
Tak pernah hati Jero merasakan sakit seperti ini. Giani, perempuan yang selama ini selalu berbicara manis padanya, tiba- tiba berubah menjadi dingin. Gak adakah rasa dalam hatinya setelah satu tahun bersama? Tak adalah cinta yang tumbuh diantara kedekatan raga yang selama ini tercipta diantara mereka? Tidak! Hati Jero memberontak. Ia harus memperjuangkan cintanya. Ia tak boleh menyerah!
Perlahan Jero berdiri. Saat ia membalikan badannya, dilihatnya pesawat yang dinaiki Giani sudah bergerak.
"Gi....., jangan pergi....! Giani, aku mencintaimu!" Jero mengejar pesawat itu. Ia terus berlari dan meneriaki tentang perasaannya. Namun kekuatannya tentu tak sebanding dengan lajunya pesawat itu. Langkah Jero terhenti saat melihat kalau pesawat itu sudah mengudara. Meninggalkan dirinya yang kembali terduduk lesu dan kehilangan tenaga. Jero menangis. Hatinya semakin tercabik-cabik. Ia telah kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan hati Giani. Jero telah gagal.
Frano langsung mendekat dan menarik Jero keluar dari sana sebelum petugas keamanan datang dan menyingkirkan Jero.
"Ayo pergi, Mo. Jangan seperti orang yang tak ada harapan!"
Tangan Frano mengangkat sahabat kakaknya itu. Jero hanya menurut seperti orang yang tak berdaya. Sampai akhirnya, Frano membawanya ke luar bandara. Keduanya duduk di salah satu bangku taman, dekat tempat parkiran.
Frano meninggalkan Jero dan membeli 2 air mineral untuk mereka berdua.
"Minunlah! Supaya kau menjadi tenang."
Jero menerima botol air mineral itu. Ia meminumnya sampai hampir habis. Sisanya ia pakai untuk mencuci wajahnya. Perasaannya masih terasa sakit.
"Aku nggak tahu masalah apa yang ada diantara kalian. Aku turut bersedih karena istrimu akhirnya pergi. Aku percaya, semua akan bisa kau lalui, Mo." Kata Frano sambil menepuk pundak pria bule itu.
"Terima kasih!" Kata Jero pelan. Ia kemudian berdiri. "Aku pulang dulu ya."
"Kau bisa membawa mobilmu sendiri?"
Jero mengangguk. Ia segera meninggalkan Frano yang menatapnya dengan perasaan kasihan. Frano mengenal Jero melalui kakaknya. Selama ini yang ia tahu kalau Jero adalah lelaki tegar dan hebat. Ia tak pernah menduga kalau mencintai ssseorang membuat Jero terlihat lemah dan tak berdaya. Ia pun melangkah menuju ke arah motornya di parkir sambil menelepon kakaknya dan menceritakan semua yang terjadi.
**********
Di dalam pesawat, Giani menumpahkan semua tangisnya sambil menunduk di atas wastafel.
Ia tak tahu mengapa harus menangis. Giani bukanlah gadis yang cengeng. Ia selama ini diajarkan untuk menjadi kuat dan tegar menghadapi segalanya. Bahkan ketika orang tuanya meninggal, Giani tak menangis sesedih ini. Wajah Jero terus menempel di pelupuk matanya. Tatapan wajah Jero yang sangat terluka dengan semua kata-kata Giani, terbayang terus.
Ya Tuhan, ada apa dengan diriku? Apakah aku bersedih karena harus meninggalkan dia? Kenapa aku harus merasa sesakit ini?
"Giani, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Joana sambil mengetuk pintu toilet.
Giani buru-buru mengambil tisue dan membersihkan wajahnya. Ia lalu membuka pintu dan memberikan senyum terbaiknya.
"Maaf. Perutku agak tak enak. Aku merasa agak mual."
"Memangnya kamu sejak kemarin sudah makan? Belum kan? Apalagi semalam kamu berjaga di rumah sakit sampai tak tidur. Si tambah dengan tekanan perasaan, wajarlah kalau kamu merasa mual dan muntah. Duduklah. Aku akan meminta pramugari membuatkan teh hangat untukmu!" Joana memegang kedua bahu Giani dan memintanya untuk duduk. Ia pun menghubungi pramugari dan meminta untuk menyiapkan teh dan juga makanan bagi Giani.
Aldo yang duduk di bagian depan, di dekat tempat tidur Alexa, berdiri dan menemui adiknya.
