
Semenjak pengacara kakaknya mengatakan kalau Jero sudah menandatangi berkas perceraian itu, Giani terlihat sedih. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya memang Giani kurang tidur. Namun ia berusaha untuk tersenyum setiap kali ada di dekat Alexa.
Alexa sudah tidak lagi melakukan terapi. Ia sudah bisa berjalan dengan baik. Bahkan ia sudah bisa berlari dengan riang gembira.
"Hallo Eca...!" Sapa Joana yang baru saja datang.
"Tante bule....!" Alexa yang baru selesai makan malam langsung berlari dan memeluk Joana. Aldo yang melihatnya merasa bahagia. Alexa menyayangi Joana seperti juga ia menyayangi Giani.
"Ayo makan bersama kami!" Ajak Giani.
"Aku sudah kenyang. Tadi di kantor ada yang ulang tahun jadi ada acara makan gratis." Joana yang sedang memeluk Alexa segera menurunkan gadis itu. Ia membuka tas nya dan mengeluarkan 2 batang coklat.
"Makasi tante bule." Ujar Alexa lalu menghadiakan ciuman di pipi kanan dan kiri Joana.
"Sama-sama sayang. Jangan lupa gosok gigi setelah makan coklat ya?"
"Ok. Sekarang Eca mau menonton film barbie dulu sambil makan coklat." Alexa langsung berlari ke ruang keluarga untuk menonton kartun kesayangannya.
Joana ikut bergabung di meja makan. Giani dan Aldo sementara menikmati makan malamnya.
"Gi, kamu sakit?" Tanya Joana.
"Nggak."
"Wajahmu terlihat pucat. Ada lingkar hitam di matamu. Kamu jarang tidur ya?"
"Mungkin udaranya terlalu dingin. Sebentar lagi kan masuk musim salju. Kita kan terbiasa di daerah tropis. Ini kali pertama ada di negara 4 musim." Kata Giani berusaha menutupi gejolak hatinya. Dia merindukan Jakarta.
"Kalau begitu pulang saja ke Indonesia." ujar Joana membuat Aldo menatap adiknya.
"Kamu mau pulang, Gi?" Tanya Aldo.
"Nggak juga. Aku ikut kakak saja. Alexa juga sebenarnya suka di sini. Dia bersemangat menyambut salju pertamanya."
Giani membereskan meja makan. Ia memasukan semua peralatan makan yang kotor ke mesin pencuci piring.
"Kak, Joana, aku menemani Alexa menonton TV ya?" Pamit Giani. Ia ingin memberikan kesempatan kepada kakaknya dan Joana untuk lebih dekat.
Aldo menatap Joana. Ia sebenarnya sangat kangen dengan Joana. 3 hari perempuan itu tak berkunjung ke rumah ini karena sibuk dengan pekerjaannya.
"Kita duduk di dekat perapian, yuk!" Ajak Aldo.
"Aku buatkan kopi dulu ya?"
Aldo mengangguk. Ruang perapian letaknya bersebelahan dengan ruang keluarga. Ada dinding pembatas diantara ruang itu.
Sambil menunggu Joana yang menyiapkan kopi, Aldo menambahkan kayu ke dalam perapian.
Ada sofa panjang yang tersedia di dekat perapian itu.
Joana pun duduk di samping Aldo sambil menyerahkan satu cangkir kopi di tangan pria itu.
"Finly katanya datang ke sini ya?" Tanya Joana.
"Iya. Kamu tahu dari mana?"
"Alexa yang bilang saat aku meneleponnya."
"Dia ada acara di LA. Makanya dia mampir kemari selama 2 hari. Untunglah Alexa sudah mau bicara dengannya. Finly bahkan menginap di sini."
Joana sedikit terkejut mendengarnya. "Menginap di sini? Wah, asyik ya, pasti senang bisa ketemu mantan."
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Cemburu ya?" Aldo mencolek pinggang Joana.
"Siapa yang cemburu?" Joana langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia bahkan pura-pura menyesap kopinya.
