
Dari jauh Joana melihat Finly dan Alexa yang sedang bermain. Pertama Finly mendandani Alexa. Setelah Alexa terlihat cantik, kini giliran Alexa yang mendandani mamanya. Keduanya terlihat tertawa bahagia saat Alexa terlihat bingung harus memberikan warna di mata atau di pipi mamanya.
Hati Joana jadi tersentuh melihat pemandangan itu. Sudah hampir 2 bulan ini Finly semakin dekat dengan Alexa. Aldo bahkan mengijinkan Finly menginap di rumah bersama Finly. Walaupun saat Finly menginap di rumah, Aldo lebih memilih untuk menginap di apartemen Joana.
"Sayang....!" Panggil.Aldo.
Joana yang berdiri di depan pintu dapur, segera menoleh. Ia mendekati Aldo yang baru saja menuruni tangga.
"Sudah selesai mandi?" Tanya Joana sambil melingkarkan tangannya di leher Aldo.
"Cium saja sendiri!"
Joana mengendus leher Aldo membuat pria itu menjadi tertawa karena merasa geli dengan perlakuan Joana.
"Harum!"
"Mana Alexa?" Tanya Aldo.
"Bersama mamanya."
"Finly ke sini? Kok dia tak memberitahu aku, sih?" Aldo jadi heran. Ia memang sudah memberikan Finly ijin untuk mengunjungi Alexa kapan saja dia mau. Dan Finly selalu menelepon Aldo sebelum datang ke sini.
"Tadi, Finly menelepon saat kamu sedang mandi. Alexa yang meminta mamanya datang karena dia ingin mencoba mainan make up yang aku belikan untuknya kemarin. Tadi aku sudah didandaninya. Rupanya dia ingin mendandani Finly juga. Dia juga bilang ingin mendandani Giani."
"Anak itu! Di mana mereka?"
"Ada di teras belakang."
Aldo melangkahkan kakinya ke arah teras belakang. Langkahnya terhenti mendengar tawa Alexa dan Finly. Mantan istri dan anaknya itu sedang asyik berfoto dengan gaya yang lucu. Pemandangan yang jarang sekali Aldo lihat ketika mereka masih bersama. Finly sungguh telah berubah. Ia bahkan berhasil membuat Alexa dekat padanya. Andai saja ini terjadi sejak dulu. Pasti kami akan menjadi keluarga yang bahagia.
"Papa..., ayo ke sini!"panggil Alexa.
Aldo mendekat. "Ada apa, Eca?"
"Mama cantikkan? Eca yang dandani, lho." Kata Alexa dengan bangganya.
Aldo menatap Finly. Wajah Finly tetap terlihat cantik walaupun make up nya nampak tak rapih. Aldo tak pernah memungkiri, kecantikan yang dimiliki Alexa, karena wajah cantik Finly.
"Iya. Mama cantik." jawab Aldo membuat Finly sedikit bergetar mendengar pujian itu. Dulu, Aldo juga sering memujinya. Namun Finly tak pernah memperdulikan pujian Aldo. Kini pujian itu bagaikan sesuatu yang sangat menyenangkan bagi Finly. Namun perempuan itu berusaha menepis rasa itu. Ia tahu kalau Joana adalah wanita terbaik untuk Aldo dan Alexa.
"Papa, kita foto bareng yuk!" Kata Alexa sambil menarik tangan Aldo agar mendekat ke arahnya dan Finly.
"Alexa.....!" Finly menggeleng karena ia merasa tak enak pada Joana yang sedang melihat ke arah mereka.
"Mari tante yang mengambil gambar kalian!" Joana mendekat lalu meraih hp dari tangan Alexa.
Alexa berdiri di tengah sementara Finly ada di sisi kanannya dan Aldo di sisi kirinya.
Joana menekan perasaannya sedemikian rupa agar ia bisa terlihat baik-baik saja. Ya Tuhan, seharusnya mereka bertiga bersama. Apalagi Finly sedang sakit. Aku sungguh egois jika harus menikah dengan Aldo disaat seperti ini.
"Sekarang giliran tante bule foto sama Alexa dan papa. Mama Finly, tolong foto kami bertiga ya?" Ujar Alexa. Finly mengangguk. Ia tersenyum melihat Aldo yang melingkarkan tangannya di bahu Joana. Aku bisa meninggal dengan tenang karena aku yakin kalau Joana akan menjadi ibu yang baik untuk Alexa.