"Gi, kamu sakit?"Tanya Aldo sambil menyentuh dahi adiknya dengan punggung tangannya.
"Mungkin asam lambungku kambuh karena tidak makan teratur, kak."
Aldo mengangguk. "Setelah makan, minumlah obat dan cobalah beristirahat."
"Baik, kak."
Aldo pun kembali ke tempat Alexa. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya.
**************
Frangky terpaksa menghubungi papa Denny dan memintanya untuk bisa mendapatkan akses masuk ke dalam kompleks tempat tinggal Jero setelah 2 hari temannya itu tak bisa dihubungi. Papa Denny pun datang bersama Frangki. Untunglah pascode untuk membuka pagar dan pintu depan tak perlu mereka gunakan karena baik pintu pagar, maupun pintu depan, semuanya terbuka lebar. Mereka melihat ruang tamu yang berantakan, ada beberapa botol minuman alkohol di atas meja dan Jero yang tertidur di sofa sambil tengkurap.
__ADS_1
"Astaga, anak ini." Papa Denny segera mendekati Jero. "Jer....!" Panggil papa Denny sambil mengguncang bahu putra angkatnya itu. Ia langsung terkejut saat merasakan suhu badan jero yang panas. Ia langsung membalikan tubuh Jero dan melihat kalau wajah Jero pucat.
"Frangki, tolong telepon ambulance. Papa takut kalau Jero sampai keracunan alkohol. Lihatlah, entah sudah berapa botol yang ia habiskan."
1 jam kemudian, Jero sudah berada di rumah sakit yang sama dengan mama Sinta. Ia langsung ditangani dengan serius.
**********
Perlahan Jero membuka matanya. Setelah berhasil menyesuaikan dengan cahaya yang ada, Jero dapat melihat jelas wajah yang selalu menyejukan hatinya. Sedang duduk dekat ranjangnya sambil membaca.
"Ma.....!" Panggil Jero pelan.
Mama Sinta menatap Jero lalu melepaskan buku yang dibacanya. "Kau akhirnya bangun."
"Aku di rumah sakit?"
"Ya. Kau hampir saja meninggal. Kau keracunan alkohol karena selama 2 hari tak makan dan hanya meminum alkohol. Lambungmu juga bermasalah dan hampir saja rusak. Kau mau bunuh diri dan meninggalkan mama sendiri?"
Jero merasa sangat bersalah melihat air mata mama Sinta. "Maafkan aku, ma."
"3 hari kamu tak sadarkan diri. Mama tahu kalau kamu terluka, namun jangan bersikap bodoh seperti ini, nak." Kata Mama Sinta sambil membelai wajah putranya. Ia sungguh menyayangi Jero seperti anak kandungnya sendiri.
"Maafkan aku, ma. Aku tak pernah mengira kalau kehilangan Giani akan membuatku hancur seperti ini. Aku tak bisa tanpa Giani, ma."
Sinta tersenyum. "Mama senang, kau akhirnya menyadari apa arti cinta yang sebenarnya. Biarkanlah Giani pergi. Biarkan dia juga merenungkan apakah dia mencintaimu atau tidak. Mama yakin, akan ada saatnya, jika memang kalian saling mencintai, kalian akan dipersatukan kembali."
"Bagaimana jika Giani memang tak mencintaiku, ma?"
"Kau harus belajar melupakan dia, nak."
Jero memejamkan matanya. Hatinya kembali sakit. Sanggupkah ia melupakan Giani? Mampukah ia membuang semua kenangan yang sudah tercipta selama 1 tahun ini? Rasanya tak mungkin.
"Mama tahu kamu kalau sakit selalu membutuhkan orang untuk menemanimu"
"Apakah mama lupa kalau aku sudah lulus terapi untuk mengatasi rasa takutku saat sakit?"
Sinta tersenyum. "Mama tetap akan mendampingimu."
Jero memegang tangan mamanya. Ia tersenyum. Setidaknya, kehadiran mama Sinta mampu menguatkan hatinya.
********
Selama 8 hari Jero dirawat di rumah sakit, setelah itu dia diijinkan pulang. Mama Sinta menawarkan Jero untuk tinggal di rumah mereka. Namun Jero menolaknya. Ia ingin kembali ke rumahnya sendiri. Walaupun ada begitu banyak kenangan yang harus ia hadapi di rumah itu, namun Jero akan berusaha untuk menghadapinya.
