Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Sang Pengagum


__ADS_3

Mata Alexa menatap pria yang kini berjongkok di depannya dengan sangat teliti. Finly jadi tegang. Ia tak mau kalau Alexa akan marah padanya karena perkataan Juan.


"Eca, om Juan hanya bercanda. Om Juan ini teman mama waktu sekolah dulu." Kata Finly sambil melotot ke arah Juan.


Alexa tanpa diduga memegang pipi Juan. "Om tampan. Boleh juga jadi papa Eca. Asalkan om nggak boleh galak pada mama ya?"


Finly terkejut mendengar perkataan putrinya.


"Jadi Eca mengijinkan?" Tanya Juan sangat antusias.


Alexa mengangguk.


"Kalau begitu jangan panggil om Juan. Panggil papi Juan!" Kata Juan sambil mengulurkan tangannya pada Alexa.


Gadis kecil itu tersenyum. Ia tak membalas uluran tangan Juan, justru ia memeluk Juan dengan hangat membuat Juan sangat terkejut. Pelukan Alexa membuat hati Juan menjadi haru.


"Papi Juan, kapan menikah dengan mama Eca?" Tanya Alexa setelah ia melepaskan pelukannya. Juan tersenyum. Ia mengangkat tubuh Alexa dan memeluknya sambil berdiri. "Eca bujuk mama Finly supaya mau menikah dengan papi."


Alexa menatap mamanya. "Ma, ayo menikah dengan papi Juan. Papi juan kan ganteng. Cocok sama mama yang cantik."


Finly ingin sekali menarik hidung mancung Juan dengan sangat keras. Sungguh ia kesal karena Juan sangat cepat bisa menguasai Alexa. Keahlian Juan sejak dulu adalah mampu menarik perhatian orang pada pertemuan pertama. Setelah itu ia akan menguasainya dengan memaksakan kehendaknya.


"Eca, kita pulang yuk!" Ajak Finly.


"Eca sudah makan?" Tanya Juan tanpa memperdulikan tatapan protes Finly.


"Belum. Kata mama nanti selesai belanja baru Eca dan mama akan makan di Mcdonald."


Juan menatap arlojinya. "Ini sudah hampir jam setengah satu. Saatnya untuk makan siang. Mcdonald ada di lantai satu kan? Papi akan traktir Eca dan mama makan di sana."


"Asyik....!" Eca bertepuk tangan dengan gembiranya. Juan menurukan Alexa dari gemdongannya. Tangannya secara cepat menarik tiga paperbag yang ada ditangan Finly.


"Mama Finly, ayo kita makan siang...!" Kata Juan sambil melangkah sementara tangannya yang lain menarik tangan Finly. Alexa sudah berjalan di depan mereka sambil melompat-lompat kecil.


"Kamu keterlaluan!" Ujar Finly kesal. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Juan namun pria itu menahannya sangat kuat.


"Eca sudah merestui kita. Mau apa lagi? Sebaiknya setelah makan siang, kita segera menentukan tanggal pernikahan kita."


"Tanggal pernikahan dengkulmu? Jangan membuat anakku memiliki harapan yang sia-sia, Juan. Eca gampang kecewa."


"Siapa yang akan membuat Eca kecewa? Aku sungguh-sungguh ingin menikah denganmu."


Finly menghentikan langkahnya membuat Juan berhenti juga. "Juan, menjauhlah dari hidupku."


"Maaf, Fin. Sejak aku tahu kalau kamu sudah bercerai, aku bertekad untuk mendapatkan kamu kembali."


"Tapi aku sakit, Juan."


"Aku akan merawatmu!"


"Kamu...!"


"Mama....! Papi Juan....! Cepatlah. Eca lapar!" teriak Alexa yang sudah berdiri di depan lift.


"Fin, kamu tahu kalau aku ingin sekali punya anak."


"Aku tak bisa memberikannya padamu. Aku sakit!" ketus Finly.

__ADS_1


Juan tersenyum. "Aku sudah menemukannya. Aku ingin menjadi papa untuk Alexa." Kata Juan lalu melepaskan tangan Finly. Ia berlari dan mendekati Alexa.


Finly hanya bisa menekan rasa dongkol dalam hati. Juan memang tukang pemaksa.


**********


"Ada kiriman bunga, nyonya." Kata Vita. Manager yang diangkat Giani untuk bertanggungjawab di cafe yang ada di mall ini.


"Bunga untukku dari siapa?"


"Aku tak tahu, nyonya. Sebenarnya beberapa hari yang lalu juga ada yang mengirim bunga untuk nyonya. Namun karena tak ada nama pengirimnya jadi saya tak mengirimnya ke rumah nyonya. Kali ini sepertinya ada kartu namanya." Jawab Vita sambil memberikan kartu nama itu pada Giani.


Giani mengambilnya lalu membukanya.


...***kau telah mencuri hatiku dengan segelas...


...kopi buatanmu yang sangat nikmat...


...ijinkan aku terus mengagumimu...


...karena kau terlihat semakin cantik sebagai seorang calon ibu....


...dariku : si pengagum rahasiamu***...


"Pengagum rahasia?" Giani jadi penasaran.


"Nama si pengirim ya bu?"


"Iya. Ada-ada saja." Giani melepaskan kartu nama itu. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya untuk memeriksa omset penjualan dan bahan-bahan pembuat kopi yang akan di order.


