
Di dalam pesawat, Alexa dibuat dongkol oleh Oliver karena ia harus duduk bersebelahan dengan Oliver.
Di kelas bisnis ini, hanya ada mereka berdua, sementara yang lain ada di kelas ekonomi. Rombongan yang berangkat kali ini ada 50 orang.
Alexa sudah bisa membayangkan bagaimana hangatnya gosip yang sekarang sementara dibicarakan oleh mereka yang duduk di kelas ekonomi.
"Mengapa kau diam saja?"
"Aku kesal. Kenapa juga harus kita berdua yang duduk di kelas bisnis sementara yang lain duduknya di kelas ekonomi?"
"Memangnya kenapa? Aku hanya mau bersamamu dan kebetulan kelas bisnis ini sudah penuh. Memangnya ada yang salah?" Tanya Okan.
"Kita tak punya hubungan apapun."
"Kita pasti akan punya hubungan. Kau lupa siapa yang menggantikan bajumu di kamar pribadiku?"
Wajah Alexa langsung memerah. Ia menatap Oliver. "Dasar mesum!" Alexa sebenarnya ingin memarahi Oliver. Namun ia ingat dengan pesan bibinya. Alexa hanya pura-pura cemberut membuat Oliver terlihat gemas melihatnya.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam, Alexa memilih tidur. Ia terbangun saat pesawat sudah mendarat di bandara Internasional Lombok.
Turun dari pesawat, Mereka langsung di jemput oleh 2 bus pariwisata. Bus tersebut akan membawa mereka ke restoran untuk makan siang. Namun Alexa tak duduk di dalam bus. Oliver segera menarik tangannya dan memasuki mobil mewah yang khusus menjemputnya. Oliver sendiri yang mengendarai mobil itu.
"Oliver, kenapa sih aku harus ikut kamu terus. Malu dong sama yang lain." protes Alexa saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Kenapa kamu harus malu? Seharusnya kamu bangga karena jalan sama bos."
Alexa ingin membantah namun ia kembali mengingat perkataan bibinya. Susah payah ia menekan perasaannya. Tangannya bahkan sampai bergetar karena menahan diri untuk tak menyerang Oliver dengan pukulan taekwondo nya.
Mereka tiba di sebuah restoran seafood. 2 meja panjang telah disediakan untuk rombongan dari Jakarta ini.
Mereka pun makan dengan lahapnya karena memang jam sudah menunjukan pukul 1 siang.
Selesai makan dan pemandu wisata menyampaikan jadwal mereka selama 3 hari di sini, rombongan kembali naik bus dan menuju ke salah satu hotel yang ada di dekat pantai.
Karena pihak trevel sudah melaksanakan pendaftaran sehingga saat rombongan datang, mereka langsung cek in.
Masing-masing kamar di huni oleh 2 orang. Alexa sudah merasa was-was saat namanya belum juga di baca. Ia tak mau berdekatan kamar dengan Oliver. Dan wajah gadis itu langsung tersenyum saat ia mendengar namanya di baca, satu kamar dengan Alista, salah satu pramugari yang lebih senior darinya.
Mereka menuju ke lantai 8. Sepertinya berbeda lantai dengan para penghuni yang lain. Dan gadis itu terkejut karena kamar yang mereka tempati adalah suite room dan bukan standar room seperti yang lain. Namun Alista kelihatan biasa-biasa saja. Gadis blesteran itu langsung membereskan kopernya dan menyimpan pakaiannya di dalam lemari.
Ada dua tempat tidur yang disiapkan. Kamar mereka memiliki balkon.
"Aku tidur sebentar ya? Semalam aku baru pulang dari penerbangan Turki. Capek banget. Sampainya jam 1 tengah malam karena cuaca agak buruk. Sampe apartemen sudah jam setengah tiga. Jam 6 harus bangun karena harus segera bersiap ikut tour ini." Alista membaringkan tubuhnya.
"Ok, kak." Alexa memilih melangkah ke balkon. Pemandangan dari balkon ini sangat bagus karena menghadap ke arah pantai. Walaupun cuaca masih panas namun sudah banyak orang yang bersantai di pantai.
"Hallo manis, suka dengan kamarnya?"
Alexa menoleh dengan kaget saat mendengar suara itu. "Oliver?"
Cowok tampan itu sedang berdiri di balkon sebelah. Ia bersandar pada pembatas balkon sambil memegang segelas kopi di tangannya.