Aldo meletakan gelas kopinya di atas meja kecil yang ada di sampingnya. Ia juga mengambil gelas yang ada di tangan Joana dan meletakan di samping gelasnya. Setelah itu dia menggengam kedua tangan Joana.
"Jo, kita bukan anak muda lagi yang harus main kucing-kucingan menyangkut perasaan kita masing-masing. Aku ingin tahu perasaanmu padaku."
Joana menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap Aldo. "Kau punya sejuta pesona yang diinginkan oleh semua perempuan. Aku tak bisa bohong kalau aku tertarik padamu. Tapi bagaimana dengan Alexa? Aku takut jika perubahan status kita akan membuat Alexa kecewa."
"Aku sudah bertanya pada Alexa. Dan dia setuju saat aku bilang ingin menikahimu."
"Menikahiku?"
"Jo, aku nggak mau pacaran denganmu. Aku ingin menikah denganmu."
Mata Joana berkaca-kaca. Saat berhubungan dengan George, Joana begitu ingin pria itu menikahinya. Namun George tak pernah percaya dengan pernikahan. Makanya mereka hanya bertunangan saja tanpa ikatan pernikahan.
"Terima kasih, Aldo. Tapi berikan aku waktu untuk berpikir dulu ya? Menikah adalah hal yang belum pernah kujalani. Aku juga bukan seperti gadis Indonesia yang masih perawan dan..." Kalimat Joana terhenti karena Aldo sudah mencium bibirnya.
"Aku menginginkan dirimu tanpa peduli dengan masa lalumu. Yang terpenting bagiku adalah Alexa bahagia dan aku juga."
Joana langsung memeluk Aldo. Perasaannya menjadi bahagia. Saat pelukan mereka terlepas, bibir mereka kembali bertemu. Ciuman yang panjang dan membangkitkan hasrat untuk menyatu.
"Malam ini jangan pulang, ya?" bisik Aldo diujung bibir Joana.
"Ok. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Giani."
"Siapa bilang kalau malam ini kamu akan tidur dengan Giani?"
Wajah Joana langsung merah. Ia mengerti arah bicara Aldo. Tak munafik, ia pun ingin tidur dalam pelukan hangat pria berwajah oriental itu.
Giani yang akan ke dapur dan membuatkan susu bagi Alexa, melihat kemesraan kakaknya dengan Joana. Ia bahagia kalau Aldo akhirnya bisa membangun hubungan dengan Joana.
Namun, saat ia sampai di dapur, Giani justru ingat kalau di dapur ini, Jero pernah memeluk dan menciumnya dengan mesra. Hati Giani bagaikan ditusuk pisau yang tajam. Kenangan itu membuat Giani ingin bertemu Jero.
Ya Tuhan, aku merindukan Jero. Aku ingin memeluknya saat ini.
Giani memegang dadanya. Ia kini sadar bahwa ia merindukan Jeronimo.
"Gi, kamu kenapa?" Tanya Joana. Ia ke dapur untuk mengambil cemilan di kulkas.
Giani buru-buru menghapus air matanya. "Tidak. Aku mau buat susu untuk Alexa." Giani mengambil gelas dan mulai memasukan susu Alexa di dalamnya.
"Gi, apakah kamu merindukan Jero?"
Tangan Giani yang sementara mengaduk susu jadi terhenti. Tapi kemudian ia tersenyum. Di tatapnya Joana dengan senyum manisnya. "Aku hanya kangen ingin ziarah ke makam papa dan mama." Ujarnya lalu segera pergi membawakan susu Alexa.
Jaona kembali ke ruang perapian. Aldo menatap wajah Joana yang terlihat sedih.
"Ada apa sayang?" Tanya Aldo
Joana menatap Aldo. "Aku merasa kalau Giani telah jatuh cinta pada Jero."
"Mana mungkin?"
"Aldo, sejak kabar perceraian mereka sudah selesai, aku melihat ada yang aneh dengan Giani. Tidakkah kau melihat kalau Giani semakin kurus? Dia tak bisa tidur karena memikirkan Jero."
