Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku

Menikahi Selingkuhan Kakak Iparku
Jenis Kelamin si Kembar


__ADS_3

Selesai mandi, Giani melilit handuk di tubuhnya lalu keluar dari kamar mandi. Saat berdiri di depan meja riasnya, Giani membuka handuk. Matanya bersinar bahagia saat melihat bentuk perutnya yang sangat cepat membesar pada hal baru memasuki bulan kelima.


" Mel, ada apa?" tanya Jero yang baru keluar dari walk in closet. Semenjak Giani hamil, Jero yang akan mengatur pakaian mereka di dalam.lemari. Giani memang tak terlalu suka kalau kamar pribadinya dibersihkan oleh orang lain. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membersihkan kamarnya sendiri.


"Aku sangat penasaran dengan jenis kelamin anak-anak kita. Soalnya sudah nggak sabar untuk membeli baju-baju mereka." Kata Giani sambil terus mengusap perutnya.


Jero tersenyum. "Sore ini kita akan tanya pada dokter apakah jenis kelaminnya bisa terlihat. Aku juga sudah sangat penasaran."


Giani mengambil bajunya yang sudah disiapkan oleh Jero. Ia memakainya. Kemudian menyisir rambut panjangnya.


"Bee, kamu ingin anak kita jenis kelaminnya apa?" Tanya Giani setelah selesai ganti baju dan ikut bergabung dengan suaminya di sofa. Hari ini Jero tak masuk kantor karena tadi malam ia baru saja pulang dari Batam untuk mengecek pembangunan hotel di sana.


"Aku maunya cowok, sih. Tapi kalau Tuhan memberinya cewek, aku menerimanya dengan senang hati. Karena bagiku yang terpenting kamu dan anak-anak kita semuanya sehat." Kata Jero lalu mencium tangan Giani yang ada digenggamannya.


"Bee, jika selesai melahirkan badanku jadi melar, kamu nggak akan melirik gadis lain kan?"


"Nggaklah. Aku justru suka jika kamu sedikit gemuk. Pasti hangat peluknya."


"Kalau aku gemuk sampai badanku jadi 100 kg, kamu tetap sayang?"


"Sayanglah. Nanti aku bantu untuk menurunkan berat badan. Soalnya orang gemuk kan rawan penyakit sayang."


"Dengan cara apa Bee akan bantu aku menurunkan berat badan?"


"Aku akan selingkuh sehingga kamu sakit hati. Pasti langsung kurus!"


"Bee....!" Giani mencubit tangan Jero dengan gemas.


Jero tertawa sekaligus meringis sambil mengusap tangannya yang merah karena dicubit Giani.


"Nggak mungkinlah aku selingkuh dari kamu, Mel. Jika aku sampai melakukannya, kau boleh membawa aku ke rumah sakit jiwa."


"Kenapa?"


"Karena kalau aku sampai melakukan itu, artinya aku sudah gila. Sebagai orang yang waras, aku tak akan pernah menghianatimu!" Jero memegang kedua tangan Giani dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain memegang memegang dagu istrinya dan menaikannya ke atas sehingga Giani menatapnya. "Kamu adalah segalanya bagiku. Aku sudah merasa bagaimana hancurnya saat kita berpisah. Aku pernah berjanji pada Tuhan, jika dia mengijinkan kita kembali bersama, maka aku akan menjagamu seumur hidupku. Apalagi sekarang kita akan punya anak-anak yang pasti akan lebih membuat mahligai rumah tangga kita menjadi baik." Lalu Jero menunduk dan mencium istrinya dengan sangat lembut. Semalam dia pulang saat Giani sudah tidur. Jero tak tega membangunkannya karena ia tahu Giani baru saja tertidur.


Giani menyambut ciuman Jero dengan penuh gairah. Jujur, ia sangat rindu pada suaminya yang 4 hari berada di Batam.


"Bee, palo sudah bangun ya?"


Jero tersenyum. "Kangen...!" bisiknya parau.


"Nido juga kangen."


Jero langsung mengangkat tubuh Giani. Lalu membaringkannya secara hati-hati di atas ranjang. Keduanya kembali larut dalam kepuasan raga. Jero sangat hati-hati melakukannya karena perut Giani yang semakin membesar.


***********


Dokter Susanti tersenyum menyambut pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu.


"Selamat datang tuan dan nyonya Dawson." Sambut dokter Susanti sambil menjabat tangan Giani dan Jero secara bergantian.


"Dokter, apakah hari ini kami bisa mengetahui jenis kelaminnya?" Tanya Jerp antusias. Ini adalah yang letiha kalinya mereka memeriksakan diri pada dokter Susanti.

__ADS_1


"Biasanya sih audah bisa diketahui. Ayo kita lihat!" Dokter Susanti lalu mempersilahkan Giani untuk naik ke atas tempat tidur. Setelah itu ia menyingkap gaun hamil yang dikenakan oleh Giani.


"Perkembangan baby kembarnya sangat baik. Nah, ini dia jenis kelaminnya. Mereka laki-laki."


"Benarkah?" Mata Jero terbelalak. Ia tak mengira kalau keinginannya terwujud. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.


"Iya. Sangat jelas terlihat." Kata Dokter Susanti sambil menunjuk layar monitor yang ada.


Giani pun tak bisa menahan rasa harunya. Ia melihat bagaimana bahagianya Jero yang akan dikaruniai 2 anak cowok seperti yang diinginkannya.


