
Mendengar ada gerakan di sebelahnya membuat Giani membuka matanya. Lampu tidur yang letaknya di sebelah Jero masih menyala. Lelaki bule itu masih duduk sambil bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya. Sepertinya ia sedang bermain game.
Tangan Giani meraih ponselnya yang ada di bawa bantal. Ia terkejut melihat jam yang sudah menunjukan pukul 2 dini hari.
"Kenapa belum tidur, kak?" tanya Giani sambil ikutan bangun dan duduk di samping Jero.
"Nggak mengantuk." Jawab Jero datar sambil terus bermain dengan ponselnya.
"Besok masih ada pekerjaan kan? Ini sudah jam 2 subuh."
Jero berusaha untuk tak menatap Giani. Hasratnya yang begitu besar pada istrinya itu belum juga hilang. Ia tak bisa tidur justru karena si palo belum juga bisa tidur.
"Aku bisa pergi jam 10 atau jam 11 siang. Hanya tinggal tanda tangan pengadaan bahan bangunan aja."
"Oh....!" Giani turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Jero menatap sekilas ke arah Giani. Ia menepuk jidatnya dengan geram. Melihat Giani yang melangkah ke kamar mandi saja membuat darahnya mulai terbakar.
Come on Jero. Bukankah sudah banyak gadis yang kau lihat melebihi Giani? Bahkan tubuh Giani tak melebihi tubuh Finly yang sangat indah seperti seorang model ternama. Menatap Finly, Jero masih bisa menahan dirinya. Namun menatap Giani , tubuh Jero selalu bereaksi panas untuk menyentuh wanita itu. Giani seolah punya magnet dalam tubuhnya yang menarik Jero untuk selalu menyentuhnya.
Giani keluar dari kamar mandi. Ia menguap sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya membuat lingre yang dipakainya sedikit terangkat sehingga menampakan paha putih mulus Giani.
Oh... em.... ji.... Dia sadar nggak sih kalau lingrenya itu terangkat? Atau dia sengaja menggodaku?
Giani berhenti di depan kulkas kecil yang ada di bawa meja. Ia menunduk dan membuka kulkas sambil mengeluarkan sebotol air mineral.
Kepala Jero langsung pening. Ia memalingkan pandangannya saat Giani menunduk dan menunjukan bagian belakang tubuhnya yang terbalut celana dalam berwarna merah.
"Kok panas ya..." Kata Giani setelah meminum habis air yang ada dalam botol itu. Ia mengikat rambutnya ke atas dengan sembarangan sambil meraih remote AC dan menyetelnya sampai ke suhu 16 derajat.
Setelah itu Giani naik ke atas tempat tidur. Ia menatap Jero.
"Wajah kakak kenapa? Kok merah begitu?" Tanya Giani sambil mendekat. Tangan kanannya memegang pipi Jero.
"Gi, kamu sungguh membuatku tak bisa menahan diri lagi. Kamu sengaja menggodaku kan?" Jero menahan tangan Giani dan menghadirkan ciuman manis di pergelangan tangannya.
"Kak, ada apa?" Tanya Giani dengan mata polosnya yang menatap Jero dengan wajah bingung pada hal dalam hati Giani tertawa senang. Ia memang sengaja menggoda Jero. Ia tahu Jero tersiksa karena palo memang terlihat lagi on dibalik piyama yang dipakai Jero.
"Aku mau kamu, Gi!" Jero menarik tangan Giani membuat tubuh Giani menjadi sangat dekat dengan Jero.
"Mau apa, kak?"
"Mau menyentuhmu."
"Sekarang kan kakak sudah menyentuh tanganku."
"I want to making love with you." Bisik Jero lalu mulai mencium leher Giani.
"Kak, aku capek."
"Please.., Gi. Aku tak bisa tidur tanpa menyentuhmu." Mohon Jero sambil terus mencium Giani.
"Seberapa besar keinginanmu untuk bersamaku, kak?"
"Sangat besar, Gi. Kau membuatku sangat tergila-gila pada tubuhmu."
Giani memejamkan matanya. Pengakuan Jero sudah mulai membuktikan kalau ia sudah mulai melupakan Finly.
"Aku milikmu, kak." Kata Giani lalu melingkarkan tangannya dileher Jero dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panjang dan penuh hasrat yang tak bisa dihentikan oleh siapapun juga.
********
Pantai Kuta....
__ADS_1
George menggosokan tabir surya di tubuh Joana yang hanya menggunakan bikini. Wanita cantik itu sedang berjemur sambil tidur tengkurap.
"Baby, I'll go swimming first." Ujar George satelah selesai mengoleskan tabir surya di tubuh Joana.
"Ok."
Giani mendekati Joana. Ia duduk di samping Joana yang berbaring tengkurap sambil berbantalkan tangannya.
Giani mengenakan hot pants hitam dan kaos singlet warna kuning yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Kenapa bikini nya nggak dipakai?" Tanya Joana.
"Pakai celana pendek ini aja sudah membuat aku kurang nyaman karena nggak pernah pakai baju seperti ini di luar rumah."
"Jero akan datang?"
"Ya. Dia bilang 10 menit lagi akan sampai."
"Ya sudah. Buka bajumu dan ikut berjemur dengan aku. Beryl kemana?"
"Katanya sih ke toilet tadi."
"Jero harus merasa kalau bukan hanya Beryl yang menginginkanmu namun semua semua pria di pantai ini dapat menarik perhatianmu."