Aldo terpana. Hatinya menjadi gelisah. Benarlah Giani jatuh cinta pada Jero?
*******
__ADS_1
Di belahan bumi yang lain, di kota Jakarta, Jero yang sedang ada di ruangan kerjanya, tiba-tiba saja mengingat Giani.
Mengapa aku tiba-tiba merindukan Giani ya? Apakah dia di sana baik-baik saja? Ataukah dia sedang sakit? Ya Tuhan, ingin sekali aku meneleponnya. Namun nomor ku masih diblokir oleh Giani.
Jero berdiri dari kursi kebesarannya. Ia mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Setelah itu ia meneguknya sampai habis. Ia melirik jam tangannya. Pukul 11 siang. Berarti di Amerika sekarang jam 11 malam.
Gi, apa yamg kamu lakukan di sana? Apakah kamu memikirkan aku?
Jero meraih ponselnya. Ia mengirimkan pesan pada Giani sekalipun ia tahu kalau pesan itu tak akan terkirim. Giani sudah memblokir nomornya.
*********
Di waktu yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula, Giani baru saja menidurkan Alexa. Ia tak mau menganggu kemesraan Aldo dan Joana, makanya saat Alexa sudah tertidur, Giani memilih untuk ada di kamar Alexa saja.
Tangan Giani meraih ponselnya. Ia membuka daftar kontak yang ada.Tangannya terhenti pada nomor Jero yang telah diblokirnya. Haruskah aku membukanya?
Tangan Giani bergerak, membuka nomor Jero yang diblokirnya. Tiba-tiba saja sebuah pesan masuk. Jantung Giani hampir saja copot saat dilihatnya kalau pesan itu dari nomor Jero.
Giani, apakah kamu di sana baik-baik saja?
Hari ini aku tiba-tiba saja merindukanmu.
Hati Giani bergetar menerima pesan itu. Tangannya bergerak. Ia ingin membalas pesan Jero.
Jero yang masih duduk di atas kursi kerjanya, terkejut mendengar bunyi pesan masuk dari ponselnya. Ia hampir saja melompat kegirangan saat melihat kalau pesan itu dari Giani.
Aku baik-baik saja kak. Terima kasih.
Tangan Jero bergetar membalas pesan Giani dengan cepat.
Makasi sudah tak memblokir nomorku lagi. Please, sesekali kita saling mengirim pesan bolehkan? Aku janji nggak akan telepon jika kamu tak menginginkannya.
Giani tersenyum membaca pesan Jero. Ia memutuskan untuk tak memblokir nomor Jero lagi.
Ok. Aku tidur dulu ya...
Jero kecewa karena Giani mengahiri percakapan. Namun ia juga tahu kalau di sana sekarang hampir tengah malam.
Sweet dream
Giani kembali tersenyum membaca pesan Jero. Ia meletakan ponselnya kembali dan membaringkan tubuhnya di samping Alexa. Wajah Giani terus tersenyum. Ia tiba-tiba ingin tidur sambil membayangkan wajah Jeronimo Dawson.
********
Jero membaca pesan singkat Giani secara berulang-ulang. Hatinya jadi senang.
pintu ruangannya di ketuk. Selly, sekretarisnya masuk. "Pak, ini dokumen yang harus ditandatangani."
Jero membuka mapfile yang disodorkan Selly padanya. "Sel, tolong hubungi Beryl ya. Atur juga tiket kami untuk berangkat ke Singapura lusa."
"Pak Beryl hari ini ke Amerika, pak. Pesawatnya berangkat jam 8 tadi pagi."
Tangan Jero yang sedang memegang pulpen terhenti di udara. Apakah Beryl menemui Giani? Kok hatiku sakit sekali ya?
Nah....apa yang Beryl lakukan di sana???
Jangan lupa komen...
vote emak yang banyak ya....
dilike juga agar rantingnya naik...
__ADS_1