sel?" Tanya jero melihat perubahan wajah sekretarisnya itu.
"Bapak kangen dengan nyonya Giani ya sampai tak bisa menunda keberangkatannya lagi?"
"Aku mau kerja, Selly. Siapa bilang aku mau menyusul istriku ke sana?" Jero memasang tampang dinginnya lagi.
"Pemesanan tiketnya berhasil, pak. Saya kembali ke kantor pusat." Selly pamit. Ia segera menutup pintu secara perlahan. Saat ia akan masuk ke lift, Frangky ternyata sudah menunggunya.
"Selly, ada apa di Bali sampai Jeronimo begitu ingin ke sana?"
"Sepertinya ingin menyusul nyonya Giani. Nyonya ke Bali kemarin bersama tuan Beryl."
Frangki tersenyum. Sudah jatuh cinta rupanya dia....
**********
Ponsel Giani berbunyi saat mereka baru memasuki lobby hotel. Saat melihat siapa yang menghubunginya, Giani sengaja belum mengangkatnya.
"Jero?" bisik Joana.
"Ya. Itu Jero."
"Kenapa nggak diangkat?" Tanya Joana masih berbisik.
__ADS_1
"Buat dia kesal aja."
Joana jadi tertawa. "Kamu semakin pintar sekarang ya?"
"Besok pagi kita lari pagi ya?" Ujar George. Pacar Joana ini memang seorang penggila olahraga.
"Ok. Jam 5 subuh kita ketemu di lobby." Kata Beryl lalu menekan tombol lift. Kamar mereka ada di lantai 2.
Kamar Beryl dan Giani berhadapan sedangka kamar Joana dan George ada di ujung lorong.
"Good ninght. Have a nice dream." Kata Beryl saat Giani sudah membuka pintu kamarnya.
"You too." Kata Giani lalu menghilang dari pintu kamar. Waktu sudah menunjukan pukul 11 lewat 10 menit. Mereka berempat baru saja pulang makan malam. Pembukaan cafe akan dilaksanakan besok sore jam 3. Semuanya sudah siap sehingga Giani punya waktu santai untuk besok pagi.
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan gaun tidur, Giani pun langsung naik ke atas tempat tidur. Ia ingat kalau Jero tadi meneleponnya namun saat telepon balik, ponsel Jero tak aktif. Giani mengecek gps mobil Jero. Mobil itu ada di rumah.
Apakah kak Jero sudah tidur sampai ponselnya tak aktif lagi?
Giani memutuskan untuk tidur setelah meletakan hp nya di atas nakas.
*********
Rasanya belum lama Giani tertidur, saat di dengarnya ponselnya berbunyi terus. Mendengar nada panggilan itu, Giani tahu kalau jero yang meneleponnya.
"Ada apa, kak? Jawab Giani dengan suara berat karena rasa kantuk yang menyerangnya.
"Kamu nginapnya di hotel apa? Kamarnya nomor berapa?"
"Hotel The Thomson. Kamar 2004. Ada apa sih kak?"
Klik.
Giani kembali memejamkan matanya.
Baru saja ia akan masuk ke alam mimpi, bel pintu kamarnya berbunyi.
"Aduh, apalagi sih? Siapa yang membunyikan bel pintu secara terus menerus?" Gerutu Giani dengan kesal turun dari tempat tidur. Ia membuka pintu kamarnya.
"Kak Jero?" Giani terkejut. Rasa kantuknya langsung hilang begitu saja. Jero masuk tanpa suara. Ia meletakan tas yang dibawahnya di sembarang tempat, membuka jaket yang dipakainya dan melemparkannya ke sembarang tempat, ia duduk di atas sofa sambil membuka sepatunya.
"Kak, ada apa?" Tanya Giani heran.
Jero tak menjawab. Ia hanya menyelesaikan membuka sepatu dan kaos kakinya setelah itu ia ke kamar mandi.
Saat Jero keluar dari kamar mandi, ia hanya menggunakan boxer. Giani yang sedang membereskan jaket, kemeja dan barang-barang Jero langsung terkejut saat Jero memeluknya dari belakang.
"Palo kangen!" bisik Jero lalu mulai mengendus leher Giani.
"Aku kan sudah bilang kalau pulang dari sini akan memberikan service yang terbaik."
"Palo maunya sekarang." Jero menurunkan tali gaun tidur Giani. Ia mulai mencium tengkuk gadis itu sementara tangannya sudah berada di gunung kembar Giani.
"Kak...!" tubuh Giani bergerak gelisah. Ia takut tak bisa menahan dirinya. Apalagi tangan Jero sama sekali tak bisa dihentikan.
"Jangan buat palo tersiksa, Gi." Kata Jero langsung mengangkat tubuh Giani menuju ke ranjang.
Deru napas yang saling berkejaran serta suara desahan akhirnya menghiasi kamar itu. Giani mencakar punggung Jero ketika gèlombang kenikmatan itu diraihnya untuk kesekian kalinya namun Jero belum juga nampak akan selesai.
__ADS_1
"Kak....!" manja Giani sambil menarik hidung Jero dengan gemas. "Kakak berat."
Jero yang masih menikmati sisa-sisa kenikmatannya segera menggulingkan tubuhnya yang berkeringat disamping Giani.
Keduanya saling diam sampai akhirnya
disaat Giani mulai memejamkan matanya, tangan Jero kembali kembali menyentuh tubuhnya.
"Kak...!" Giani menahan tangan Jero.
"Palo mau lagi."
"Aku ada janji mau lari pagi bersama Joana, kak Beryl dan George."
Mendengar nama Beryl, hati Jero bagaikan ditusuk sembilu. Ia semakin aktif menyentuh Giani walaupun gadis itu berusaha melepasksn diri.
"Kakak...!" Giani mencoba menepis tangan Jero namun suaminya itu justru menahan tangan Giani dan segera menempatkan dirinya di atas Giani.
"Aku janji kali ini lebih cepat."Bisik Jero lalu kembali mencium Giani
Namun, janji Jero hanyalah sebuah angin yang cepat berlalu. Kali kedua justru semakin lama dalam menuntaskan hasrat. Giani langsung tertidur begitu selesai. Tubuhnya terasa lelah dan tulang-tulangnya bagaikan dilucuti dari tubuhnya. Si palo sungguh tak mengenal kata ampun kali ini. Mereka berhenti saat jam dinding menunjukan pukul 4.32 menit.
*******
"Kok Giani belum bangun ya? Ini bahkan sudah jam 6 pagi. Aku susul dia saja ke kamarnya. Soalnya ponsel Giani sedang off." Kata Joana.
"Iya sayang. Cepatlah susul Giani." ujar George.
Joana memilih menaiki tangga. Sesampai di kamar 2004, Joana membunyikan bel.
Pintu kamar terbuka. Namun hanya sedikit. Jero membuka pintu tanpa menggunakan pakaian apapun.
"Jero?" Joana terkejut.
"Ya"
"Mana Giani?"
"Masih tidur."
"Kau membuatnya kelelahan?"
"Mungkin!"
Joana tersenyum dengan tatapan menggoda. "Ok. Selamat tidur lagi." Joana meninggalkan kamar itu.
Sesampai di bawah, Beryl langsung bertanya.
"Mana Giani?"
"Jero datang. Mereka pasti kelelahan. Kita berangkat sendiri!" Kata Joana lalu segera melangkah keluar dari lobby hotel.
Beryl menjadi kesal. Ngapain juga si Jero ke sini?
sorry ya...partnya agak pendek
aku masih kelelahan ....
__ADS_1
see you next episode