Giani menelan salivanya. Ia akhirnya membuka kaos dan celana pendeknya.
"Tubuhmu bagus, Gi. Jangan minder." Kata Joana.
Giani membuka kain yang memang sudah dibawahnya. Ia membuka kain itu dan ikut berbaring di samping Joana.
Ponsel Giani berbunyi. Ia segera mengambilnya dan menjawab panggilan Jero.
"Kalian ada di mana?"
"Ok."
Joana tersenyum. " Time to make him jealous."
"Hai...!" Beryl mendekat. Ia duduk di samping Giani.
"Kak, boleh oleskan tabir surya ke punggung aku?" Tanya Giani.
"Ok." ujar Jero dengan semangat 45. Ia mendapat kesempatan emas.
Giani duduk membelakangi Beryl sambil menggulung rambutnya secara sembarangan.
Beryl menelan salivanya. Ia sungguh terpesona menatap punggung Giani yang mulus.
Jero yang memasuki pantai, celingukan ke kanan dan ke kiri mencari Giani.
What?? Dada Jero bagaikan dihantam batu yang sangat besar saat melihat Giani yang hanya mengenakan bikini sementara Beryl sedang menggosok punggungnya.
No! Giani adalah miliknya. Tubuh Giani hanya boleh dilihat olehnya. Kulit Giani hanya boleh disentuh olehnya. Jero memang senang melihat gadis berpakaian seksi. Namun tidak dengan Giani.
"Gi, ayo pulang!" Jero tiba-tiba mendekat dan langsung menarik tangan Giani. Ia mengambil kain yang dipakai Giani untuk menutupi tubuh Giani.
"Jangan kasar, Jer." Kata Beryl melihat tangan Jero yang memegang pergelangan tangan Giani dengan sangat erat.
"Diam kamu!" Jero menatap Giani dengan wajah marah. "Mana bajumu?"
"Tuh!" tunjuk Giani.
Jero memungut tas, baju dan ponsel Giani. "Ayo pulang!"
__ADS_1
"Kak, temanku ada di sini." Giani menahan langkahnya.
Joana bangun. "Pergilah, Gi. Turuti suamimu."
Giani langsung mengikuti Jero yang memang sedikit menyeret langkahnya. Setelah sampai di dalam mobil yang disewa Jero, Ia meminta Giani untuk memakai bajunya. Setelah itu ia menjalankan mobilnya.
Saat sampai di hotel, Giani menghentakan tangannya yang masih juga dipegang oleh Jero.
"Lepasin, kak. Ini sakit."
"Gi, jangan lagi memakai bikini."
Giani menatap Jero dengan wajah bingung.
"Tadi kan di pantai kak? Ini juga di Bali kan? Aku pikir orang bule biasa melihat yang seperti itu."
"Aku tidak suka, Gi!"
"Kenapa kak?"
"Tidak suka ya tidak suka! Memangnya harus ada alasan?"
"Kakak cemburu?"
Jero tertawa. "Cemburu? Aku bukan cemburu. Aku hanya tak suka apa yang menjadi milikku sekarang dilihat apalagi disentuh oleh orang lain."
"Tapi kalau kakak melihat dan menyentuh milik orang lain, nggak masalah buat kakak?"
"Apa maksudmu?"
"Kak Finly adalah milik kak Aldo!"
"Aku yang duluan memilikinya sebelum Aldo."
"Maaf, kak. Menurut hukum agama dan hukum pemerintah, kak Finly adalah milik kak Aldo."
"Jangan memancing emosiku, Gi. Kita sekarang sedang membicarakan aku dan kamu. Jangan bawah-bawah orang lain."
"Finly bukan orang lain. Dia adalah kakak angkatmu dan kakak iparku."
"Gi....!" Teriak Jero. Emosinya benar-benar tersulut karena Giani terus memprofokasinya dengan semua kata-katanya.
Giani tersenyum mengejek. "Kalau milik orang lain bisa di sentuh dan pegang oleh kak Jero, maka milik kak Jero juga bisa disentuh dan dipegang oleh orang lain. Ingat kak, hukum tabur tuai itu berlaku."
"Kamu....!" Jero berada di puncak emosinya. Wajahnya sudah menjadi merah. "Siapa lelaki yang berani menyentuhmu akan kuhabisi. Aku tak main-main Giani Fifera Dawson!"
"Oh ya?" Giani sedikit mengejek pada hal sebenarnya ia takut melihat wajah Jero yang merah menahan emosinya.
"Kamu belum mengenal sisi gelapku, Giani!" Jero mendekat. Ia dengan cepat merobek kaos singlet tipis yang Giani kenakan. Lalu setelah kaos itu jatuh ke lantai, Jero menarik celana Giani sekaligus dengan celana dalamnya.
"Kau hanya boleh menunjukan tubuhmu padaku. Hanya padaku!" Lalu Jero mengangkat tubuh Giani dan melemparnya di atas ranjang.
"Kau harus tahu betapa posesifnya aku terhadap apa yang menjadi milikku!" Kata Jero lalu merangkak naik ke atas tubuh Giani.
"Kau mau apa, kak?"
"Menunjukan siapa pemilikmu sebenarnya."
Giani tersenyum saat Jero mulai mencium lehernya. Kau sudah terjerat padaku, kak. Kau pasti akan melupakan Finly. Kakakku Aldo bisa tenang.
Bagaimana selanjutnya? ...
Jangan lupa like, komen dan vote ya?
__ADS_1