
Acara makan siang bersama kapten Haris menjadi sangat hangat karena Aldo dan Joana bersikap sebagai orang tua yang hangat dan asyik diajak ngobrol. Demikian juga dengan Juan dan Wulan yang rela meninggalkan pekerjaan mereka karena ingin melihat pria pertama yang diajak Alexa ke rumah.
Selesai makan dan berbincang sebentar, Kapten Haris pun berpamitan pulang. Alexa menatap keempat orang yang sedang menatapnya meminta penjelasan.
"Papa Aldo, mami bule, papi juan dan bibi Wulan, aku akui Haris memang tampan, salah satu pilot yang lagi viral di Indonesia. Namun aku masih menganggapnya sahabat. Kalian tahu kan kalau sejak dulu aku selalu ingin menikah dengan cinta pertamaku. Jadi, jangan dulu tanya yang macam-macam ya. Sekarang aku mau tidur dulu." pamit Alexa membuat keempat orang yang sudah penasaran menunggu penjelasan putri mereka itu hanya diam.
"Dia memiliki prinsip hidup yang sangat kuat. Menikah dengan cinta pertamanya. Lalu kapan cinta pertamanya itu akan datang? Usianya sudah 23 tahun." Ujar Aldo sambil menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya sudah ingin anaknya itu memiliki hubungan yang serius.
"Kita harus sabar. Alexa punya pemikiran sendiri. Aku sebenarnya suka dengan Haris. Dia sudah dewasa, terlihat matang dan sangat cocok sebenarnya dengan Alexa. Tapi kita tak bisa memaksakan hati Alexa kan?" Joana menepuk bahu suaminya. Juan dan Wulan pun hanya bisa mengangguk. Mereka semua menyayangi Alexa namun mereka juga tak mau kalau Alexa merasa di paksa. Biarlah semua mengalir seperti air.
**********
"What?" teriak Alexa kesal saat ia bangun tidur dan membaca wa yang dikirimkan padanya dari kantor. Alexa langsung menelepon kantor pusat yang mengatur jadwalnya.
"Selamat sore, saya dengan Alexa Purwanto. Bukankah saya sedang off selama 3 hari? Lalu kenapa saya ada jadwal penerbangan malam ini?"
"Maaf, nona Alexa. Anda diminta oleh maneger sendiri untuk terbang dengan jet pribadi tuan Oliverio Felix Pregonas untuk terbang ke Madrid."
"Siapa Oliverio Felix Pregonas itu?"
"Anak pemilik maskapai penerbangan ini."
Alexa melemparkan ponselnya dengan kesal. Bukankah di maskapai mereka bekerja ada begitu banyak pramugari yang ada? Kenapa harus dia yang dalam status off yang akan pergi?
Ia pun mengeluarkan kembali kopernya, memasukan dokumen pribadinya dan beberapa pakaian seragam dan pakaian pribadinya. Alexa tak tahu, sampai kapan ia akan berada di Madrid.
Selesai bersiap-siap, Alexa segera mandi. Ia harus berada di bandara sebelum pukul 7 malam.
Joana yang melihat Alexa turun dari lantai 2, menggunakan seragam dan membawa kopernya jadi terkejut.
"Sayang, mami pikir kamu off nya 3 hari."
"Nggak tahu. Tiba-tiba saja dapat panggilan tugas. Penerbangan dengan jet pribadi. Milik dari maskapai tempat aku bekerja. Papa mana?"
"Papa dan ade ke mall. Beli bola basket katanya."
"Sampaikan salam untuk papa dan ade ya? Aku juga sudah nggak sempat pamit sama Felicia. Mobil jemputan ku sudah ada di depan."
Joana memeluk Alexa. "Tuhan memberkati perjalananmu, sayang."
"Makasi, mami!" Alexa menarik kopernya dan segera menuju ke luar rumah. Mobil dari pihak perusahaan sudah menunggunya di sana.
Sesampai di bandara, Alexa langsung melapor sekaligus juga masih memberikan protesnya. Namun semua hanya mengangkat tangan.
Alexa bertugas bersama dengan seorang pramugari baru yang baru beberapa bulan ada di maskapai ini. Namanya Lisa. Saat ia memasuki pesawat, Alexa terpana melihat betapa mewahnya jet pribadi ini.
