
Taman belakang sudah dihiasi sangat indah.
Para tamu yang kesemuanya adalah sahabat dekat dan keluargapun sudah datang.
Tak lama kemudian, Jero yang menggunakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna biru langit, keluar sambil menggandeng Giani yang menggunakan gaun yang berwarna senada. Gaun berlengan pendek yang panjangnya menutupi kaki Giani, sangat cantik membungkus tubuh rampingnya. Rambutnya disanggul dan menggunakan hiasan bunga melati seperti yang Giani inginkan. Ia juga menggunakan kalung berliontin huruf J yang pernah diberikan Jero padanya.
Semua yang ada langsung bertepuk tangan melihat pasangan yang sedang berbahagia itu. Mereka pun melangkah menuju ke altar pernikahan yang berdiri tepat di belajang danau.
Saat keduanya sudah sampai di altar, para tamu langsung mengambil tempat duduk. Giani menyerahkan bunga yang dipegangnya pada Alexa yang berdiri di sampingnya. Alexa langsung menyambutnya dengan senang hati. Gadis kecil itu menggunakan baju berwarna putih dengan rambut palsu berwarna kuning.
"Kita ada di sini, untuk menyaksikan bersatunya kembali pasangan Jeronimo Dawson dan Giani Fifera Purwanto. Mereka telah melewati badai kehidupan sehingga hari ini, keduanya ingin mengucapkan lagi janji suci dalam ikatan pernikahan yang diberkati." Kata bapak Pendeta sambil mempersilahkan Jero berbicara.
Jero meraih kedua tangan Giani. Di genganggamnya dengan erat dengan perasaan bahagia. "Giani sayang, aku mencintaimu. Cintaku ini akan kujaga seumur hidupku. Aku berjanji tidak akan pernah menghianatimu. Kau adalah cahaya hidupku yang telah menerangi kelamnya masa laluku. Bersamamu, aku ingin membesarkan anak-anak kita."
"Jeronimo, aku juga sangat mencintaimu. Waktu telah membuktikan bahwa aku tak bisa tanpa adanya dirimu. Aku ingin menjadi tua bersamamu. Menghabiskan seluruh hidupku hanya untukmu dan anak-anak kita."
Keduanya pun kembali memasangkan cincin pernikahan mereka, lalu menerima pemberkatan dari pendeta.
Mama Sinta tak dapat menahan air matanya. Ia sungguh bahagia melihat Jeronimo dan Giani bersatu kembali.
Di deretan kursi paling belakang, ada Finly yang juga menatap pasangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tak ada yang tahu sebesar apa luka yang ada di hatinya. Karena cintanya pada Jero, keluarganya menganggap dia sebagai wanita egois yang tak menghargai suami dan anaknya. Tak ada yang mengerti isi hatinya. Namun Finly mendoakan Jero dan Giani. Ia kini mengerti mencintai itu tak selamanya bisa memiliki. Matanya menatap juga pasangan yang lain. Joana dan Aldo yang duduk sambil bergandengan tangan. Finly tahu kalau ia sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan lelaki sebaik Aldo. Joana adalah perempuan baik. Dan Finly senang karena Joana menyayangi Alexa. (kisah Finly akan di bahas pada part berikutnya).
Pengacara Jero sudah mengurus pembatalan perceraian antara Jero dan Giani. Untunglah akte perceraiannya belum keluar sehingga lebih mudah untuk menyelesaikan semuanya. Karena Giani tak mau tanggal pernikahannya dicatat hari ini. Dia ingin perjalanan rumah tangga mereka sudah dihitung sejak dia dan Jero menikah pertama kali.
"Terima kasih, ma. Sudah menyiapkan ini semua hanya dalam waktu satu hari. Aku juga suka dengan gaunnya." Kata Giani saat para tamu sementara makan dan acara sudah lebih santai.
Mama Sinta tersenyum. "Mama terlalu bahagia sehingga semangat untuk mengadakan acara ini. Terima kasih mau kembali pada Jero dengan dua malaikat yang sementara tumbuh di sini. Mama tak dapat membayangkan bagaimana hancurnya Jero kalau kamu tak juga kembali padanya." Mama Sinta mengusap perut Giani yang masih rata. Mata perempuan itu pun sudah berkaca-kaca.
Giani memeluk mama Sinta dengan perasaan bahagia. Ia senang mendapatkan ibu mertua yang sangat mengasihi dan memperhatikannya.
Jero yang melihat kedekatan mamanya dengan Giani pun merasa sangat bangga karena kedua wanita yang sangat dicintainya itu terlihat bahagia.
Frangky mendekati Jero. "Gue nggak nyangka setelah gagal menghamili Giani berkali-kali, loe langsung dapat 2 sekaligus. Selamat ya?"
