
Hallo para pembaca setiaku!
ada yang baru baca karya-karyaku yang lain?
Nah, urutan bacanya supaya asyik sebagai berikut :
I HATE YOU BULE
MY BEST PHOTO
LERINA
SONG IN MY LIFE dan 3 HATI 1 CINTA bisa dibaca bareng.
*********
Di part ini, emak mau memperbaiki usia papi Juan. Kan papi Juan sama Finly hampir seumuran jadi usia Papi Juan sekarang ini sudah 38 tahun. Jadi usia Om Jero 36 tahun. Dan si cantik Wulan usianya 24 tahun. Jadi Juan dan Wulan beda usianya 14 tahun guys.....(ketuaan ya?) Tapi tenang saja, Papi Juan yang macho itu tetap kelihatan awet muda. So, selamat membaca...!
*********
Seharian Juan tak bisa konsentrasi bekerja. Di kepalanya selalu menari-nari bayangan saat ia mencium Wulan. Ciuman itu begitu membekas pada hal Juan menganggap kalau Wulan adalah Finly.
"Juan, jadi keputusannya bagaimana?" Tanya Varel, sekretaris sekaligus juga teman dekatnya.
"Apanya?"
"Tawaran kerja sama dari perusahaan Antarajaksa. Aku dari tadi bicara namun pikiranmu kayaknya nggak ada di sini." Varel terlihat sedikit kesal.
"Maaf. Aku sedang bingung."
"Kenapa? Ada yang nggak beres dengan anak-anak?"
"Ini bukan tentang anak-anak."
"Lalu?" Varel bingung. Karena setahu dia, semenjak Finly meninggal, masalah Juan hanyalah tentang anak-anaknya.
"Aku mencium seseorang semalam."
"Apa?" Wajah Varel langsung tersenyum. Akhirnya duda keren di depannya ini membuka hati untuk seseorang.
"Siapa?" Tanya Varel melihat Juan hanya diam.
"Pengasuh anakku."
"Apa? Mengapa seorang pengasuh?" Varel memang sangat memperhatikan kualitas seorang gadis dari pendidikan, kecantikan dan strata sosialnya.
"Wajahnya sangat mirip dengan Finly."
"Benarkah? Siapa yang merekomendasikan dia?"
"Dia bekerja pada Joana jadi sekaligus juga menjadi pengasuh Felicia. Anaknya lucu, tomboy dan pintar masak."
"Berbeda dengan Finly dong. Finly orangnya sangat ayu, manis sayangnya nggak bisa masak."
"Ya. Hanya wajah mereka yang mirip. Kulitnya lebih hitam, tubuhnya lebih pendek. Aku mengira kalau dia adalah Finly makanya aku mencium dia. Ciuman yang sangat berbeda. Awalnya dia menolak namun tak lama kemudian dia membalas ciumanku. Agak kaku memang. Sepertinya dia belum berpengalaman dengan pria."
"Aku pastikan kalau dia masih perawan."
__ADS_1
"Mesum banget pikiranmu."
Varel tertawa. Ia memang terkenal mesum. Namun ia lelaki yang setia pada istri dan anaknya. Sejak menikah 5 tahun yang lalu, Varel tak pernah selingkuh. Gimana mau selingkuh kalau yang dia nikahi adalah anak seorang jendral ternama. Bisa bolong kepalanya kena peluru sang mertua 😂😂😂
"Juan, jangan karena kesamaan wajah pengasuh anakmu dengan Finly sampai kau mempermainkan dia. Kasihan kalau dia sampai jatuh hati padamu. Siapa coba yang bisa menolak seorang Juan Fernandez?"
Juan tertawa. Ia tahu banyak wanita yang suka padanya. Namun kebanyakan hanya tertarik pafa wajahnya, pada tubuhnya dan juga kekayaannya. Juan tak ingin menikah lalu mereka menyakiti anak-anaknya.
"Aku akan menjauhinya. Rasa rinduku pada Finly membuat aku bisa lupa diri." Kata Juan sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
********
"Juan harus suka ke Wulan bukan karena kesamaan wajahnya dengan Finly. Tapi ada sesuatu dalam diri Wulan yang membuat Juan tertarik. Wulan sangat berbeda dengan Finly. Jalannya kayak anak laki-laki, nggak tahu berdandan, kalau tertawa sangat keras. Namun kelebihannya, ia pintar mengambil hati anak-anak. Kemarin saat Felicia dan Joaldo bertengkar karena rebutan mainan, dia dengan mudahnya membuat mereka berbaikan kembali. Bahkan mainan yang mereka perebutkan sudah tak dihiraukan lagi. Apakah mungkin itu yang dilihat Finly sampai ia menginginkan Wulan menjadi istri Juan?" Tanya Joana.
