
"Mel sayang, kamu dimana?" Tanya Jeronimo. Ia pulang cepat hati ini. Perasaannya menjadi tak tenang setelah tahu mengenai pengagum rahasia yang selalu mengirim bunga untuk Giani.
Ia tak menemukan istrinya itu di kamar. Ia juga tak menemukan Giani di teras belakang yang menjadi tempat faforitnya.
"Bi Lumi, dimana istriku?" Tanya Jero saat tak menemukan istrinya.
"Nyonya keluar, tuan. Katanya mau ke cafe yang ada di mall sekalian mau belanja."
"Dia pergi sendiri?"
"Diantar oleh sopir."
"Kenapa dia tak minta ijin padaku saat keluar rumah?" Jeronimo jadi kesal. Ia takut jika si pengagum rahasia itu mendekati istrinya. Ia tahu betapa berbahayanya lelaki itu. Seharusnya Jero menyelesaikan urusannya dengan lelaki itu ketika ia ada di Sidney.
Terbayang kembali, kisah 3 tahun lalu ketika dirinya ada di Sidney. Jero pacaran dengan seorang gadis cantik bernama Feronika yang adalah blesteran Jepang-Australia. Hubungan mereka awalnya berjalan lancar sekalipun Jero tak mencintainya. Feronika sangat manja dan sangat agresif saat di ranjang. Gadis itu juga sangat posesif. Jeronimo merasa kurang nyaman dengan sikap Feronika itu yang sangat cemburuan dan selalu ingin tahu dimana Jero berada. Akhirnya ia memutuskan untuk mengahiri hubungannya dengan Feronika. Perempuan itu tak terima. Ia bahkan mengancam akan bunuh diri. Namun Jero sudah tak peduli. Ia sungguh tersiksa dengan sikap posesif Feronika.
Setelah 2 minggu berpisah, Jeronimo tak menyangkah kalau Feronika mencoba untuk bunuh diri. Ia meminum obat tidur dalam jumlah yang banyak. Ungtulah kakaknya berhasil menyelamatkannya. Kakak Feronika adalah seorang pemimpin gank mafia yang cukup ditakuti di Sidney. Ia datang mencari Jero bahkan memukul Jero. Namun Jero menjelaskan semuanya kalau ia meninggalkan Feronika karena tak tahan dengan sikapnya. Fidel nama kakak Feronika, meminta agar Jero menerima adiknya kembali kalau Jero menolaknya, maka ia akan menghabisi nyawa Jero. Saat itulah Jero memutuskan untuk pergi ke London ketika pesawat pribadi keluarga Dawson mendarat di sana. Jero berdiam diri di London selama 3 bulan, sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke Jakarta.
Kisah cintanya dengan Feronika bahkan sudah Jero lupakan. Ia tak pernah menyangka kalau kini Fidel datang ke Jakarta dan justru menemukan Giani.
"Rudy, ayo kita ke cafe istriku yang ada di mall." Kata jero saat ia kembali masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan Jero menelepon Giani namun Giani tak juga menerima panggilannya.
Sesampai di mall, Jero setengah berlari menuju ke lantai 2 tempat cafe Giani berada. Cafe dalam keadaan ramai.
"Apakah istriku datang ke cafe hari ini?" Tanya jeronimo pada salah satu pelayan.
"Nyonya memang tadi menelepon bahwa ia akan datang. Namun sampai sekarang belum muncul, tuan."
Perasaan Jero semakin tak enak. Ia menelepon cafe yang satu untuk menanyakan keberadaan Giani. Namun istrinya itu tak ada di sana.
Jero kembali menghubungi ponsel Giani. Kali ini panggilannya diterima.
"Hallo, sayang. Kamu ada dimana?":
"I am here baby!"
Deg!
Jantung Jeronimo seperti berhenti berdetak saat mendengar suara Fidel.
"Don't you ever touch my wife!" teriak Jero dengan emosi yang ditahannya.
Fidel tertawa dari seberang. "your wife is very beautiful. I won't hurt her."
"Where are you?"
Fidel kembali tertawa. "In such a beautiful place. Do you know? I love making love to pregnant women."
"I'll kill you, Fidel!"
Tawa Fidel kembali terdengar. "Bye Jeronimo!" Ia mengahiri percakapan mereka. Jeronimo mencoba menghubungi nomor itu, namun nomor Giani sudah tidak aktif lagi.