Jero menepuk.bahu sahabatnya itu. "Gue juga tak pernah mengira kalau Giani akan kembali dalam keadaan hamil. Ternyata Amerika adalah tempat yang cocok untuk membuahkan benih gue."
Keduanya tertawa bersama.
"Untung saja semalam gue nggak dengar saran loe untuk mendekati Anggita. Karena di hati gue, Giani tetap nomor satu." Kata Jero membuat Frangky sedikit mencibir.
"Makanya jangan bilang kalau dia bukan tipe loe, buktinya jadi bucin kan?"
"Benar juga. Gue bukan hanya bucin tapi sangat tergila-gila padanya. Gue nggak bisa bayangkan kalau Beryl berhasil merebut Giani, pasti gue akan menyesal seumur hidup."
"Ya. Giani memang gadis terbaik. Oh ya, loe lihat Finly kan? Kok dia terlihat kurus dan sedikit pucat."
"Memangnya Finly hadir?"
"Iya."
Jero mencari Giani. Istrinya itu sedang asyik bercanda dengan Joana dan mamanya. Lalu pandangannya beralih pada Finly yang sedang menyuapi Alexa. Suatu pemandangan yang sangat tak biasa. Karena biasanya Finly akan membiarkan baby sister yang mengurus Alexa. Kini ia dengan sabar menyuapi Alexa. Keduanya terlihat semakin dekat.
Ternyata bukan hanya Jero yang memperhatikan Alexa dan Finly. Giani juga melihat bagaimana Finly dengan penuh kasih menyuapi Alexa sambil sesekali membersihkan makanan yang belepotan di sudut bibir anaknya.
__ADS_1
"Finly sudah banyak berubah. Mama juga tak tahu apa yang menyebabkan dia berubah sangat cepat. Dia bahkan mau menghadiri pertemuan ibu-ibu di gereja." Kata Mama Sinta yang ternyata juga sedang memandang ke arah Finky yang sedang menyuapi Alexa.
"Aku tahu, kak Finly jarang sekali mengurus Alexa. Mungkin setelah cerai dengan kakakku, dia merasa kesepian dan ingin dekat lagi dengan Alexa. Aku senang melihat mereka yang kini semakin akrab." Ujar Giani. Ia memandang kw arah suaminya yang kini sedang melangkah mendekati mereka.
"Sayang, kamu sudah makan?" Tanya Jero sambil duduk di dekat Giani dan langsung menaruh tangannya di atas perut istrinya ini.
"Si kembar butuh makanan yang banyak."lanjutnya lagi membuat mama Sinta tersenyum menggoda.
"Mama yakin, jika si kembar lahir, Jero akan malas ke kantor."
Jero mengangguk. "Benar, ma. Sedangkan mereka masih di dalam perut saja, aku sudah malas ke kantor, apalagi jika melihat mereka yang sudah lahir, pasti ingin terus bermain dengan mereka." Kata Jero sambil terus mengusap perut Giani.
Mama dan Giani hanya tertawa. Mereka berdua yakin kalau Jero akan menjadi hot daddy.
********
Pesta yang meriah itu sudah selesai. Pihak dari WO sudah membereskan halaman belakang. Para tamu dan kerabat sudah pulang termasuk juga Aldo, Joana dan Alexa. Finly pun berpamitan pulang. Ia memeluk Giani dengan sangat erat. Suaranya terdengar tulus saat ia mengatakan, " Selamat atas kehamilanmu. Kakak berdoa semoga kau dapat melahirkan dengan selamat. Selamat juga karena kau dan Jero bersama kembali. Semoga kalian berbagia sampai maut memisahkan."
"Terima kasih, kak." Kata Giani. Ia merasa ada yang berbeda dengan penampilan Finly yang biasa glamour, kini terlihat lebih sederhana. Ia hanya mengenakan make up tipis yang warnanya natural.
"Jero, apakah pelayannya akan pulang bersama mama atau mama tinggalkan saja di sini 2 orang?" Tanya Mama Sinta.
"Pulang dengan mama saja. Nanti menganggu kemesraan aku dan Giani." Kata Jero membuat Giani mencubit pinggang suaminya.
"Kak...!" Wajah Giani menjadi merah.
"Memang benar kan? Ngapain juga harus malu. Kita baru saja baikkan. Pinginlah punya waktu berdua lebih banyak tanpa gangguan para pelayan. Kamu tahu kan kebiasaan si palo. Nggak mengenal tempat." Jero bicara tanpa batas membuat Giani semakin malu.
"Pa..." Sebelum Jero menjawab, Giani langsung menginjak kaki suaminya sambil melotot.
"Ma, itu istilah-istilah nggak penting." Giani langsung memotong ucapan Jero.
"Ya sudahlah. Selamat menikmati kebersamaan kalian. Kalau begitu papa dan mama pulang dulu." Kata Denny lalu berdiri diikuti oleh Sinta.