"Dia juga pintar masak." Ujar Giani.
"Ya. Masakannya sama enak dengan yang kau buat. Oh ya, bagaimana rencana liburan kita ke Bali? Aku kangen Bali. Aku dan mas Aldo kan bulan madunya di sana. Salah satu sepupuku saat ini ssdang di Bali juga. Ia menginap di The Thomson hotel. Katanya itu salah satu hotel terbaik di sana."
"Kita pasti akan ke sana jika Wulan dan Juan menikah." Ujar Giani dengan penuh keyakinan. Ia juga merasa kalau Wulan adalah gadis yang baik.
"Tapi Gi, kira-kira apakah Wulan akan suka pada Juan? Usia Juan kan bulan yang lalu genap 38 tahun. Sedangkan Wulan baru berusia 24 tahun. Mereka terpaut usia 14 tahun."
"Cinta sejati itu nggak pandang umur. Walaupun tua kalau saling cinta, pasti nggak akan ada masalah."
"Siapa yang tua?" Tanya Jero yang tiba-tiba saja sudah muncul di ruang tamu.
Joana dan Giani saling berpandangan melihat wajah Jero yang kelihatan serius.
"Bukan kamu, Bee. Kami sedang membahas perbedaan usia antara Wulan dan Juan."
Jero duduk di samping istrinya. "Memangnya kalian serius mau menjodohkan Wulan dan Juan?"
"Kita jebak aja mereka berdua. Cari tahu apa yang membuat Wulan takut dan Juan akan datang sebagai penyelamat. Juan punya pesona sebagai pria yang mempunyai gaya urban lumber. Aku pastikan kalau Wulan akan terpesona padanya. Namun apakah rasa itu akan berubah menjadi cinta yang tulus sampai kepada Alexa dan Felicia, itu yang aku tak tahu." Kata Jero sambil mengangkat bahunya.
"Bagaimana kalau minggu depan kita liburan ke villanya papa Denny?" Tanya Giani.
"Boleh juga. Dan aku akan mengorek keterangan dari Wulan tentang dirinya." Kata Joana sambil tersenyum. Ia sudah tak sabar ingin jadi mak comblang untuk Wulan dan Juan.
"Sayang, kita pulang yuk.!" Ajak Jero.
"Anak-anak masih asyik bermain. Papa Denny dan mama Sinta sedang bersama mereka di halaman belakang." Kata Giani.
"Aku kan akan pergi besok pagi-pagi. Ada yang harus aku kerjakan dan membutuhkan bantuan mu. Joana, kalau anak-anak sudah selesai bermain, minta paman Leo mengantar mereka ya?" Ujar Jero lalu menarik tangan Giani.
"Baiklah." Ujar Joana.
Giani mengikuti langkah suaminya dengan rasa penasaran. "Bee, memangnya ada pekerjaan apa yang membutuhkan bantuan ku?" Tanya Giani saat keduanya sudah berada di rumah mereka.
"Ada, deh. Ikut aja ke kamar."
Perasaan Giani mulai tak enak saat melihat gelagat suaminya.
"Bee, baju-baju kamu yang akan dibawa sudah aku siapkan di dalam koper." Kata Giani sambil mengikuti langkah Jeronimo.
"Ada satu yang harus kita kerjakan bersama, baby!" Jero menutup pintu kamar saat Giani sudah berada di kamar.
"Apa itu, Bee?"
__ADS_1
Jeronimo tersenyum mesum. Ia membuka kancing kemejanya satu persatu. "Nido sudah aman kan?"
"Astaga, Bee. Itu kan bisa kita lakukan nanti malam. Ini baru juga jam 2 siang."
Jero membuang kemejanya asal. Tangannya membuka ikat pinggangnya sambil berjalan mendekati Giani. "Palo sudah menganggur selama 7 hari dan aku akan pergi selama 4 hari ke Batam. Jadi aku pikir sebentar malam tak akan bisa menggantikan 11 hari palo tak ketemu nido."
