Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Alexa dan Kisah Cintanya (bonus part 20)


__ADS_3

Hai, yang belum tahu, aku sementara juga menulis kisah nyata tentang perempuan luar biasa yang bernama Elina. Judulnya KETULUSAN HATI ELINA


mampir ya, sudah memasuki episode ke 35.


********


Hari ini karena cuaca dari Tokyo agak buruk, pesawat mengalami penundaan keberangkatan selama 3 jam. Alexa yang berharap akan tiba di Jakarta pada pukul 7 malam, akhirnya tiba di bandara jam 10.30 malam. Ia sebenarnya sangat capek karena ada beberapa penumpang yang mengalami sakit perut, sakit maag bahkan ada yang muntah-muntah dengan keluhan belum makan karena penundaan keberangkatan. Pada hal pihak bandara sudah mengumumkan berulang kali. Alexa juga bingung kenapa mereka tak makan saja sebelum pesawat berangkat.


Setelah membereskan segala sesuatunya, Alexa pun melangkah menuju ke pintu keluar bandara. Ia ingin sampai ke rumah. Mandi dan melakukan panggilan video call dengan Oliver. Maklumlah, sehari setelah lamaran yang menegangkan itu selesai, Alexa harus berangkat ke Sidney. Dari Sidney, mereka berangkat ke Tokyo. Selama 4 hari Alexa tak bertemu dengan Oliver. Mereka hanya sesekali melakukan panggilan video call. Namun yang membuat Alexa merasa sangat dicintai, hampir setiap jam Oliver mengirim pesan padanya. Kecuali kalau ia tahu kalau Alexa sementara berada di atas pesawat.


Langkah Alexa terhenti, senyum di bibirnya terlihat sangat manis melihat siapa yang berdiri di depan pintu keluar bandara.


Oliver ada di sana. Mengenakan celana Jeans dan kemeja lengan panjang yang digulung sampai di sikunya. Tangan kanannya memegang bunga mawar merah. Ia sungguh tak menyangka kalau Oliver akan menjemputnya.


"Hai....!" agak kaku Alexa menyapanya. Mengingat ini kali pertama Oliver menjemputnya dengan status sebagai pacarnya.


"Selamat datang sayang....!" Oliver mengulurkan bunga mawar yang dipegangnya. Alexa menyambutnya dengan hati yang bergetar.


"Terima kasih, ya? Aku tak mengira kalau kamu akan menjemput ku. Bagaimana bisa tahu jam kedatanganku? Waktu kemarin kita saling Videocall kan kamu tak menanyakan kapan aku berangkat."


Oliver tersenyum. "Apakah kamu lupa kalau tunanganmu ini bisa mendapatkan informasi apa saja walaupun itu di maskapai musuhku?"


"Oh ya, aku lupa kalau kau punya jiwa mafia di dirimu."


"Sayangnya hari ini aku meleset. Tak memeriksa kalau ada penundaan keberangkatan. Jadilah aku menunggu di sini selama 4 jam lebih."


"Kasihan....pasti kamu capek ya?" Alexa jadi iba.


"Capeknya langsung hilang saat melihat mu sayang. Boleh aku memelukmu?"


Alexa tersenyum. Ia mengangguk. Oliver langsung memeluk Alexa dengan erat.


"Ingin rasanya aku mencium bibirmu. Namun mengingat wajah seram papi Juan dan paman Jero mu, maka aku harus menahan semua keinginanku ini. Dan rasanya kepalaku sakit karena harus menahannya."


Alexa terkekeh. Ia melepaskan pelukannya lalu menarik hidung mancung Oliver. "Sabar ya sayang. Kau harus menunggunya selama 3 bulan 3 minggu lagi."


Wajah Oliver langsung cemberut. "Lama sekali. Kenapa kita tak menikah minggu depan saja, sih? Uangku banyak. Aku dapat menyiapkan segala sesuatunya secara cepat."


"Jangan lupa, kesungguhan mu sementara diuji."