Jeronimo menjadi kacau. Tiba-tiba dia ingat Joana. Ia pun segera menghubungi sahabat istrinya itu.
********
2 jam sebelum itu....
Pak Leo menghentikan mobil di depan lobby mall.
"Non, apalah paman akan tunggu?"
__ADS_1
"Nggak perlu, paman. Nanti aku minta Jero menjemputku di sini. Paman pulang saja."
"Baiklah."
Giani turun dari mobil sambil menenteng tas tangannya. Ia begitu bahagia hari ini karena akan menyiapkan pesta kejutan untuk ulang tahun suaminya 2 hari lagi. Ia berencana akan mengadakan pesta kecil di cafenya ini. Jero akan berusia yang ke-30 tahun.
Giani memilih menggunakan lift saja untuk naik ke lantai 2. Baru saja ia akan masuk, sebuah tangan menahan pintu lift.
"Maaf nyonya. Anda harus ikut kami!"
Giani menoleh ke belakang. Ada 2 orang lelaki berpakaian hitam-hitam yang sedang berdiri di sana. Mata Giani menatap dengan tajam pada pistol yang sengaja ditunjukkan oleh kedua orang itu yang terselip di pinggang mereka.
"Baiklah. Tapi jangan beri saya obat bius. Saya akan mengikuti kalian tanpa melawan." Kata Giani. Ia tak ingin kandungannya dalam masalah.
"Ok. Masuklah ke dalam lift. Kendaraan kita ada di lantai atas." Kata salah satu diantara mereka. Giani menurut. Mereka bertiga masuk ke dalam lift. Sampai di lantai atas mall itu, ternyata ada sebuah helikopter yang sudah menunggu mereka. Giani berusaha menenangkan dirinya walaupun sebenarnya, rasa takut mulai menyerangnya.
Helikopter akhirnya berjalan setelah semua penghuninya naik. Giani mengambil saputangannya dari dalam tasnya dan menyeka keringat yang mulai membasahi wajahnya.
20 menit mengudara, akhirnya helikopter itu turun di salah satu pulau. Ada sebuah Vila besar dekat pantai.
Giani turun menggunakan tangga. Ia langsung diarahkan menuju ke dalam vila.
"Selamat datang bidadariku!"
Mata Giani menatap pria tampan di depannya. Pria itu hanya mengenakan singlet berwarna hitam dan celana jeans selutut. Ada tatto di tangan dan kakinya.
"Perkenalkan namaku Fidel. Akulah yang mengirim bunga padamu."
Mata tajam Giani berubah menjadi lembut. "Oh ya? Aku suka bunga mawar. Terima kasih ya?"
Fidel menyipitkan matanya. Ia pikir Giani akan ketakutan melihat tampangnya. Namun wanita hamil didepannya terlihat begitu tenang.
"Kau tidak takut padaku? Kau tahu siapa aku?"
"Kau tidak takut pada mafia?"
"Tidak. Aku justru suka dengan mafia dragon fire. Aku membaca diinternet kalau misi kalian sebenarnya bagus walaupun banyak menggunakan kekerasan." Giani tanpa disuruh duduk di hadapan Fidel. Ia mengusap perutnya.
"Apakah perutmu sakit?" Fidel yang awalnya ingin mengancam Giani justru merasa tersentu melihat perut besar Giani. Ia memang pertama kali melihat Giani sekitar 3 bulan yang lalu. Saat Giani sedang duduk di depan meja kasir di cafenya. Entah mengapa ia langsung tertarik pada pandangan pertama.
Namun saat tahu kalau Giani adalah istrinya Jeronimo Dawson, dendam 3 tahun yang lalu itu kembali muncul. Feronikan adalah adik kesayangannya yang patah hati saat Jeronimo memutuskan hubungan mereka.
"Tidak. Aku hanya ingin minum kopi."
"Akan kuminta pelayan menyiapkannya."
"Bolehkah aku membuatnya sendiri? Aku juga ingin membuatnya untukmu."
"Boleh. Akan kutunjukan dapurnya."
Ponsel Giani tiba-tiba berbunyi. Dari nada deringnya, Giani tahu kalau itu adalah Jero. Fidel memandang tas Giani yang ada di atas kursi.
"Kau tidak mengangkatnya?" Tanya Fidel.
Giani tersenyum. "Biarkan saja. Ayo kita buat kopi."
