
Tangan Jero menyentuh tangan mama Sinta. Wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Wanita yang tidak pernah membedahkannya dengan anak-anak kandungnya.
Jero ingat, saat pertama kali papa Denny membawanya ke Jakarta. Jero yang waktu itu masih trauma akibat kecelakaan yang dialaminya, merasa takut bertemu dengan orang asing. Namun mama Sinta mengulurkan tangannya. Wajah cantiknya tersenyum. Jero ingat tatapan mata penuh kasih itu membuatnya langsung berlari dan memeluk mama Sinta.
"Ma, maafkan Jero. Pasti mama sakit karena Jero juga, kan? Hubungan Jero dengan Finky sudah benar-benar berakhir, ma. Jero akan hidup dengan benar. Jero sudah berhasil membujuk Giani agar dia mau hamil. Doakan Jero agar berhasil ya? Jero juga mau punya anak. Giani sudah bersedia untuk hamil." Jero mencium tangan mama Sinta dengan mata yang basah. Dia sungguh menyayangi wanita ini. Sangat menyayanginya. Tiba-tiba, Jero merasakan tangan mama Sinta yang masih ada dalam genggamannya bergerak.
"Ma.....!" Jero menatap wajah mamanya. Mata itu masih tertutup rapat dengan alat bantu pernapasan yang masih terpasang.
"Apakah mama mendengarkan Jero? Mama mau mendoakan Jero?" Jero menjadi sangat senang. Ia mencium tangan itu sekali lagi. "Aku yakin mama mendengar. Terima kasih, ma."
Waktu Jero berada di ruangan perawatan mamanya sudah selesai. Ia pun keluar, membuka baju hijau yang dipakainya, menyerahkannya pada perawat yang sudah menunggu.
Clara yang duduk bersama Giani, menatap Jero saat dilihatnya wajah Jero yang tersenyum.
"Ada apa,Jer?"
"Tangan mama bergerak tadi."
"Oh ya? Itu bagus. Tadi pagi juga saat papa masuk, kaki kanan mama juga bergerak. Semoga ini pertanda baik." Kata Clara senang diikuti senyum Giani.
Jero menatap arlojinya. "Sudah hampir jam 5. Kita ke tempat dokter Susan sekarang?" Tanya Jero sambil menatap Giani.
"Giani sudah hamil?" Tanya Clara penasaran. Dokter Susan adalah salah satu dokter senior di rumah sakit ini. Dia ahli kandungan yang sangat terkenal. Untuk bisa berkonsultasi dengannya, orang harus buat janji satu minggu sebelumnya. Untunglah keluarga Prayunata adalah salah satu pemegang saham di rumah sakit ini sehingga ketika tadi pagi Jero menghubungi pihak rumah sakit, Giani diberikan pelayanan khusus.
"Belum, mba. Kami baru mau program." Kata Jeronimo.
"Oh...baguslah. Semoga berhasil ya? Mama ingin sekali memeluk cucu dari kalian berdua. Aku kan sama Dion sudah, Finly sama Aldo juga sudah. Jadi tinggal kamu dan Giani." Clara nampak bersemangat. Mama Sinta sudah beberapakali curhat padanya mengenai kerinduannya melihat Giani hamil.
"Makasi, mba." Jawab Jero dan Giani hampir bersamaan.
Keduanya kemudian pamit untuk menuju ke lantai dua, tempat ruangan dokter Susan berada.
Dokter Susan adalah wakil direktur rumah sakit ini. Ia wanita berhijab berusia 51 tahun. Namun tetap terlihat cantik dan segar.
Jeronimo dan Giani menyampaikan keinginan mereka supaya Giani bisa hamil. Jero juga mengatakan kalau Giani selama ini menggunakan pil pencegah kehamilan.
Dokter Susan meminta Giani naik ke tempat tidur pasien untuk diperiksa. Ia melakukan USG untuk melihat letak rahim Giani.
