Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Hancur


__ADS_3

Selama beberapa menit, Jero pingsan di atas lantai yang dingin. Sampai akhirnya, alam bawa sadarnya memaksa dia untuk kembali dan perlahan membuka matanya.


Jero berusaha untuk bangun namun kepalanya masih pusing. Akhirnya, dengan merayap, Jero masuk ke dalam.


Aku harus kuat. Aku nggak boleh lemah.


Ia menyemangati dirinya sendiri. Saat tiba di ruang makan, dengan berpegang pada kursi makan yang ada, Jero memaksa tubuhnya untuk berdiri dan duduk di atas kursi makan. Pandangan matanya yang masih agak buram, menatap meja yang ternyata telah tersedia makan malam. Giani pasti yang menyiapkannya.


Jero meneguk air putih yang tersedia di sana, lalu ia menguatkan tubuhnya untuk tetap sadar dan mengambil makanan itu.


Makanan buatanmu selalu enak, Gi.


Tanpa sadar air mata Jero mengalir. Entah mengapa ia harus menangis saat merasakan kalau ini masakan terakhir buatan Giani yang akan dinikmatinya.


Jero menghapus air matanya. Ia terus menikmati makanan itu sampai habis semua yang ada di piring makannya.


Setelah selesai, Jero meminum teh hijau yang juga sudah disiapkan Giani di meja makan. Setelah itu, Jero masih duduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia merasa tubuhnya lebih baik setelah makan. Selama sekitaran 20 menit, Jero hanya pada posisinya yang semula. Setelah itu ia berdiri dan melangkah ke ruang tamu, menutup pintu depan, lalu perlahan, sambil berpegangan pada pembatas pagar, Jero menuju ke kamarnya.


Saat pintu kamar terbuka, ia masih bisa mencium bau minyak wangi yang biasa Giani pakai. Hati Jero seperti ditusuk sembilu. Ia membuka walk in closet dan melihat bahwa Giani sudah membawa sebagai besar baju, sepatu dan tasnya. Yang tersisa, adalah beberapa lingre yang semuanya memang dibelikan Jero untuknya saat mereka berada di Spanyol. Jero melangkah keluar dari walk in closet sambil memeluk sebuah lingre berwarna hitam. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil sesekali mencium lingre itu. Ia tak menyangka, ditinggalkan oleh Giani akan sesakit ini rasanya. Bukankah ia sudah tahu kalau hari ini pasti akan terjadi?


Apakah aku telah terbiasa dengan kehadirannya? Ataukah ini terjadi karena aku begitu ingin memiliki anak dengannya? Mungkin besok atau lusa, aku akan terbiasa dengan keadaan ini. Toh, aku memang sudah biasa hidup sendiri.


Jero membaringkan tubuhnya. Ia mendekap lingre itu di dadanya sambil membayangkan kalau yang ia peluk adalah Giani.


"Gi, mengapa aku kau tak membiarkan kita bersama beberapa hari saja? Aku sepertinya tak bisa tanpa kamu, Gi." Jero merasakan kalau sudt matanya menjadi basah. Lelaki bule itu benar-benar menangis. Ia semakin erat mendekap lingre Giani. Belum pernah Jero merasa sesakit ini. Bahkan ketika Finly memilih menikahi Aldo pun, Jero tak pernah sesakit ini.


*********


Keesokan paginya, Jero bangun saat jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Jero terlambat bangun karena ia tidur sudah jam 3 subuh.


"Gi, tolong siapkan bajuku. Kamu dimana sih?" Jero tak menemukan Giani. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Ia mandi dengan cepat. Saat keluar dari kamar mandi, Jero tak menemukam bajunya yang biasa sudah tersedia di atas temlat tidur.


"Gi.....Giani....!" Panggil Jero sedikit kesal karena Giani tak kunjung datang. Saat membuka walk in closet, barulah Jero sadar kalau Giani sudah tak ada.


Jero memejamkan matanya, merasakan sakit di dada. Ia menoleh ke arah pintu masuk, berharap Giani akan masuk sambil menunjukan wajah manisnya yang berkepang satu. Dahinya akan terlihat berkeringat karena ia baru selesai memasak.