Tidur sendiri di kamarnya, membuat Jero sungguh tersiksa. Ketika rasa rindu pada Giani datang, ia hanya bisa memandang foto pernikahan mereka yang masih ada di dinding kamar mereka.
Apa yang kamu lakukan di sana, Gi? Tahukah kamu, hidup sendiri di rumah ini sangat menyiksaku? Aku rindu, Gi. Benar-benar rindu. Ingin sekali aku pergi ke Amerika dan melihatmu. Namun aku takut kau akan membenciku. Gi, apakah kau tak memiliki rasa cinta untukku walaupun hanya sedikit saja?
Dalam rindunya, Jero pun mencoba tidur. Ia ingin bermimpi tentang Giani.
Saat pagi datang, Jero bergegas bangun. Tak lupa ia berdoa, memohon Tuhan menyatukan cintanya dengan Giani. Jero juga berdoa untuk kesembuhan Alexa.
Setelah olahraga sedikit, Jero menyiapkan sarapannya. Ia pun sarapan sendiri. Kopi yang diminumnya terasa hambar di mulutnya. Tak seenak buatan kamu, Gi. Aku lupa belajar bagaimana meracik kopi seperti buatanmu.
Selesai sarapan, Jero membersihkan dapur dan mencuci peralatan makan yang digunakannya. Kemudian Jero naik ke atas, untuk mandi dan bersiap ke kantor.
Hampir 2 minggu tak masuk kerja, membuat Jero harus kerja keras menyelesaikan tugas-tugasnya. Untuk urusan hotel, Frangky telah menanganinya dengan baik. Namun urusan perusahaannya sendiri, Jero memang harus lembur untuk beberapa hari ke depan.
__ADS_1
"Pak, ada tamu!" Selly berdiri di depan pintu ruangannya.
"Siapa?"
"Pengacara Fadly."
Deg! Hati Jero kembali resah. Itu adalah pengacaranya Geraldo.
"Persilahkan masuk!"
Seorang pria berusia swkitar 40-an masuk sambil membawa tas kerjanya.
"Selamat sore tuan Dawson, saya Fadly, pengacara keluarga Purwanto."
"Silahkan duduk!"
Fadly duduk di depan Jero. "Saya ke sini untuk membawa berkas perceraian yang diajukan oleh nona Giani Purwanto." Katanya sambil mengulurkan sebuah mapfile berwarna merah.
Tangan Jero sedikit bergetar menerima berkas itu.
"Tuan Dawson boleh membacanya dulu. Jika sudah setuju, silahkan tanda tangan di bagian akhir berkas ini."
"Bagaimana jika saya tak mau bercerai?"
"Saya akan tetap mengajukan permohonan ini ke pengadilan tanpa tanda tangan anda, tuan. Persidangannya akan tetap dilaksanakan. Nona Giani sendiri sudah menandatanganinya."
"Berikan saya waktu." Kata Jero dengan dada yang terasa sesak.
"Saya memberikan tuan waktu selama 2 minggu."
"Tidak bolehkah selama 1 bulan?"
"Akan saya konsultasikan dengan nona Giani dulu. Kalau begitu saya permisi tuan. Selamat sore." Fadly segera meningalkan ruangan Jero. Jero membuka mapfile itu. Ia merasakan sakit yang sangat dalam di hatinya.
**********
Giani tertegun mendengar perkataan pengacara Fadly dari seberang. Jero minta waktu satu bulan?
"Alasan apa yang dia berikan sehingga meminta waktu satu bulan?" Tanya Giani penasaran.
"Saya tidak tahu, nona. Awalnya dia mengatakan tak ingin bercerai, lalu kemudian dia meminta waktu satu bulan."
"Ya sudah. Berikan saja waktu itu untuknya. Kalau ia tak mau menandatanganinya, segeralah ajukan berkas perceraiannya ke pengadilan."
"Baik, nona!"
Giani meletakkan ponselnya. Mengapa kak Jero tak mau bercerai? Apakah karena dia memang mencintaiku? Tidak, aku tak boleh goyah. Aku tak boleh menyakiti hati kak Aldo.
"Bibi......!"
Giani terkejut. "Alexa, kau sudah sadar?"
Gimana kelanjutannya?
Berceraikah Giani dan Jero?
Jika harus cerai, berikan alasan kalian
__ADS_1
Jika tak boleh cerai, apa komentar kalian?
Jangan lupa dukung emak ya, like, komen dan vote. siapa tahu sebentar malam emak up lagi 😄😄😄