"Jadwal datang bulannya kapan?" Tanya dokter Susan setelah selesai memeriksa Giani.
"Mungkin sekitar 4 atau 5 hari lagi, dok." Ujar Giani.
__ADS_1
"Kalau begitu mulai besok kita akan melaksanakan pemeriksaan kesuburan buat kalian berdua. Saya juga akan memberikan obat untuk kesuburan rahim bagi Giani. Namun aku percaya kalau kalian berdua pasangan yang subur dan berkualitas." Kata dokter Susan sambil tersenyum.
"Besok jam berapa ya dok?" tanya Giani. Ia besok ada janji dengan Alexa.
"Jam 9 pagi sudah di sini. Hasilnya akan keluar beberapa hari kemudian."
Giani dan Jero mengangguk bersama. Setelah itu keduanya pun meninggalkan ruangan dokter Susan.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, keduanya saling diam. Sampai di rumah, Giani langsung ke dapur. Mencuci tangannya dan menyiapkan bahan untuk makan malam. Giani hendak menyiapkan makanan secara cepat karena sekarang sudah jam 7 malam.
"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Jero yang ternyata sudah ada di dapur. Pria itu hanya membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan. Ia sudah membuka jas dan kemejanya, menyisahkan singlet hitam.
"Aku masaknya nggak lama. Kakak mandi saja dulu."
"Aku mau bantu." Kata Jero tak ingin dibantah.
"Kalau begitu tolong dibersihkan wortel dan kentangnya. Aku mau bersihkan ayamnya."
Jero mengangguk. Ia segera melakukan apa yang Giani katakan. Hatinya senang, Giani masih ada di rumah ini. Sekalipun mereka tak banyak bicara namun kegiatan memasak malam ini membuat Jero senang.
Selesai masak dan makan malam bersama, Giani mencuci peralatan masak dan makan yang mereka gunakan sementara Jero membersihkan meja makan, menyapu lantai bahkan mengepelnya. Giani cukup heran juga melihat Jero melakukan semua itu. Biasanya juga Giani yang melakukan atau kalau Giani tak sempat, dia akan meminta salah satu asisten rumah tangga dari rumah mama Sinta untuk datang membersihkan rumah.
"Ada lagi yang bisa aku lakukan?" Tanya Jero saat ia sudah menyimpan sapu dan alat pel lantai.
"Gi!" Panggil Jero.
Giani menoleh. "Ada apa, kak?"
"Kamu akan tidur di kamar bawah?"
Giani diam sejenak. Lalu ia bicara. "Aku mandi di bawah saja. Nanti selesai mandi, aku akan ke atas." Katanya sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Jero tersenyum senang. Ia pun langsung memeriksa semua jendela dan pintu, kemudian menyakahkan lampu taman. Biasanya Giani yang melakukan semua itu. Namun kali ini Jero melakukannya.
Setengah jam kemudian, ia sudah selesai mandi. Namun Giani belum juga datang ke kamarnya. Jero gelisah. Ia takut kalau Giani tak jadi datang ke kamarnya. Apalagi sekarang sudah jam 10 malam.
Tak lama kemudian, pintu kamar dibuka dari luar. Giani masuk sambil memegang ponselnya. Ia mengenakan piyama setelan celana panjang. Tak ada lagi gaun tidur yang tipis dan terbuka seperti yang biasa ia gunakan.
"Belum tidur, kak?" Tanya Giani sambil melangkah menuju ke tempat tidur.
"Aku menunggumu."
__ADS_1
Jero yang tadi duduk di sofa, kini melangkah dan menuju ke tempat tidur. Ia duduk di sebelah Giani yang masih ada di pinggir ranjang dengan kaki yang masih menyentuh lantai.
"Aku menunggumu untuk berdoa bersama." Kata Jero pelan namun cukup membuat Giani terkejut.
"Memangnya kakak belum bisa berdoa sendiri?"