"Sekarang mama pulang dulu ya?" Pamit Finly. Ia merasa tak enak jika terlalu lama ada di rumah ini.
"Mama, besok jemput Eca di sekolah ya?" Ujar Alexa sambil mencium tangan mamanya.
"Iya, sayang!" Finly menunduk hendak mencium pipi anaknya, namun ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya.
"Mama, hidung mama keluar darah!" Pekik Alexa sambil menunjuk hidung Finly.
"Oh...ini tidak apa-apa, sayang. Mama hanya..." Finly kehilangan keseimbangan tubuhnya karena ia tiba-tiba merasa pusing. Untunglah Aldo dengan cepat langsung menangkap tubuh Finly sebelum jatuh ke lantai.
"Mama......!" Teriak Alexa ketakutan melihat Finly yang pingsan dengan wajah yang sangat pucat.
"Finly...!" Aldo menepuk pipi Finly namun Finly sudah tak sadarkan diri.
"Mama akan baik-baik saja, sayang." Joana langsung memeluk Alexa.
"Aku ke rumah sakit!" Aldo langsung membopong tubuh Finly meninggalkan teras belakang.
"Eca ikut...!"
"Jangan sayang. Dokter nggak akan ijinkan Eca masuk. Nanti besok kita ke rumah sakit kalau mama Finly sudah di ruangannya. Ok?"
Alexa mengangguk walaupun sebenarnya ia ingin sekali ikut ke rumah sakit.
Joana memeluk Alexa. Ia tahu, walaupun dulu Finly pernah mengabaikan Alexa namun beberapa bulan ini, Finly sudah memperbaiki sikapnya. Alexa kembali menyayanginya. Darah memang lebih kental dari air.
************
__ADS_1
"Hari ini, dia seharusnya ke Singapura untuk menjalani pengobatannya. Namun Finly menundanya karena Alexa meneleponnya dan meminta agar datang ke rumah." Kata dokter Alan ketika ia sudah selesai memeriksa Finly dan memasang infus sambil menyuntikan obat lewat selang infusnya. Finly terlihat tertidur dengan tenang.
"Terima kasih, dok." Kata Aldo.
"Anda siapa ya?"
Aldo tersenyum. "Saya mantan suaminya."
"Oh...begitu ya. Kalau demikian, aku akan meminta suster yang biasa menjaganya untuk menjaga dia di sini."
"Malam ini, aku yang akan menjaganya." Kata Aldo.
"Baiklah. Saya tinggalkan Finly di tangan yang tepat. Nanti saya akan kembali memeriksanya lagi ketika ia sudah siuman." Dokter Alan meninggalkan ruang perawatan khusus penyakit kanker.
Aldo menarik kursi sehingga ada di dekat tempat tidur Finly. Wajah Finly terlihat sangat pucat. Tak ada lagi Finly yang glamor dengan gaya busana seperti artis ternama. Aldo tahu kalau gaya berbusana Finly selalu kekinian. Namun sekarang, Finly terlihat begitu sederhana. Dari berita yang Aldo dengar, Finly menjual koleksi tas mewahnya dan menyumbangkannya ke yayasan kanker Indonesia.
Hati Aldo tersentuh melihat Finly yang sekarang. Rasa marah, benci dan dendam yang pernah ia miliki untuk Finly sudah tak ada lagi. Bagaimanapun, Finly pernah memberikan Aldo kebahagiaan saat mengandung dan melahirkan Alexa untuknya.
2 jam berlalu.....
Perlaham Finly membuka matanya.
"Mas Aldo...!" Panggilnya pelan dengan wajah yang agak terkejut melihat Aldo yang menjaganya.
"Kau butuh sesuatu?" Tanya Aldo lembut.
"Aku haus."
Aldo menuangkan air mineral ke dalam gelas. Ia menaruh sedotan di dalamnya lalu mendekatkannya pada mulut Finly. Perempuan itu mengisapnya sampai hampir habis. Ia memang merasa sangat haus.
"Mau tambah lagi?"
Finly menggeleng. "Jam berapa ini?" Tanya Finly.
Aldo menatap arlojinya. "Hampir jam 9 malam. Kenapa?"
