
Satu minggu sudah Alexa berada di apartemen Oliver. Gadis itu dengan terpaksa membiarkan dirinya dilayani oleh pria mesum itu.
Setiap hari ada dokter Greyta yang datang
Setiap pagi, Oliver akan membangunkan Alexa dan mengajak gadis itu berjemur di balkon. Katanya berjemur sangat bagus.
Selesai berjemur, keduanya akan sarapan bersama. Alexa hanya diam saja setiap kali Oliver menggendongnya ala bridal style menuju ke meja makan. Untung saja untuk urusan mandi, ada salah satu pelayan perempuan yang memandikan Alexa karena kakinya yang terluka tidak boleh basah terkena air.
Hari ini, dokter datang untuk memeriksa kaki Alexa. Gadis itu sebenarnya sudah merasa kalau lukanya sudah membaik. Ia tadi pagi saat bangun sudah bisa ke toilet sendiri.
"Lukanya sudah kering tapi masih harus diperban. Nona sudah bisa berjalan tapi tetap harus hati-hati." ujar dokter Greyta. Seorang dokter muda yang cantik. Sesekali ia melirik ke arah Oliver. Namun Oliver terlihat begitu dingin.
"Terima kasih, dok." ujar Alexa sebelum dokter itu pergi.
"Tuan Oliver, luka saya sudah membaik. Bolehkah saya pergi dari sini? Saya juga ingin mengecek jadwal penerbangan." Ujar Alexa. Keduanya duduk di ruang tamu sambil berhadapan.
"Aku nggak akan mengijinkan kamu pergi." kata Oliver tegas.
"Kenapa?"
"Aku ingin kita pacaran."
"Apa? Orang yang pacaran itu harus ada rasa saling suka. Aku tidak menyukaimu dan aku tahu kau juga tak menyukaiku. Kau hanya terobsesi padaku. Please tuan, jangan suka memaksakan keinginanmu pada orang lain." Kata Alexa kesal.
"Aku tak memaksa. Aku yakin kau akan suka padaku." Oliver berdiri. "Aku akan ke kantor dulu. Jangan coba-coba melarikan diri. Bodyguard ku sangat banyak di sekitar apartemen ini." Oliver langsung melangkah pergi.
"Aku benci kamu....!" teriak Alexa sambil melemparkan bantal kursi ke arah Oliver. Bantal. itu mendarat mulus di punggung Oliver. Pria itu menghentikan langkahnya. Ia menatap Alexa dengan tajam. Langkahnya diarahkan ke arah Alexa. Tanpa peringatan ia langsung memegang tengkuk Alexa dan mencium bibirnya secara kasar. Namun Alexa tak mau kalah. Ia berusaha mendorong tubuh Oliver. Dan sebelum ciuman mereka terlepas, Alexa dengan cepat mengigit bibir bawa Oliver.
"Kau.....!" Oliver memegang bibir bawanya yang berdarah.
"Jangan menyentuh apa yang bukan milikmu!" Kata Alexa pelan namun sangat menyakitkan di pendengaran Oliver.
Oliver mengepal tangannya menahan amarah. Kalau perempuan lain, ia sudah melayangkan tamparannya. Namun entah mengapa dengan Alexa ia tak bisa. Tatapan mata gadis itu selalu membuat Oliver tak ingin menyakitinya.
"Kau akan menerima hukuman jika kakimu sudah benar-benar sembuh." kata Oliver sebelum akhirnya ia melangkah pergi dan meninggalkan Alexa sendiri.
Dengan kesal, Alexa menaiki tangga. Tak peduli dengan kakinya yang masih terasa sakit. Ia membuka pintu kamar yang ditepatinya. Ia membuka tas selempangnya yang berisi ponsel, dompet dan pasportnya.
"Yang penting ketiga barang penting ini ada. Aku harus mencari jalan bagaimana akan keluar dari apartemen ini." guman Alexa. Ia melangkah menuju ke balkon. Memandang ke bawa, mencoba mencari celah bagaimana akan keluar dari neraka ini. Ia berada di lantai 20. Nyalinya tak cukup besar untuk melompat dari satu lantai ke lantai yang lain. Mau buka pintu depan, Alexa tak tahu kodenya. Namun, mami bulenya pernah mengajarkan dia berbagai hal yang berhubungan dengan cara meloloskan diri. Alexa akan mencobanya.