"Kita kan masih suami istri, Gi. Jadi lebih baik kita berdoa bersama. Boleh kan?"
"Doanya kakak yang pimpin ya?"
Jero mengangguk. "Kita berdoa sekarang?"
Giani mengangguk. Hati Giani jadi tersentuh. Apalagi saat Jero meraih kedua tangannya dan mengenggamnya erat.
Saat Jero memejamkan matanya, Giani pun ikut memejamkan matanya.
"Tuhan, terima kasih untuk berkatMu hari ini. Kami mau tidur, kasihMu kiranya melindungi kami sehingga kami boleh bangun besok pagi dengan tubuh yang sehat. Tolong sembuhkan mama Sinta. Beri kami kesempatan untuk mewujudkan keinginan mama Sinta. Berkati aku dan berkati Giani agar kami boleh diberikan keturunan. Amin."
Jero membuka matanya. "Mulai malam ini, aku akan berubah, Gi. Aku akan belajar semakin dekat dengan Tuhan. Terima kasih karena kamu sudah membangun kembali imanku yang sempat mati." Jero mencium tangan Giani yang masih ada dalam genggamannya.
"Selamat malam, kak." Giani menarik tangannya perlahan dan segera membaringkan tubuhnya, membelakangi Jero. Ia tak ingin Jero melihat air matanya yang sejak tadi susah payah ditahannya. Ia tak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Giani bingung. Namun tekadnya untuk berpisah dengan Jero belumlah tergoyahkan. Apalagi ia sudah berjanji pada kakaknya untuk kembali ke rumah mereka. Alexa juga sangat senang saat tahu kalau Giani akan tinggal bersama mereka lagi. Giani tahu, agar kakaknya bisa melupakan Finly, maka Giani pun harus melepaskan dirinya dari Jero. Menjauh dari semua keluarga Prayunata. Rasa sayang yang Giani miliki untuk kakaknya membuat ia menutup pintu hatinya untuk selamanya. Bahkan untuk Jero yang Giani yakini sudah mulai menyukainya.
2 jam sudah berlalu semenjak Giani membaringkan tubuhnya. Ia belum juga tertidur. Ia juga tahu kalau Jero yang ada di sampingnya belum juga bisa tidur karena Giani dapat merasakan pergerakan Jero yang nampak gelisah. Sesekali pria itu terdengar menarik napas panjang dan menghebembuskannya perlahan. Sepertinya ia berusaha mengeluarkan sesak yang ada di hatinya.
Giani membalikan badannya. "Kak, belum tidur?"
"Aku memikirkan mama, Gi. Rasanya sedih banget melihat mama masih seperti itu. Aku tahu salah satu yang menyebabkan mama sakit adalah aku. Aku sungguh menyesal pernah menjalin hubungan dengan Finly."
Giani menyentuh pipi Jero. "Yang sudah terjadi tak mungkin akan kembali lagi, Kak. Yang penting sekarang kakak ingin berubah dan kembali ke jalan yang benar."
Jero memegang tangan Giani yang masih menyentuh pipinya. "Terima kasih, Gi. Terima kasih karena sudah menyadarkan aku untuk kembali ke jalan yang benar."
"Tidurlah, kak. Besok kita harus melakukan pemeriksaan. Besok juga giliran kita yang akan menjaga mama kan?" Giani menarik tangannya. Ia kembali memunggungi Jero.
Hening.......
"Gi, bolehkah aku memelukmu?"
Giani mengangguk.
Jero langsung melingkarkan tangannya di pinggang Giani. Ia memendamkan wajahnya di punggung Giani sambil menghirup harum tubuh Giani. Perasaannya yang gelisah menjadi tenang. Jero pun perlahan memejamkan matanya. Hanya dengan memeluk Giani, Jero mendapatkan tidur yang nyenyak.
__ADS_1
Duh...kok hatiku yang sedih ya...
Hallo...mana komen, like dan vote nya????