"Waw....! Ini sangat mewah!" pekik Lisa tak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.
"Namanya juga yang punya maskapai penerbangan."
"Katanya tuan Oliverio Pregonas adalah putra pertama dari Pregonas Company. Ibunya orang Jawa dan ayahnya orang Spanyol. Dia terkenal sangat tampan dan banyak digilai oleh para gadis." Kata Lisa saat keduanya mulai mengatur semua yang ada di ruang kabin.
"Oh ya? Bisa ku bayangkan betapa play boy nya dia."
__ADS_1
"Katanya sih dia belum pernah pacaran."
Alexa terkekeh. "Mana mungkin? Memangnya berapa usianya?"
"30 tahun."
Alexa hanya menggelengkan kepalanya. "30 tahun dan belum pernah pacaran? Bisa ku bayangkan entah berapa banyak gadis yang sudah tidur dengannya. Pria seperti itu nggak masuk dalam nominasiku."
Lisa tersenyum. "Dia pun pasti tak akan melirik kita. Lagi pula, semua yang ada di maskapai ini tahu kalau kau dan kapten Haris punya hubungan special."
"Kami masih berteman." Ujar Alexa lalu segera menuju ke bagian dapur. Ia memeriksa segalanya sampai akhirnya seorang laki-laki berseragam hitam mendekatinya. Alexa merasa pernah melihat pria ini.
"Tolong sampaikan pada pilot kalau kita sudah bisa berangkat."
"Penumpangnya?"
"Hanya ada aku, asisten keuangan, dua orang bodyguart dan tuan Oliver. Tuan Oliver sedang ada di kamarnya. Kami sudah 2 jam ada dalam pesawat ini."
Alexa segera menuju ke ruang kokpit dan memberitahukan pada sang pilot.
Pilot dan copilotnya adalah orang Spanyol.
Setelah pesawat takeoff dengan sangat baik, Alexa diperintahkan oleh pria berseragam hitam itu untuk menyiapkan makan malam bagi tuannya.
"Nama saya Kevin. Saya adalah asisten tuan Oliver. Tuan ingin makan malam dengan menu kentang, ayam panggang, humberger. Semuanya sudah tersedia di dapur. Jangan lupa juga dengan anggurnya."
"Baik tuan, Kevin." Alexa segera menuju ke bagian belakang pesawat. Ia melihat Lisa yang sedang menyajikan anggur pada 3 penumpang lainnya. Alexa pun memanaskan makanan yang ada. Setelah siap, Kevin mengarahkannya untuk masuk di salah satu ruangan dengan pintu kayu yang terlihat mewah.
Kevin hanya membukakan pintu. Nampak sebuah ruangan kamar yang cukup besar. Seorang pria sedang duduk di depan sebuah meja dan nampak sedang membelakanginya. Pria itu menggunakan mantel berwarna hitam dan nampak serius dengan gawai yang ada di tangannya.
"Buka anggurnya." kata pria itu tanpa membalikan badannya. Alexa merasa pernah mendengar suara itu. Tapi dimana?
Alexa membuka penutup botol anggur dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Sudah tuan. Saya permisi dulu!" Pamit Alexa.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?"
Pria itu berbalik. Alexa terperangah. Emosinya langsung tersulut. "Kau....!"
"Apa kabar nona Alexa Purwanto? Pasti kau sangat senang berada di dalam jet pribadiku kan?" Oliverio Pregonas, pria yang menyambar Alexa di bandara, kini berada di depannya.
"Kau pasti yang mengatur sehingga aku harus bertugas di pesawat mu kan?" Ujar Alexa dengan emosi yang mulai tersulut.
"Ya. Kenapa tidak? Aku punya kuasa untuk menempatkan mu di mana saja yang aku mau." kata Oliver sambil meneguk anggurnya.
Alexa ingin memaki. Namun ia tak terbiasa memaki. Ia merasa ingin menampar pria sombong di depannya, namun ia tak biasa bersikap kasar pada orang lain. Alexa berusaha meredam amarahnya. Salah sedikit, ia bisa di pecat dari maskapai ini.
"Duduklah nona Alexa!"
"Maaf tuan, kami dilatih untuk berdiri saat melayani para penumpang."
"Duduklah!" kata Oliver setengah memerintah.