"Kalian istirahat ya? Ini sudah hampir jam 10 malam. Nggak baik ibu hamil kalau harus bergadang." Kata Mama Sinta. Ia melingkarkan tangannya di lengan suaminya sambil berjalan ke luar rumah. Jero dan Giani mengantar mereka sampai di halaman parkir.
"Gi, kalau butuh pelayan, telepon mama saja ya? Kamu jangan angkat yang berat-berat. Ingat, ada dua bayi dalam perutmu." pesan mama Sinta saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Iya, ma." ujar Giani sambil tersenyum.
"Dan kamu, Jero. Harus lebih perhatian sama Giani. Katakan pada si palo untuk lebih bisa menahan diri. Jangan tiap malam inginnya masuk sarang. Bye...!" Kata mama Sinta lalu segera menaikan kaca mobil. Sopir langsung menjalankan mobilnya.
Giani menatap Jero dengan wajah tegang. "Mama tahu soal palo?"
"Kayaknya. Aku juga terkejut."
"Ih...kakak...! Aku kan jadi malu."
Jero menahan tangan Giani yang memukul bahunya. "Mama dan papa kan pernah muda. Tahulah istilah itu. Mama kan bisa bahas Spanyol." Jero memeluk Giani lalu memberikan kecupan lembut di dahinya.
"Ayo kita masuk!" Ajak jero. Saat melewati pintu masuk, Jero menekan tombol merah untuk menutup semua pintu pagar. Ia kemudian menyalahkan alaram semua pintu sebelum akhirnya menutup pintu itu.
"Aku gendong ya?" Ujar Jero saat mereka akan menaiki tangga.
__ADS_1
"Ok." Giani berucap manja.
Jero mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Tangan Giani secara spontan langsung melingkar di bahu suaminya. Keduanya saling bertatapan sambil tersenyum.
Saat tiba di kamar, Jero perlahan menurunkan tubuh Giani. Istrinya itu langsung melepas sepatu yang dikenakannya.
"Kak, tolong buka resleting bajunya."
Jero menurunkan resleting gaun Giani sambil menelan salivanya, menahan hasrat dirinya yang langsung bangkit melihat punggung mulus istrinya.
Giani bahkan dengan santainya melepaskan semua kain yang menutup tubuhnya di depan Jero tanpa memperhatikan wajah Jero yang sudah merah menahan gairah.
"Gi, kamu sedang menguji imanku ya?"
Dahi Giani berkerut melihat wajah Jero. "Ada apa, kak? Kok kelihatannya tersiksa banget?"
"Gi, si palo bangun nih!"
"Kak, ingat kata mama, palo harus bisa menahan diri." Lalu dengan santainya Giani menyentuh si palo dari luar. "Palo sayang, jatah kamu nanti besok ya? Nido harus istirahat dulu." Giani mengelusnya perlahan lalu segera melangkah ke kamar mandi.
Jero menarik napas panjang. Giani kembali menyiksanya. Namun Jero tak ingin memaksa. Giani sedang hamil.
"Apa boleh buat. Malam ini kita harus main solo." Guman Jero lalu meneguk air putih yang sudah tersedia di atas meja. Ia harus mendinginkan tubuhnya yang tiba-tiba menjadi panas.
Ketika Giani selesai mandi, Jero juga ingin mandi agar tubuhnya menjadi dingin.
"Gi, kok belum tidur?" Tanya Jero yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer. Giani menelan ludah melihat tubuh Jero yang kekar.
"Kak, apakah si palo masih bangun?" Tanya Giani saat Jero sudah merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Mana pernah palo tidur saat ada di dekatmu." Kata jero sambil membaringkan tubuhnya. Perlahan ia memejamkan matanya. Acara hari ini cukup menguras tenaganya.
Giani tersenyum. "Sepertinya nido juga ingin dijenguk palo."
Mata Jero langsung terbuka lebar. Ia duduk dan menatap Giani yang berbaring di sampingnya.
"Benar, gi?"
Giani mengangguk. "Inikan malam pengantin kita yang kedua. Aku tahu kamu sangat menantikannya. Tapi, kita lakukan secara lembut ya? Seperti semalam."
"Ya sayang. Ah, palo, akhirnya kamu nggak jadi deh main solo." Ujar Jero lalu dengan cepat membuka boxernya. Giani tertawa melihat tingkah suaminya. Sungguh, malam ini mereka merasa sepertinya dunia milik berdua. 🤪🤪🤪
yang lain nge-kost aja ya...
Maaf ya emak baru up. Kasihan Ben nya emak sakit.
Jangan lupa like, komen dan vote ya....
yang komen lebih banyak dari pada yang nge-vote....Coba kalau jumlahnya sama, pasti langsung ke rangking 1, ha....ha.....
maafkan emak yang terlalu banyak ngehalu
semoga suka dengan part ini.
__ADS_1