*******
"Gantilah pakaian dan ikut denganku malam ini." Kata Oliver sambil memberikan sebuah paperbag.
"Aku tak mau pergi denganmu! Aku ingin pulang. Sudah 10 hari aku ada di Madrid. Aku bosan harus berbohong terus pada keluargaku."
"Pergilah denganku malam ini. Dan aku akan meminta pihak maskapai untuk mengurus jadwalmu."
Wajah Alexa berubah gembira. "Benarkah?"
__ADS_1
"Ya. Aku tak mungkin akan selamanya menahanmu di sini kan?"
Alexa mengangguk setuju. Ia bosan berada terus di kamar.
1 jam kemudian, Alexa sudah siap dengan gaun berwarna biru mudah yang sangat cocok dengan kulit putihnya. Rambut Alexa yang biasa disanggul saat bertugas sebagai seorang pramugari, kini dibiarkan tergerai. Alexa memiliki rambut indah seperti mamanya Finly. Dandannya yang natural justru semakin menampakkan kecantikannya sebagai seorang gadis Asia.
Oliver yang melihat Alexa menuruni tangga, langsung terpana. Hatinya bergetar melihat betapa luar biasanya penampilan gadis yang menjadi tawanannya itu.
Oliver pun sangat tampan dengan jas dan dalaman biru yang serasi dengan gaun Alexa.
"Ayo kita pergi!" ajak Oliver.
Selama perjalanan menuju ke tempat acara, keduanya saling diam tanpa bicara. Mobil akhirnya berhenti di sebuah lobby hotel berbintang. Sebelum turun, Oliver menahan tangan Alexa.
"Aku mohon, tetaplah menggandeng tanganku. Biarlah mereka berpikir kalau kita ada hubungan khusus."
Alexa menatap Oliver. Pria sombong yang arogan itu kini menatapnya dengan wajah penuh permohonan.
"Baiklah. Tapi jangan lupa mengatur jadwal pulangku."
"Deal."
Keduanya pun turun sambil bergandengan tangan. Beberapa kamera langsung mengambil gambar mereka.
Saat memasuki ruangan acara, semua mata memandang pasangan yang nampak serasi itu.
Alexa sebenarnya sedikit gugup. Tangan Oliver yang melingkar di pinggangnya, membuat Alexa merasa terlindungi.
Acara pun di mulai. Acara ini ternyata malam penghargaan bagi mereka yang ada di dunia bisnis. Oliver ternyata memenangkan penghargaan sebagai pengusaha muda yang paling sukses.
Ia maju dengan sangat bangga saat menerima penghargaan itu.
Selesai acara pemberian penghargaan, mereka pun menikmati makan malam bersama. Banyak pengusaha yang mendekati Oliver dan Alexa.
Ada rasa kagum dalam hati Oliver saat melihat bagaimana Alexa yang cepat akrab dengan siapa saja. Oliver juga merasa sedikit tersanjung saat beberapa teman pria pengusahanya membisikan kata-kata pujian tentang Alexa.
"Dia sangat cocok denganmu. Kelihatannya ia sangat pintar."
"Gadismu itu terlihat mengagumkan."
"Dia luar biasa. Kalian pasangan yang serasi."
Begitulah beberapa pujian yang diberikan teman-temannya kepadanya.
Saat acara selesai, Oliver dan Alexa pun pulang. Saat sampai di penthouse, Oliver membuka pintu dengan kode yang ada. Mata Alexa dengan awas melihat bagaimana tangan Oliver bergerak. Dalam hati ia mencoba menghafalnya.
"Alexa, terima kasih ya?" ujar Oliver sebelum Alexa masuk ke kamarnya.
Gadis itu menoleh. "Jangan lupa jadwalku." Lalu ia masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Oliver diam di depan kamar Alexa. Selama 10 hari ia bersama Alexa di rumah ini, ia merasa sangat bersemangat. Ia rela meluangkan waktunya untuk menemani Alexa makan, mengangkat tubuh Alexa saat gadis akan ke toilet. Ia bahkan ingin cepat-cepat pulang saat jam kantor selesai.