__ADS_1
"Tapi...!"
"Duduk!"
Alexa duduk dengan menahan rasa kesalnya. Ia menurunkan sedikit roknya saat melihat mata Oliver yang memandang pahanya.
"Temani aku makan!" Ujar Oliver dengan nada suara yang lembut.
"Aku sudah makan tadi di bandara."
"Aku mau berbagi denganmu!"
"Maaf tuan, aku sedang diet."
Oliver tertawa. "Diet? Kau punya bentuk badan yang sangat bagus. Kau juga sangat seksi sebagai seorang gadis. Ayolah manis, gaji mu akan kunaikan 50% kalau kau bisa menyenangkan ku selama perjalanan ini."
"Menyenangkan mu?"
"Ya. Tuangkan lagi anggur di gelas yang satu. Kita minum bersama."
"Maaf tuan. Aku tak minum anggur. Lagi pula kami dilarang minum selama perjalanan."
"Ayolah, manis. Kau berada di dalam pesawat ku. Semua aturan yang menyangkut maskapai penerbangan ku tidak berlaku di pesawat ku ini."
"Maaf tuan, aku memang tidak suka anggur. Aku tidak minum alkohol."
"Waw....! Benarkah? Apakah kau juga masih perawan?"
"Tentu saja!" Alexa menjadi marah mendengar pertanyaan yang meremehkan dirinya.
Oliver bertepuk tangan. "Berapa aku harus membayar agar kau menyerahkan mahkotamu itu kepadaku?"
Tanpa di duga, Alexa mengambil gelas yang masih berisi anggur itu dan menyiramnya ke wajah Oliver.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Oliver marah. Ia berdiri dan mendekati Alexa.
"Anda sudah keterlaluan, tuan. Saya punya harga diri. Dan kesucian saya tak dapat dibayar dengan harga apapun. Karena itu adalah hak suami saya di malam pengantin kami."
Tawa Oliver pecah. Ia memegang pergelangan tangan Alexa dengan sangat kuat. "Dengar ya gadis sombong! Aku bisa mendapatkan keperawanan mu saat ini juga." Oliver mendorong Alexa dengan sangat kuat sampai gadis itu terlentang di atas tempat tidur. Sebelum Alexa berhasil bangun, Oliver sudah berada di atas tubuhnya, menekan gadis itu dengan sangat kuat sehingga Alexa tak bisa bergerak lagi.
"Aku ingin bercinta denganmu, malam ini!" bisik Oliver lalu tanpa diduga ia mencium bibir Alexa dengan rakusnya.
Alexa terkejut. Ini ciuman pertamanya dan ia harus memberikan pada lelaki kurang ajar yang kini berada di atasnya? Dengan sangat marah Alexa mengigit bibir Oliver sampai berdarah. Ia kemudian menendang alat vital Oliver dan mendorong pria itu sehingga Oliver jatuh dari tempat tidur. Oliver tak tahu kalau Alexa berlatih taekwondo bersama kedua sepupunya Gabriel dan Gabrian.
Lalu Alexa keluar dari kamar Oliver sambil membanting pintu dengan keras. Ia menatap semua yang ada di ruang kabin yang juga sedang menatapnya dengan bingung.
Alexa melangkah ke ruang pramugari. Rok yang dipakainya sedikit sobek. Alexa bahkan tak menggunakan sepatu. Ia tak peduli apakah akan dipecat atau tidak. Alexa duduk sambil menyapu dadanya sendiri. Ia tak mau menangis karena ia bukanlah gadis yang cengeng. Ia menatap wajahnya ke cermin. Memperbaiki sanggul rambutnya dan dandanannya. Alexa pun memejamkan matanya. Tiba-tiba ia ingat dengan kapten Haris.
Sementara Oliver di dalam kamar sedang menikmati malan malamnya. Kevin yang sejak Alexa keluar sudah berada di kamarnya, menatap bos nya itu dengan heran.
"Sesampai di Madrid, segera jebak dia. Berikan dosis obat perangsang yang sangat kuat sehingga ia tak bisa menolakku." Kata Oliver lalu memasukan potongan kentang ke mulutnya. Tak peduli dengan bibirnya yang masih berdarah.
Bagaimana kisah Alexa?
__ADS_1
Mau Alexa sama Oliver atau Haris?