"Cepatlah berpakaian, kak. Ini sudah hampir terlambat. Sarapannya nanti dingin!"


Namun sapaan itu tak akan ada lagi. Jero menggelengkan kepalanya. Ia segera mengambil baju kantornya dan memakainya secara cepat.

__ADS_1


Terbayang lagi saat Giani akan membantunya memasang dasi. Jero jadi terbiasa dasinya dipakaikan oleh Giani sampai akhirnya ia sedikit susah memasang dasinya pagi ini.


Aku harus cepat ke kantor. Bisa gila jika lama-lama ada di rumah ini.


Jero bergegas turun ke bawa. Berharap akan ada sarapan pagi yang tersisa seperti biasanya. Namun meja makan hanya ada sisa makan malam yang Giani siapkan tadi malam.


Mata Jero kembali menjadi panas. Ada rasa sesak di hatinya saat menyadari bahwa ia memang sudah terbiasa dengan sarapan pagi yang disiapkan oleh Giani. Langkahnya terasa semakin berat saat menengok sofa yang ada di ruang tamu. Di sofa itu, sudah tak terhitung lagi berapa kali mereka bercinta di sana.


"Kak.....kamu nakal sekali!" Giani akan berteriak manja saat Jero mulai menarik baju yang Giani pakai.


Jero langsung melangkah ke luar rumah. Tak ada satupun bagian rumah itu yang tak ada kenangannya bersama Giani.


Ia pun meninggalkan halaman rumah sambil mengendarai mobilnya. Saat melewati pos penjagaan, kenangan tentang Giani kembali terbayang. Bukan sekedar kebiasaan Giani yang memberikan makanan bagi mereka. Ada juga beberapa momen, saat mereka pulang belanja dan Giani ternyata sudah memberi rokok, minuman ringan dan beberapa kue untuk mereka.


30 menit kemudian, Jero sampai di kantornya. Selly langsung menyerahkan jadwal kerja Jero hari ini yang lumayan padat. Jero bersyukur karena dengan bekerja, maka ia akan dapat melupakan Giani.


Namun saat ia membuka pintu ruangannya. Jero lagi-lagi diperhadapkan dengan kenyataan bahwa di ruangan kerja ini pun, dia dan Giani punya banyak kenangan. Mulai dari makan siang yang disuapi oleh Giani dan juga kegiatan olahraga siang yang beralhir dengan Giani akan sedikit mengomel karena Giani akan susah jalan saat keluar dari ruangan Jero.


Ya Tuhan, Gi! Mengapa di setiap tempat yang kita temui akan ada dirimu? Begitu banyaknya kenangan kita selama 1 tahun 1 bulan ini? Aku rasanya mau gila saja!


Jero memutuskan untuk keluar dari ruangannya. "Selly, aku mau ke ruang rapat ya. Aku akan kerja di sana selama beberapa hari ini. Dan tolong, panggilkan desain interior, aku mau ruangan kerjaku diganti seluruh penataannya. Sofanya juga diganti dengan warna cream saja." Ujar Jero sambil melangkah ke ruang rapat. Selly hanya bingung menerima perintah bosnya.


Malam ini, selesai pertemuan dengan mitra kerja dari Bandung, Jero memilih datang ke rumah sakit. Ia tak mau pulang ke rumah dan terpuruk dengan kenangan tentang Giani di rumah itu. Tadi sore, Jero mencoba menelepon Giani namun ternyata, nomornya sudah diblokir oleh Giani. Demikian juga dengan akun sosial media lainnya, Giani ternyata sudah memblokir Jero sehingga ia tak bisa mengirim pesan WA ataupun inbox.


"Pa, malam ini aku yang jaga mama saja. Papa pulang saja ke rumah." Ujar Jero.


Papa Denny setuju. Ia memang sangat lelah. Sudah 3 malam ini ia berjaga di rumah sakit. Dion sibuk dengan urusan pekerjaan. Clara istri Dion pun sibuk dengan kerjanya di 2 rumah sakit.


Setelah papa Denny pergi, Jero mendekati ranjang tempat mama Sinta dibaringkan. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di tepi ranjang. Di pegangnya tangan mama Sinta dan diciumnya dengan sangat lembut.