Giani menelan salivanya. "Bee...., sayang..., nanti kamu kecapean. Pesawatnya jam 6 pagi kan? Jadi kita bisa buat kesepakatan. Siang ini saja dan sebentar malam kita langsung tidur."
Jero yang sudah melepas semua benang yang menutupi tubuhnya menggeleng sambil tersenyum. Ia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Giani. "Sayang, sudah lama kita tak menghabiskan waktu berdua selama beberapa jam. Jadi, apa salahnya jika kita memulainya siang ini? Aku bisa tidur di pesawat nanti."
"Kamu dan nido sama sekali tak pernah berubah."
Jero terkekeh sambil menarik resleting gaun Giani. "Aku pingin kita punya baby lagi, Gi." bisiknya lalu menggendong tubuh Giani menuju ke ranjang cinta mereka.
********
"Bibi Wulan, bolehkah Eca minta tolong?"
Wulan yang baru selesai menidurkan Felicia dan Joaldo menatap Alexa. "Apa yang bisa bibi bantu?"
"Tolong ke kamar Eca dan ambilkan sepatu roda Eca yang ada di dalam walk in closet. Eca sebenarnya mau pergi ambil sendiri tapi perut Eca kekenyangan habis makan rujak sama mami bule."
"Baiklah sayang. Nggak apa-apakan bibi masuk ke sana sendiri?"
"Nggaklah. Papi Juan kan sudah memberi ijin. Bibi bisa ke rumah."
"Baiklah sayang." Wulan melangkah meninggalkan Alexa yang ada di ruang makan. Sudah 3 hari sejak peristiwa ciuman itu dan Wulan tak ketemu Juan. Selama 3 hari ini juga Wulan terpaksa tak mengikat rambutnya karena kissmark di lehernya masih ada.
"Wulan sudah pergi?" Tanya Joana.
"Sudah, mami."
"Dia nggak tahu kan kalau papi Juan sudah ada di rumah?"
"Nggak. Mobil papi Juan nggak akan terlihat dari pintu samping."
Joana dan Alexa melakukan tos. Ini memang akal-akalan mereka bersua agar Juan dan wulam ketemu lagi.
Wulan yang sudah masuk dari pintu samping merasakan jantungnya berdetak cepat. Ia ingat dengan peristiwa malam itu. Tangannya kembali merabah bibirnya. Bibirku tak perawan lagi. Dan anehnya, kenapa aku nggak menyesal sudah di cium olehnya, ya? Duh, aku seharusnya berhenti membaca novel-novel romantis, menonton telenovela dan drakor yang ada adegan ciumannya. Jadi kotor gini kan otakku.
Wulan menepuk-nepuk kepalanya sendiri sambil menaiki tangga.
Begitu ia berada di depan kamar Juan, kenangan 3 hari lalu itu kembali membayangi Wulan.
"Ah, lama-lama aku bisa gila!"
Wulan menuju ke kamar Alexa yang ada di ujung lorong. Ia membuka pintu kamar secara cepat dan membuka pintu walk in closet. Alarm tiba-tiba saja berbunyi saat Wulan mencoba membuka pintu walk in closet. Wulan jadi terkejut dan langsung panik. Ia berlari keluar kamar dan...
brukk..!!!
Wulan menabrak sesuatu dan membuatnya jatuh menimpa seseorang. Wulan membuka matanya saat hidungnya mencium minyak wangi itu. Ia terkejut menemukan dirinya jatuh di atas tubuh Juan dengan posisi wajah mereka yang hanya berjarak beberapa centimeter saja. Wulan bahkan dapat merasakan hangatnya napas Juan menyapa kulit wajahnya.
Tatapan mata mereka bertemu. Wulan terpesona menatap manik coklat Juan. Jantung Wulan seakan berhenti berdetak. Dan sebelum ia berbicara, Juan sudah menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka berdua dalam ciuman yang hangat dan memabukkan.
Wulan memejamkan matanya. Haruskah ia menolak ciuman dari pria berwajah mirip bintang telenovela pujaannya? Sungguh, otak dan tubuh Wulan tak sejalan. Juan sudah menyihirnya setiap kali bibir mereka bertemu. Wulan bahkan tak memberontak saat Juan membalikan posisi mereka dan menempatkan gadis itu dibawa kekuasaannya.
Duh...si duren...., maunya apa coba?
__ADS_1
Ada yang mau kasih komentar papi Juan mau ngapain dengan gadis lugu ini???
Kalau komentarnya banyak, emak rajin up deh..