"Baiklah. Ayo kita pergi! Kakiku hampir kesemutan karena terlalu lama berdiri." Oliver mengambil koper Alexa. Ia baru akan akan meraih tangan Alexa untuk digenggamnya erat saat panggilan seseorang menghentikan gerakan tangannya.


"Miss Alexa.....!"


Oliver dan Alexa sama-sama menoleh. Seorang pria tampan berwajah oriental, mendekati mereka. Melihat pria itu yang tersenyum manis pada Alexa, Oliver secara cepat melingkarkan tangannya pada pinggang Alexa dan menarik tubuh Alexa sehingga menempel padanya.


"Mr. Yakuta!" Alexa melepaskan tangan Oliver yang melingkar di pinggangnya lalu ia menunduk hormat pada pria tampan itu.


"thank you for helping me on the plane earlier. I feel good now." Ujar Yakuta.


"I'm glad to know that you have been kind to me, sir."


"You are the greatest flight attendant I have ever met" (Kau adalah pramugari terbaik yang pernah aku temui).


"Thanks." Alexa merasa senang karena tuan Yakuta telah merasa baik.


"Hope we meet again. Very happy to travel with you. Good night." Yakuta mengulurkan tangannya.


Alexa menyambut uluran tangan itu walaupun sedikit kesulitan karena Oliver kembali melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.


"Oliver?" Alexa menatap Oliver dengan wajah yang bingung atas tingkah cowok itu.


"Dia harus tahu, sayang. Aku ini adalah tunanganmu. Kenapa kau tidak memperkenalkan kami? Nanti dia mengira kalau kau masih jomblo."


"Oliver, dengan melihatmu memeluk pinggangku seperti itu, semua orang di bandara ini akan tahu kalau kita ada hubungan."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Dasar posesif." Alexa mulai melangkah.


"Sayang, memangnya apa yang kau lakukan pada pria itu selama di pesawat?" Tanya Oliver sambil meraih tangan Alexa untuk digenggamnya. Sementara tangannya yang satu menarik koper Alexa.


"Tuan Yakuta tadi sakit perut. Ia bahkan kelihatan sangat pucat. Karena tak ada obat di dalam pesawat, aku memberikannya teh hijau, lalu mengambil sebuah botol, mengisinya dengan air panas, kemudian botol itu di letakan di atas perut dan di bagian belakang pinggangnya."


"Siapa yang melakukannya? Maksudku yang meletakan botol itu di perut dan bagian belakang pinggangnya?"


"Aku."


"Apa?" Langkah Oliver terhenti. "Jadi kamu menyentuh bagian tubuh pria itu secara langsung?"


"Oliver, itu sudah tugasku. Aku yang melayani di kelas bisnis."


"Sayang, aku nggak suka kalau kamu memegang tubuh pria lain. Kau hanya milikku."


Oliver melingkarkan tangannya di lengan Oliver. "Oliver sayang, lelaki tampan apapun tak akan menggoyahkan hatiku. Aku hanya milikmu."


Wajah cemberut Oliver langsung berubah."Aku senang kau memanggilku dengan sebutan sayang." Oliver dengan gemas langsung mencium pipi Alexa.


"Ayo...!" Alexa kembali mengajak Oliver untuk melangkah.


Ketika keduanya sudah berada di dalam mobil, Alexa mendengar suara bunyi perut Oliver.


"Sayang, kamu belum makan?"


"Iya. Aku sebenarnya ingin mengajak kamu makan malam jika pesawatnya datang jam 7. Namun sekarang sudah hampir jam 11 malam. Kita makan waktunya satu jam. Aku tak dapat membayangkan mengantarmu pulang sampai jam satu tengah malam."


"Tapi kan kamu lapar. Aku sudah makan tadi di pesawat."


'Biar nanti aku makan di rumah saja."


"Makan di rumahku saja."


"Bisa." Alexa mengeluarkan ponselnya, ia menelepon mami bule dan menceritakan bagaimana Oliver yang sudah menunggunya sambil menahan lapar di bandara.


Begitu mereka tiba di rumah, nampak meja makan sudah tersaji makanan.