Vita sudah keluar dari kantor Giani. Membiarkan bosnya itu bekerja. Bunga mawar putih yang dikirimkan si penggemar rahasia, dibiarkan begitu saja ada di atas meja.


"Bee? Tumben datang ke sini? Katanya ada rapat siang ini."


"Rapatnya batal. Langsung deh datang ke sini. Aku mau mengajak kamu makan siang."


Giani menutup laptopnya. Ia keluar dari balik meja kerjanya. "Aku juga sudah lapar. Dan si kembar juga." Kata Giani sambil mengusap perutnya.


Jero menunduk lalu mencium perut istrinya. Saat itulah matanya menatap bunga mawar putih yang ada di sudut meja kerja Giani.


"Bunga dari siapa, Mel?"


"Nggak tahu. Katanya dia pengagum rahasiaku. Ayo pergi!"


"Tunggu!" Jero mengambil kartu ucapan yang ada di dekat bunga. Ia membuka dan membacanya.


"Siapa yang berani-beraninya mengagumi istri Jeronimo Dawson? Dia harus berhadapan denganku." Jero membanting kartu ucapan itu dengan rasa cemburu di hatinya.


"Bee, kok gitu sih? Aku juga nggak memperdulikan siapa yang mengirim bunga itu. Hanya orang iseng saja. Jangan simpan di hati." Giani mengambil bunga itu lalu membuangnya di dekat tempat sampah yang ada di dekat pintu.


"Ayo pergi!" Giani melingkarkan tangannya di lengan Jero dan segera mengajak suaminya itu pergi.


Keduanya melangkah bersama meninggalkan cafe tanpa menyadari kalau ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan pancaran mata penuh rasa cemburu.


"Bule itu tak pantas mendapatkanmu, Gia." guman pria itu lalu menghentakan kakinya dengan sangat keras.


******

__ADS_1


Baru kali ini Finly melihat Alexa yang langsung akrab dengan seseorang yang baru saja dikenalnya. Juan ternyata berhasil mencuri perhatian Alexa. Gadis kecilnya itu makan sambil bercanda dengan Juan. Selesai makan, Alexa diajak main di playground. Juan menurutinya. Keduanya bermain seluncuran bersama, main lempar bola dengan begitu gembira. Juan terlihat seperti seorang papa yang memang sedang memanjakan anaknya. Finly bahkan merasa sedikit diabaikan oleh Alexa.


Saat mereka selesai main, Alexa minta juan menggendongnya. Dan lihatlah, Alexa justru tertidur dalam pelukan Juan.


"Kamu bawa mobil?" Tanya Juan saat mereka sudah berada di pintu masuk.


"Nggak. Tadi kami ke sini diantar oleh sopir mantan suamiku. Aku dan Eca naik taxi online saja."


"Jangan!" Juan mengambil ponselnya lalu menelepon sopirnya. Tak sampai 5 menit, sebuah mobil Hammer berwarna hitam sudah ada di depan mereka. Seorang sopir keluar lalu membukakan pintu.


Juan tetap memeluk Alexa saat mereka sudah duduk di jok penumpang.


"Alexa sama aku saja." Kata Finly.


"Jangan. Nanti dia bangun!"


Finly mengalah. si tuan pemaksa sudah menyatakan keinginannya. Siapa yang akan melawannya?


Sesampai di apartemen Finly, Juan ikut masuk ke dalam. Ia bahkan kw kamar Finly dan membaringkan tubuh Alexa di atas kasur.


"Sekarang, pulanglah!" Kata Finly saat keduanya sudah keluar kamar.


"Kau tidak ingin menawarkan kopi untukku?"


"Kamu tahu aku tak pandai membuat kopi."


"Akan ku buat sendiri." Juan langsung melangkah menuju ke arah dapur.


"Juan, aku mau istirahat!"


"Istirahatlah, sayang. Biarkan aku sendiri di sini."


Finly meninggalkan Juan sendiri. Ia menuju kw kamarnya lalu segera mandi dan tidur di samping Alexa.


Menjelang malam, Finly terbangun. Alexa ternyata sudah bangun. Finly tahu kalau Alexa pasti sedang menonton TV. Ia pun bergegas ke luar kamar. Namun ia justru menemukan pemandangan yang luar biasa. Alexa sedang di dapur bersama Juan dan sedang memasak.


"Hallo, ma. Sudah bangun? Mama duduk saja, aku dan papi Juan akan selesai memasak." Kata Alexa.


Finly menatap Juan dengan wajah kesal. Namum ia tak berani berbicara karena ada Alexa.


"Mama, papi Juan boleh tidur di siini ya?" pinta Alexa saat mereka baru selesai makan Malam.


"Sayang, kamar di sini kan hanya satu? Papi Juan akan pulang." Kata Finly sambil melotot ke arah Juan. Namun Juan hanya tersenyum pada Finly.


"Papi Juan boleh bobo di atas ranjang bersama Eca dan mama. Ranjang nya kan besar." Kata Alexa membuat Finly kehilangan kata-kata.


"Mama diam, itu artinya setuju!" teriak Alexa senang. "Hore...!"


"Papi Juan nggak ada baju ganti, sayang." Finly berusaha agar Juan tak jadi menginap.


"Ada. Tadi sopirnya sudah datang membawa baju ganti. Ayo papi Juan, sekarang mandi dan ganti baju."


Finly menarik napas panjang. Ia bingung harus melakukan apa.


Nah...gimana????


what next???

__ADS_1


dukung emak ya...


__ADS_2