Apakah ada sesuatu yang mulai mengusik hatinya? Oliver buru-buru menggelengkan kepalanya. Rasa suka dan cinta itu hanyalah sebuah omong kosong.
********
Alexa turun dari lantai 2. Ia tahu kalau Oliver sudah pergi ke kantor. Dapur tampak sepi, entah di mana para pelayan.
Alexa sudah siap dengan celana jeans dan kaos lengan panjangnya. Tas selempangnya sudah berada di bahunya. Ia ingat bagaimana tangan Oliver bergerak menekan tombol digital yang ada di pintu masuk.
Alexa mencobanya. Pintu langsung terbuka setelah bunyi 'bip'. Gadis itu tersenyum senang. Namun saat ia keluar, ia langsung sembunyi melihat ada 2 bodyguard di dekat lift. Otak Alexa langsung berpikir keras. Apa yang harus dilakukannya?
Alexa masuk lagi ke dalam apartemen. Ia mencari korek api dan menemukannya di dapur. Ia mengumpulkan beberapa lembar kertas, kain dan apa saja yang mudah terbakar, lalu di bawahnya keluar. Alexa secara sembunyi-sembunyi membawa semuanya di dekat sensor asap yang agak jauh dari lift. Ia segera membakarnya. Api dengan cepat menjadi besar dan membakar tirai jendela yang ada. Tak lama kemudian, terdengar alarm dan air secara otomatis membasahi lantai 20 itu. Saat kedua bodyguard itu masuk ke dalam apartemen, Alexa dengan cepat menuju ke lift yang ada. Untung saja karena alarm yang berbunyi, sistem lift yang memakai kode pun dimatikan. Alexa tersenyum melihat kekacauan yang terjadi saat petugas pemadam kebakaran dan penghuni apartemen yang berhamburan keluar.
Dengan cepat Alexa berlari. Ia langsung naik taxi dan meminta ke bandara. Dalam perjalanan ke bandara, ia mengkonfirmasikan tiket pesawat yang sudah di pesanan nya sejak semalam.
awal
Saat tiba di bandara, Alexa berlari ke bagian imigrasi untuk melapor. Visa kunjungannya memang hanya 14 hari. Dan ini sudah hari yang ke-13. Setelah urusan di bagian imigran selesai, Alexa setengah berlari menuju ke bagian cek in. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia selalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada anak buah Oliver atau tidak. Sampai akhirnya ia bisa masuk ke dalam pesawat. Alexa bernapas lega. Ia bahkan hampir menangis. Good bye Madrid.
*********
Oliver melihat tayangan CCTV yang memperlihatkan bagaimana Alexa dengan sangat mudah membuka pintu apartemen dan membakar semuanya.
Gadis pintar, aku semakin tertantang untuk menaklukanmu. Guman Oliver sambil tersenyum tipis.
"Kevin, majukan semua jadwalku di sini. Aku akan ke Jakarta 2 hari lagi." Kata Oliver lalu segera berdiri meninggalkan ruangan CCTV.
**********
Alexa tersenyum puas saat ia bisa menyelesaikan pekerjaan nya hari ini. Walaupun jadwal penerbanhannya sekarang hanya antar kota se Indonesia, setidaknya ia masih bisa bekerja sebagai pramugari. Ia sendiri merasa heran mengapa ia tak bisa lagi ke luar negeri. Ia bahkan tak pernah satu penerbangan lagi dengan kapten Haris.
Saat ia tiba di rumah, mami bule sudah menyiapkan masakan kesukaannya. Alexa mandi dan bersiap untuk makan, saat salah satu pelayan mengatakan kalau ada orang yang mencarinya.
Alexa menatap seorang perempuan yang berusia 50-an namun terlihat cantik dan elegan.
"Maaf, nyonya siapa ya?"
Perempuan itu tersenyum sangat manis. Ia mendekati Alexa dan membelai kepala Alexa dengan sangat lembut.
"Kau sangat cantik."
Alexa mengerutkan dahinya. "Jadi nyonya siapa?"
"Namaku Elvira Risa Pregonas. Mamanya Oliverio Pregonas."
Alexa terkejut. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat cepat.
So, ada apa ya nyonya Elvira mencari Alexa??
__ADS_1
Dukung emak terus ya...