"Kaget ya?"
"Pasti kamu yang mengatur pembagian kamar ini kan?"
Oliver mengangguk. "Baguskan? Kamu mendapat kamar suite room sementara yang lain hanya standar room."
"Apanya yang bagus?" Alexa memutar bola matanya malas.
"Aku tak perlu turun ke lantai lain jika kau siap bercinta denganku."
__ADS_1
"Bercinta denganku?"
"Memangnya kau tak mau bercinta denganku?"
"Memangnya kau sehebat apa?"
Oliver terkekeh. "Tentu saja aku hebat. Kau hanya belum merasakannya."
"Memangnya punyamu Segede apa?"
Oliver terkejut mendengar pertanyaan Alexa. "Kau mau lihat?"
"Soalnya aku nggak minat dengan ukuran standart."
"Hei, aku bule. Kau masih meragukan...."
"Aku masuk!" Alexa memotong ucapan Oliver dan langsung masuk ke dalam kamar. Ia sengaja mengantungkan kalimat Oliver karena ia hampir saja memuntahkan isi perutnya karena merasa jijik dengan apa yang baru saja mereka bicarakan.
Alista nampak masih tertidur dengan sangat nyenyak. Alexa memilih untuk ke kamar mandi dan berendam air dingin untuk berusaha melakukan startegi yang diajarkan bibinya sekalipun itu sangat bertentangan dengan kata hatinya.
**********
Selesai jalan-jalan di beberapa tempat wisata, rombongan kembali makan malam di sebuah restoran. Selesai acara makan malam, rombongan pun kembali diantar ke hotel dan setelah itu acara bebas.
"Kita ke diskotik, yuk!" Ajak Alista.
"Aku nggak terlalu suka dengan suasana diskotik. Banyak orang, bau rokok, bau minuman dan musik yang terlalu keras."
Alista tersenyum. "Tenang saja. Aku tak minum dan tak merokok. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku sedikit karena baru saja putus cinta."
Alexa jadi tak tega menolaknya. Ia pun mengangguk lalu mengganti bajunya dengan jeans dan kemeja. Rambutnya diikat satu. Alexa menggunakan sepatu hak rendah. Tak lupa ia membawa tas selempang kecilnya untuk mengisi hp dan barang lainnya.
Diskotik yang Alista dan Alexa kunjungi letaknya sekitar 20 menit dari hotel. Terlihat sebuah diskotik mewah, ada beberapa bule di depan pintu masuk. Untuk bisa masuk ke diskotik ini ada pemeriksaan KTP dan juga menunjukan tanda sudah memesan tempat lebih dulu.
Bunyi musik yang dimainkan oleh DJ langsung menyambut mereka. Alexa berusaha larut dalam nuansa musik yang menyentak. Ia duduk di sofa yang agak di sudut sambil menikmati soft drink dan memperhatikan Alista yang sudah bergabung dengan orang-orang yang sudah asyik menggoyangkan badannya.
"Butuh teman?"
Alexa terkejut karena Oliver entah muncul dari mana sudah duduk di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Oliver saat dilihatnya Alexa nampak kesal.
"Kau mengikutiku ya?"
"Sayang, aku sudah ada di sini sebelum kalian datang. Atau jangan-jangan, kau yang mengikuti aku?"
"Percaya diri sekali kamu." Alexa bersandar sambil melipat tangannya di depan dada.
"Aku memang sangat percaya diri karena aku kaya, aku adalah bosmu dan aku tampan."
"Namun sayangnya, aku tak tertarik padamu."
"Kenapa?" Tanya Oliver sambil memegang tangan Alexa.
"Karena aku butuh cinta. Sedangkan kamu hanya memikirkan napsu."
"Bukankah antara cinta dan napsu bedanya hanya selembar kertas tipis?"
Alexa menatap Oliver sambil mengangkat alisnya. "Tahu apa kau tentang Cinta? Aku pikir kau sama sekali belum pernah jatuh cinta sehingga tak bisa membedakan antara cinta dan napsu. Cinta itu bukan hanya sekedar mencari kepuasan diri tapi juga ketenangan hati."
Oliver mendorong Alexa sehingga gadis itu langsung tertidur di atas sofa. Dia dengan cepat sudah berada di atas tubuh Alexa sambil mendekatkan wajahnya pada Alexa. "Jangan sok menasehati aku seolah kau tahu siapa diriku." Tangannya membelai pipi Alexa. "Aku akan mendapatkanmu. Akan kubuat kau merasakan bagaimana nikmatnya bercinta."