"Mengapa kamu nggak pulang, mas? Alexa pasti mencarimu. Aku juga merasa nggak enak dengan Joana."
"Kalau aku pulang, siapa yang akan menjagamu?"
"Ada suster yang kusewa khusus untuk menjagaku."
Finly menggeleng. Air matanya tak dapat ditahannya. "Aku sudah jahat padamu. Mengapa kau masih saja peduli padaku?"
Aldo tersenyum. "Apakah harus membalas kejahatan dengan kejahatan juga? Tidak kan? Lagi pula, kau mamanya Alexa. Aku tak bisa jika tak peduli denganmu."
Finly menjadi malu. Ia menyesal sudah menyia-nyiakan pria sebaik Aldo.
"Sekarang, kau makan ya? Supaya besok punya kekuatan untuk ke singapura."
Finly mengangguk. Ia mengahapus air matanya. Aldo membantunya untuk bisa duduk. Lalu pria itu menyuapinya dengan sabar.
***********
"Aku berangkat kerja dulu, ya?" Pamit Jero selesai sarapan.
Giani mengangguk. "Kalau nggak banyak pelerjaan, langsung pulang ya, Bee. Aku bosan kalau nggak ada kamu."
"Iya, Mel." Jero mendekati istrinya. Dengan lembut diciumnya perut Giani. "Jagoannya daddy, jaga mommy ya. Kalian jangan rewel di dalam sana."
"Iya daddy...!" Jawab Giani menirukan suara anak kecil.
Jero hanya terkekeh. Ia kemudian mencium bibir istrinya. "Hati-hati di rumah ya?"
"Baik, sayang!"
Giani mengantarkan Jero sampai di teras depan. Tepat di saat itu, mobil Joana memasuki halaman rumahnya.
"Joana? Kejutan kau datang pagi-pagi sekali di rumahku!" Seru Giani senang.
"Aku baru selesai mengantar Alexa ke sekolah. Jadi langsung ke sini saja."
"Ayo masuk!" Ajak Giani.
Joana masuk dan segera duduk di ruang tamu. Giani membuatkan kopi untuk Joana karena ia tahu kalau Joana tak suka sarapan pagi.
"Perutmu sudah besar."
Giani membelai perutnya. "Hampir 5 bulan. 2 hari yang lalu, aku memeriksakan kandunganku. Mereka laki-laki."
__ADS_1
"Wah, selamat y? Jero pasti senang."
"Senang sekali." Imbuh Giani senang. "Oh ya, kapan kau dan kak Aldo akan menikah?"
"Mungkin tak akan terjadi."
"Kenapa?"
Joana menunduk. Ia tak bisa mengatakan tentang sakitnya Finly karena itu bukan haknya. "Aku merasa belum siap menikah."
"Kenapa?"
"Aku nggak siap tinggal di Indonesia dalam jangka waktu yang panjang. Aku lebih suka Amerika."
"Bicarakan dengan kak Aldo."
"Nantilah."
"Cepatlah menikah. Bukankah kau juga ingin segera hamil?"
"Semoga. Oh ya, kemarin aku ketemu Beryl. Dia bersama Anggita. Keduanya mesra sekali. Mereka kayaknya pacaran."
"Syukurlah!"
"Kamu lega karena Anggita nggak mengejar Jero ya?"
"Iya. Coba saja kalau dia berani."
Joana tertawa. "Kamu bucin ya ke Jero sekarang."
Giani menggeleng. "Bukan aku. Ini bawaan bayi." "Cie...cie pakai bawa-bawa nama baby twins lagi. Emangnya si emak nggak?"
"Emak juga sih!"
Kedua sahabat itu pun tertawa bersama. Sudah lama rasanya mereka tak bersama.
*********
Finly mendorong kopernya keluar dari bandara. Karena tak berhati-hati, akhirnya ia menabrak seseorang.
"Maaf aku...!"
"Finly?"
"Juan?"
Nah, maafkan emak ya slow up date ya. Emak baru penyesuain dengan jabatan yang baru (bkn pamer ya 😚😚😚)
Jadi, kasih komentar ya...
Finly balikan sama Aldo
Finly bersama Juan..
Finly nggak jadi dengan siapapun.
Finly mati.
jangan lupa like, komen dan vote ya....
__ADS_1
.