"Ma, aku gagal. Giani tak hamil. Kami kini berpisah. Maafkan aku, ma. Aku tak bisa memenuhi keinginan mama untuk segera memiliki cucu." Jero mengadu. Ia ingin curhat pada mama Sinta malam ini.


"Apakah ini karma karena aku dulu jahat sama Aldo dan Alexa? Aku hanya mengikuti kata hatiku sendiri untuk bersama Finly dan tak memperdulikan perasaan mereka? Apakah tak ada lagi kesempatan kedua untuk bersama Giani? Aku merasa sepi tanpanya, ma. Aku bahkan malas pulang ke rumah. Semua sudut tempat itu mengingatkan aku tentang Giani. Aku tak tahu perasaan apa ini. Aku begitu hancur saat Giani pergi. Ma, bangun dong ma. Jero butuh mama saat ini. Jero malu curhat sama papa. Jero sakit, ma. Jero sakit tanpa Giani!" Tangis Jero pecah. Ia tertunduk di samping ranjang mama Sinta. Ia tak menyangka akan secengeng ini sekarang.


Jero terus menangis. Ia memegang tangan mama Sinta dan menumpahkan semua air matanya di sana. Sampai akhirnya, Jero tertidur karena kelelahan. Jero tak pernah menangis selama ini.


*******


Rasanya Jero masih ingin tidur. Namun usapan lembut di kepalanya membuat Jero terbangun. Ia tahu kalau ia masih duduk dikursi dekat ranjang mama Sinta. Kepalanya masih diletaknnya di atas kasur mamanya. Lalu tangan siapa yang dengan gerakan pelan membelai kepalanya?

__ADS_1


Jero membuka matanya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Saat ia mengangkat kepalanya dan menemukan senyum manis di wajah mama Sinta. Tangan perempuan itu yang ternyata membelai kepalanya.


"Mama!" pekik Jero dengan wajah gembira. Ia segera berdiri. Di tatapnya wajah mama Sinta yang sudah membuka matanya.


Jero menekan tombol merah yang ada di samping tempat tidur mamanya secara berulang-ulang. Tak sampai satu menit, dokter dan 2 orang perawat langsung datang. Mereka meminta Jero untuk menyingkir sehingga bisa memeriksa Sinta.


Jero menatap jam tangannya. Pukul 6 pagi. Ia segera menelepon papa Denny dengan tangan yang bergetar.


"Pa, mama sudah sadar. Papa cepat ke sini ya?" Ujar Jero. Ia tak dapat membayangkan bagaimana gembiranya papa Denny. Yang terdengar hanya teriakan syukur dan ungkapan kata "Baiklah. Papa datang sekarang juga."


15 menit dokter dan para perawat memeriksa mama Sinta. Semuanya saling berpandangan sambil mengucap syukur. Dokter bahkan sudah melepaskan selang oksigen dari hidung mama Sinta.


Jero langsung mendekat. "Ma, aku senang sekali mama akhirnya bangun."


Mama Sinta memegang wajah Jero. "Kau, mencintai Giani." Katanya masih dengan suara yang parau dan agak pelan namun cukup jelas dipendengaran Jero.


"Ma.....!"


"Rasa hancur dan rasa kesepian karena ditinggalkan oleh Giani, itulah bukti hatimu sudah kau berikan padanya. Temui dia, dan katakan kalau kau mencintainya."


Jero mengangguk. Air matanya jatuh. "Baik, ma. Aku akan menemui Giani sekarang juga."


"Bawah pulang menantu mama, ya?" kata mama sebelum melepaskan pegangan tangan Jero.


Pintu terbuka. Nampak Papa Denny, Finly dan Dion, masuk secara bersamaan.


"Jero, kau mau kemana? Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu." Finly menahan tangan Jero.


"Maaf, aku harus menemui Giani." Jero menarik tangan Giani yang memegang tangan kanannya. Sesudah itu ia langsung berlari keluar dari ruangan mama Sinta. Tujuannya hanya satu. Ia akan menemui Giani di rumah sakit tempat Alexa dirawat.


Wah....wah...wah....


mau apa si Finly?


Berhasilkah Jero menyatakan cintanya pada Giani??


Emak tunggu komentar, like dan votenya ya....


maaf kalau banyak typo

__ADS_1


__ADS_2