__ADS_1
"Kau seorang lelaki yang hebat?" tanya Alexa sedikit meremehkan.
"Ayo kita buktikan sekarang!" Oliver bangun dan langsung menarik tangan Alexa menuju ke sebuah ruangan yang ada di lantai 2. Ruangan itu ternyata sebuah kamar yang kedap suara karena Alexa tak mendengar lagi suara musik.
"Aku ingin membuktikan padamu, kalau saat pertamamu akan sangat indah bersamaku." Kata Oliver sambil mengunci pintu.
Alexa melihat kalau pintu itu harus di buka dengan kode di layar digital. Alexa tak akan mudah lolos.
Oliver mendekat sambil membuka kancing kemejanya. Dada bidangnya yang bertato mulai terlihat jelas.
Alexa berusaha tenang. Ia seolah-olah sedang memperhatikan Oliver namun otaknya sementara mencari cara agar bisa lepas dari Oliver.
Saat kemeja Oliver sudah terbuka semuanya, Alexa harus mengakui betapa seksinya Oliver saat ini.
"Aku mau kita minum dulu." Kata Alexa berusaha tak menunjukan rasa gugupnya.
"Mengapa? Bukankah kau tak suka minum alkohol?" Oliver mulai membuka sabuk celananya.
"Aku mau menghilangkan rasa gugupku."
"Aku ku siapkan!" Kata Oliver.
"Aku saja. Di mana minumannya?"
"Di atas meja sana!" Oliver menunjuk sebuah mini bar yang ada di sudut kamar. Alexa melangkah ke arah mini bar itu. Ia menuangkan minuman sambil membelakangi Oliver. Setelah itu ia berbalik sambil membawakan 2 gelas minuman.
"Ayo kita minum!" Alexa memberikan satu gelas pada Oliver. Keduanya melakukan tos dan selesai itu Oliver langsung menghabiskan menumannya.
"Kenapa kau tak minum?"
Alexa tersenyum. "Aku punya ide untuk menuangkan minuman ini ke atas perutmu dan meminumnya dari sana."
Oliver terkejut. Tak percaya dengan apa yang Alexa katakan." Kau sungguh akan melakukannya?"
"Kalau kau mau."
"Tentu saja aku mau."
"Bukalah bajumu dan tunggu aku di atas ranjang. Aku mau ke toilet sebentar. Perutku agak kurang enak karena tadi makan cabe." Alexa meletakan gelas yang dipegangnya lalu segera masuk ke toilet.
Oliver dengan cepat membuka celananya dan menyisakan boxer. Ia naik ke atas tempat tidur. Menunggu dengan jantung yang berdebar.
Sial, kenapa aku harus gugup seperti ini ya?
Oliver menepuk kepalanya sendiri. Ia heran dengan rasa gugup yang dialaminya.
"Oliver, aku masih mules nih. Tunggu sebentar ya?" teriak Alexa.
15 menit berlalu.....
Alexa keluar dari kamar mandi dengan senyum kemenangan. Ia melihat Oliver yang nampak pulas karena obat tidur khusus yang diberikan Alexa di minuman Oliver. Cincin yang dikenakan Alexa ada lubang kecil yang sudah dimasukan obat tidur. Mami bule yang memberikan cincin itu.
Gadis itu mendekati ranjang. Ia mengambil gelas yang berisi minuman. Di tuangkannya minuman tersebut ke atas tubuh Oliver. Dia sengaja membiarkan sebagian jatuh ke atas seprei. Lalu dengan jantung yang berdetak cepat, Alexa membuka boxer Oliver sambil menutup mata. Ia merabah selimut yang ada di bawa kaki lalu menariknya untuk menutupi tubuh Oliver. Alexa menunduk di atas dada Oliver dibuatnya tanda merah sebanyak 2 kali.
Setelah selesai, Alexa berkumur dengan air mineral.
"Tidur yang nyenyak, sayang" kata Alexa. Ia melihat layar digital di pintu. Tangannya bergerak cepat memasukan beberapa angka lalu pintu akhirnya terbuka.
Bagaimana saat Oliver bangun?
Maaf ya aku lambat up
__ADS_1
pekerjaanku di T4 kerja sangat banyak.
Hatap maklum ya