"Maaf ya Oliver, karena ini sudah agak larut, maka pelayan sudah pada tidur. Mami siapkan ala kadarnya saja." Ujar Joana.


"Makasih mami." Oliver jadi malu karena sudah merepotkan. Alexa pun menemani Oliver makan sementara Joana sudah kembali ke kamarnya.


"Sayang, kalau kita sudah menikah, maukah kamu berhenti jadi pramugari?" tanya Oliver saat mereka sudah selesai makan dan duduk santai di ruang tamu.


"Aku memang tak ingin selamanya jadi pramugari, namun berhenti sekarang rasanya belum bisa. Sejak kecil aku sudah bercita-cita menjadi pramugari. Walaupun papa dan semua orang menentangnya namun aku nekad melamar. Biarkan aku sebentar menjalani profesiku ini, ya? Aku janji tak akan mengabaikanmu jika sudah menikah nanti."


Oliver meraih tangan Alexa dan menggenggamnya erat. "Kalau begitu, pindah lagi ke perusahaanku."


"Sayang, aku nggak bisa. Nanti kesannya gimana gitu. Aku sudah merasa nyaman dengan tempatku bekerja sekarang. Aku bahkan sudah diangkat menjadi pramugari senior."


Oliver menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia juga melepaskan tangan Alexa yang digenggamnya. Wajahnya cemberut.


"Sayang, kok cemberut gitu sih?" Alexa memegang dagu Oliver, memaksa cowok itu untuk menatapnya. "Sayang, kalau aku pindah ke perusaanmu lagi, nanti aku di kira tak bertanggungjawab dengan pekerjaanku. Jangan karena kita sudah bertunangan lalu aku seenaknya saja pindah."


"Aku nggak tahan jika harus berjauhan dengan kamu terus."


Alexa tersenyum. "Jika kita sudah menikah, kita akan berduaan terus."


"Masih 3 bulan, 3 minggu lagi."


"Besok siang, aku akan ke kantormu. Mengantarkan makan siang untukmu. Setelah itu semua waktuku adalah milikmu sampai jam 10 malam nanti."


"Benarkah?" Wajah Oliver kembali tersenyum.

__ADS_1


"Aku nggak akan bohong, sayang....!"


Hati Oliver berbunga-bunga. Ia hampir saja mencium bibir Alexa. Namun dengan gerakan matanya, Alexa menunjukan CCTV yang terpasang di ruang tamu itu. Oliver pun menggaruk kepalanya. "Aku pulang saja, sayang."


"Hati-hati menyetirnya, ya? Ini sudah larut malam"


Alexa mengantarkan Oliver sampai di pintu depan. Oliver mencium dahi kekasihnya itu dan segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi. Alexa pun kembali masuk ke dalam rumah dengan hati yang berbunga-bunga. Ah, punya kekasih itu ternyata sangat menyenangkan.


*********


Sejak pagi Alexa sudah bangun. Menelepon bibi Giani untuk menanyakan beberapa jenis resep makanan. Mami Joana pun membantunya untuk menyiapkan makan siang bagi Oliver. Alexa menyesal karena ia tak pernah serius saat bibi Giani mengajarinya memasak.


Jam 11 siang, Alexa sudah tiba di lobby kantor Oliver. Ia tersenyum membayangkan hampir setahun yang lalu pernah ada di kantor ini untuk menjadi pengajar bagi para pramugari baru.


Resepsionis yang berjaga di lobby kantor memang orang baru sehingga ia tak mengenal Alexa di kedatangan nya yang pertama waktu itu. Namun saat melihat Alexa hari ini. Ia langsung memasang wajah semanis mungkin karena Kevin sudah mengatakan pada semua kariawan yang ada kalau Alexa adalah tunangan presiden direktur perusahaan ini.


"Selamat datang nona, Alexa!"


"Terima kasih. Apakah tuan Oliver ada?"


"Ada nona. Beliau sedang berada di ruangannya. Saya akan mengatakan kalau nona sudah datang."


"Jangan. Saya ingin membuatnya terkejut. Karena sebenarnya saya janjian dengannya saat jam makan siang. Dan saya datang lebih awal."