"Terima kasih, Tuhan." Kata Jero tak dapat menyembunyikan rasa harunya.


Setelah dokter selesai mencetak foto usg, Jero langsung mengambilnya. Matanya tak henti-hentinya menatap foto itu.


Dokter Susanti memberikan vitamin untuk Giani minum. "Jangan lupa banyak minum air putih ya? Susu hamilnya juga." Ujar Dokter Susanti sebelum Giani dan Jero meninggalkan ruangannya.


Jero menggandeng tangan Giani dengan posesif. "Mel, boleh nggak keuntungan perusahaan selama 2 bulan ini akan kita sumbangkan ke masjid, gereja, wihara, pura dan beberapa panti asuhan lainnya? Aku sangat bersyukur untuk semua yang sudah Tuhan berikan padaku. Sangat luar biasa. Rasanya tak akan bisa aku lukiskan dengan kata-kata." Ujar Jero saat keduanya sudah ada di dalam rumah.


"Tentu saja boleh, Bee. Aku juga akan memberikan keuntungan cafeku selama 2 bulan ini pada semua anak jalanan yang kita temui."


Jero melingkarkan tangannya di perut Giani. "Daddy sungguh tak sabar menunggu kelahiran kalian, sayang. Tak sabar melihat wajah kalian. Apa mirip mami atau daddy ya?"


"Mirip akulah."


"Tapi kan yang intens minta palo ketemu nido, aku, mel. Jadi kayaknya gen akulah yang lebih kuat."


Giani tertawa. "Kita lihat saja nantilah. Yang pasti kalau nggak mirip aku, ya mirip kamu. Atau mungkin mirip Beryl?"


"Apa? Memangnya palonya Beryl pernah ketemu nidomu?" Jero menatap Giani tajam. Rasa cemburu dan marah tiba-tiba saja merasuki dirinya.


Jero melepaskan tangannya dari perut Giani. "Aku akan membunuhmu, Beryl!" Ia mengepalkan kedua tangannya.


"Jangan marah ke Beryl. Waktu itu aku juga suka."


"Ha? Kapan kalian melakukannya?"


"3 hari sebelum kedatanganmu bersama mama Sinta."


"Apa? Jadi kemungkinan anak ini adalah juga anak Beryl? Memangnya kalian nggak pakai pengaman?" Suara Jero sudah melengking tinggi.


"Maaf!" Giani berusaha menyembunyikan tawanya. Jero masuk jebakannya.


"Ah....!" Jero mengusap wajahnya kasar.


"Jadi keputusanmu apa, Bee? Apakah aku dengan Beryl saja?"


Jero menarik napas panjang. Ternyata sesakit inu dihianati. Dulu ia tak mempedulikan perasaan Aldo.


Dengan menahan rasa sakit di hatinya, Jero menatap Giani. "Aku nggak mau Beryl sampai tahu. Aku akan tetap menerima anak ini apapun nanti hasil tes DNA nya." Mata Jero sudah berkaca-kaca.


"Semudah itu kamu percaya? Kamu pikir aku perempuan murahan?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Prang...!"


"Giani Fifera Dawson! Kamu benar-benar sudah keterlaluan ya?" Jero merasa kesal karena dipermainlan Giani. Ia segera berdiri dan berjalan menuju ke balkon.


"Wah...si abang bule marah nih!" Giani mendekat lalu berdiri di samping Jero. "Jangan marah-marah bang. Nanti cepat tua. Mau di bilang bule tua lagi?"


"Bule tua?" Jero menatap Giani.


"Iya. Kalau Bee terlihat tua, nanti kalau si kembar lahir, mereka akan panggil Bee dengan sebutan opa bukan daddy!"


"Aku nggak marah, kok." Jero langsung tersenyum.


Giani memeluk suaminya. "Maaf ya, sudah nge-prank kamu. Tapi aku kesal juga, masa segitu aja rasa percaya Bee padaku."


"Aku kan tahu si Beryl jago merayu."


"Tapi aku kan bukan perempuan yang gampang dirayu."


Jero mencium dahi Giani. "Iya. Aku juga minta maaf sempat meragukan si kembar sebagai anakku."


"Kita makan malam yuk!"


"Minum susu dulu"


"Aku kan tadi sudah minum susu."


"Aku sekarang yang minum susu!"


"Oh...nanti aku buatkan." Giani akan pergi namun Jero menahan tangannya.


"Aku nggak mau susu yang ada di dapur."


"Bee mau susu apa?"


"Susu cap nona."


"Tumben mau minum susu kental manis." Giani jadi heran.


"Duh...kok nggak ngerti-ngerti juga sih? Susu-cap-nona Giani!" Jero mengeja kalimatnya secara pelan.


Wajah Giani langsung memerah saat mengerti apa mau suaminya. "Bee...tadi pagi kan sudah."


"Aku cuma minta susu, bukan palo yang ingin ketemu nido!"


"Susunya belum produksi, Bee"


"Makanya aku mau bantu supaya cepat produksinya."


Giani tertawa saat Jero sudah menggendongnya. Sanggupkah ia menolak suaminya? Rasanya ia tak sanggup. JERO JANGAN DI LAWAN...😍😍😍😍


Sorry guys, emak slow up...


sungguh badan emak lemah tak berdaya..

__ADS_1


siapa tahu dapat vote dan komentar yang banyak, emak jadi semangat he...he...


__ADS_2