Keduanya melangkah ke dapur. Fidel memang seorang penikmat kopi. Di dapurnya tersedia berbagai macam jenis kopi dab alat pembuat kopi.
"Kau mau kopi jenis apa?" Tanya Giani.
"Aku mau kopi yang ada kesan manis dan pahit sekaligus."
Tangan Giani terlihat begitu cepat menyiapkan kopi untuknya dan Fidel.
__ADS_1
Begitu selesai, mereka kembali ke ruang tamu dan menikmati kopi di sana.
Bunyi suara ponsel Giani kembali terdengar. Fidel menatap Giani lagi. "Suara ponselmu menganggu acara minum kopi kita."
Giani mengambil ponselnya. "Ini dari suamiku."
"Bicaralah. Katakan kalau kau bersamaku."
"Kau saja yang mengatakannya." Kata Giani sambil mengulurkan ponselnya ke arah Fidel. Lelaki bermata sipit itu mengambil ponsel Giani dan mulai berbicara.
"Bye Jeronimo...!" Fidel mengahiri percakapan dan memasukan kembali ponsel Giani ke dalam tasnya. "kau tidak marah dengan apa yang Baru saja aku katakan pada Jeronimo?"
Giani menatap Fidel dengan tatapan menyelidiki. "Memangnya kau tertarik bercinta dengan wanita hamil?"
Fidel tertawa. "Aku memang jahat. Namun aku tak ingin jahat padamu, manis. Kau tahu kan kalau aku tertarik padamu. Aku ingin memilikimu . Dan aku ingin balas dendam pada suamimu."
"Apa yang sudah suamiku lakukan padamu?"
Fidel menceritakan tentang kisah adiknya Feronika. "Semenjak ia gagal bunuh diri, adikku terlihat murung terus. Tak ada lagi senyum kebahagiaan di wajahnya. Akhirnya, adikku menjadi gila. Sekarang ia sudah keluar dari rumah sakit, namun yang dilakukannya hanyalah menangis dan menangis."
"Di mana adikmu?"
"Ada di vila belakang. Kami pindah ke sini dengan harapan suasana baru akan membuatnya senang."
Giani meletakan cangkir kopinya. "Aku lelah. Bolehkah aku tidur?"
"Tentu. Aku akan mengantarmu ke kamar."
Saat berdiri Giani meraih tasnya lalu mengikuti langkah Fidel ke sebuah kamar yang letaknya ada di dekat ruang makan. Sebuah kamar yang besar dengan interior yang mewah.
"Istirahatlah."
"Kau tidak menyita ponselku?"
"Aku percaya kalau kau tak akan membahayakan bayimu dengan salah menggunakan ponselmu."
Giani tersenyun. Ia mengangguk. "Kau masih mau minum kopi buatanku?"
"Tentu saja."
"Ada beberapa bahan yang kurang." Giani mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Ia menuliskan beberapa hal. "Belikan bahan-bahan ini. Dan akan kubuat kopi yang nikmat untuk semua orang yang ada di vila ini."
Fidel menerima kopi itu dan segera meninggalkan Giani sendiri.
Ketika pintu tertutup, Giani barulah bernapas lega. Tak ada yang tahu bagaimana takutnya dia berdekatan dengan Fidel. Ia pun meraih ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
********
Jero gelisah, ia ingin segera melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib namun harus menunggu 1x24 jam semenjak Giani menghilang.
Joana, Aldo, Frangky dan Beryl sudah ada di cafe kopi.
"Aku akan menyuruh anak buahku mencari Giani." Kata Beryl yang ikut khawatir.
"Jangan!" Joana tiba-tiba berdiri. "Giani baik-baik saja. Dia baru saja mengirim pesan padaku agar jangan menghubungi polisi."
"Bisa saja itu pesan dari Fidel." Kata Jero nampak frustasi.
Joana tersenyum. "Aku mengenal sahabatku dengan baik. Dia menulis pesan dengan gaya bahasa yang membuktikan kalau itu memang dia. Kita tunggu saja apa yang akab Giani lakukan."
Apa yang akan Giani lakukan?
Part kedatangan masa lalu Jero sengaja diangkat untuk mengajarkan bahwa kesalahan harus diperbaiki agar tak menghantui masa depan. Sebagian kisah masa lalu Jero juga akan membuktikan kehebatan Giani sebagai istri Jero.
__ADS_1
Jangan lupa dukung emak ya.....