"Ok. Silahkan nona!"


Alexa melangkah menuju ke arah lift khusus yang langsung ada di lantai tempat ruangan Oliver berada. Saat ia keluar dari lift, meja sekretaris kosong dan ruangan Kevin juga yang ada di samping meja sekretaris nampak kosong. Alexa melihat kalau pintu ruangan Oliver terbuka. Ia pun melangkah masuk. Oliver nampak duduk di meja kerjanya, di sampingnya ada Alda. Gadis itu sedikit menunduk dan sepertinya sedang menerangkan sesuatu pada Oliver. Yang membuat Alexa meradang adalah gadis itu mengenakan rok hitam ketat dan pendek. Ia juga mengenakan plus ketat dengan 2 kancing yang terbuka dibagian atas.


"Selamat siang....!" Sapa Alexa.


Oliver menoleh dengan kaget. "Sayang? Aku pikir masih satu jam lagi bagi kamu akan datang. Alda, nanti kita teruskan lagi ya?"


Alda mengangguk. Ia menjauh dari meja Oliver, tersenyum manis sambil menunduk hormat pada Alexa lalu segera keluar dengan menutup pintu ruangan Oliver.


"Ah..., aku sangat merindukanmu." Oliver mendekat dan hendak memeluk Alexa namun gadis itu menghindar. Ia meletakan kantong makanan yang di bawahnya ke atas meja lalu segera duduk dengan wajah cemberut di atas sofa sambil bersedekap.


"Sayang, ada apa?" Oliver jadi bingung.


"Haruskah kamu sedekat itu dengan sekretarismu saat bekerja? Dan baju apa itu? Rok nya terlalu ketat dan pendek, kancing kemejanya juga sedikit terbuka. Kalau dia sedikit menunduk dengan gaya seperti itu di dekatmu, aku yakin kalau payudaranya terlihat." Ujar Alexa dengan nada ketus.


"Ya ampun, sayang. Aku sama sekali tak melihat ke arah dadanya." Oliver langsung duduk di dekat Alexa. Ia membelai wajah Alexa sambil menahan senyum.


"Kamu cemburu?" tanya Oliver menggoda.


"Cemburu? Cih, sekretarismu itu bukan levelku."


"Kalau begitu kenapa cemberut?"


"Pokoknya aku nggak suka dia jadi sekretarismu. Aku dapat merasakan kalau gayanya menggoda mu."


Oliver kali ini mengambil kedua tangan Alexa dan menggengamnya erat. "Aku tak mungkin akan tertarik padanya, sayang. Dia hanya menjalankan tugasnya. Alda adalah sekretaris yang sangat pintar."


"Kalau begitu, pindahkan dia ke bagian lain sesuai dengan kepintarannya. Ganti sekretaris mu. Yang boleh menjadi sekretarismu hanyalah laki-laki dan wanita yang berusia di atas 40 tahun. Kalau kamu nggak menggantinya, aku akan menunda pernikahan kita 1 tahun lagi." ancam Alexa membuat Oliver buru-buru memeluknya.


"Jangan dong, sayang. Aku nggak sanggup lagi jika harus menunggu 1 tahun. Baiklah, aku akan mengganti sekretarisku namun dengan catatan, kau harus mengantarkan makan siang padaku setiap kali off dari penerbangan."


"Beres, bos...!" Ujar Alexa membuat Oliver nampak sangat senang dan tanpa sadar ia mencium bibir Alexa.


"Oliver....!" Alexa melotot.


"Maaf sayang, itu gerakan refleks. Aku sungguh tak merencanakannya." Ujar Oliver sambil melepaskan pelukannya karena Alexa sudah mencubit pinggangnya.


Tawa keduanya pun menghiasi ruang kerja Oliver yang kedap suara.


********

__ADS_1


Aku sebenarnya ingin menamatkan kisah ini di episode 20. Sampai Alexa dan Oliver menikah. Tapi karena yang komen banyak yang minta lanjut, aku tambah 5 episode lagi dengan sedikit konflik di dalamnya.


__ADS_2